
Melakukan hal sesuai keinginan seseorang itu ibarat kereta yang berjalan. Dia hanya mempunyai satu jalan satu arah dan satu pemberhentian. Ada yang menyukai hal tersebut karena mungkin dia menyukainya, menikmatinya dan memiliki tujuan sama. Namun juga ada yang tidak menyukainya, karena mungkin kita tidak bisa berhenti di mana kita ingin berhenti. Atau mungkin ingin menapak jalan yang lain selain jalan utama. Atau sekedar ingin lebih menikmati perjalanan dengan lebih santai.
Setiap orang berbeda kan? Hanya cukup saling toleransi saja dalam menanggapinya.
''Terimakasih,'' Kata Hafiz tiba-tiba.
''Untuk?" tanya Zahwa.
Mereka sedang menikmati jus dan cemilan yang di buat oleh Hafiz. Zahwa baru tahu, jika Hafiz sepupu dari suaminya itu pintar sekali membuat kue. Ternyata dia juga membuka cafe kecil di daerah perkotaan. Hanya di karenakan keadaan ibunya dia sering menutup cafe tersebut.
''Kamu sudah peduli dengan Ibuku,'' jawab Hafiz.
''Beliau juga sudah aku anggap ibu ku sendiri, hanya saja mungkin beliau belum mengganggap ku putri. Hehehehe,'' Lontar Zahwa santai.
Ada mimik terkejut di wajah Hafiz.
''Bercanda, jangan di ambil hati.'' Tambah Zahwa setelah melihat wajah tidak enak Hafiz.
''Tadi Hanan?'' tanya Hafiz.
''Iya, dia sudah perjalanan ke sini. Memang dasar bucin."Jawab Zahwa.
''Hahahaha. Tapi aku tidak pernah melihat Hanan seperti itu, aku kira hidupnya hanya untuk bekerja dan melakukan yang menjadi tujuan hidupnya." Kata Hafiz. Dia mengingat Hanan dan menemukan banyak perubahan pada dirinya.
''Tujuan hidupku sekarang membahagiakan dia Fiz. Udah itu aja,'' Sahut Hanan. Dia sudah datang dan segera menyerobot minuman di tangan Hanan.
''Capek, sayang?" tanyanya manja dengan memanyunkan bibirnya. Zahwa langsung mengacak-acak rambut nya dengan gemas.
''Wah. Benar bucin ternyata. Hahah...'' Ujar Hafiz
''Kenapa buru-buru menjemputku? Kamu sudah bertemu Bibi?'' tanya Zahwa pada suaminya.
''Belum, aku kangen kamu.'' Jawab Hanan yang pengen mencium Zahwa namun segera di cegahlah.
''Kamu ini, ada Hafiz. Gak malu apa," Kata Zahwa. Dia mendorong tubuh Hanan agar duduk lebih jauh darinya.
__ADS_1
Hafiz garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Dia malu sendiri melihat tingkah pasutri di depannya.
''Lebih baik aku pergi, dari pada mengganggu." Pamit Hafiz.
''Eh, jangan. Di sini saja, kita ngobrol-ngobrol. Lagipula kita belum mengobrol setelah dari daeng kemarin.'' Cegah Zahwa.
''Iya Fiz. kamu gak lagi ada kerjaan, kan?" Sahut Hanan. Dia membenarkan duduknya.
''Ok deh, tapi jangan kayak tadi. Takutnya gua ngiri.'' Kata Hafiz.
Kemudian terdengar gelak tawa dari mereka. Hanan bertanya kesibukannya. Hafiz menceritakan tentang usaha kecilnya.
Dia menyewa tempat di tengah perkotaan untuk kafenya.Dalam satu tahunya sekitar 5 juta biaya sewanya. Itupun setelah melalui tawaran yang sangat sengit.
Setelah mendapat tempat tersebut dia dan teman-temannya menyulapnya menjadicafe anak muda jaman sekarang. Dengan fasilitas WiFi dan bangku sebagian lesehan, tembok dengan ukiran abstrak.
Untuk soal menu, selain kue-kue yang dia buat sendiri ada juga makan berat. Seperti ayam geprek, nasi goreng, mie goreng dan makan jenis lainya yang lagi nge-hits - nge-hits nya. Itupun dengan level-level yang berbeda. Minuman pun semua berupa jus, selain itu menyehatkan. Tapi hafiz sendiri ingin mengajak pengunjung untuk membiasakan meminum jus.
''Dan pengunjungnya?'' tanya Hanan.
''Tapi yang, kasihan dia harus nutup cafenya karena Bibi Ami sakit.'' Ujar Zahwa pada Hanan. Berharap suaminya itu bisa membantu bisnis sepupunya itu.
''Oh jadi kamu menganggap bahwa apa yang di alami anak saya karena saya?'' Sahut Bibi Ami.
Zahwa dan Hanan terkejut melihat Bibi Ami ada di antara mereka. Beliau di atas kursi roda dengan bantuan Wardah di belakangnya.
''Loh, Bibi? Bibi mau kemana?'' Tanya Hanan.
Dia langsung bangun dari duduknya dan langsung sungkem pada Bibinya tersebut.
''Kamu kapan datang? kenapa aku tidak tahu?" Tanya Bibi Ami.
''Baru saja.'' Jawab Hanan. Padahal dia sudah hampir satu setengah jam di sini. Karena berbincang dengan Hafiz dan Zahwa dia lupa menjenguk Bibi nya tersebut terlebih dahulu.
Bibi Ami melihat Zahwa. Dia tidak menyangka jika dirinya masih ada di rumah ini. Dan dengan nyamannya berbincang-bincang dengan anak dan keponakan tersebut. Seperti sudah dekat saja
__ADS_1
''Aku kira kamu sudah pergi.'' Kata Bibi Ami kepada Zahwa.
''Ah. Maaf bi. Saya menunggu di sini, mungkin saja nanti Bibi butuh bantuan saya.'' Kata Zahwa. Tadinya hatinya sudah tenang dan nyaman. Dan kini tiba-tiba sudah seperti naik rollercoaster. Naik turun dan penuh ketegangan. Takut, jika dia salah bicara lagi.
''Aku tidak perlu bantuan orang asing. Wardah sudah cukup di sini. Lagipula ada anak dan keponakan juga.'' Kata Bibi Ami sengit. Dia menunjukkan ketidak sukaanya terhadap Zahwa dengan terang-terangan.
Zahwa hanya diam. Sebenarnya hatinya mulai mengeras, puih air di matanya mulai menggenang di ujung matanya. Namun dia berusaha bertahan.
Hanan tidak tahan melihat itu semua dan segera berdiri.
''Oh iya bibi. Dia datang ke sini atas kemauanku untuk merawat Bibi. Jadi untuk beberapa waktu nanti, dia akan sering ke sini. Jadi tolong, jangan marahi dirinya.'' Kata Hanan.
''Kamu tidak perlu membayar orang untuk merawatku. Ada Wardah! Dia tanpa bayaran ikhlas merawatku. Dia telaten dan sabar.'' Ujar Bibi Ami.
Kata-kata itu serasa anak panah yang langsung mencap di tubuh Zahwa. Dia seakan terasingkan di antara keluarga suaminya.
''Tapi bibi, aku adalah keponakanmu kan? dan sudah seharusnya aku merawat mu juga. Namun karena pekerjaan, aku tidak bisa leluasa melakukan itu. Karena itulah, aku meminta Zahwa untuk mengantikan aku . Diapun juga akan melakukannya dengan ikhlas, jadi cobalah bibi menerimanya." Terang Hanan. Dia tidak terima dengan perkataan Bibinya. Tapi mau bagaimana lagi, bibi pun tak salah dalam hal ini. Dia tidak tahu, bahwa Zahwa adalah istrinya.
Ketegangan terjadi di antara mereka. Bibi Ami tidak lagi menjawab perkataan Hanan. Dia hanya menyuruh Wardah untuk membawanya ke samping rumah. Dia juga ingin Hanan ikut dengan mereka.
''Sayang, sebentar, ya." Izin Hanan lirih sesaat sebelum dia pergi mengikuti kemana Bibinya pergi.
Zahwa membalas dengan senyum dan anggukan pelan. Dan kemudian dia kembali duduk dan menyandang tubuhnya.
''Maaf ya, Ibu kasar terhadapmu." Kata Hafiz.
''Hah! Tidak apa, aku mengerti. Mungkin itu adalah naluri keibuannya. Dia tidak Inging anak-anaknya bergaul dengan orang salah. Lagipula, ibumu tidak tahu jika aku adalah istrinya Mas Hanan.'' Ujar Zahwa. Dia mengatakan itu, sepenuhnya untuk menenangkan hatinya juga.
''Aku akan ambilkan lagi jusnya? Mungkin kamu punya permintaan ingin minum jus apa? Aku akan buatkan." Tanya Hafiz.
Dia mengalihkan suasana agar Zahwa tidak tegang lagi. Dan membuatnya nyaman berada di sini.
''Tidak terima kasih, tapi jika kamu memaksa aku ingin jus Jambu.'' Kata Zahwa.
Hah. Setidaknya dia tidak merasa sendiri di rumah ini. Ada saudara laki-laki yang ternyata bisa dia ajak berbicara dan cukup menyenangkan.
__ADS_1