Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 68


__ADS_3

Di depan mereka sudah ada skesta struktur bangunan. Zahwa terlihat bingung, karena tidak mengerti apapun.


"Hai, maksud apa?" tanya Zahwa. Hanan belum menjawab, dia kembali ke arah gulungan kertas yang berukuran sama. Meletakkan di atas kertas skesta tadi. Kali ini yang di depannya adalah skesta sebuah kamar. Semua sudah terlihat sempurna, tinggal belum berwarna.


"Aku ingin kamu ikut andil mendesain kamar ini." Kata Hanan.


"Loh, kenapa? Apa kamu ingin mengubah kamar kita?" tanya Zahwa.


"Bukan. Ini kamar Kleinku. Dan yang sketsa di bawahnya tadi adalah gambaran rumah yang dia pesan juga. Dia suka dengan desain elegan dan berbau klasik. Sebenarnya Mas Surya akan mudah mendesain kamar ini, tapi Klein tidak mau jika Mas Surya yang mengerjakan. Hah! Dari kemarin aku sudah mencoba mengirim desain - desain klasikku, tapi mereka belum Sregg." Jawab Hanan. Dia terlihat pusing memikirkan pekerjaannya.


"Terus? Apa hubungannya denganku?" tanya Zahwa tanpa dosa. Seperti tidak peduli.


"Bantu akulah. Kamu kan satu selera dengan Mas Surya. Maksudku, kalian klop dalam bidang klasik." Jawab Hanan.


"Oh... Begitu. Hmmm, boleh juga. Tapi, gak gratis" Ujar Zahwa dengan senyum kemenangan.


"Hah...Kerjain dulu, baru minta gaji." Tukas Hanan. Dia tak segan berlagak seperti bos di depan istrinya.


"Ok! Awas gajinya gak sepadan. Kamu yang aku pecat." tantang Zahwa.


"Aku Bos, mana bisa kamu pecat. "


"Bisa, lah. Aku Bos dari segala Bos."


"Apaan? Bos dari mana? Kerjaan cuman ngabisin uang," ledek Hanan.


"Udah hak ku, lagian aku juga gak minta. Weekk,"


"Udahlah kerjain! Jangan ngajak ribut."


"Kamu yang ngajak ribut duluan,"


"Iihh... Kalau bukan istri sendiri udah aku ucek - ucek kamu." Gemas Hanan. Zahwa selalu berlagak semaunya.


"Sini kalau berani!" Tantang Zahwa dengan wajah besengut.


Tanpa mereka sadar, orang yang berada di ruang itu terganggu dengan pertengkaran mereka. Menjadikan mereka pusat perhatian seketika. Surya yang berada di sana seakan menanggung malu melihat tingkah laku mereka dan segera menghampiri mereka.


"Kalian kalau bertengkar jangan di sini , nggak sadar apa di lihatin karyawan." Ujar Surya seketika sudah berada di antara Hanan dan Zahwa.


Keduanya menjadi salah tingkah. Tersadar jika banyak mata yang menatap. Hanan memperbaiki jasnya yang sudah rapi, berusaha mengembalikan wibawanya. Sedang Zahwa, membuang muka seakan acuh dengan mereka.

__ADS_1


"Maaf sudah mengganggu." Kata Hanan kepada semua.


"Ada apa? apa ada masalah?" tanya Surya


"Tidak. Tidak ada. Mas Surya bisa kembali bekerja." Jawab Hanan. Dia tidak ingin imege sebagai Bos turun karena tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dan meminta bantuan istrinya.


''Baiklah. Aku pergi dulu." Pamit Surya.


Setelah Surya meninggalkan mereka. Keduanya kembali bertengkar dan menyalahkan. Hanya saja kali ini hanya dengan tatapan saja.


''Klain mu itu masih muda? atau sudah berumur? dan kamar ini untuk dirinya atau orang lain? mungkin saja anaknya atau dia sudah punya pasangan dan ingin memadupadankan desain interior nya dengan kesukaan mereka." Tanya Zahwa.


Melihat ukuran Kamar yang di desain cukup luas. Seukuran kamar ayah dan ibunya. Tapi juga tidak menutup kemungkinan jika itu untuk anak mereka. Dari struktur bangunan, kamar Itu bukan satu-satunya yang luas. Ada beberapa yang berukuran sama.


"Dia seorang detektif. Masih muda, dan seperti masih singel. Aku tidak terlalu mengenal , dia terlihat tertutup." Jawab Hanan dengan mengingat Klain nya itu.


''Cowok?" Tanya Zahwa


"Ya iya lah, Masak Cewek. Memang ada detektif cewek." Jawab Hanan.


"Ada. Maud Silver, Barbara havers, Madesty, Blase. Aku yakin kamu tidak tahu " Kata Zahwa meyakinkan


"Hadeh, itu semuanya cuman ada di Novel sayang ku. Tapi baguslah, kirain kamu hanya suka nonton film detektif Conan saja. hahahahahaha,"


"Tahulah, Suamimu ini sudah melahap semua buku. Apalagi novel detektif seperti itu. Hah! Gak menarik."


"Jangan bangg Palingan kamu cuman tahu namanya gak tahu ceritanya."


"Maud Silver adalah sosok yang diceritakan oleh seorang penulis Inggris bernama Patricia Wentworth. Ia disebutkan sebagai seorang detektif wanita yang muncul pertama kalo dalam buku Greenn Mask edisi 1928. Tahu kan?" Terang Hanan dengan penuh percaya diri.


" lIya iya. Suami paling best." Akhirnya Zahwa mengalah. Sebenarnya dia yang sudah lupa akan cerita novel - novel tersebut. Tapi , nama dan beberapa alur ceritanya sempat teringat di benaknya.


"Jadi apa hubungannya kamu menanyakan itu semua?" tanya Hanan kembali ke topik utama mereka.


"Terkadang kita bisa mengetahui selera mereka dari kebiasaan nya atau hal yang dia suka. Jika dia detektif dia menyukai sesuatu yang sunyi. Jadi kita usahakan tidak memberikan kesan ramai. kamu terbiasa mendesain dengan warna cerah dan banyak warna. Mungkin saat kamu mendesain klasik tanpa sengaja kau bubui seni atau corak yang ramai." Jawab Zahwa.


"Mungkin. Tap, ku pikir itu baik dan nyaman."


"Nyaman menurutmu! Kalau dia masih menolak hasil desain mu berarti dia tidak menemukan kenyamanan itu."


"Uluh-uluh. Istriku kerasukan apa? Tumben cerdas."

__ADS_1


''Ngejek lagi, aku tinggal!" Ancam Zahwa.


"Hahahaha. Iya iya. Maaf . Lanjutkan Bu Bos."


Zahwa fokus lagi pada kertas besar di depannya. Seperti mencerna dan melihat apa yang harus ia putuskan.


"Aku boleh mewarnai ini?" Tanya Zahwa.


"Oh. Silahkan Bu Bos. Pokok jangan di warnai pakai cat air saja." Jawab Hanan.Kali ini dia seperti asisten Zahwa saja.


"Aku tidak akan melakukan itu. Ambilkan pensil warnanya." Kata Zahwa. Hanan dengan senang hati mengambilkan pensil warna di laci meja besar itu.


Setelah menerima pensil warna dengan cekatan Zahwa langsung mengesekusi gambar di depannya itu. Hanan terkesima dengan caranya mengores pensil tersebut . Mungkin dia terbiasa dengan lukisan.


"Bagaimana dengan ini?"


Setelah beberapa menit Zahwa memperlihatkan hasil karyanya kepada Hanan. Tidak di ragukan, Hanan memandang takjub dengan hasil karya istrinya tersebut.


Interior kamar tidur yang dia ciptakankan menggambarkan maskulinitas kaum cowok. Keseluruhan ruangan kamar didominasi oleh warna gelap yang elegan. Kehadiran walk-in closet semakin menambah kesan mewah. Tambahan dekorasinya pun cukup sederhana, dua lukisan besar dengan background warna putih jadi kombinasi yang tepat. Disertai lampu gantung untuk pencahayaannya.


''Waw sayang. Aku beruntung mempunyai istri seperti mu." Puji Hanan. Dia langsung mencium kening Zahwa tanpa peduli orang di sekitar mereka.


"Apa ini sudah cukup. Coba foto dan berikan ke Klain mu itu." Kata Zahwa. Sebenarnya dia belum merasa puas. Tapi, jika itu sudah terlihat cukup baguslah.


Hanan mengeluarkan ponselnya. Lalu memotret hasil desain interior Zahwa. Dan kemudian mengirimnya pada Klainnya seperti permintaan Zahwa.


''Semoga dia suka.'" Doa Zahwa. Dia was - was juga karena ini pertama kalinya karyanya akan di nilai oleh orang lain.


Aku suka dengan hasil desain yang ini. Tolong kerjakan persis seperti itu. Dan juga lukisan di dinding itu , jika ada aku mau.


''Sayang! Kamu berhasil!" Seru Hanan langsung memeluknya.


"Maasak? '' Tanya Zahwa tidak percaya .


Hanan memperhatikan isi chat dari Klainnya. Seketika itu Zahwa langsung berteriak dan memeluk Hanan. Mereka tak sadar jika mereka bukanlah penghuni ruangan itu sendirian.


"Kamu bisa melukis seperti itu kan? Dia juga ingin lukisan mu." Ujar Hanan.


"Sangat mudah." Balas Zahwa senang.


''Syukurlah."

__ADS_1


Keduanya berpelukan seakan dunia milik berdua. Tidak sadar jika sedari tadi banyak pasang mata yang memperlihatkan mereka.


__ADS_2