Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 8


__ADS_3

****


" Aku ingin menanyakan soal mas surya ," kata Zahwa .


" Maksud mu , Surya mantan mu ? " Tanya bella. Zahwa mengangguk.


" Sebenarnya aku belum memberikan dia kabar kalau aku sudah menikah ,"


" Waduh , bukan nya dia udah mau balik ke Indonesia. Terus bagaimana dong ?"


" Kalau hanya menjelaskan itu akan sedikit di mengerti. Tapi sebelumnya aku ingin tahu , sebenarnya mas Surya itu keluarganya bagaimana ? "


" Maksudnya ? Kamu ingin tahu keluarga nya ? "


" Iya , sebenarnya aku sedikit curiga. "


" Tentang ? "


Zahwa menghela nafas panjang.


" Aku menemuka kotak biru , sama seperti kotak yang sama aku berikan kepada mas Surya . Ada di rumahku sekarang , di rumah suami ku , tepat nya di kamar kakak ipar. " Jelas Zahwa.


" Mungkin kamu masih cinta dengan Surya . Tapi bukan berarti hanya sebuah kotak saja kamu sampai berfikir kalau kotak itu milik Surya yang kamu kasih dulu kan. Mungkin hanya mirip . Apa kamu sudah buka kotanya juga ?"


" Aku harap begitu , tetapi semua terasa kebetulan sekali kak . Kamar kakak ipar ku itu , ..


" Apa ?! kamu sudah berani masuk kakak ipar mu , wah gawat . Selain kamu mencintai Surya ternyata kamu sudah mengincar kakak ipar mu juga "


" Apaan. Aku belum selesai ngomong. " Kesal zahwa . Bella terkekeh-kekeh.


" Aku tidak akan berfikir begitu , lagi pula tidak hanya soal kamar saja . Tapi , kata mas Hanan kakak ipar nya itu studi di Cairo . " Lanjut Zahwa. Bella mulai tertegun


" Jangan-jangan kakak ipar mu adalah surya. " Ujar Bella. Zahwa mulai tegang. Ke khawatiran nya seakan di ungkapkan.


" Aku juga belum tahu Surya tinggal dimana , terlebih orang tuanya. Ada yang mengatakan dia itu orang biasa , karena dia tidak terlalu pilih-pilih dalam pergaulan. Soal penampilan dia juga tidak terlalu mencolok. Dia terkenal dengan kecerdasannya saja , di tambah katanya karena tampangnya. " Jelas Bella.


Selain satu angkatan dengan Bella , Surya juga menjadi salah satu teman Bella waktu di asrama pada waktu masa kuliah dulu. Dia menjadi pengurus asrama putra dan Bella menjadi pengurus asrama putri.


Mereka cukup dekat, tetapi sebatas teman atau partner kerja. Sedangkan Zahwa , dia adik tingkat mereka. Saat itu Bella lah yang memperkenalkan Surya pada Zahwa.


" Kalau memang mas Surya kakak nya mas Hanan . Aku harus bagaimana ?," Keluh Zahwa.


Membayangkan dia tinggal dengan dua orang lelaki. Yang satu adalah suaminya dan satu adalah kekasihnya dan juga kakak iparnya. Hah, Bagaimana bisa???


Belum lagi bagaimana dia menjelaskan kepada mereka berdua nantinya.


" Tenanglah , mungkin hanya kebetulan. Positif thinking aja dulu. " Kata bella mencoba menenangkan.


Jika di fikirkan akan memang akan rumit.


" Jadi kakak juga tidak tahu di mana rumah atau keluarga mas Surya?" Tanya Zahwa lagi meyakinkan. Bella geleng - geleng kepala. Menyesali juga kenapa dulu tidak sempat menanyakan tentang hal itu.


Tidak terasa , mereka telah menghabiskan waktu 3 jam dalam mengobrol.


Meskipun Zahwa tidak mendapatkan apapun informasi tentang surya. Setidaknya dia sedikit lega , karena menemukan teman untuk berbicara .


" Baiklah, kita berpisah disini . Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi ku. Walaupun mungkin akan sulit bertemu setidaknya kita bisa berbicara lewat telepon " kata Bella .


" Iya kak terimakasih. Kakak juga , jangan sungkan jika perlu sesuatu. Mungkin aku bisa membantu " Balas Zahwa.


Mereka berpelukan dan kemudian berpisah . Menuju mobil masing-masing.


*****


Sampai rumah , Zahwa langsung kembali ke kamar kakak ipar . Dan mencari kotak biru itu. Dari pada penasaran dia akhirnya dia ingin membukanya.


" Astaghfirullah , seperti kamu terlalu menyukai kamar ini dari pada kamar kamu sendiri. " Kata Hanan. Dia sudah datang. Dan membuat Zahwa kaget. Dia menyembunyikan kota biru itu di belakang tubuhnya.


" Mas Hanan sudah pulang , kok tumben ? " Tanya Zahwa . Mengalihkan perhatiannya.


" Sudahlah . Aku ingin pergi keluar nanti malam kamu ikut aku . " kata Hanan. Tanpa menggubris pertanyaan Zahwa dia berlalu begitu saja.


Zahwa mengurungkan niat nya untuk membuka kotak biru itu. Dia juga tidak ingin membuat suaminya marah lagi.


Ya , dia salah. Karena ingin tahu kakak iparnya dia sampai lupa pada suaminya sendiri. Lagipula , ke khawatiran akan terjawab besok. Menunggu sehari saja tidak masalah kan.


****


Mobil melaju dengan cepat . Menelusuri jalanan malam yang sembab. Hujan baru saja turun , menyisakan jejak nya .


Dua insan itu masih terdiam dalam keheningan. Zahwa hari ini terlihat cantik dengan kerudung ungu dengan corak abstrak. Wajahnya terlihat lebih manis. Sedang Hanan memakai setelan jas abu dan kemeja maron didalamnya.


Mobil terus melaju , hingga berhenti di sebuah mall kota.

__ADS_1


" Apa mau belanja ? Atau ingin bertemu seseorang ? " Fikir zahwa . Tepi itu tidak dia lontarkan , dia hanya diam dan mengikuti kemana arah kaki suaminya melangkah.


Duk


Zahwa menabrak sesuatu. Dia langsung melihat apa di depannya, ternyata punggung suaminya.


" Kenapa berhenti mendadak sih ," grutu Zahwa. Lagi-lagi Hanan tidak menggubris nya dan hanya fokus pada sesuatu yang di carinya. Dia melihat deretan toko , seakan menerka- nerka toko mana yang harus dia tuju pertama.


" Kamu biasa kesini juga ? Di mana aku bisa dapat membeli perhiasan ? " Tanya Hanan tiba-tiba .


" Perhiasan ? Toko perhiasan ada di sebelah kiri setelah jalan ini " Jawab zahwa .


Tanpa berbicara lagi , mereka menuju toko yang sedari tadi di cari oleh Hanan.


" Selamat malam , ada yang bisa saya bantu ?", Tanya pelayanan dari toko tersebut. Zahwa hanya diam , karena dia tidak tahu apa yang di cari oleh suaminya.


" Pilih lah , " kata Hanan .


" Ha , aku ?" Tanya Zahwa. Hanan berkata tapi dia tidak menghadap kepada nya. Dia berkata kepada Zahwa atau pada pelayan perempuan di depannya .


" Ya iyalah , kamu. Siapa lagi. " Jawab Hanan. Akhirnya menoleh ke arah Zahwa. Zahwa agak ragu tapi dia mulai melihat - lihat perhiasan di depannya itu.


" Bahkan aku tidak tahu harus memilih apa? Perhiasan macam nya ada banyak. Ada kalung , gelang , anting dan cincin ? Terus aku harus memilih yang mana? "


Batin zahwa


" Kalau boleh saya ingin tahu, kalian mau mencari apa ? " Tanya pelayanan wanita itu. Sepertinya dia juga tahu Zahwa kebingungan.


" Cincin. " Jawab Hanan.


" Oh , cincin pernikahan kah ? Sebentar saya akan ambilkan desain terbaru kami " kata pelayanan itu.


Hanan hanya diam, berarti pelayanan itu tidak salah . Dia mencari cincin pernikahan.


Zahwa sedikit melirik suaminya itu. Lagi-lagi dia tidak mengerti apa yang Hanan fikirkan atau bahkan lakukan. Apa dia ingin membeli cincin pernikahannya. Memang saat menikah mereka tidak saling tukar cincin , tidak sempat juga.


Zahwa melihat jemarinya. Di jari manisnya melingkar cincin dengan permata kecil tapi tidak menghilangkan keindahannya. Saat menikah , cincin ini yang dia terima . Cincin dari mertuanya sebelum beliau meninggal.


" Silahkan , kalian bisa juga memesan ukuran jika kurang pas ukuran. " Pelayanan tersebut memberika beberapa kotak berisikan sepasang cincin pernikahan.


Hanan terlihat binggung. Dia melirik Zahwa yang seperti nya tidak menghiraukan nya.


" Pilihlah ,,, " kata Hanan lagi. Zahwa mulai memilih , walaupun dia juga tidak tahu untuk siapa cincin tersebut.


" Apa ada yang kau sukai?, " tanya Hanan. Zahwa melihat sekilas dan berpaling lagi ke arah perhiasan di depannya itu.


" Sebenarnya aku kesulitan karena aku tidak tahu untuk siapa kamu membeli cincin ini ," kata Zahwa . Dia menyangga dagunya dengan tangan. Seakan malas untuk melihat perhiasan di depannya itu .


" Aku membelinya untuk kakak ku , dia menelpon ku. Katanya setelah kembali besok dia akan melamar kekasihnya itu," terang Hanan. Seperti dia harus menjelaskan semuanya dulu.


" Kenapa dia tidak membelinya sendiri? Kalo pilihan ku salah bagaimana? " Tanya Zahwa.


" Tidak akan , masalah selera kamu dan kakak ku terlihat sama. Mengingat kamu sangat tertarik dengan desain kamaarnya," jawab Hanan. Entah itu mengejek atau memang mengatakan kenyataan nya.


" Baiklah , tapi jika nanti aku salah pilih jangan salahkan aku " Ujar Zahwa meyakinkan. Dia tidak ingin di salahkan.


" Ok , " Kata Hanan menyerah . Seperti kata banyak orang wanita tidak selalu menang dan benar.


Cukup lama , akhirnya Zahwa memutuskan sepasang cincin dengan tiga titik permata sejajar tertanam dalamnya . Pilihan yang simple dan cukup di bilang mewah . Tapi terlihat elegan.


" Aku pilih ini , soal ukuran mungkin aku boleh mencobanya di jari ku ? " Tanya Zahwa , dia meminta persetujuan Hanan. Hanan hanya mengangguk.


Zahwa mulai mencoba nya. Dan tanpa bicara dia melingkar satu pasang cincin di jemari Hanan. Zahwa tersenyum , Hanan terlihat kaget.


" Mungkin jarimu sama ukurannya dengan jari kakak mu. " Jelas Zahwa sebelum Hanan berucap . Hanan tidak mengurangkan niat nya untuk protes akhirnya.


Setelah mencobanya mereka sepakat membeli cincin tersebut. Memberikan cinta itu pada pelayan untuk di bungkus dan di nota . Hanan berjalan ke kasir untuk membayarnya. Sedang Zahwa dia melihat-lihat beberapa perhiasan lainya.


" Wah cantik ,," ungkap Zahwa. Dia tertarik dengan kalung yang di pajang pada patung leher .


" Apa kakak ingin membeli nya ? , Jika ingin kami bisa mengambil nya. " Tawar pelayanan lainya. Zahwa menggeleng dengan cepat.


" Tidak ,terima kasih. Mungkin lain waktu saja. " Balas Zahwa. Dia tidak mungkin meminta kalung itu. Walaupun dia tahu sebenarnya dia sanggup saja membeli nya. Tapi sekarang untuk membeli barang berharga dia harus meminta izin pada suaminya. Dan lagi, dia masih segan kalo harus meminta.


" Ayo ! " seru hanan.


Zahwa berlari kecil , menghampiri suaminya yang sudah berjalan.


" Ada yang kamu inginkan ?" Tanya Hanan tanpa menoleh ,dan tetap berjalan.


" Tidak , " jawab Zahwa.


" Kita makan dulu, " kata Hanan. Zahwa tidak menjawab hanya mengikutinya di belakang.

__ADS_1


Mereka masuk dalam kafe di salah satu mall tersebut. Hanya sebentar, tidak ada pembicaraan apalagi candaan. Sepertinya Hanan terbiasa makan dengan diam.


" Aku akan ke toilet sebentar. Kamu bisa menunggu di bawah ," kata Hanan.


" Iyaa,, "


Zahwa menunggu di depan mall. Agak lama , ingin kembali kedalam pun dia khawatir kalau Hanan datang dan dia tidak ada. Ingin telpon tapi dia ragu , karena takut di kira tidak sabaran.


Tin tin tin


Suara klakson . Mobil Hanan . Zahwa bernafas lega , dia langsung masuk kedalam . Mobil melaju menerobos jalanan malam.


Sesampainya di rumah sudah cukup malam. Zahwa langsung mengerjakan sholat isya' Ma'mun dengan Hanan.


" Kamu mau tidur lagi di kamar kakak ku ?" Tanya Hanan setelah mereka berjama'ah.


" Tidak , aku tidur disini " jawab Zahwa .


Hanan tidak berbicara lagi. Dia mengganti pakaiannya di kamar mandi. Begitu pun Zahwa , mengganti pakaiannya setelah Hanan keluar dari kamar mandi.


Malam ini pun mereka masih tidur dengan bersingkuran .


*****


_ Pakai kalung ini . Kemarin tidak sengaja ada sisa uang pembayaran cincin kakak ku_


Isi tulisan dari kertas itu. Zahwa menemukan kertas di bawah kotak merah di atas meja laci samping tempat tidurnya.


Entah harus senang atau kesal . Kalung yang tadi malam sempat menarik perhatiannya kini sudah ada di tangannya . Dan menjadi miliknya. Binar bahagia dan senyum sumringah terlihat di wajahnya. Dia langsung mengenakan kalung tersebut.


" Kalungnya bagus, tapi cara mendapatkannya itu kenapa agak kesal ya. Bilang gimana gitu , agak mesra . Zahwa aku membelinya untuk mu. Semoga kamu suka . " Kata Zahwa . Dia mencibir cara suaminya yang di rasa mengesalkan.


Dreett dreett dreett


Suara getar ponsel Zahwa . Pesan WhatsApp masuk . Dari hanan , umur panjang baru saja Zahwa mencibir nya.


*Mas Hanan


Jam 3 sore. Aku tunggu kamu di kantor . Setelah itu ikut aku menjemput kakak ku ke bandara*.


Isi chat WhatsApp tersebut.


Baiklah,


Dan terima kasih kalung nya .


Balasan dari Zahwa.


*Mas Hanan


Ok* .


Chat terakhir. Hanya kata " ok " , tidak ada kata lain atau sekedar emoticon. Zahwa cemberut , suaminya itu sebenarnya memperhatikan dia. Tetapi terkadang , cara dan sikap nya itu sedikit menjengkelkan.


Zahwa masih memegang kalung tersebut. Kini juga sudah melingkar indah di lehernya.


" Semoga kita bisa sama-sama saling menerima " Doa Zahwa , senyum di bibirnya penuh makna.


Ingatan tentang pernikahan nya dengan Hanan berputar di kepalanya. Mengingat pernikahan ini adalah amanah terakhir orang tuanya.


" Mungkin mas Hanan adalah jodoh ku. Tidak ada alasan lagi untuk menolak , dab mencoba belajar menerima sekaligus mulai mencintainya " Kata Zahwa meyakinkan dirinya sendiri.


Akan sulit , tetapi belum tentu tidak mungkin. Jika takdir yang harus di jalani adalah bersama dengan dia, maka lambat lain pun hati akan mengikuti kemana dia harus menetap. Tidak ada lagi pelabuhan lain , tidak juga pelayar lainya.


Zahwa seketika melupakan kontak biru yang dari kemarin mengusiknya. Apa benar cara paling baik melupakan adalah menemukan ? .


Kotak kecil merah , yang tadi berisikan kalung yang di kenakan sekarang dia ambil dan menyimpan di lemari. Berjajar dengan perhiasan lainya.


Surat kecil , surat pertama suami untuk dirinya. Fikiran jahil tiba-tiba datang. Zahwa menulis sesuatu di balik kertas tersebut.


*Sebenarnya , aku suka dengan kalung yang satunya . Yang kemarin ada di sebelah nya. Tetapi tidak apa .


Terima kasih mas*


Tulisan Zahwa dengan terkekeh. Dia meletakkan kertas di atas meja laci di bagian sisi ranjang lainya. Tempat tidur Hanan.


Selesai.


Dia keluar dari kamar , membantu bik asih mengerjakan pekerjaan rumah. Agak sibuk , karena tuan rumah lainya akan datang setelah sekian lama.


Menentukan menu makan malam juga, dan sedikit dekorasi penyambutan .


Wellcome kakak

__ADS_1


Sampai saat ini Zahwa belum mengetahui nama kakak iparnya. Ingin bertanya pada suaminya . Tapi di urungkan , sikapnya kemarin yang seakan menunjukkan ketertarikan pada kakak iparnya sungguh tidak pantas .


__ADS_2