
Pagi sekali Hanan dan Zahwa sudah berangkat ke Makam. Mengingat jarak tempuh lumayan jauh, dan menghindari kemacetan.
Setelah Zahwa tidur tadi malam. Hanan menelfon Aldian untuk mengatur ulang jadwal rapat bulanan mereka. Karena beberapa hari ini sepertinya dia harus fokus pada Zahwa.
Mungkin mereka perlu meluangkan waktu untuk liburan. Sudah lama, tidak menghabiskan waktu bersama, dan bersenang-senang.
Setiba dia Makam, mereka membaca Tahlil dan Yasin. Melihat 4 nisan berjejer, mengingatkan kejadian pertama kalinya mereka bertemu. Mengingat bagaimana kecelakaan dan kondisi orang tua dan mertua mereka terakhir kalinya.
Hanan menceritakan banyak kisah tentang mereka di hadapan empat gundukan makam tersebut. Menganggap bahwa di depan mereka memang benar ada ke dua orang tuanya dan mertuanya.
Dia juga meminta izin sekali lagi untuk mencintai Zahwa dan menjadikan dia satu-satunya wanita dalam hidupnya. Mengutarakan rasa yang dulu belum sempat dia katakan sebelum pernikahan mereka.
Meminta restu berulang kali dan merapal doa lainya.
''Sudah tenang?" Tanya Hanan.
''Sedikit, Mas.'' Jawab Zahwa.
Beberapa saat setelah itu mereka pulang. Zahwa masih saja diam dan sedih. Berziarah ke makam membuat dia mengingat kenangan bersama orang tuanya dulu.
Hanan pun sebenarnya merasakannya hal yang sama. Terlebih dahulu dia tidak terlalu dekat dengan kedua orang tuanya. Dia selalu cemburu dengan kakaknya yang di rasa sangat di cintai orang tuanya.
Tapi, perasaan itu hilang selepas orang tuanya meninggal. Semua kasih sayang orang tuanya seperti di putar ulang secara nyata di depan matanya.
Kenyataannya pada akhirnya dia di suruh menikah dengan Zahwa. Karena menganggap bahwa Zahwa adalah wanita yang di cintanya. Kenyataannya bahwa mereka melepas egonya untuk tetep memilih Zahwa yang belum di kenal sepenuhnya.
Hanan ingat saat pak Rusdi mengatakan di saat-saat terakhir mereka. Bahwa sebelumnya mereka tidak menyetujui pernikahan itu. Bahwa sebenarnya mereka sudah mencarikan calon untuk diriku yang sampai saat ini aku tidak mengetahui siapa.
Tidak menerima kerena mungkin mereka belum mengenal Zahwa sepenuhnya. Belum pernah bertemu dan berbicara dengan mereka.
Sejak awal orang tua Zahwa yang pertama menemui ke dua orang tua Hanan. Dengan tiba-tiba mendapatkan lamaran dan mengatakan bahwa kedua anak mereka saling mencintai membuat kedua orang tua Hanan pasrah dan menyetujui hubungan tersebut. Terlebih sesaat setelah menemukannya kotak biru yang berada di kamar Hanan. Semakin membuat yakin jika memang ada hubungan dia antara mereka.
Saat itu orang tua Zahwa pun tidak mengetahui siapa yang putrinya cintai. Mereka hanya mendapatkan informasi jika Putrinya menjalin hubungan dengan salah satu putra Mama dan Papanya. Mereka tidak tahu, jika ada dua putra di kelurahan tersebut.
__ADS_1
Dan pernikahan salah faham tersebut terjadi. Dan kerumitan mulai menghampiri.
Permainan takdir di mulai. Perjalan hidup dengan mereka yang semestinya menjadi saudara ipar. Kini menjadi suami istri yang saat ini saling mencintai.
Tidak ada yang tahu untuk siapa kita di lahirkan? Yang pasti bahwa pada akhirnya kita tidak akan sendirian.
''Loh Mas,mau kemana? ini bukan jalan ke rumah!"
Zahwa menyadari bahwa jalanan yang mereka tempuh bukan jalan arah ke arah rumah mereka. Itu juga buka ke arah kantor ataupun rumah Zahwa.
''Yang penting kamu bersamaku. Bukankah itu cukup?'' Kata Hanan menyeringai penuh makna.
Zahwa membuang mukanya. Pasrah. Sudah biasa melihat gelagat suaminya yang seperti itu. Rasa percaya dirinya sedang di puncak-puncaknya. Apalagi setelah kemarin malam dia mati-matian meminta dia untuk tetap bersamanya.
Mereka melanjutkan perjalanan hingga keluar kota. Zahwa tertidur cukup lama hingga akhirnya dia terbangun saat Hanan akan membopong tubuhnya.
''Sudah sampai?'' Tanya Zahwa. Dia masih belum sepenuhnya tersadar.
''Sudah.'' Jawab Hanan.
Hanan membaringkan tubuh Zahwa sesampainya di kamar. Melepas sepatu dan sedikit membuka kancing baju atas Zahwa untuk melonggarkan kemeja yang di pakainya. Melepas hijab yang sedari tadi menutupi rambutnya. Dan kemudian menyelimuti sebagian tubuhnya.
Zahwa sangat cantik saat tidur. Mahkota yang selalu di tutupnya membuat dia semakin menawan. Hanan selalu jatuh cinta saat melihat Zahwa tidur.
''Kalau bukan karena melihat mu lelah. Pasti kamu sudah habis sayang,'' Kata Hanan lirih di dekat telinga Zahwa. Membuat Zahwa sedikit merasakan geli. Tapi rasa kantuknya merajainya. Membuat dia tidak lagi peduli dengan rasa geli tersebut. Dan tetap terlelap.
Sebelum Hanan pergi dia mengecup kening Zahwa. Kemudian membiarkan dia kembali terlelap dalam tidurnya.
Dini hari.
Zahwa terbangun karena hawa dingin yang begitu menusuk tubuhnya. Dia membuka matanya berlahan. Di lihatnya Hanan tertidur pulas di sampingnya.
Begitu sadar dia menyadari bahwa saat ini dia tidak berada di kamarnya. Dan juga bukan seperti di kamar hotel pada umumnya.
__ADS_1
Kamar tersebut berdindingkan kayu. Semua perabot juga berbahan baku dari kayu. Ranjang merek di kelilingi kelambu putih beratapkan kayu.
Zahwa tidak tahu mereka berada di mana. Ini kali pertama Zahwa di ajak ke sini dan tadi dia tidur saat sampai di sini .
Berlahan Zahwa bangun. Berjalan ke arah jendela kamar tersebut. Dia ingin tahu di mana mereka saat ini.
Saat membuka kamar begitu takjub nya dia. Di depannya dia bisa melihat ribuan cahaya kecil yang tak lain adalah lampu - lampu penduduk desa. Beberapa bukit kecil dengan pohon-pohon padatnya, samar-samar terlihat. Udara yang sangat menyengat pori-pori tubuhnya bisa memberikan jawaban. Bahwa saat ini mereka sedang di puncak.
Zahwa menoleh ke arah suaminya yang tertidur lelap .Dia berjalan berbalik kembali ke arah tempat tidurnya. Merangkak naik dan mendekati suaminya.
''Terima kasih Mas. Sudah selalu memberikan kejutan seperti ini.'' Kata Zahwa.
Dia memeluk tubuh yang tertidur pulas tersebut. Menempel wajahnya di atas dada suaminya. Mencari kehangatan dalam tubuh tersebut.
Hanan yang terbangun menyadari Zahwa memeluknya. Dengan segera membalas pelukan tersebut.
''Aku capek sayang. Ngantuk juga, jangan menggodaku." Kata Hanan parau. Sedikit saja kesadarannya tapi masih saja menggoda istrinya.
Mendengar perkataan tersebut, membuat Zahwa reflek memukul dada Hanan.
''Nakal!'' Ujar Zahwa kesal.
Hanan tersenyum, tapi matanya tetap terpejam. Dia terlalu lelah dan rasa kantuknya masih menguasainya.
Akhirnya mereka hanya berpelukan dan menikmati kehangatan dari tubuh satu ke tubuh lainya. Kemudian mereka terlelap kembali. Hingga adzan subuh membangunkan mereka.
''Setelah ini kita jalan - jalan. Kamu bersiaplah,'' Kata Hanan.
Dia sudah berganti dengan kaos rajut lengan panjang lengkap dengan topi rajut yang menutupi sebagian rambut dan telinganya. Menyembulkan sedikit poni dahinya.
''Hah! Matahari belum juga muncul Mas.'' Tolak Zahwa. Dia bisa membayangkan udara di luar akan sangat dingin. Itu membuat dia malas untuk keluar dari kamar.
Mendengar jawaban istrinya. Zahwa berkacak pinggang.
__ADS_1
''Milih jalan pagi atau bermain di ranjang,'' Katanya dengan senyum menantang.
Zahwa ciut. Akhirnya dia meraih jaket dengan bulu Woll di bagian kerahnya. Dia tidak tahu bagaimana bisa jaketnya tersebut ada di sana. Mungkin sebelumnya suaminya sudah mempersiapkan segalanya. Buktinya, tidak hanya jaket saja, baju dan segala macam kebutuhan tubuhnya dari kepala sampai kaki sudah tersimpan rapi di dalam lemari kayu di kamar tersebut.