Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 134


__ADS_3

"Tapi, ini bukan jumlah yang sedikit, aku bahkan tidak pernah melihat uang sebanyak itu"


Hafiz kembali membantah, dia tidak ingin menyulitkan saudaranya itu lagi. Apa yang Hanan perbuat pada keluarganya, sudah cukup banyak.


Kedatangannya, untuk memberi tahukan pada Hanan, jika Wardah sedang membutuhkan dirinya. Dia ingin , sepupunya itulah yang menyelamatkan Wardah. Tidak, untuk meminta uang seperti ini.


"Cinta bukan untuk di bayar, apalagi di jual. Cinta, ada untuk di terima, dan di perjuangkan. Jika, kamu minta aku menikahi Wardah apa itu akan menjamin hidupnya nantinya? , sedang ada seseorang yang rela berkorban untuk dirinya, bahkan sama sekali tidak memikirkan perasaannya sendiri." Hanan mulai berbicara. Mencoba membujuk Hafiz untuk menerima uang itu.


"Benar, apa yang di katakan Mas Hanan. Aku menyukai Wardah, tapi aku pun perempuan, yang juga tidak ingin di madu." Kini Zahwa menimpali.


Setelah banyak perdebatan, Akhirnya hafiz setuju untuk menikahi Wardah. Dia sendirilah, yang akan terbang menjemput perempuan itu, dia sendiri juga yang memperjuangkan cintanya yang sejak dulu ia pendam.


***


Malam penuh bintang, sang purnama pun telah muncul di permukaan langit malam. Mengeluarkan cahaya hangat, menyembul di tengah-tengah ranting pepohonan.


Zahwa sedang mengajak bermain Ammar di paviliun kamar. Ammar sedang terbaring pada kereta dorongnya, sedang Zahwa menggodanya untuk merebut mainan di tangannya.


Hanan, datang dari arah belakang, menempelkan tubuhnya pada punggung istrinya. Memeluknya, dan mencium ubun-ubunnya.


"Jangan seperti itu, apa kau tidak malu di lihat Ammar?"


"Sepanjang hari kau sudah bersamanya... Sampai kau lupa, jika aku butuh dirimu juga!"


"Dia masih kecil, tapi kamu sudah cemburu saja..."


Hanan tidak menjawab, dia menikmati aroma tubuh istrinya itu. Merasai setiap detik hembusan nafasnya, pun dengan detak jantungnya.


"Aku ingin bertanya, kenapa saat hafiz meminta ku untuk menikahi Wardah, kau langsung membantahnya? Biasanya, kau selalu mengutamakan perempuan lain, dari pada dirimu sendiri"


Zahwa tersenyum, dan kemudian menatap suaminya itu, melingkarkan ke dua tangannya di pundaknya.


"Mana mungkin, aku membiarkan suami ku menikahi wanita lain, sedang dia sangat mencintai ku. Dalam hal, bercanda saja dia tidak pernah melepaskan ku..." Ucap Zahwa, senyumannya membuat Hanan terpaku.


"Apa, kau baru sadar sekarang?"

__ADS_1


"Hahaha, tepat sebelum aku kembali menemui hafiz lagi."


Hanan mengerutkan dahinya, tanda tidak mengerti.


Chat itu datang dari Bella, kakak sepupu yang sejak lama menghilang.


Bella


*Maaf, aku tidak merespon pesan dan panggilan mu. Saat itu aku sedang berjuang untuk mendapatkan suami ku lagi .


Dan Alhamdulillah, usaha ku tidak sia-sia. Mertua ku Akhirnya luluh, dan memberikan restu untuk pernikahan kami lagi. Dia bahkan meminta maaf, atas semua kesalahannya.


Aku sangat bahagia, Zahwa.


Sangat sulit untuk mempertahankan rumah tangga ku, dan setelah ini , aku tidak ingin ada lagi yang mengganggunya lagi.


Banyak orang menikah Zahwa, tapi tidak banyak orang yang bisa mendapatkan cinta. Dan aku beruntung, karena saat ini aku mendapatkan keduanya.


Salam untuk Hanan dan Surya, lain waktu aku akan ke rumah mu. Kita, rayakan ini bersama-sama. Saat ini, biarkan aku dengan suami ku dulu. (emoticon love*)


"Jika, bukan chat itu? Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu, beneran mau menyerahkan aku kepada Wardah?,"


"Tidak. Itu akan menjadi kesalahan ku, aku tidak mungkin menghukum seorang wanita dengan menikahkan, dia dengan suamiku. Karena apa? Kerena, Aku tahu, jika suami ku sangat mencintai ku...."


"Kenapa kau anggap, itu hukuman, bukankah, itu malah akan membuatnya senang?" Hanan, tidak mengerti.


"Sudah aku bilang, karena suami ku mencintai ku. Dan jika aku membiarkan wanita lain ada di antara kita, itu hanya akan membuatnya tersiksa. Karena, kamu... hanya akan menjadikan dirinya beban dan pajangan saja." Terang Zahwa.


Hanan tersenyum, lalu mencubit ke dua pipi Zahwa.


"Aku suka, saat dirimu seperti ini. Dari pada diri mu yang selalu memikirkan orang lain. Itu seperti, kau sangat mencintai ku, lebih daripada dirimu sendiri."


Baru juga mereka bercanda, dan saling menggoda. Pintu kamar di ketuk, membuat Hanan kesal, dan berjalan cepat untuk membuka pintu. Ingin segera tahu siapa yang sedang mengganggu mereka.


"Aku akan ke London! Untuk beberapa hari ke depan, Ammar aku titipkan pada kalian, ya?"

__ADS_1


Surya, sudah dengan pakaian rapinya , setelah serba hitam. Jaket dengan kaos hitam dan juga celana jins, menenteng ransel di tangannya. Berdiri tepat di depan Hanan.


"Bukan, kah setiap hari juga Zahwa yang mengurus Ammar?." Ucap Hanan, dia mempersilahkan Surya masuk, dengan membuka pintu kamarnya lebar. Berjalan ke arah paviliun kamar, untuk menemui Zahwa dan Ammar.


"Mau, kemana? kok rapi banget?," tanya Zahwa melihat penampilan Surya yang tidak biasanya.


"Aku mau ke London, untuk beberapa hari. Jadi, aku titip Ammar, ya?" Surya mengulang lagi pernyataan itu kepada Zahwa.


"Baiklah...Tapi, kenapa tiba-tiba? Apa ada masalah, atau_"


Belum juga menyelesaikan bicaranya. Hanan memotong.


"Masalahnya, tidak ada dia antara kami yang sanggup terpisah dengan istrinya. Jadi, para istri mohon mengerti. Faham?" Ungkap Hanan.


Zahwa tersenyum, Surya malu-malu. Memang apa yang di katakan adiknya itu benar. Dia sudah berusaha, untuk menahan gejolak batin dan rasa rindunya. Namun, ternyata obat kerinduan hanya satu, yaitu pertemuan. Meskipun, setiap hari mereka bertukar kabar, tapi tetap saja. Itu hanya vitamin saja, bukan obat yang sebenarnya.


"Salam untuk Kak Zahra, baik-baik di sana." Kata Zahwa.


Sebelum pergi, Surya mengendong Ammar sebentar. Menciumnya, dan juga menimangnya. Sosok mungil itu, kini sudah seperti bagian dari hidupnya. Meskipun bukan darah dagingnya. Dia sudah menganggapnya sebagian anaknya sendiri.


Pada akhirnya, waktulah yang menjawab setiap pertanyaan hati. Sering orang mengatakan, bahwa cinta itu luka. Namun, tetap saja mereka mempercayainya. Itu sama halnya, saat kita tahu bahwa obat itu pahit, tapi kita tetap saja mau meminumnya. Untuk apa? Untuk menyembuhkan luka, untuk menyehatkan diri kita.


Setiap orang memiliki banyak cerita yang berbeda. Namun, tentang cinta, mereka memiliki jawaban yang sama. Adalah ketika, hati ini telah memilih salah satu dari ribuan hati yang terpilih untuk hidup kita.


Wujud cinta, adalah ketika kita ingin terus bertahan dengan pasangan kita, bukan karena kesabaran. Namun karena perasaan kasih sayang dan cinta dalam hati kita.


Zahwa menidurkan Ammar di ranjang bayinya. Kemudian menemui suaminya yang masih berdiri di paviliun menatap kebawah, melihat kakaknya berangkat untuk menemui istrinya.


Dengan pelan, tangan Zahwa melingkar di punggung Hanan. Menempelkan, pipi kanannya di punggung kekar suaminya.


"Terimakasih, untuk hati mu, yang memilih hatiku sebagai pasangan hidupnya..." Ucap Zahwa pelan.


Hanan membalikkan badannya, dan merengkuh istrinya tersebut. Mengajaknya, menikmati malam penuh cahaya bintang dan sang rembulan. Serta, mengantar kepergian kakaknya yang kini sudah siap melajukan mobilnya.


Satu klakson berbunyi, pertanda salam perpisahan. Sejak tadi Surya pun menyadari intaian adik-adiknya. Tangannya yang melambai, tanda permintaan doa keselamatan untuk dirinya, dan salam perpisahan sementara mereka.

__ADS_1


Selesai


__ADS_2