
***
Pagi itu Surya menelpon dokter untuk datang ke rumah untuk memeriksa Hanan dan untuk memastikan apakah tipes nya kambuh atau tidak.
"Apa perlu dirawat di Rumah Sakit Dok?" tanya Zahwa.
"Tidak , aku tidak mau ke sana.'' Tolak Hanan sebelum dokter itu menjawab pertanyaan Zahwa.
Zahwa melototi Hanan, ntuk diam dan menuruti saja yang di katakan Dokter nantinya.
"Tidak perlu. Berikan saja obat-obat ini dan pastikan untuk meminumnya secara rutin." Jawab Dokter muda itu dengan senyum ramah.
"Syukurlah, " Kata Surya. Dia juga berada di kamar itu untuk langsung mengetahui hasil pemeriksaan Hanan.
"Untuk sementara Hanan harus makan dengan makanan yang lembut. Sepertinya bubur atau semacamnya. Nasi boleh, tapi jangan yang kasar." Pesan Dokter itu lagi.
"Baik, Dok. Terima kasih." Balas Zahwa.
"Kamu? Aku belum mengenal mu sebelumnya. Apa kamu saudara mereka. Nama ku Very. Dokter keluarga mereka. Boleh minta No hape mu?" Kata Dokter muda itu kepada Zahwa. Zahwa mendelik mendengar pernyataan Dokter itu.
"Kurang ajar!" Seru Hanan dengan sisa kekuatan yang dia punya dia melempar bantal ke arah Dokter Very itu.
"Haduh. Kenapa kamu ini? Apa mau aku suntik," Ancam Dokter Very.
"Sudah_sudah. Masih saja bercanda." Lerai Surya.
Dokter Very. Selain dia dokter keluarga mereka. Dia juga teman Hanan dan Surya. Keluarga very juga menjadi partner perusahaan mereka.
"Aku Zahwa, senang berkenalan dengan anda." Kata Zahwa dengan senyum.
"Jangan dekat-dekat dengan Dokter cabul itu. Dia cepat pergi. Itu lebih baik." Komentar Hanan. Dia terlihat tidak suka dengan Very.
"Kenapa dia sensi sekali? Aku baru pertama kali melihat dia seperti itu kepada wanita" Kata Very . Dia bertanya pada Surya.
"Aku pun akan melakukan hal yang sama jika kamu mencoba mendekati Zahwa." Ujar Surya.
"Wah! Nona apa kamu adik mereka? Hingga mereka berdua sangat overprotektif kepada mu?" Tanya Very . Kali ini dia bertanya langsung pada Zahwa secara langsung.
__ADS_1
"Mungkin bisa di bilang begitu." Jawab Zahwa , dengan senyum ramah.
"Wah! kalian tidak mengatakan jika mempunyai adik perempuan." Kali ini Very terlihat senang. Dia memancarkan wajah sumringah seakan menemukan mangsa yang sangat bagus.
Sedangkan Hanan dan Surya terlihat tidak suka melihat itu semua.
"Oh iya Dokter Very. Mungkin aku perlu menyimpan nomer ponsel mu untuk berjaga-jaga jika nanti ada keadaan darurat seperti ini tadi," Kata Zahwa dengan manis. Membuat Very semakin semangat dan tergoda.
"Boleh. Dengan senang hati, ini kartu nama ku. dan jika kamu butuh teman. Bisa hubungi aku," Kata Very , dengan sedikit berbisik di telinga Zahwa. Zahwa tersenyum, membuat kedua kakak beradik itu merasa geram.
"Aku bilang jangan dekat-dekat! " Ujar Hanan , dia melempar bantal lagi ke arah Very. Membuatnya semakin lemas saja.
"Kenapa kamu? Jangan terlalu banyak bergerak , apa kamu lupa jika kamu sedang sakit. " Very tidak merasa tersinggung, malah terlihat senang menggoda Hanan dan Surya.
"Sudah siang . Sebaiknya kamu kembalilah ke Rumah Sakit sekarang. Pasti pasien mu sedang membutuhkan mu," Kali ini Surya yang berusaha mengusir Dokter Very , tapi dengan cara lembut.
"Apa kalian sedang mencoba mengusir ku. Kejam sekali, aku sudah lama tidak ke sini. Setidaknya aku kalian harus menjamu ku terlebih dahulu." Kata Very dia malah duduk santai di sofa dengan menyilang kan kakinya. Sudah Seperti bos saja .
"Aku akan mengambil kan minuman, " Ujar Zahwa, Baru saja dia mau keluar kamar. Elena datang membawa nampan berisi minuman.
"Oh. Terima kasih, baru saja aku akan mengambilnya."" Kata Zahwa senang .
"Silahkan..." Ujar Elena mempersilahkan.
Very mengangguk dengan senyum seraya mengambil minuman itu dan segera meminumnya.
"Jika sudah , tolong kalian keluar. Aku mau istirahat. " Kata Hanan. Mungkin dengan alasan itu dia bisa mengusir orang-orang yang memenuhi kamarnya itu.
"Jika pasien ku sudah mengatakan seperti itu. Mau bagaimana lagi. Aku akan pergi," kata Very.
"Aku akan mengantar sampai depan. Silahkan," Kata Zahwa.
"Tidak. Kamu di sini." Sahut Hanan.
Zahwa menunjukkan expresi tidak suka pada Hanan. Karena menurut nya itu tidak sopan. Dia memang teman tapi juga dokter yang memeriksanya tadi.
"Eh, aku lupa. Hanan ada desas desus kamu sudah menikah. Apa dia istrimu?" Tanya Very dengan menunjuk ke arah Elena.
__ADS_1
"Bukan. Dia hanya numpang di sini," Jawab Hanan ketus melihat sikap Elena yang selalu senang saat orang menyebut nya istrinya membuat nya risih. Apalagi ada Zahwa di sana.
"Oh. Berarti itu hanya gosip? Baguslah , mana mungkin kamu menikah. Kenalan cewek saja tidak punya." Ejek Very .
"Tidak! itu bukan gosip. Mas Hanan memang sudah menikah, " Sahut Elena. Hanan menatap nya tidak suka dia terlalu lancang menurutnya.
"Terus. Istrinya di mana?" Tanya Very
Hanan dan Zahwa berpandangan, sedang Surya dia seakan sulit juga mengatakan soal Zahwa dan Hanan yang sebenarnya
"Saya isterinya mas Hanan." Jawab Zahwa dengan senyum.
"Loh, kamu bilang tadi kamu adiknya?" Bantah Very. Ada kekecewaan setelah mengetahui Zahwa adalah istrinya Hanan.
"Hehehe, " Senyum cengengesan yang Zahwa berikan untuk jawaban Very.
"Sudah jelas. Silahkan pak Dokter yang terhormat . Untuk meninggalkan kamar saya. " Kata Hanan. Kehadirannya very membuat penyakit nya semakin parah. Menambah pusing saja.
"Ok baik lah. Aku menyerah. Sayang sekali , jika saja kamu bukan istrinya Hanan. Mungkin saja kamu akan menjadi pasien ku nantinya. Aku tidak hanya mengobati tubuh saja , tapi hati juga. " Masih saja Very mencoba menggoda Zahwa. Tidak pantang menyerah , padahal ada suaminya di depannya.
Zahwa hanya tersenyum menanggapi. Dia tidak merasa keberatan, karena dia tahu Very dari tadi hanya menggodanya dan bercanda saja.
"Kau pun dia bukan istrinya Hanan. Aku juga tidak akan membiarkan mu mendekatinya.'' Tambah Surya.
"Oh , Tuhan ! Apa kalian tidak sadar,kalian membuat ku tambah sakit sekarang." Erang Hanan. Dia sedang sakit , tapi orang-orang di sekitarnya mengganggu nya dengan berdebat di dalam kamarnya.
"Kita keluar saja. Hanan perlu istirahat." Kata Surya, dia tidak tega melihat Hanan yang merasa terganggu.
Mereka semua akhirnya keluar dari kamar Hanan. Kini tinggal Zahwa dan Hanan yang masih berada di sana. Zahwa mengambilnya piring berisi bubur ayam yang sudah di siapkan sejak tadi dan ingin menyuapi Hanan.
"Aku sudah makan roti tadi. Aku langsung minum obat saja," Pinta Hanan menolak untuk memakan bubur tersebut.
"Oh. Jika tidak mau. Aku akan memanggil Dokter Very kesini lagi. Mungkin dia bisa membantu ku untuk membuat mu makan." Kata Zahwa.
Hanan melengos, di ancam seperti itu membuat nya tidak bisa membantah.
Tadi kak Surya , sekarang Very . Haduh .
__ADS_1
"Ok. Aku makan. Suapi tapi," Pinta Hanan pasrah . Zahwa tersenyum menang.