Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 47


__ADS_3

"Kamu sudah tidur seharian dengar kan sebentar saja," Kata Zahwa.


Hanan gemas dengan sikap Zahwa dengan sigap dia menarik Zahwa ke dalam pelukannya. Dia memejamkan mata, tapi kedua tangannya dia lingkaran kan di tubuh Zahwa membuat Zahwa tidak bisa bergerak.


"Lepaskan, kamu kenapa sih," Elak Zahwa mencoba melepaskan tubuhnya dari cengkraman Hanan.


"Aku dingin, kamu mengambil selimut ku . Jadi kamu sebagai penggantinya. Jika begini akan terasa hangat," Ujar Hanan.


"Aku akan mengembalikan selimutmu, aku juga tidak kedinginan." Kata Zahwa. Diia gugup, karena Hanan semakin mempererat pelukannya.


"Kamu bisa berpura-pura kedinginan, kan? Sekarang tidur," Kata Hanan .


Zahwa menyesal telah membuat Hanan jengkel. Dia tidak bisa bergerak. Bahkan untuk bernafas saja dia harus bergantian dengan Hanan.


Malam ini mereka lewat dengan beradu Nafas. Tanpa suara dan tanpa bicara.


***


Beberapa hari setelah itu . Hanan sudah merasa sehat dan kembali berkatifitas seperti biasanya.


Tentang pesan atau perbincangan Hanan dan kyai Jauhari tidak ada yang mengetahuinya kecuali dirinya dan Kyai Jauhari sebelumnya. Tapi setelah itu , ada perbedaan sikap Hanan terhadap Zahwa , dia semakin menghargai, dan yang paling penting perhatian nya tidak lagi dia tutupi lagi.


Zahwa mulai merasa nyaman dengan Hanan, walaupun sampai saat ini pun dia belum sepenuhnya bisa menjadi istri Hanan. Tapi dia bersyukur , bahwa suaminya itu tidak pernah memaksa nya untuk melakukan hal yang belum sepenuhnya dia sanggupi.


"Kamu lupa lagi meminum Vitamin mu!" Seru Zahwa , dia berlari kecil mengejar Hanan yang sudah bersiap masuk mobil.


"Aku sudah terlambat. Cepat berikan! Jika tidak kamu akan mengomel terus," Balas Hanan seraya mengambil tablet Vitamin yang ada di tangan Hanan dan langsung meminumnya.


"Itu juga karena salahmu, " Ujar Zahwa tidak mau kalah.


Setelah selesai meminum Vitaminnya Hanan bergegas masuk ke dalam mobil. Zahwa masih menunggunya hingga mobil itu pergi, meninggalkan dirinya. Baru setelah itu dia kembali lagi ke dalam rumahnya .


"Elena, kamu mau Kemana?" Tanya Zahwa beberapa hari ini dia sering sekali pergi.

__ADS_1


"Ada keperluan sebentar Mbak," Jawab Elena terlihat bergegas.


Zahwa memandang curiga dia merasa ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Elena. Tapi untuk saat ini dia belum berani bertanya terlalu banyak. Apalagi Hanan sudah sering memperingatkan untuk tidak sering bersamanya.


"Apa perlu ku antar? Kita bisa pergi bersama." Tawar Zahwa. Dia pikir dengan begitu dia bisa tahu apa yang sedang di lakukan Elena.


"Tidak. Terimakasih. Aku nanti bersama Mas Surya." Tolak Elena dengan senyum manisnya.


Zahwa diam. Apa jangan-jangan akhir-akhir ini mereka sering bertemu di luar rumah? Pertanyaan itu muncul begitu saja. Membuat Zahwa semakin curiga dan penasaran. Setelah Hanan sakit dia terlalu sibuk mengurus suaminya itu. Hingga lupa jika di rumah itu juga ada orang lain yang juga perlu perhatian. Mungkin sekedar tahu apa saja kegiatannya.


"Oh, baiklah." Kata Zahwa akhirnya.


Elena memeluk Zahwa dan mencium pipi kanan dan kirinya. Sebagai tanda dia akan segera pergi. Zahwa hanya tersenyum membalasnya.


Belum sampai di luar. Elena mendapatkan telpon dari seseorang. Dia terlihat bahagia menerimanya.


"Iya sebentar. Aku sudah akan keluar rumah. Apa kamu sudah begitu merindukan aku. " Kata Elen dengan raut bahagia. Tanpa dia sadari Zahwa masih mengawasinya. Hingga dia keluar dari rumah itu dan masuk ke dalam taxi online yang sudah dia pesan sebelumnya.


"Kurang tahu, Non. Tapi akhir-akhir ini Mbak Elena terlihat dekat dengan Mas Surya. Apa mereka jadian?" Jawab Bik Asih dengan dugaannya.


Zahwa tertegun. Memikirkan kemungkinan itu terjadi, rasanya masih tidak percaya.


"Mana mungkin?" Ujar Zahwa tanpa sadar.


Bik Asih berhenti dari mengelap piring yang sedari tadi menjadi kegiatannya dan melihat Zahwa dengan pandangan kosong. Terkejut dengan pemikirannya.


"Apa Non tidak suka dengan Mbak Elena?" Tanya Bik Asih.


"Ah, bukan begitu. Hanya saja Mas Surya_," Zahwa masih bingung ingin mengatakan alasan apa. Tidak mungkin jika dia mengatakan bahwa Surya masih mencintainya.


"Mas Surya sudah cukup umur Non untuk menikah. Apalagi Mas Hanan, adiknya sudah menikah. Pasti dia juga ingin secepatnya mendapatkan istri


Mungkin saja Mbak Elena yang di pilih Mas Surga." Kata Bik Asih, menyela perkataan Zahwa

__ADS_1


"Walaupun awalnya aku juga kurang setuju. Tapi melihat mereka berdua bibi yakin Mas Surya bisa membimbing Mbak Elena nanti. Sekarang saja mereka sudah sering bersama. Mas Surya telaten mengajari Mbak Elena mengaji dan menerangkan banyak ilmu agama kepadanya." Lanjut Bik Asih.


Zahwa mendengar cerita Bik Asih dengan seksama. Tapi dalam hati nya belum sepenuhnya percaya jika Surya sudah menemukan penggantinya. Hatinya bergejolak tidak menerimanya. Dia ingin memastikan sendiri dengan melihatnya dan mendengarkan langsung dari orangnya.


"Bik Asih tahu, hari ini Elena pergi kemana?" Tanya Zahwa.


"Kurang tahu juga Non. Tapi bibi sempat dengar, Mbak Elena pergi ke Al Habsyi. Kalau gak salah, tapi itu tempat apa Bibi juga tidak tahu. Hehehehe..." Jawab Bik Asih. Dia sudah terlihat susah mengingat pendengarannya.


"Oh. Itu Boutique Bik, seperti toko baju. Tapi di sana kita bisa memesan baju juga sesuai rancangan kita , atau mungkin meminta desainer nya untuk membuatkannya." Kata Zahwa lalu diam mengulangi perkataannya dalam pikirannya.


"Wah, Apa jangan-jangan benar. Mbak Elena sama Mas Surya _"


"Aku ada urusan mendadak Bik. Aku pergi dulu !" Seru Zahwa, dia bergegas cepat ke dalam kamarnya dan kemudian kembali lagi lengkap membawa tas dan kunci mobilnya. Tidak berselang lama dia sudah keluar dengan mobilnya itu.


Di dalam mobil, pembicaraannya dengan Bik Asih berhasil mengusik dirinya. Pikiran begitu kacau , hingga dia langsung ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Mobil dia kendarai dengan cepat, menembus jalanan yang ramai akan kendaraan.


Mobil berhenti di sebuah Boutique Al Habsyi. Dia mengetahui secara langsung tentang Boutique ini karena Hanan pernah mengirim pakaian dan High heels untuk dirinya waktu itu dari Boutique tersebut . Bahkan, Alfin pemilik Boutique itu adalah teman dari Hanan mungkin saja juga Surya.


Zahwa ragu ingin langsung masuk atau menunggu saja di mobil hingga Elena keluar, jika masuk dia pasti langsung tahu apa yang sedang di lakukan Elena. Dan jika menunggu, itu akan membuang waktu. Tapi setidaknya dia tidak akan banyak kata atau alasan untuk nanti jika dia bertemu Elena atau bahkan Surya.


Pada akhirnya Zahwa masuk ke dalam Boutique tersebut. Memikirkan alasan apa , itu bisa nanti . Saat ini rasa penasarannya lebih tinggi.


"Selamat datang Nona. Ada yang bisa saya bantu ? Silahkan melihat koleksi - koleksi kami." Sambut Pramuniaga.


"Iya. Terima kasih," Balas Zahwa. Dia tidak lagi mempedulikan pramuniaga itu lagi. Dia langsung mencari sosok Elena atau Surya dalam Boutique tersebut. Dengan berpura-pura memilih beberapa baju yang berderet rapi.


Boutique itu sebenarnya tidak terlalu luas. Tapi sampai saat ini dia tidak menemukan Elena ataupun Surya berada di sana. Dia sampai lelah mencarinya.


"Zahwa!" Panggilan itu terdengar sangat khas. Dengan gugup Zahwa membalikkan badan, mengikuti arah panggilan itu.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Hanan


Bagaimana dia bisa ada di sini? Itu yang mereka pikirkan bersama. Terlihat dari wajah mereka yang sama-sama terkejut dan penuh tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2