
''Dia Zahwa, pengantin dari adik saya Hanan. Hari ini di depan kerabat, saya mewakili orang tua dari Zahwa menyerahkan sepenuhnya Zahwa Nadhira pada adik saya Hanan. Jaga dia, dan jangan pernah sakiti dirinya." Ucap Surya di depan semua orang.
Sontak membuat semua orang tercengang. Tersadar, jika semua orang yang ada di sini tidak ada satupun dari keluarga pihak Zahwa. Semua yang hadir dari keluarga Zahra dan Hanan, Surya.
Hanan mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Zahwa. Dia melihat manik mata istrinya yang sudah bersama satu tahun yang lalu itu berkacamata. Dengan cepat, Hanan langsung mengusap air mata yang hampir saja tumpah.
Keduanya kemudian menatap kearah Surya. Tidak terpikirkan sekalipun jika kakaknya itu akan mewakili dari pihak keluarganya.
Surya sudah berjalan berbalik. Dan kemudian menjemput Zahra.
''Maaf, telah membuat mu khawatir," Kata Surya lirih.
Zahra tersenyum, dengan tangan yang sudah mendekap lengan Surya.
''Tidak apa-apa. Aku sudah mendengar semuanya dari Bik Asih.'' Balas Zahra di sela-sela mereka berjalan.
Sambutan tepuk tangan dan juga doa tabarokalloh bersahut-sahutan, menggema di dalam ruangan tersebut.
Selang beberapa saat mereka masuk ke dalam mobil yang telah di siapkan. Alphard putih untuk pasangan Hanan dan Zahwa, kemudian Alphard hitam untuk pasangan Surya dan Zahra.
Baru tersadar , di depan halaman rumah terdapat banyak kiriman karangan bunga. Semua berisikan ucapan selamat menempuh hidup baru untuk ke dua pasangan tersebut.
Setelah di rasa cukup ke dua mobil tersebut melaju, keluar dari halaman dan memuji tempat resepsi.
''Aku kira kamu akan sedih saat aku mengandeng Zahwa tadi.'' Ujar Surya
Mobil mereka yang memimpin rombongan pengantin tersebut. Dan di susul Alphard putih milik Zahwa.
"Maaf mas, aku tidak sengaja mendengar perbincangan mu dengan bik Asih . Ketika beliau meminta untuk menjadi perwakilan dari keluarga Zahwa." Terang Zahra.
Dia teringat kejadian tadi malam. Keluarganya hadir semua, berkumpul di ruang tengah begitu pun Zahwa dan Hanan. Mereka semua merasa senang akan kehadirannya keluarga Zahra.
Saat itu Surya baru saja menunaikan sholat Isya' . Di baru saja turun dari lantai dua, dan mendapati Bik Asih di balkon samping rumah.
Wanita paruh baya itu tertunduk. Dia menitikkan air mata. Dengan segera Surya menggapai pundaknya.
''Bik Asih? ada apa?'' Tanya Surya cemas.
__ADS_1
''Mas Surya, kok, di sini?'' Bik Asih malah balik bertanya. Dia melihat ke arah dalam rumah. Takut, jika ada yang melihatnya.
''Aku tadi habis sholat Isya'. Mau kumpul dengan keluarga, eh, taunya lihat Bibi di sini. Sendirian, nangis pula. Ada apa Bik?'' tanya lagi Surya. Dia sudah duduk di seberang tempat duduk di sebelah Bik Asih.
''Saya kasihan dengan Non Zahwa, Mas.'' Jawab Bik Asih.
Sontak membuat ke dua alis Surya terpaut. Ada apa dengan Zahwa?
''Saat seperti ini pasti dia sedang merindukan keluarganya. Non Zahwa juga pasti ingin seperti Mbak Zahra, yang di kelilingi oleh keluarganya saat acara pernikahan besok. Tapi, tidak satupun keluarga dari Non Zahwa di sini.'' Lanjut Bik Asih.
Surya menyadari sesuatu. Dia kembali melihat ke arah dalam rumah. Lewat jendela kaca itu, dia melihat Zahwa sedang bercanda dengan sanak keluarga Zahra. Tidak ada raut kesedihan sama sekali, dia juga terlihat bahagia ada di antara mereka. Tetapi, sesekali mata Zahwa juga menunjukkan pancaran yang entah bagaimana, tapi tidak akan membuat orang menyadarinya jika dia ingin seperti Zahra, di kelilingi keluarganya.
''Apa Zahwa tidak memberikan kabar ini pada keluarganya Bik? Maksud ku, dia masih ada paman dan tantenya, ada Bella juga.''
''Sudah di hubungi, tapi saat ini mereka sedang tidak ada di Indonesia. Mbak Bella juga tidak bisa datang katanya. Malah saya, yang di suruh hadir besok di acaranya, sebagai perwakilan dari keluarganya.''
Surya tercengang. Dia tidak mengetahui perihal keluarga Zahwa sama sekali. Walaupun dia orang dulu mengenal dirinya, tapi saat mereka pacaran. Zahwa tidak banyak cerita soal keluarganya. Yang ia tahu, dia hanya punya Bella sebagai saudara sepupunya.
''Jangan sedih Bik. Besok aku yang akan menjadi perwakilan dari keluarga Zahwa. Dia sudah seperti adik ku sendiri.''
''Benar, Mas?'' Bik Asih meyakinkan.
''Tapi nanti Mbak Zahra?''
''Aku yakin dia mengerti.'' Jawab Surya pasti.
Perbincangan itu dia ceritakan pada Zahra. Dan Zahra menimpali, jika setelah itu Bik Asih menemui dirinya. Dan mengatakan semua yang dia bicarakan dengan Surya. Karenanya, saat Surya menarik tangan Zahwa tadi, dia diam saja. Tahu, jika suaminya itu hanya ingin menyerahkan Zahwa pada suaminya.
''Terima kasih atas pengertiannya.'' Kata Surya
''Sama-sama sayang...'' Balas Zahwa lirih.
''Apa?'' Surya seolah tidak mendengar jawaban dadi Zahra. Dan mendekatkan telinganya, untuk lebih jelas mendengarnya.
Zahwa gemas dengan tingkah Surya. Dia sedang menahan malu, karena untuk pertama kalinya mengucapkan kata sayang untuk suaminya.
''Ulangi, aku tidak dengar!'' Perintah Surya.
__ADS_1
''Sama-sama, sayang...'' Ucap Zahwa lagi. Kali ini dengan volume yang cukup bisa di dengar oleh Surya.
...He,em He,em....
Tiba-tiba terdengar deheman dari arah depan. Surya lantas mencari tahu, siapa yang menjadi sopir mereka saat itu.
''Loh, kamu Drun yang jadi sopir kami." Ujar Surya terkekeh.
''Nggeh, Gus. Ampun supen nggeh, Kulo taseh jumbo (Jangan lupa ya, saya masih jomblo).''
Sontak membuat Zahra dan Surya tertawa. Badrun belum siap menerima ke baperan dari pasangan pengantin baru tersebut. Jiwanya bisa loncat-loncat seketika, saat pasangan itu sekedar memanggil sayang saja.
Mobil memasuki area halaman gedung. Di sana sudah berjejer karangan bunga isi ucapan selamat menempuh hidup baru dari para teman pembisnis, atau dari rekan kerja.
Dua mobil berhenti tepat di depan teras utama gedung tersebut. Di sambut oleh para penanggung jawab acara. Termasuk Aldian, dia yang pertama kali membuat pintu mobil Zahra dan Surya , di susul kemudian Hanan dan Zahwa.
Suasana kembali riuh, karena kedatangan ke dua pasangan pengantin tersebut sudah di ketahui para tamu undangan. Banyak dari mereka yang sudah menyiapkan kamera handphonenya untuk ikut mengabaikan momentum mereka.
Dengan iringan sholawat badar, yang di pimpin langsung oleh grub Reban dari pondok Zahra. Mereka masuk beriringan. Melihat karpet merah , di susul dengan taburan kelopak bunga mawar yang jatuh di atas mereka. Asap putih menjebol, dari arah kiri dan kanan kaki mereka saat mereka akan naik ke atas pelaminan, membuat suasana begitu mewah dan juga elegan.
Hari ini mereka akan menjadi Raja dan Ratu sehari. Tidak segan-segan, acara ini akan di adakan satu hati satu malam. Siang hari ini di khususkan untuk para saudara, kerabat , dan juga tetangga. Menginjak sore, mereka memberikan waktu untuk para pegawai, rekan kerja dan juga bisnis. Dan terakhir malam, untuk lebih santai. Acara untuk para teman-teman pengantin.
Rasa lelah sudah pasti hinggap, tapi kehadiran semua tamu undangan tidak menjadikan surut kebahagiaan di wajah mereka. Terlebih, banyaknya dari mereka yang menyesal jika acara ini adalah acara resepsi, dan akad sudah dulu mereka jalanin, terlebih dahulu.
Acara berjalan lancar. Bahkan jauh dari expetasi mereka. Semua di rekap sedemikian rupa, tamu undangan puas di sana. Begitupun, dengan tuan rumahnya. Ini semua hasil kerja keras Aldian.
''Jadi, kapan kamu menikah?'' tanya Adelia.
Aldian yang sedang bersandar di tembok dan saat matanya melihat ke arah dua pasangan pengantin tersebut terkejut dengan pertanyaan Adelia.
Jika usaha Aldian bisa di bilang sukses, itu juga karena perempuan di sampingnya. Dialah, Adelia, teman Zahwa yang di utus membantu Aldian untuk merancang pernikahan mereka.
"Menikah, sih, gampang. Tapi, calonnya yang susah.'' Jawab Aldian sambil menyeringai.
''Bukankah, banyak, ya, pacar mu?"
Aldian menggeleng-gelengkan kepalanya, tanpa melihat Adelia yang sedang menatapnya intens.
__ADS_1
''Banyak wanita, tapi tidak semua wanita di takdir bersama ku. Jadi, maukah kamu menjadi takdir ku?'' Pertanyaan itu seperti pedang yang langsung menghunus jantung Adelia. Pria di depannya, dengan semerta-mertanya menanyakan hal itu tanpa basa-basi sebelumnya.