Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 53


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Hanan saat melihat Zahwa melebarkan matanya. Terkejut akan perkataannya.


"Apa mie instan mu benar belum expayed? Omongan mu ngelantur," Jawab Zahwa.


"Aku suamimu. Wajarkan aku meminta hak ku," Kata Hanan. Dia mendekati wajah Zahwa.


"Tapi_"


"Jangan membantah. Aku sudah cukup lama menunggu," Kata Hanan.


Zahwa memejamkan matanya. Merasakan hawa panas tubuh Hanan yang semakin mendekati dirinya. Dengan lembut Hanan menelusuri wajah Zahwa dengan jemari lentiknya. Mengelus pipi halus Zahwa dan bermain di bibir mungil Zahwa.


Zahwa tegang. Dia tidak berani membuka matanya. Tidak kuasa menatap mata Hanan yang memandang mesra. Hanan begitu leluasa memandang cantik Zahwa.


Wajah keduanya begitu dekat. Berlahan Hanan mendaratkan ciuman pertamanya pada kening Zahwa.


Zahwa membuka matanya. Sesaat setelah Hanan mencium keningnya. Mata mereka bertemu debaran di antara mereka bersatu. Dari mana keberanian itu datang? Tiba-tiba Zahwa menarik wajah Hanan lebih dekat dengannya menempel kedua kening dan hidung mereka. Terpejam. Menikmati hasrat yang pertama kali mereka rasakan.


"Apa boleh aku memintanya sekarang?" Tanya Hanan dia mereka hasratnya tidak bisa di bendung. Dia sudah begitu mempererat pelukannya pada tubuh Zahwa.


Zahwa merunduk, sedikit menjauhkan wajahnya dan berpaling dari tatapan Hanan. Dia maluTidak kuasa menjawab pertanyaan Hanan.


"Diam berarti, Iya." Kata Hanan lagi. Dia sudah menahan hawa panas dalam dirinya. Jantungnya mulai berdebar kencang. Melihat istrinya yang begitu pasrah membuat Hanan tidak bisa menahan diri.


Dreeet Dreett Dreettt .


Ponsel Hanna menyalakan panggilan. Sontak membuat Zahwa mendorong Hanan dari tubuhnya. Hanan bernafas kesal dengan malas dia melihat siapa yang sedang meneleponnya.


"Apa-apa orang ini. Masih saja mengganggu." Umpat Hanan. Nama Surya tertera di layar ponselnya.


"Angkatlah dulu. Mungkin saja ada yang penting." Kata Zahwa. Dia sudah kembali merapikan posisi dan dirinya yang sedikit berantakan.


"Assalamualaikum...Kau di mana sekarang? Kenapa tidak pulang?" Tanya Surya di seberang. Dari suaranya dia kesal bercampur khawatiran.


"Aku di rumah Zahwa. Kau mengganggu kami . Jangan telpon lagi. Assalamualaikum," Jawab Hanan seraya mematikan panggilan tersebut.


Hanan memandang Zahwa sudah tidur menyingkurinya. Dengan sigap dia melingkar tangannya di pinggang Zahwa. Membuat Zahwa terkejut. Tapi dia pura-pura tidak mengetahuinya.


"Baiklah...Malam ini begini saja," Bisik Hanan di dekat telinga Zahwa. Membuat perempuan itu merasakan desiran dalam tubuhnya. Akan tetapi berusaha ia tahannya.


Melihat tingkahnya tidak di respon Zahwa Hanan menghela nafasnya.


"Sabar Hanan..." Kata Hanan dalam hati. Dia mulai memejamkan matanya menenggelamkan wajahnya pada punggung Zahwa.


***

__ADS_1


Pagi sekali Hanan sudah bersiap akan pulang. Dia harus kembali ke rumah dulu untuk mengambil beberapa berkas untuk di bawa ke kantor.


"Tidak sarapan dulu?" Tanya Zahwa.


"Nanti antar saja ke kantor. Aku buru-buru," Jawab Hanan dengan mencium kening Zahwa sebelum dia masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati di jalan," Pesan Zahwa .


"Baiklah...Daa..." Hanan memberikan senyum manisnya dan kemudian hilang bersama mobilnya.


Zahwa kembali kedalam rumah. Dia melihat sekelilingnya. Bermaksud untuk mulai membersihkan rumahnya itu.


Setelah berjam-jam kemudian Zahwa sudah selesai membersihkan seluruh ruangan dan juga halaman. Dia bersandar di kursi, melepas lelahnya.


Mas Hanan.


Aku lapar? Apa kamu masih lama?


Isi Chat itu membuat Zahwa sontak bangkit dari rebahan nya dan langsung beranjak ke dapur. Dia kecewa saat tidak menemukan apapun di dapurnya.


"Aku lupa belanja,"


Zahwa segera bersiap. Dia tidak menunggu lama untuk segera pergi dan mencari makan siap saji untuk di antara ke kantor Hanan.


"Selamat pagi, Nona." Sapa satpam kantor memberikan salam.


"Maaf Nona. Pak Surya hari ini tidak masuk kerja." Kata Satpam itu. Zahwa mengeryitkan dahinya mencari tahu kenapa satpam itu mengatakan hal itu kepadanya.


"Tidak. Aku kesini untuk mencari suamiku," Kata Zahwa. Dia teringat. Pertama kali dia kesini bersama Surya. Wajarlah jika satpam itu mengatakan hal tersebut. Dia mengira Zahwa akan menemui Surya.


"Oh. Maaf Nona. Kalo boleh tahu siapa Nama Suaminya biar saya panggilkan." Tanya Satpam itu menawarkan.


"Tidak usah, saya akan ke ruangan langsung saja. Terima kasih, Pak.." Jawab Zahwa seraya pergi.


Dia langsung menuju ke arah ruang Zahwa. Banyak karyawan yang mendengar pembicaraan Zahwa dengan satpam tadi, mereka menjadi penasaran siapa yang di maksud Zahwa.


Saat mau ke ruangan Hanan seorang karyawati mengehentikan langkahnya.


"Maaf Nona. Di sini hanya ada ruangan Pak Bos. Ruangan karyawan ada di sebelah sana." Cegah Karyawati itu.


"Aku memang sedang ingin ke ruangan bos mu, " Kata Zahwa


"Tapi, tadi Nona ingin mencari suami Nona? Pak Hanan belum mempunyai istri. " Elak Karyawati itu dengan tatapan tidak suka. Dia mengira bahwa Zahwa sedang mengada-ada.


"Saya Isteri Mas Hanan. Jadi, mohon untuk tidak menghalangi saya. Suami saya sedang menunggu sarapannya." Kata Zahwa tegas tapi tetap sopan.

__ADS_1


"Tidak mungkin. Pasti Nona salah. Pak Hanan belum mempunyai Istri." Bantah Karyawati itu. Membuat banyak pegawai lainya juga ikut nimbrung menghadang Zahwa. Kebanyakan dari mereka adalah wanita.


Zahwa seperti terdakwa yang akan di hakimi massa. Dalam hatinya dia akan memukul suaminya nanti,dia bahkan tidak mengakui dirinya di kantor nya sendiri.


"Ada apa ini kenapa ribut? " Tanya Aldian. Dia datang seperti seperti pahlawan, membubarkan banyak pegawai yang mengerumuni Zahwa.


"Dia mengaku istrinya pak Hanan, Pak'' Kata salah satu pegawai itu mulai bicara.


"Kau? Bukan kah kau pegawai magang pada waktu itu," Kata Aldian. Sontak membuat pasang mata menatapnya curiga. Menganggap dirinya pembohong.


Zahwa sudah kesal dengan tingkah pegawai suaminya itu. Dia membuang muka dan mendesah kesal.


"Sekarang panggil Bos kalian!" Kata Zahwa memerintah.


Tidak ada yang mendengar Zahwa. Malah ada yang membully nya karena sangat percaya diri mengaku menjadi istri Bos mereka.


Hingga akhirnya. Hanan sendiri yang datang melihat kericuhan tersebut.


"Kenapa ribut-ribut?!" Seru Hanan. Semua pegawai sontak menoleh ke arah suara Bosnya itu. Memperlihatkan Zahwa yang berdiri tanpa kubu.


"Zahwa! Kenapa kamu lama sekali? Aku sudah lapar." Tanpa dosa Hanan langsung terfokus pada Zahwa.


Zahwa langsung berjalan menyibak kerumunan pegawai itu yang masih terkejut dengan kejadian yang baru saja mereka lihat.


"Maaf, Bu. Saya tidak tahu." Kata salah satu dari mereka. Zahwa hanya tersenyum membalasnya. Beberapa ada yang langsung berlalu dan mengumpul lagi untuk menggosipkan tentang dia.


"Mana makan ku!" Ujar Hanan. Dia sudah sangat lapar .


"Pegawai mu yang melarang ku masak. Kenapa hanya aku yang di marahi." Balas Zahwa. Dia menyiapkan semua makanan yang dia bawa untuk Hanan.


"Aku tidak marah. Aku lapar, jangan mengajak ku berdebat sekarang." Pinta Hanan.


Zahwa diam. Cemberut karena merasa kesal dengan kejadian barusan.


''Nan? Dia beneran istrimu? Sejak kapan?" Tanya Aldian cepat. Dia masuk seenaknya saat Hanan sedang mulai makan.


"Aku Zahwa. Salam kenal, kita belum berkenalan secara resmi bukan." Kata Zahwa dengan manis dan bangga.


Sejak pertama kali bertemu dengan Zahwa Aldian tidak terlalu suka dengannya. Bahkan menganggap Zahwa cewek yang kasar dan tidak pantas untuk Hanan.


"Aldian. Sekretaris Hanan." Dengan ragu dia menerima jabatan tangan dari Zahwa.


Hanan masih meneruskan makanannya. Aldian, dia melihat banyak makanan di depannya membuat nya tergoda untuk ingin memakannya.


"Silahkan, jika mau ikut sarapan." Kata Zahwa,yang mengetahui Aldian yang tergiur melihat makanan tersebut.

__ADS_1


"Wah! Kau ternyata baik juga. Kau memaksa ku, jadi aku akan makan juga." Kata Aldian. Sifatnya memang begitu, langsung berubah lunak jika itu soal makanan dan Uang.


__ADS_2