
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Hanan.
Very baru saja datang dan memeriksanya.
"Dia punya penyakit maag. Apa kamu tidak memberikan dia makan?" Jawab Very. Dia menuliskan resep dan menyerahkan kepada Hanan.
"Aku tidak tahu dia punya maag," Kata Hanan menyesal.
"Dia akan bangun sebentar lagi, aku pergi dulu. Gara-gara kau aku meninggalkan banyak pasien." Kata Very. Hanan mengatakan untuk pergi ke rumah dan tidak bilang jika itu adalah rumah Zahwa.
"Aku panik. Mau bagaimana lagi,"
"Aku tahu. Itu karena kamu terlalu mencintainya," Ujar Very. Dia sudah mengemasi peralatan medisnya.
Hanan diam. Membiarkan Very meninggalkan kamar itu sendirian.
Beberapa saat kemudian Zahwa terbangun. Dia merasakan sakit di perutnya.
"Makan dan minum obat," Hanan sudah siaga dengan seporsi makanan di tangannya.
"Mas Hanan, kamu?" Zahwa kaget dengan kehadiran Hanan di hadapannya sekarang. Dia masih mengingat apa yang terjadi kepada nya beberapa saat lalu.
"Cepat buka mulut mu. Maag mu kambuh, kamu harus makan dan minum obat." Ujar Hanan.
Zahwa memandang tidak percaya. Hanan ada bersamanya dan menyuapinya. Setelah selesai makan Zahwa meminum obat yang juga di berikan oleh Hanan.
"Aku akan menyuruh Bik Asih kesini jika kamu masih ingin tinggal disini." Kata Hanan setelah Zahwa selesai makan dan minum obat.
"Jangan. Biarkan Bik Asih di sana." Kata Zahwa dia memegang tangan Hanan. Hanan menepisnya.
"Jadi apa mau mu?" Tanya Hanan. Dia memalingkan muka menghindari pandang Zahwa.
"Hanan." Jawab Zahwa.
Zahwa pertama kalinya memanggil nama Hanan tanpa embel-embel. Hanan tersentak dan menatapnya.
"Siapa yang menyuruh mu memanggilku seperti itu?"
"Aku tidak sedang memanggilmu..." Bantah Zahwa.
"Itu tadi?"
__ADS_1
"Aku menjawab pertanyaan mu,"
Hanan mengingat apa yang dia tanyakan kepada Zahwa tadi. Dia diam setelah mengingatnya kembali. Mengatur emosi dan hatinya agar tidak tergoda oleh Zahwa.
"Sudah malam. Tidurlah! Aku akan pulang." Hanan ingin beranjak.
"Apa ini keputusan mu? Meninggalkan aku?" Tanya Zahwa, dia sedih. Hanan tidak memperdulikan dirinya lagi.
"Aku tidak meninggalkan mu. Aku melepaskan mu. Kamu berhak kembali bersama kakak ku. Aku tidak apa-apa." Ujar Hanan.
"Apa kamu pikir aku akan bisa kembali bersama Mas Surya dan kemudian melihat mu terus di sekelilingku?" Tanya Zahwa.
"Aku akan pergi. Kalian bebas bersama." Jawab Hanan cepat.
Zahwa memegang tangan Hanan lagi. Meyakinkan bahwa apa yang dia katakan adalah kebohongan.
"Mas Surya. Dia berbeda dari mu. Aku tidak pernah bisa mengatakan bahwa aku mencintainya sebelumnya. Karena dia melarang ku. Tapi aku berfikir, bahwa pernyataan cinta bukan Hak seorang pria saja. Wanita pun juga berhak, " Kata Zahwa.
"Aku bukan kakak ku!" Kata Hanan ketus. Zahwa masih mengingat kakaknya itu saat hanya dia yang ada di sisinya saat ini.
"Karena itulah. Apa kamu mau mengajari ku untuk mencintaimu?" Kata Zahwa dengan penuh kasih. Tanpa keraguan.
Hanan menyerap perkataan Zahwa dalam telinga , pikirkan dan hatinya. Dia tidak ingin salah dalam menafsirkannya.
Zahwa melepaskan tangan Hanan. Dia sudah memberanikan diri untuk memulainya terlebih dahulu. Tapi Hanan masih saja beku.
"Apa karena aku tidak seperti Zahra? Kamu menyukainya kan?" Kali ini Zahwa putus asa. Hatinya sudah akan membeku sekali lagi.
"Itulah masalahnya Zahwa. Kamu masih saja menganggap masa lalu masih terkait dengan hubungan kita." Kini Hanan membuka pikiran Zahwa.
"Jika kita ingin memulai lagi hubungan ini. Kita harus melupakan semua yang terjadi di masa lalu. Tidak ada Zahra atau pun Kak Surya." Tambah Hanan.
"Jika begitu aku ingin kamu membantu ku melupakan itu semua. Apa kamu ingat Ayah Zahra sebelum pulang saat itu. Dia mengatakan, Kita perlu Istikharah untuk menentukan pilihan. Tapi jika kita sudah menikah, Istikharah itu sudah tidak perlu. Aku ingin mempertahankan pernikahan kita." Kata Zahwa.
"Kita tidak cocok berbicara seperti ini. Tidurlah!" Kata Hanan. Dia berdiri dan akan beranjak pergi.Tapi Zahwa mencegahnya, tatapan nanar. Ada permohonan dan belas kasihan tersirat di dalamnya.
"Aku mau ke dapur. Memasak sesuatu. Aku lapar." Kata Hanan menjelaskan. Tidak seperti angan-angan Zahwa melepaskan tangan Hanan dengan kesal. Hanan masih saja mengerjainya di saat seperti ini.
"Dari tadi kamu mengerjai ku?" Celetuk Zahwa.
"Kau sendiri yang lebay," Kata Hanan mengejek . Dengan cepat dia menghambur keluar kamar.Jika tidak Zahwa akan memukulnya.
__ADS_1
"Suami kurang Ajar!!" Teriak Zahwa keluar.Hanan sudah menutup pintu kamar tersebut. Dia di luar kamar tertawa terbahak-bahak. Tidak menyangka bahwa Zahwa juga mencintai nya juga.
Tiba-tiba dia berbalik dan membuka pintu kamar tersebut, Zahwa melihatnya dengan curiga.
"Kamu sama sekali tidak cocok memohon seperti itu, kamu cocok dengan sifat kasar mu itu." Kata Hanan dan langsung menutup pintu nya lagi.
"Hanan Bodoh!" Geram Zahwa. Bisa-bisanya Hanan mempermainkan perasaan seperti ini.
Setelah beberapa saat. Hanan kembali dengan membawa satu porsi mie goreng. Dia memasak mie Instan.
"Aku hanya menemukan Mie Instan. Untung saja belum kadaluarsa." Kata Hanan. Dia menikmati mie tersebut tanpa melihat Zahwa yang masih melototinya.
Hanan melirik sebentar dan kembali fokus dengan makanan. Zahwa sudah kenyang dengan makanan yang dia pesan tadi. Karena panik dia hanya memesan makan untuk Zahwa saja dan melupakan dirinya sendiri.
Zahwa beranjak dari tempat tidur. Dia menuju lemari yang berjajar di depan tempat tidur itu. Mengambil beberapa pakai dari dalam lemari tersebut.
"Ganti kemeja mu," Kata Zahwa. Dia meletakkan kemeja itu di hadapan Hanan yang sudah selesai makan.
"Aku kira kamu akan menyuruh ku pulang," Kata Hanan.
Dia melihat-lihat baju yang di berikan Zahwa. Ukurannya lebih besar dari bajunya. Dan tersadar saat Zahwa melihatnya dengan memelas. Dia diam tak menjawab saat Hanan berkata bahwa dirinya akan menyuruh pulang. Dalam tatapannya, dia seakan berkata jangan pergi.
"Aku akan berganti pakaian dulu," Kata Hanan.
Zahwa kembali ke tempat tidurnya di posisi semula. Hanan keluar membawa piring bekas makanan tersebut dan sesaat sudah kembali. Dia mengambil baju yang di berikan oleh Zahwa menuju kamar mandi.
"Baju ini terlalu besar. Apa ini baju ayah?" Tanya Hanan setelah dia keluar kamar mandi.
Memang benar. Dia terlihat kedodoran memakai kaos milik ayahnya. Tapi tidak ada lagi kaos untuk nya , kalau pun ada itu juga sama besarnya dengan kaos yang ia kenakan sekarang.
"Iya, itu milik Papa, " Jawab Zahwa , dia menjadi teringat Orang tuanya.
Saat ini mereka berada di kamar orang tua Zahwa. Saat pingsan Hanan asal membawa nya saja.Dan hanya Kamar itu yang di tuju saat itu. Hanan menyadari bahwa Zahwa teringat kepada Papanya, wajahnya murung. Pasti banyak kenangan yang indah di kamar itu juga.
"Apa kamu teringat Papa dan Mama mu?" Tanya Hanan. Dia sudah berbaring di samping Zahwa posisi miring menghadap Zahwa. Kepalanya masih dia sangga dengan tangan kanannya.
"Banyak kenangan di kamar ini. Ini kamar Mama dan Papa." Jawab Zahwa mata mulai berkaca-kaca.
"Emm...Jadi mungkin kamar ini juga menjadi saksi cinta mereka juga." Kata Hanan. Zahwa melihatnya, tidak mengerti maksudnya .
"Mungkin juga kamar ini menjadi tempat mereka membuatmu." Lanjut Hanan. Dia mengisyaratkan sesuatu dengan matanya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin...Menjadikan kamar ini juga menjadi saksi pembuatan cucu mereka." Kata Hanan lagi dengan memamerkan gigi rapi nya dan juga senyum jahilnya.
Zahwa mendelik tidak percaya.