Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 90


__ADS_3

''Kok gak di makan, Yang?" Tanya Hanan.


Beberapa hari setelah kedatangan Bella ke rumah. Zahwa terlihat murung. Dia tidak seperti biasanya. Dan itu membuat Hanan khawatir dan berinsiatif untuk sekedar menghiburnya dengan mengajak makan malam di luar.


Tapi meskipun begitu dia tetep murung dan tidak ingin berbicara soal permasalahannya.


''Aku makan, kok." Jawab Zahwa.


Melihat perhatian suaminya dia mulai memakan makanan di depannya. Padahal makanan itu adalah kesukaannya, tapi kenapa dia sama sekali tidak merasakan kelezatannya.


''Masih memikirkan masalahnya Mbak Bella?'' Tanya Hanan di sela-sela acara makan mereka.


''Ah...Tidak.'' Jawab Zahwa.


''Beberapa hari ini kamu murung? Jika bukan karena permasalahan itu, lantas apa?'' Tanya Hanan, tidak yakin dengan jawaban Zahwa.


Zahwa masih diam tidak berbicara. Dia masih merasa ragu untuk mengutarakan isi hatinya. Ada rasa takut yang tidak wajar ketika ingin mengutarakannya.


Melihat Zahwa yang tidak merespon. Hanan masih sabar untuk tidak mengganggunya. Tidak juga memaksakan untuk dia bercerita.


Selesai makan malam. Hanan masih ingin melanjutkan mengajak Zahwa jalan-jalan. Atau sekedar berbelanja. Tapi Zahwa menolak. Dia ingin segera pulang. Dan Hanan menurut saja.


Sesampai di rumah Zahwa langsung menuju kamar. Belum sampai di kamar, langkahnya berhenti di depan sebuah kamar. Kamar utama rumah itu.


Hanan yang berjalan di belakangnya sedikit memperlambat langkahnya. Berhenti, ingin tahu kenapa Zahwa berdiri terpaku di depan kamar mendiang orang tuanya.


Dengan tubuh yang tiba-tiba bergetar, Zahwa meraih gagang pintu kamar tersebut. Sedikit membuka dan kemudian dia berlari ke dalam kamar.


Hanan semakin binggung dengan perubahan Zahwa. Dia melihat Zahwa ketakutan saat ingin masuk ke kamar Orang tuanya. Dulu dia sering ke kamar tersebut dan bahkan kamar itu sudah menjadi basecamp lukisannya. Tapi kenapa sekarang berubah? Apa yang sebenarnya terjadi?


Hanan segera pergi ke kamar terlebih sebelum itu dia menutup kamar orang tuanya karena tadi Zahwa lari begitu saja sesaat setelah membuka pintu tersebutm


''Yang?'' Panggil Hanan.


Kamar masih dalam kondisi gelap. Zahwa sudah jelas - jelas masuk ke dalam kamar. Tapi kenapa lampu masih di biarkan mati. Hanan semakin khawatir.

__ADS_1


Dengan segera Hanan menyalakan lampu. Sontak terkejut melihat Zahwa yang begitu ketakutan. Dia mendekap kedua kakinya di tekuk. Pandangannya kosong.


"Yang ada apa? kenapa kamu kayak gini?''


Zahwa begitu bergetar. Dia ketakutan. Matanya merah dan tak hentinya mengeluarkan air mata.


Hanan langsung membopong tubuhnya ke atas ranjang. Membaringkan dia dan menyelimuti tubuhnya. Dia mengecek tubuh Zahwa mengira bahwa dia sakit tapi suhu tubuhnya normal.


Hanan melepas hijabnya, karena tubuhnya berkeringat dingin. Mengusap-usap peluh tersebut dengan tisu yang berada di atas nakas.


Zahwa masih belum berbicara. Hanan semakin khawatir. Sebenarnya ada apa? kenapa tiba-tiba dia seperti itu.


''Aku akan menelpon Very. Kamu tunggu di sini. Jangan kemana - mana,'' Kata Hanan.


Namun Zahwa mencegahnya. Dia memeluk tubuh Hanan tiba-tiba. Sangat erat hingga Hanan bisa merasakan bahwa itu semacam cengkraman.


''Ada apa Sayang? Ceritakan, jika ada masalah katakan. Kita bisa hadapi sama-sama." Tanya Hanan. Dia mengurungkan niatnya untuk pergi. Dan membalas pelukan Zahwa.


''Aku takut'' Kata Zahwa.


''Takut dengan siapa? katakan jika ada seseorang yang menyakiti mu.'' Seru Hanan. Dia sudah membayangkan jika Zahwa sedang di teror.


''Bukan. Aku takut , takut kehilanganmu." Kata Zahwa . Seketika membuat Hanan tersenyum .


''Hay, aku di sini. Aku tetep akan bersama mu . Mana mungkin aku meninggalkan mu.'' Ujar Hanan. Dia melepaskan pelukannya. Dan melihat Zahwa yang masih sesengukan.


''Andai saja Mama dan Papa masih ada. Apa mereka menyukai ku? Apa mereka akan senang dengan ku? menyayangi ku juga?'' Tanya Zahwa tiba-tiba.


Hanan tertegun. Tidak pernah ada pembicaraan seperti itu selama ini. Dan kenapa tiba-tiba Zahwa menanyakan itu?


''Tentu saja. Bukankah mereka yang memilih mu untuk menjadi pendamping ku.'' Jawab Hanan dengan mengelus lembut pipinya. Masih ada sisa air mata yang mengalir.


''Bohong. Mana mungkin ada orang tua yang akan menerima seorang menantu yang sudah mempermainkan ke dua anaknya.'' Kata Zahwa.


Hanan diam. Dia tidak pernah membayangkan juga jika saja orang tuanya masih ada. Dan andaikan mereka tahu bagaimana rumitnya kisah cinta mereka.

__ADS_1


Tapi itu tidak penting lagi, yang terpenting kenapa tiba-tiba Zahwa begitu depresi dengan hal yang sudah tidak mungkin terjadi. Orang tuanya sudah tidak ada, mertuanya juga sudah tidak ada.


''Tidak ada yang tidak suka denganmu. Kamu perempuan pilihan mereka, hati ku juga telah memilih mu. Dan yang lebih lagi, takdir lah yang menyatukan kita. Alloh sendiri yang mempertemukan kita.'' Ucap Hanan.


Dia mengingat pertama kali dia bertemu dengan Zahwa. Bagaimana dia menikahi perempuan itu tanpa rasa ragu. Merasakan sesak seketika ketika dia tahu bahwa dia adalah kekasih kakaknya. Remuk redam ketika dia hampir saja kehilangan dia.


Marah ketika, hanya kakaknya saat itu yang ada di pikiran saat itu. Benci, ketika pada akhirnya dia seperti batu yang akan di lempar ketika sang pemilik sudah tidak memerlukan lagi.


Namun aku bahagia karena dia ada di hidupku. Dia tidak tahu bagaimana aku menyembunyikan ketakutan ku saat membayangkan jika dia akan meninggalkan aku, dan lebih parahnya saat dia akan menjadi kakak iparnya.


Aku pun bersyukur saat lambat laun. Dia menerimaku, aku menerima nya. Dan kami bersama-sama memulai kehidupan baru kami. Memulai lembaran demi lembaran dan memerangi banyak godaan saat itu.


''Aku takut jika Mama mertua tidak menyukai ku. Takut di sana beliau menyesal telah memberikan restu. Andai saja aku bisa berbicara dengan beliau . Andai saja aku bisa menanyakan apakah aku bisa bersama mu selamanya. Dan mendapatkan restunya.''


''Mana Mungkin Mama seperti itu. Bahkan aku yakin Mama dan Papa bahagia karena tidak salah memilih mu mendampingi aku. Karena saat aku bersama mu aku bahagia, aku seperti tidak kehilangan mereka. Karena kamu adalah amanah terakhir mereka. Jangan pernah berfikir jika Mama dan Papa tidak menyukaimu. Tidak ada yang seperti itu.'' Tutur Hanan


''Apa ini karena cerita dari sepupumu?'' Tanya Hanan.


'' /Dia tidak salah, jangan salah kan dia dengan kondisi ku saat ini. Aku tidak ingin membebaninya lagi. Dia sudah terlalu banyak masalah. Dan kini dia sendiri.'' Jawab Zahwa.


Memang benar jika apa yang terjadi pada Zahwa karena cerita Bella. Banyak yang di lalui Bella dalam menjalani kehidupannya. Kering sudah air mata Bella saat dia menghadapi mertua yang ternyata tidak menyukainya. Dan sekarang, pernikahan di ujung tanduk kehancuran.


Dan entah bagaimana setelah mendengar cerita Bella saat itu fikiran Zahwa bergelayutan tidak menentu. Membayangkan, jika dia mengalami hal yang sama seperti Bella. Mungkinkah dia bisa menghadapinya?


Jika restu saja tidak ia dapatkan dari mertuanya. Bagaimana bisa dia meminta anaknya untuk tetap hidup bersamanya?


Ini tentang Surga dan Cinta, dan lebih rumit dari pertikaian tentang perebutan hati dari seorang manusia.


''Besok pagi kita Ziarah ke Makam orang tua kita. Kita ceritakan semua kehidupan kita dan meminta doa restu kembali.'' Kata Hanan dengan senyum yang menentramkan.


Zahwa mengangguk. Mungkin dengan begitu, hati dan pikirannya bisa jernih kembali.


Hanan meraih kepala Zahwa dan kemudian mengecup keningnya.


''Kamu adalah selamanya untukku," katanya lirih

__ADS_1


__ADS_2