
***
Tidak di sangka ternyata Elena suka sekali belanja dia bahkan jauh dari kata pendiam seperti pertama kali mengenalnya. Zahwa memaklumi itu semua , mungkin saja dia tidak pernah berbelanja seperti ini.
"Apa kamu masih butuh sesuatu lagi?" Tanya Zahwa. Belanjaan mereka sudah sangat banyak, perlu dua tangan untuk membawanya.
"Sebenarnya dari pada ini semua. Aku memerlukan ponsel mbak," kata Elena
Zahwa diam. Sedikit mengeryitkan dahinya. Jika memang itu yang paling penting semestinya dia membelinya pada waktu awal-awal mereka belanja. Tapi tidak, semua sudah terbeli, tapi dia baru saja mengatakan keinginannya.
"Baiklah, kita beli. Tapi maaf Elena, aku tidak bisa membelikan ponsel yang mahal. Mungkin sekitar tiga jutaan saja. Hari ini kita sudah belanja terlalu banyak," kata Zahwa.
"Tidak apa-apa. Itu sudah aku syukuri mbak," Kata Elena dia terlihat senang. Dengan senyum getir Zahwa membalasnya.
Akhirnya mereka mencari counter hape. Memilih ponsel dengan harga yang sudah di sebut kan Zahwa tadi. Elena tidak merasa ingin mengurangi harga yang di patokan Zahwa.
Para karyawan memberikan beberapa model hape dan tipenya. Setelah beberapa kali berdiskusi Elena memilih salah satunya.
"Semuanya tiga juta lima ratus kak. Silahkan di bayar di kasir," Kata karyawan itu pada Zahwa.
__ADS_1
"Baiklah terimakasih," balas Zahwa. Dia menuju kasir untuk melunasi pesanan Elena.
Elena menunggu di luar counter dia sudah asyik dengan ponsel barunya.
"Ayo kita pulang," ajak Zahwa.
"Iya, terima kasih ya mbak. Maaf merepotkan," kata Elena.
Melihat Elena bahagia membuat Zahwa ikut senang juga. Meskipun dalam pikirannya dia sedang bingung jika nanti pulang akan menjelaskan apa kepada suaminya tentang semua pengeluaran yang tidak terduga ini.
Mereka pulang tepat saat Hanan dan Surya tiba di rumah. Elena dengan senang nya menenteng belanjaannya. Sedang Zahwa dia sudah terlihat takut dan menyembunyikan belanjaan.
"Iya, Mas. Mbak Zahwa baik. Mentraktir ku belanjaan sebanyak ini," Jawab Elena
Hanan melihat dengan tatapan tidak suka kepada Elena. Tanpa bicara dia langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.
Zahwa dengan cepat menyusulnya. Dia harus minta maaf karena tidak bilang sebelumnya untuk berbelanja dengan Elena.
"Mas, aku minta maaf karena tidak izin dulu , tapi aku pikir mengajak Elena keluar rumah tidak lah salah," kata Zahwa.
__ADS_1
"Lantas kenapa kamu meminta maaf, jika kami tidak merasa bersalah ," jawab Hanan ketus.
Hanan sedang melepaskan jas-nya. Memasukan ke dalam lemari dan memilih salah satu kaos di deretan bajunya yang tersusun rapi. Dia mengambil salah satunya.
"Aku salah karena tidak meminta izin dulu untuk berbelanja," kata Zahwa penuh kekesalan .
"Sudahlah, toh sudah terjadi, " kata Hanan tanpa melihat Zahwa dia langsung masuk kedalam kamar mandi. Menyegarkan diri.
Sedang Zahwa terduduk lesu. Dia tidak bermaksud untuk menghabiskan banyak uang. Bahkan, dia hanya membeli beberapa. Itupun kebutuhannya sehari-hari, tidak lebih.
Menyalahkan Elena pun juga tidak ada gunanya . Karena dia sendiri yang mengajak nya berbelanja tadi .
"Aku tidak mempersalahkan uang. Aku hanya tidak suka kamu terlalu dekat dengan wanita itu." Kata Hanan, dia baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kenapa? Dia baik,"
Mana mungkin aku menjawab, aku tidak ingin kamu sakit hati. Jika nanti dia merebut kak Surya dari mu.
"Apa harus ada alasan jika ada orang yang tidak menyukaimu? Tapi jika menang itu mau mu . Terserah!" Kata Hanan. Dia tidak sedang ingin bertengkar dengan Zahwa. Tanpa mendengar penjelasan Zahwa dia keluar dari kamar.
__ADS_1
Zahwa diam. Harus menuruti kata Hanan atau membuktikan jika Elena tidak seburuk yang dia kira.