Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 2


__ADS_3

_Siapapun yang hadir itulah takdir_


Malam semakin larut, angin malam seakan merayap, membuat tubuh yang tadinya pulas dengan tidurnya merasakan dingin. Tangan yang tadinya dia selipkan di bawah bantal kini mulai meraba sekitar, mencoba mencari sesuatu . Di tarik satu kain yang sedari tadi tergeletak di bawah kakinya. Masih dengan mata tertutup dia menutupi tubuhnya dengan kain tersebut. Itu bukan selimut, tapi sebuah piyama bulu. Rasa hangat kembali membuat dia pulas lagi.


Di sisi lain, Hanan tertegun. Handuk yang baru saja dia keluarkan dari almari sudah di gunakan Zahwa untuk menyelimuti tubuhnya. Padahal, baru saja, dia meletakkan dan meninggalkannya untuk mencari ganti baju. Sedikit rasa iba akhirnya dia membiarkan handuk tersebut dan beranjak ke kamar mandi dengan membawa handuk lainya, yang ada di almari.


Selang beberapa menit, Hanan keluar dengan menggunakan handuk dan bertelanjang dada. Dilihat nya Zahwa masih terlelap. Hanan segera menuju lemari, mengambil baju yang tadi belum sempat dia keluarkan. Dia segera memakai dengan cepat, sesekali dia melirik ke arah Zahwa samar-samar dia terbangun. Selesai berpakaian Hanan mengambil ponsel nya, melihat sejenak dan beranjak keluar dari kamar.


Mendengar pintu tertutup, mata yang sedari tadi tertutup dia buka. Iya, Zahwa sudah bangun sejak tadi, sejak Hanan mulai mandi dan dia pura- pura tidur karena rasa malu dan rasa canggung yang entah tiba-tiba merasukinya. Bodoh, hanya saat itulah yang dia akui terhadap dirinya. Tapi bagaimana tidak, untuk pertama kalinya dia satu kamar dengan seorang laki-laki. Walaupun bener, itu adalah suaminya sendiri. Belum lagi Zahwa sempet melihat Hanan, hanya memakai handuk dan bertelanjang dada.


"Ya Alloh! aku gak tau jadinya, jika tadi aku gak pura-pura tidur, " katanya pada dirinya sendiri. Dia merasakan detak jantung nya semakin kencang.


Tidak ingin memikirkannya lagi . Zahwa beranjak dari kamarnya, mungkin mau meminta maaf. Karena sudah lancang memakai handuk Hanan untuk selimut.

__ADS_1


"Tidak, kalo minta maaf aku bisa ketahuan, kalau sebenarnya tadi aku sudah bangun. Aku harus pura-pura tidak terjadi apa-apa. Ah! tapi tidak enak juga," pikir zahwa . Bimbang, antara harus meminta maaf atau cukup berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Zahwa?," panggil hanan. Dia melihat jam tangannya, pukul 23.00.


"Mas Hanan, itu anu...," Zahwa sedikit grogi. Dia juga terkejut mendapati Hanan yang tiba-tiba di belakangnya.


"Kamu, lapar? aku sudah pesan makanan, kita makan di bawah." Kata hanan, tanpa menunggu lama dia sudah berjalan menuruni tangga. Di ikuti Zahwa di belakang nya.


Pertanyaan dan ajakan Hanan membuat Zahwa sedikit lega. Dengan begitu dia tidak perlu alasan lagi . Dan berfikir bahwa dia tidak akan mengatakan apapun tentang kejadian di kamar tadi , mungkin hanya akan dia simpan sendiri.


Zahwa melihat beberapa makanan di atas meja. Nasi goreng , mie goreng , cap cay , ayam geprek , dan beberapa makanan ringan lainya.


" Mas pesan banyak , apa bisa habisin ini semua?," tanya balik Zahwa . Akan mubazir kalo harus membuang banyak makan pikirannya.

__ADS_1


" Pilih saja mana yang kamu pengen makan , kalo nanti ada sisa bisa aku kasih kan ke pak Romi , satpam komplek sini." Jawab Hanan.


Zahwa hanya mengangguk dan mengambil salah satu makanan tersebut, ayam geprek. Walaupun sebenarnya semua enak dan makanan favoritnya . Sedangkan Hanan memakan nasi goreng.


Seperti yang di katakan Hanan tadi , makanan sisa lainnya di berikan kepada pak Romi.


Malam semakin larut , Zahwa kembali ke kamar, begitu pun Hanan.


" Aku akan tidur di sofa , kamu tidurlah di ranjang." Kata hanan. Dia mengambil satu bantal dan beranjak ke sofa , yang tadi di tempat i tidur Zahwa.


" Tidak ." Ujar Zahwa langsung, dia seakan melarang. Hanan mengurungkan niatnya untuk berbaring.


" Oh , apa aku tidur di kamar lain saja, mungkin kamu belum terbiasa." Kata hanan.

__ADS_1


" Bukan begitu , maksud ku kita tidur di ranjang saja. Bersama. " Kata Zahwa cepat , entah dia sadar atau tidak dengan omongannya. Karena setelah itu keduanya tersipu malu. Hawa dingin semakin menderu.


__ADS_2