
Pagi menyingsing, saat di mana Zahwa sedang berjemur di sinar matahari bersama Ammar seseorang datang lewat gerbang rumahnya.
"Assalamualaikum,"
Zahwa yang saat itu sedang membelakangi, langsung membalikkan tubuhnya.
"Hafiz!"
Sepupu dari suaminya itu datang dengan wajah lelahnya. Saat acara resepsi kemarin, Zahwa tidak bisa menemuinya secara leluasa. Dan saat ini, dia ke rumahnya lagi. Ada apa? Melihat dari penampilannya, sepertinya tidak baik-baik saja.
"Mbak Zahwa? Apa mas Hanan dan mas Surya ada di rumah?" Tanyanya.
"Ngomong-ngomong, sepagi ini?_ Ayo masuk!" Ajak Zahwa.
Hafiz mengikuti langkah Zahwa ke dalam rumah, dengan tetap mengendong Ammar dalam pelukannya.
"Bik, ada hafiz, buatkan minuman!" Seru Zahwa.
Bik Asih melihat sebentar ke arah ruang tamu, dan melihat hafiz sudah duduk di ruang tamu.
"Ada apa sebenarnya? kenapa kau datang sepagi ini, dan tanpa menghubungi kami terlebih dahulu?" Banyak pertanyaan Zahwa, dan dia mulai khawatir.
"Sebenarnya, ini tentang Wardah."
"Ada apa dengan Wardah?"
Hafiz menceritakan banyak hal. Setelah kepergian ibunya, Wardah tidak lagi pergi kerumahnya. Dia menghilangkan seperti di telan bumi. Bahkan, sangat sulit di hubungi. Setiap kali Hafiz pergi menjenguknya di rumah, dia tidak pernah ada. Kata, tetangga dia pergi bersama teman-temannya.
Hingga saat acara resepsi kemarin, Hafiz dan paman Sam ingin mengajaknya. Namun, entah bagaimana ceritanya, dia menghubungi jika saat ini dia sudah tidak lagi di Jawa. Dia pergi ke rumah pamannya.
Hafiz kira, mungkin Wardah perlu waktu untuk melupakan Hanan, dia juga kehilangan sosok ibunya. Dan tidak mungkin lagi sering ke rumahnya, karena tidak ada lagi perempuan di sana.
Hafiz kira, lambat laun Wardah akan menerima kenyataan jika Hanan sudah beristri. Tapi, ternyata tidak. Dia pergi ke Padang. Menjual dirinya, rela menikah dengan rentenir, demi melunasi hutang keluarga dari ibunya tersebut.
"Dia mengirim pesan kepada ku," Hafiz memberikan ponselnya pada Zahwa
*Aku akan menikah, dengan juragan Opik Keluarga ku di sini berhutang banyak kepadanya. Dan tidak bisa melunasinya. Mereka bilang, jika tidak bisa melunasinya aku harus menikah dengan dirinya.
__ADS_1
Umurnya bahkan lebih tua dari paman Sam...
Kang, Apa ini jalan hidup ku.
Selama ini aku mencintai Mas Hanan, tulus . Tapi, mungkin tanpa sengaja aku mencintai suami orang. Dan saat ini aku sedang menerima hukuman akan itu.
Kang, Apa dunia sekejam itu? jika benar kenapa orang masih ingin hidup di dunia ini. Andai saja bisa, aku ingin pergi menyusul bibi Ami. Andai , masih di sini,,,mungkin nasib ku tidak akan seperti ini.
Aku, tidak mempunyai siapapun lagi, keculi keluarga ku ini . Dan untuk mendapatkan kasih sayang dari mereka aku harus rela mengorbankan diri ku
Kang, sampaikan maaf ku pada Mbak Zahwa, pada Mas Hanan juga. Maaf jika aku masih mencintainya, maaf jika cinta ku ini berdosa. Semoga dengan itu semua, aku bisa lebih iklhas menjalani hidup ku nantinya...
Terimakasih untuk semuanya, salam juga untuk paman Sam .
Wassalamu'alaikum*...
Zahwa menangis sesenggukan. Bahkan dalam hatinya, dia tidak pernah mendoakan keburukan untuk Wardah. Dia juga tidak mempersoalkan akan perjodohannya dengan suaminya dulu. Sedikitpun dia tidak merasa bahwa Wardah adalah ancaman bagi dirinya.
Perempuan ini baik. Tapi, kenapa nasibnya begitu pedih. Cinta pun tidak bisa di salahkan akan sebuah nasib, dia lahir dari hati dan murni dari Alloh. Mana bisa, rasa cinta bisa berdosa.
Nomer itu langsung tersambung, dan Hanan mengangkatnya langsung.
"Ada apa Sayang?"
"Ada Hafiz, di rumah. Kamu cepatlah pulang!"
"Ya Alloh, Yang. Baru juga sampai kantor." Ungkapnya.
Namun Zahwa langsung menceritakan semua masalahnya. Hanan diam, mendengarkan istrinya itu. Jika, di sela sedikit saja. Dia pasti mengatakan jika di tidak perhatian.
"Baiklah, aku akan pulang. Tapi, janji jangan minta aku untuk melakukan hal aneh-aneh." Ancam Hanan.
"Udahlah, pulang sekarang!"
Panggilan di tutup. Zahwa meminta Hafiz untuk istirahat terlebih dahulu. Namun, dia tidak mau. Pikirannya sudah penuh dengan Wardah. Membayangkan jika saat ini dia ketakutan, dan juga terancam.
"Aku akan menidurkan, Ammar dulu. Kau tunggulah Mas Hanan,'' Kata Zahwa.
__ADS_1
Saat mereka berbicara panjang lebar tadi, tanpa di sadari Ammar sudah tertidur dengan pulas di pelukan Zahwa.
"Oh, iya Mbak. Itu anak siapa?,"
Mata Hafiz sudah sadar, jika sedari tadi Zahwa sedang menggendong bayi. Dia pikir, itu anak tetangga, atau saudara. Di daerahnya, sudah biasa jika seorang tetangga menitipkan bayinya pada tetangga lainya. Saat mereka sibuk. Tapi, sepertinya bukan. Zahwa begitu mengasihinya, seperti anaknya sendiri.
"Oh, iya... Ini Ammar, dia putra angkat kak Surya dan kak Zahra. Tapi, untuk saat ini dia aku urus. Karena istri Kak Surya kembali lagi melanjutkan kuliahnya di London." Terang Zahwa.
"Wah, mereka baru saja menikah. Tapi, sudah mengangkat seorang anak."
"Yah, biar mereka saling kuat. Kalau ada seorang anak di antara mereka, itu akan membuat mereka mengingat, jika mereka sudah menikah, dan harus setia satu sama lainnya."
Zahwa tidak mungkin mengatakan siapa sebenarnya Ammar. Itu akan membuat banyak keluarga mengetahuinya. Lebih baik, tidak ada yang tahu siapa orang tua Ammar yang sebenarnya. Agar kelak, saat dewasa dia hanya akan di kenal dengan keluarga mereka saja. Tanpa, ada yang menyinggung siapa orang tuanya.
Setelah itu Zahwa pergi ke kamar atas menidurkan Ammar. Dia juga menyempatkan untuk mandi, agar lebih segar. Hadirnya Ammar di ke hidupnya mereka, membuat Zahwa harus extra tenaga, dan waktu.
Begadang, sudah menjadi kebiasaan mereka. Ammar sangat pintar, dia selalu bangun saat malam. Dan, saat Subuh tiba, dia kembali tidur lagi. Bangun lagi, saat jam menunjukkan pukul enam. Itupun, hanya untuk mandi, setelah itu berjemur. Dan, kemudian tidur lagi. Seperti sekarang ini.
Baru saja, dia mau beranjak pergi ke kamar mandi. Ponselnya, berhenti. Ada pesan untuk masuk, beberapa detik kemudian dia tersenyum melihat pesan tersebut. Lantas, melanjutkan niatnya untuk mandi.
Selesai membersihkan diri. Zahwa kembali lagi menemani Hafiz, tidak di sangka jika Suaminya sudah datang juga.
"Aku akan memberikan uang untuk melunasi hutang keluarga Wardah. Tapi, untuk menikahinya itu tidak mungkin." Ungkap Hanan.
Saat itu Zahwa belum sampai di ruang tamu, namun percakapan antara Hanan dan Hafiz bisa dia dengar.
"Tapi, jika Wardah tidak segera menikah. Keluarganya itu akan memanfaatkan dirinya lagi." Bantah Hafiz.
"Kenapa tidak kamu saja, yang menikahi Wardah. Kalian sudah lama saling mengenal." Sahut Zahwa, yang langsung memotong pembicaraan tersebut.
Semua diam. Hafiz terkejut dengan kehadiran Zahwa. Sebenarnya diapun juga sedih jika harus mengatakan hal tersebut. Tapi, hanya itu yang di pikir benar olehnya saat ini.
"Aku akan memberikan mu, cek. Pergilah, ke Padang. Jemput Wardah, sekalian nikahi dia. Kau mencintainya, bukan?'' Tandas Hanan.
Hafiz terdiam. Ke dua orang di hadapannya, tidak sedang ingin memojokkan dirinya. Bahkan sebaliknya, mereka ingin membukakan jalan untuk dirinya.
Namun, pertanyaan, Maukah Wardah menikah dengan dirinya? sedang hatinya, masih terpaut pada sepupu laki-lakinya.
__ADS_1