
Elena masih mencari keberanian untuk menceritakan semua tentang dirinya. Dia percaya laki-laki di depannya nya itu yang sedang mendengarkan nya dengan wajah prihatin tidak akan mencela apalagi membuat sakit hatinya jika dia mengetahui semuanya .
"Walaupun ibu ku seperti itu dia tidak pernah menyuruh ku mengikuti jejaknyam Aku terbiasa hidup di lingkungan seperti itu. Aku tidak pernah mengenyam pendidikan agama . Karena itulah, maaf aku tidak bisa sholat," Terang elena.
"Bagaimana dengan preman-preman tadi? " Tanya Surya
"Mereka suruhan madam nur. Aku juga belum pernah bertemu dengan dia. Sejak ibu ku memiliki banyak hutang dan sudah dari tiga bulan lalu ,ibu tidak bisa mencicilnya. Karena itu lah madam nur menginginkan aku sebagai gantinya, " Terang elena dia tidak menangis. Jika wanita lain mungkin akan menangis.
Hidupnya penuh dengan kegelapan. Terbiasa dengan keadaan yang orang lain pikir adalah kejahatan.
"Sekarang kamu ingin apa? Maksudku rencana apa?" Tanya Surya dia tidak ingin menambah dia tertekan dengan membuat nya menceritakan kisah hidupnya.
Elena menggeleng. Tidak tahu. Mungkin itu yang dalam benaknya.
Surya menghela nafas. Berat juga permasalahan. Apalagi harus berurusan dengan dunia prostitusi.
"Jika boleh, aku bisa tinggal disini. Sebagai pembantu pun juga tidak apa-apa," kata elena penuh harap.
"Tidak, itu tidak perlu. Untuk sementara kau bisa tinggal di sini. Hingga aku bisa menemukan tempat lainnya nanti. Yang bisa kau tinggali dan aman dari preman-preman tadi," Terang Surya
"Terima kasih," Elena senang. Tidak menyangka bahwa surya akan membantu nya sejauh itu.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu kamu bisa istirahat , pasti kamu lelah setelah melalui banyak hal," kata surya
Elena mengangguk dan berjalan ke arah kamar tamu. Dia berbalik melihat Surya saat ingin masuk ke dalam kamar, Surya memberi senyum. Tidak apa-apa.
Surya bangkit, dia pergi ke luar rumah. Duduk di teras depan menikmati semilir angin malam. Beberapa kali dia melihat jam tangannya dan kadang gerbang rumahnya.
Aku kenapa? Menunggu Zahwa, dia sedang bersama suaminya. Apa yang kau khawatirkan. Dia pasti baik-baik saja.
Surya kembali ke kamar mengambil sesuatu dalam koper besar. Dia belum mengeluarkan semua isi koper itu, banyak barang yang seharusnya di berikan kepada wanita yang di cintainya. Tapi barang-barang itu kini hanya akan tersimpan di dalam koper besar itu.
Sebuah mushaf , mukena , sajadah dan tasbih. Beberapa hijab dan gamis. Semua oleh-oleh yang sengaja dia beli untuk Zahwa.
Dia mengamati satu persatu barang di depannya . Dulu dia membayangkan jika semua itu akan di kenakan oleh Zahwa. Tapi yang terjadi sekarang , dia tidak bisa memberikannya. Bahkan memperlihatkan saja tidak berani.
"Mungkin elena akan lebih membutuhkan semua ini," kaya Surya. Tiba-tiba di teringat elena.
Dia mengeluarkan semua barang- barang itu dari dalam koper. Memasukkan pada kantong plastik besar dan membawa ke luar kamar. Meletakkan ke atas meja ruang makan.
Karena waktu sholat isya' sudah tiba dia meninggal begitu saja. Mungkin setelah dia berjamaah dia akan memberikannya kepada elena. Dia juga baru saja istirahat.
****
Di jalan. Di dalam mobil
"Aku lelah Zahwa. Kita pergi ke mall nya besok saja," kata Hanan wajahnya kusut karena kelelahan .
"Apa yang kamu lelah kan? Dari tadi kau hanya duduk dan berbincang dengan bapak penjual lukisan itu," Bantah Zahwa. Dia marah lagi karena Hanan tidak ingin mereka pergi ke mall.
"Hampir seharian ini aku kerja di lapangan, mengurus bangunan dan lain sebagainya,'' Jelas Hanan.
Mengajak Zahwa keluar sebentar juga bukan rencananya. Tapi karena melihat Zahwa sedih seperti tadi akhirnya dia berinsiatif mengajaknya mencari hiburan. Hah, tapi badannya sedang tidak bisa di ajak kompromi. Dia sangat lelah.
"Baiklah, kita pulang." Kata Zahwa akhirnya. Dia tidak tega juga kalau melihat Hanan terlalu letih. Lagipula ini juga sudah malam.
Mobil melaju dengan cepatnya, menuju jalanan rumah mereka. Tidak lagi berbicara hingga mobil itu sampai dalam pekarangan rumah mereka lagi.
"Aku masih menyimpan kartu kreditmu. Sebelum kamu mengajak ku belanja aku tidak akan mengembalikannya, " kata Zahwa
"Iya iya iya terserahlah! Mau bagaimana lagi kamu memang wanita paling beruntung. Hanya dengan menangis dan marah kamu bisa mendapatkan kekayaan," Sindir Hanan
Zahwa melengos berjalan mendahului Hanan. Tanpa menjawab ocehan Hanan.
"Assalamualaikum...." salam Zahwa setelah sampai di dalam rumah. Sepi tidak ada orang yang menjawab.
"Assalamualaikum, " salam Hanan, di melakukan hal yang sama.
"Waalaikumsalam..." balas Zahwa akhirnya.
'' Kemana orang-orang? Apa sedang sholat? " Tanya Hanan.
Zahwa mengangkat bahunya. Dia juga tidak tahu, sama seperti dirinya. Kakinya melangkah ke arah dapur ,mengambil air minum dalam kulkas, menuangkannya dalam gelas, sejenak dia langsung meminumnya dengan berjongkok.
"Alhamdulillah, " Rasa dahaganya sudah menghilang.
Zahwa kembali mengisi air dalam gelas , membawa dan memberikan nya pada Hanan yang tadi juga mengikuti nya ke arah dapur. Dia sudah duduk di meja makan.
"Minum," kata zahwa. Hanan menerima air minum tadi dan langsung meneguknya. Dia pun terlihat agak segar setelah meminum air tersebut.
__ADS_1
"Makan dulu sebelum berangkat tidur , jangan kebiasaan tidur tanpa makan sesuatu," Ujar Zahwa. Dia melihat ke arah dapur , mencari sesuatu untuk bisa di hidangkan.
"Iya iya cerewet, " balas Hanan dengan kesal , sepertinya dia sedang lelah beneran.
Zahwa kembali ke samping Hanan, sudah dengan membawa sepiring makanan. Meletakkan di depan Hanan berserta air minum yang sudah dia isi kembali.
Tanpa bertanya Hanan langsung menyantapnya . Dia melihat Zahwa hanya duduk melihatnya, kebiasaan saat makan nya untuk tidak pernah berbicara membuat nya mengurungkan niat nya untuk bertanya, " kenapa tidak makan juga?'' .
"Aku nanti saja , belum lapar " kata Zahwa, seakan tahu pertanyaan Hanan lewat tatap matanya.
Hanan tidak menghiraukan lagi dan melanjutkan makan .
Mata Zahwa tiba-tiba terusik pada kantong plastik ukuran besar. Di ujung meja makan, tadi saat dia datang di belum memperhatikan ada kantong plastik itu.
Zahwa menghampiri dan ingin tahu apa isinya. Dia beranjak dari duduknya dan menghampiri tas kantong plastik itu.
"Kalian sudah pulang?'' Tanya Surya. Dia baru saja tiba dari masjid. Terlihat dari penampilannya.
"Iya, baru saja," Jawab Zahwa. Karena dia yang paling dekat jaraknya sekarang. Lagi pula Hanan sedang makan.
"Syukurlah, " kata Surya lagi, dia melihat ke arah zahwa . Dia senang Zahwa sudah baik-baik saja. Tidak lagi terlihat marah seperti saat sore tadi. Entah mengapa dia ingin cepat mempunyai waktu untuk berbicara dengan dirinya. Menjelaskan semuanya.
"Mau aku ambilkan makan sekalian?" Tanya Zahwa pada Surya karena dia mulai duduk di meja makan juga.
"Boleh," jawab Surya dengan senyum.
Zahwa dengan senang hati menyiapkan. Dia mengambil semua masakan yang sudah di siapkan bik asih . Menyajikan di atas meja makan. Setelah semua tersaji, Zahwa mengambil satu porsi untuk Surya.
"Silahkan, " kata Zahwa dengan meletakkan satu porsi makanan dan minuman untuk Surya.
Dengan senang hati pula, Surya langsung memakannya.
Zahwa kembali duduk melihat kakak beradik itu melahap makanan mereka. Seperti ibu sedang menunggu anaknya makan dan menghabiskannya.
"Kantong plastik itu milik siapa?" Tanya Zahwa. Mungkin Surya mengetahui tentang kantong plastik tersebut.
"Oh, itu untuk elena, " Jawab Surya
Hanan dan Zahwa tidak mengerti. Terlihat dari tatapan mereka yang menunggu penjelasan.
"Wanita tadi sore. Namanya elena. Dia akan tinggal beberapa hari di sini," Kata Surya
Hanan dan Zahwa terlihat tidak setuju, tapi masih menunggu penjelasan Surya selanjutnya.
"Kenapa wanita itu di kejar oleh preman, apa dia bermasalah?" Tanya Hanan
"Bukan dia, ibunya. Ibunya mempunyai hutang dan selama tiga bulan ini belum belum sanggup untuk mencicilnya," kata Surya melanjutkan ceritanya.
"Jika begitu, kita cukup membantu nya untuk melunasi hutang ibunya dan dia bisa kembali ke pada keluarganya," kata Zahwa, memberikan solusi.
"Aku pikir juga begitu. Tapi, masalahnya tidak semudah itu. Karena ibunya adalah wanita penghibur dan preman tadi suruhan dari madam Nor, aku juga kurang faham sebenarnya. Intinya dia menjadi pengganti hutang-hutang ibunya " terang Surya dia terlihat bingung sekali.
"Ini akan masalah yang berbahaya kak , sebaiknya cepat selesaikan? Jika tidak akan timbul masalah lagi. Aku tidak ingin ikut campur dengan masalah wanita itu," ujar Hanan dia sudah selesai makan.
"Aku pikir juga begitu, aku akan segera mencarikan tempat tinggal yang aman untuk dia." Kata Surya
Zahwa terdiam , ada rasa bersalah dalam hatinya. Dia berlaku tidak baik juga terhadap elena tadi. sama sekali tidak menyapa dan langsung memperlihatkan sikap tidak suka kepadanya.
Hidupnya sangat rumit, wajar Surya ingin membantunya. Jika dia di posisi Surya mungkin dia akan melakukan hal yang sama.
"Dan semua barang itu apa?" Tanya Hanan
Surya mengeluarkan semua barang dari kantong plastik tersebut. Hijab, gamis , mushaf , mukena semuanya.
Zahwa tertegun, tidak percaya. Dia melihat setiap barang itu. Dia juga menyukainya. Semua terlihat indah.
"Itu semua keluaran Cairo, kan? Kau membelinya untuk siapa sebenarnya?" Tanya Hanan dengan hanya melihat desain semua barang itu dia sudah mengenali kalau itu bukan produk lokal.
"Itu sudah tidak penting. Lagipula jika aku memberikan pada elena pasti dia juga tidak akan marah, " kata Surya sedikit menatap Zahwa.
Zahwa tertegun, mencari arti dari semua perkataan Surya.
"Kau yakin akan memberikan ini semua kepada wanita itu. Sebelumnya tanyakan dulu kepada orang yang mau kau berikan barang-barang itu . Mungkin saja dia juga menginginkannya," Kata Hanan. Dia melihat Zahwa juga tertarik dengan semua barang - barang itu. Dia juga kecewa sepertinya, karena barang itu tidak lagi akan di berikan kepadanya.
Surya menatap Zahwa.
"Zahwa , jika saja. Seumpama ada orang yang ingin memberikan ini semua kepadamu. Tetapi dia tidak jadi memberikan ini semua karena ada orang yang lebih membutuhkan. Apa kamu ikhlas? " Tanya surya dengan hati-hati. Agar Zahwa juga ikut mengerti dan Hanan tidak mencurigai.
"Mana mungkin, dia pasti ingin kau memberikan itu. Lagi pula kamu membelinya khusus untuk dia. Kenapa harus di berikan kepada orang lain. Kau bisa saja kan membelikan yang baru untuk orang lain itu. Tidak harus itu," Sahut Hanan memberi pengertian agar kakak nya itu tidak bertindak bodoh dengan memberikan barang yang seharusnya di miliki Zahwa untuk orang lain, terlebih wanita tadi.
__ADS_1
"Tidak, Mas. Jika aku yang di posisi wanita yang seharusnya memiliki barang itu. Aku tidak masalah , lagi pula jika memang barang itu istimewa tidak mungkin kan memberikan begitu saja kepada orang lain. Jadi kak , berikan saja, " kata Zahwa dengan sedikit di tekan.
Jika Surya faham dia akan membereskan barang itu dan menyimpan nya lagi. Tapi sepertinya tidak.
"Baiklah," Kata Surya dia juga terlihat berat sebenarnya. Tapi jika melihat Zahwa seperti tidak melarangnya dan lagi Hanan juga sudah mengetahui tentang semua barang tersebut. Akan salah , jika dia tetap memberikan itu kepada Zahwa.
Surya berjalan ke arah kamar tamu, mengetuk sebentar dan elena keluar dari kamar itu. Mereka berbicara sebentar dan setelah itu Surya kembali di ikuti elena yang berada di belakangnya.
"Ini untuk mu," kata Surya. Dia menyerahkan semua barang itu kepada elena. Zahwa melihat tangan elena dengan pelan menerima semua barang itu, hatinya sakit. Apa yang seharusnya di milikinya, di berikan kepada orang lain tepat di depannya .
Zahwa terlihat memaksakan senyum . Menyembunyikan air mata yang sudah mulai keluar dari tepian matanya. Dia mengatur nafas berkali-kali.
"Terima kasih tuan, '' kata elena , dia terlihat bahagia. Tidak menyangka bahwa Surya akan sebaik itu kepadanya.
"Selamat elena, semoga itu bermanfaat untukmu," kata Zahwa . Dia memaksakan untuk tetap tersenyum.
"Terima kasih. Aku belum mengenalmu," kata elena dia menghampiri Zahwa.
"Panggil saja Zahwa, " Zahwa mengulurkan tangannya terlebih dahulu.
"Elena," dia menjabat ukuran tangan Zahwa . Dan memeluknya.
Zahwa berusaha menahan air matanya akan tetapi tiba-tiba air mata itu jatuh juga. Surya melihatnya, begitu pun Hanan.
"Kamu menangis?" Tanya elena. Bahkan elena mengetahui kalau Zahwa sedang menangis.
"Tidak. Aku teringat kisahmu saja. Kau begitu kuat menghadapi cobaan hidup mu. Mungkin jika aku di posisi mu aku tidak akan sekuat dirimu. Karena itulah aku menangis," kata Zahwa. Dia mencoba menyeka air matanya .
Elena terlihat bingung.
"Kak Surya tadi sudah cerita tentang kisah hidup mu. Jadi mulai saat ini, kau juga boleh ceritakan itu kepada ku," Zahwa menjawab kebingungan elena.
Dengan tiba-tiba elena memeluk Zahwa lagi. Dia juga ikut menangis.
"Terima kasih, aku kira kamu tidak menyukai tadi. Maaf jika aku berprasangka buruk kepadamu,'' kata elena.
"Tidak apa-apa. Aku sangat lelah, aku akan ke kamar dulu. Kamu silahkan makan, anggap saja ini rumah mu. Tidak perlu sungkan," kata Zahwa dengan melepaskan pelukan elena. Dengan masih memaksakan tetap tersenyum.
Elena dengan senang hati menurut perkataan Zahwa.
Hanan terlihat berdiri dari duduknya. Dia mengikuti Zahwa yang sudah terlebih dahulu pergi. Menuju kamar mereka.
Surya masih menatap kepergian Zahwa. Dia sadar bahwa dia tidak seharusnya memberikan ini semua kepada elena. Terlebih di depan zahwa secara langsung.
"Tuan apa itu makananmu,kamu belum menyelesaikan makanmu. Tidak baik jika menunda makan," kata elena membuyarkan lamunan Surya.
Surya kembali duduk dan menyantap lagi makanan. Elena , dia juga ikut makan bersamanya.
***
Sesampai nya di kamar Zahwa langsung menumpahkan air matanya yang tidak bisa ia bendung.
Hanan menghampirinyaya. Dia duduk di sampingnya.
"Apa kamu juga ingin barang-barang itu tadi?'' Tanya Hanan dengan hati - hati.
"Untuk apa barang yang sudah di miliki orang. Untuk apa aku ingin memiliki nya juga," kata Zahwa
"Terus kamu menangis karena apa?" Tanya Hanan.
"Tiba-tiba rindu dengan orang tua ku," kata Zahwa
Tanpa sadar dia sudah bersandar pada bahu Hanan. Membenamkan wajahnya ke bahu suaminya itu.
"Kenapa semua orang begitu gampangnya meninggalkan aku," kata Zahwa di antara isaknya.
"Siapa yang meninggal dirimu. Jika dia ingin mereka akan terus berada di sisi mu,"
"Tidak. Kamu bohong. Kamu juga ingin meninggalkan diri ku kan? Apa aku begitu buruk . Hingga tidak ada yang ingin bersama ku,"
Hanan tertegun. Dia menangis bukan karena itu. Dia tau alasannya , tapi kenapa saat Zahwa mengatakan itu dia seakan berat untuk sekedar membayangkan dirinya jauh dari Zahwa.
"Aku disini. Bagaimana aku bisa pergi. Jika kamu saja mengcekram tanganku seperti itu," kata Hanan
Zahwa memukulnya di saat seperti ini Hanan masih saja bercanda.
"Itulah mengapa banyak orang yang meninggalmu Kau terlalu kasar," kata Hanan lagi.
Zahwa mengangkat wajahnya dan mulai memukuli Hanan.
__ADS_1
"Kau itu, bisa gak sedikit saja serius." Kata Zahwa.
"Aku serius Zahwa aku tidak akan meninggalkan mu." Kata Hanan. Dia sedikit bercanda tapi ada keseriusan di wajahnya. Zahwa berhenti memukul Hanan, sedikit canggung setelah mendengar perkataan nya itu.