
Dokter wanita itu keluar dari kamar tamu , di susul Elena di belakangnya .
''Bagaimana dok?" Tanya Zahwa cepat.
"Dia positif hamil 3 bulan." Jawab Dokter wanita itu sontak membuat semua orang terkejut.
"Hal ini bisa menjadi bukti jika mas Surya tidak bersalah.'' Sahut Hanan.
''Sayangnya belum akurat, karena dia sudah tinggal di sini selama 4 bulan.'' Kata Very.
''Ah ! Sial! Kita tes DNA!'' Seru Hanan
''Bisa saja kita lakukan sekarang. Tapi kita juga harus menunggu 14 hari lagi untuk mengetahui hasil tesnya.'' Terang Very.
''Kenapa lama sekali. Biasanya tidak selama itu.'' Protes Zahwa.
''Untuk penentuan profil DNA dalam kandungan itu bisa diambil dari cairan amnion atau dari villi chorialis pada saat usia kandungan 10-12 Minggu. Itu lebih sulit daripada hanya mengambil dari Sempel darah atau rambut. Itupun masih rawan," Terang Very.
''14 hari lagi. Itu lama sekali, aku tidak ingin Mas Surya selama itu ke penjara." Keluh Zahwa.
"Mbak sebenarnya Mas Surya bisa saja keluar dari penjara. Dan Semua masalah ini selesai.'' Kata Elena. Dia masih mempunyai nyali untuk berbicara.
''Apa maksudmu?" Tanya Zahwa.
"Jika saja mas Surya mau menikahiku.Semua akan kembali seperti semula. Tidak akan ada lagi yang gundah gulana.'' Jawab Elena.
' Kau pikir kamu siapa? jika aku jadi kakak ku lebih baik aku di penjara. Dari pada seumur hidup dengan wanita seperti mu. Itu seperti hukuman seumur hidup.'' Bentak Hanan. Tidak tahu malunya wanita di depannya itu. Dia sama sekali tidak memiliki rasa takut dengan perbuatannya.
"Hanya itu permintaan kami. Tidak ada yang lain. Jika saja Surya mau menikahi Elena, dia akan bebas. Dia juga akan tetap bersama kalian. Dan kalian bisa menerima Elena seperti waktu - waktu lainya.'' Sahut Ibu Elena.
__ADS_1
''Aku bisa memberikan kalian uang atau apapun itu, tapi tidak untuk itu.'' Kata Zahwa dia geram.
''Kau pikir apa Mbak? kamu siapa? Kamu sudah memiliki Mas Hanan. Tapi kamu juga tidak ingin Mas Surya menjadi milik orang lain. Yang PELACUR itu KAMU!'' Gertak Elena. Hatinya mendidih dia tidak takut sama sekali.
PLAKK
Sebuah tamparan mendarat langsung di pipinya . Semua ternganga. Sedetik tidak ada yang berbicara, hanya menatap dua wanita yang sedang bersitegang di depan mereka.
''Aku benar-benar salah menilai mu. Dengarkan aku baik-baik. Cepat tinggalkan rumah ini dan bebaskan tuduhan mu untuk Mas Surya atau kamu tidak akan tahu akibatnya. Aku sedang tidak main-main.'' Ancam Zahwa penuh amarah.
''Aku tidak akan meninggalkan Mas Surya. Dia milik ku, atau begini saja. Aku bebaskan Mas Surya , dan kau berikan Suami mu untuk ku."
''Kau sudah gila!'' Seru Hanan.Dia langsung berdiri di depan Zahwa. Emosinya meluap.
''Tidak. Aku sebenarnya mencintai mu mas. Sungguh .Tapi kakak mu sudah menghamili aku.'' Rengek Elena dia memegang lengan Hanan. Tapi sekuat tenaga cepat ia tepisnya.
''Hay, Jaga bicaramu!'' Gertak Hanan.
''Kalian bisa memutuskan. Semakin cepat kalian memutuskan semakin cepat pula persoalan ini akan berakhir. Selama malam.'' Ujar ibu Elena seraya meninggalkan orang yang ada di ruangan itu.
''Gila benar ya wanita itu. Cantik-cantik sinting! '' Ujar Very
Zahwa menghempaskan tubuhnya di sofa seketika. Di susul Hanan di sampingnya. Pikiran ke duanya kacau.
''Aku akan pulang. Sudah malam dan teman ku juga harus segera pulang. Kalian juga pulanglah , di rumah ini kalian tidak akan bisa menemukan solusinya . Yang ada hanya memperkeruh keadaan. Dia akan semena-mena juga.'' Kata Very
''Ok. Terima kasih. Maaf merepotkan. Doakan semoga semua cepat baik-baik saja.'' Balas Hanan
Setelah itu Very berpamitan. Dia juga harus mengantar temannya pulang. Hanan dan Zahwa masih diam. Ancaman Elena dan ibunya masih terngiang di benak keduanya.
__ADS_1
''Kita pulang sayang!'' Ajak Hanan. Zahwa melihat suaminya hatinya teriris. Membayangkan jika dia harus kehilangan dirinya. Matanya berkaca-kaca.
''Ada apa?'' Tanya Hanan .
Sontak langsung membuat Zahwa memeluk suaminya erat. Dia menumpahkan air matanya pada dada bidang Suaminya.
''Aku takut mas.'' Rintihnya.
''Takut? Takut apa?" Tanya Hanan. Dia benar ingin bertanya. Ada sebersit rasa yang menyakitkan juga. Jika saja ancaman Elena itu benar, siapakah yang akan istrinya pilih. Dia atau kakaknya. Meskipun sekuat tenaga dia meyakinkan bahwa istrinya tidak akan pernah meninggalkan dirinya . Tapi perasaan ragu tiba-tiba menjadi setan yang merasuki dirinya.
''Aku tidak ingin kehilanganmu.'' Jawab Zahwa. Dia semakin erat memeluk tubuh itu. Hatinya bergetar keras.
''Siapa yang akan menghilangkan. Aku akan tetap bersama mu. Hanya Zahwa yang akan menjadi istri ku. Tidak akan ada yang lain. Entah di dunia ataupun akhirat kelakm Kamu adalah satu-satunya. Kamulah bidadari ku, kamulah pelipur lara ku, kamulah Zahwa ku.'' Kata Hanan memeluk erat tubuh istrinya. Memberikan keyakinan penuh dari ucapannya dan juga hatinya. Zahwa semakin terisak.
''Jangan pernah tinggalin aku. Jangan pernah sekalipun berpaling dari ku Mas. Aku mencintaimu. Sangat mencintai mu. Tetaplah menjadi suami ku.'' Kata Zahwa dia merasakan ketakutan yang sangat besar akan kehilangan suaminya itu. Takut, jika dia rela berkorban untuk kebebasan kakaknya dan kemudian meninggalkan dirinya.
''Tidak akan pernah. Kecuali maut yang memisahkan. Percayalah padaku.'' Kali ini Hanan mengendorkan pelukannya. Menatap wajah istrinya yang penuh derai air mata. Dia cium kening istrinya. Dan kemudian kedua pipinya berkali-kali. Zahwa menikmati itu memejamkan mata. Berdoa semoga kebahagiaan dan kebersamaan selamanya akan seperti ini.
''Aku mencintai mu istri ku.Jangan pernah meragukan itu." Ujar Hanan seraya memeluknya lagi.
''Maaf Non. Mau nginep disini atau pulang?'' Tanya Bik Asih. Mereka lupa jika di ruangan itu masih ada Bik Asih. Keduanya gelagapan, langsung menjaga jarak. Malu dan salah tingkah.
''Kita pulang bik. Kabari saja jika ada apa-apa." Jawab Zahwa.
''Baik Non. Jaga diri Non baik-baik. Jangan banyak pikiran. Saya doakan semoga masalah ini cepat terselesaikan'' Kata Bik Asih.
''Amin... Kami pamit ya Bik. Assalamualaikum...'' Salam Zahwa tangannya masih di pegang erat oleh suaminya.
''Bik jangan lupa, untuk terus mengaktifkan ponselnya. Kami pamit jaga diri Bik Asih baik-baik juga. Assalamualaikum...'' Pesan dan Salam Hanan.
__ADS_1
''Waalaikumsalam... '' Balas Bik Asih
Keduanya keluar, sejurus kemudian sudah meninggal pekarangan. Tidak lagi ada air mata , hanya rasa sendu yang mendayu. Dalam ancaman, terkadang tercipta persatuan. Seperti kabut malam yang menenggelamkan, tapi dia juga yang membuktikan. Bahwa rembulan akan tetap bersinar di balik awan.