Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 28


__ADS_3

Tidak tahu arah jalan mana yang mereka pilih saat ini. Asalkan itu bisa membawa mereka pergi dari semua alasan untuk bersedih .


"Stop!" Seru Zahwa tiba-tiba.


Dengan cakram Hanan menghentikan mobilnya. Kedua nya sedikit terpental karena mendadak berhenti saat mobil berkecepatan tinggi.


"Kau yang meminta berhenti mendadak," ujar Hanan sebelum Zahwa protes tentang rem nya yang mendadak.


Zahwa ingin marah tapi di urungkan. Dia melihat sekitarnya. Di samping mereka ada taman kota yang ramai oleh pengunjung, terlebih anak-anak. Zahwa melepaskan sabuk pengaman dan turun dari mobil.


"Parkir di depan sana, aku tunggu di sini,'' kata Zahwa pada Hanan seolah memerintahkan.


"Baik nona," balas Hanan, tidak membantah.


Hanan memarkir mobil tidak jauh dari posisi Zahwa, sedang Zahwa masih berdiri mematung menunggu Hanan selesai memarkir mobil.


Pandangannya menjelajahi seisi taman kota itu. Dia tertarik pada satu hal dia ingin cepat ke sana tapi masih harus menunggu hanan.


Hanan sedikit berlari kecil ke arah Zahwa setelah selesai memarkir mobil.


"Ayo!" Seru Hanan


Tanpa menjawab Zahwa berjalan ke arah dalam taman kota. Ramai sekali, banyak pedagang kaki lima. Orang-orang berlalu lalang ada juga yang hanya duduk menikmati suasana. Ada juga yang sedang bermain bersama anak-anak mereka.


Langkah Zahwa tertuju pada deretan gabus kotak yang di letakkan di atas easel ( penyangga kanvas / gabus untuk melukis ).


"Kamu ingin melukis?" tanya Hanan menebak pikiran Zahwa.


"Iya, menyenangkan bukan?!" jawab Zahwa senang.


Dia melihat deretan gabus lukis yang sudah terisi banyak karakter. Kebanyakan karakter anak, tidak ada lukisan untuk orang dewasa.


"Jika ingin melukis, aku sudah membelikan peralatan jutaan loo untuk mu kemarin." Protes Hanan


"Diam. Coba saja pilih satu karakter yang kau suka dan coba untuk mewarnainya," bantah zahwa


Dia memanggil seorang penjual lukisan itu . Berdiskusi sebentar. Hanan tidak bisa mendengarnya. Perhatiannya pecah memenuhi perintah Zahwa untuk memilih salah satu karakter gabus lukis itu.


"Tayo , Upin - Ipin , massa , Ultraman , iron man , Frozen,"  Hanan berkeliling membaca satu persatu gabus lukis itu. Wajahnya memelas, karena tidak ada yang membuatnya tertarik. Bagaimana tidak semua itu untuk anak-anak.


Tiba-tiba entah dari mana gabus lukis itu penuh di kerumuni oleh anak-anak. Mereka menempati satu persatu gabus lukis itu. Memilih karakter yang mereka sukai.


Hanan heran, kenapa secara tiba-tiba banyak anak yang ingin melukis. Jawaban ada pada zahwa dia terlihat tersenyum puas. Melihat banyak anak mulai melukis setelah di beri cat air satu persatu.


Hanan menghampiri Zahwa. Dia masih terlihat berbincang dengan penjual gabus lukis tersebut.


"Terima kasih pak, orang ini akan membayar semua nya nanti. Jadi total semuanya dan berikan kepadanya, " kata Zahwa.


Zahwa dengan enteng meninggalkan Hanan dan langsung bergabung dengan anak-anak itu.


"Maaf pak, ini yang harus di bayar," kata penjual itu


Hanan menerima sebuah kertas totalan semua gabus lukis. Sebelum itu dia melihat Zahwa sudah tertawa, bersenang-senang dengan anak-anak itu.


"Kamu suaminya mbak Zahwa?" tebak penjualan itu.


Hanan heran, bapak itu mengetahui nama Zahwa.


"Dia suka kesini dulu. Melukis bersama anak-anak seperti itu. Dia terlihat bahagia setiap kali melakukan itu semua," kata penjual tersebut.


"Oh, begitu kah?'' Hanan seakan tidak percaya.


Dia mengingat cerita bik asih tentang Zahwa yang tidak bisa leluasa melukis. Mungkin ini caranya untuk meluapkan hobinya itu.


"Baiklah pak, ini" kata Hanan. Dia mengambil beberapa uang dari dompetnya.


"Ini terlalu banyak,"


"Tidak apa-apa. Terima kasih, pak."


Hanan duduk dia salah satu bangku tidak jauh dari tempat itu. Berbincang dengan dengan bapak penjual tadi.


Sedangkan Zahwa dia sudah menemukan dunianya yang lama di rindukan. Berbaur lebur bersama tawa dan candaan bersama anak - anak yang kini bersamanya.


"Masnya kenapa? Ikut bahagia ya, melihat mbak Zahwa bahagia, " kata bapak itu tiba-tiba.


Hanan salah tingkah dia memalingkan mukanya

__ADS_1


Tanpa sadar dia terlena melihat kebahagiaan Zahwa.


****


Di rumah


Perempuan itu masih duduk di ruang tengah, di terlihat canggung dengan kondisinya saat ini. Tidak mengetahui juga harus berbuat apa. Tetapi setidaknya dia merasa aman di rumah itu.


"Elena, apa kamu memerlukan sesuatu?'' Tanya Surya , dia sudah bersiap pergi ke masjid. Dengan baju Koko biru, sarung yang hampir senada, kopiah hitam. Dia begitu berkharisma di pandangan wanita manapun.


"Hai? Apa kau memerlukan sesuatu?'' tanya Surya lagi, ketika elena nama perempuan itu tidak menjawab dan hanya menatap nya saja.


"Ah , tidak. Tapi maaf tuan apa aku bisa ikut bersamamu?" Tanya elena tampak ragu.


Surya sedikit menimbang. Dia melihat elena masih ada perasaan takut dan tidak aman pada dirinya. Tapi jika dia keluar rumah sekarang akan lebih tidak aman lagi.


"Kau di rumah saja. Lagi pula bik asih ada di rumah," Kata Surya akhirnya


Elena nampak kecewa mendengar jawaban Surya . Saat ini mungkin hanya Surya yang bisa dia percaya. Tatapi dia akan pergi meninggalkannya dirinya.


"Aku hanya ke masjid, dekat rumah. Mau jama'ah " tutur Surya


"Lama?" tanya Elena


"Tidak. Setelah jama'ah aku akan pulang," jawab Surya


Elena mengangguk. Meskipun begitu dia tidak bisa memaksa lelaki yang menolong hidupnya itu untuk tetap bersamanya.


"Kamu sholat, kan?" tanya Surya


Elena tidak menjawab. Tidak mengiyakan atau mengatakan tidak. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku tidak pernah sholat," akhirnya itu yang keluar dari mulutnya. Dia menunduk kepalanya saat itu. Malu dan juga tidak tahu.


Surya tertegun. Dia tidak menyangka bahwa wanita yang di tolong nya itu mentah dalam agama.


"Ya sudah. Aku jama'ah dulu," pamit Surya.. Dia melangkah keluar rumah meninggalkan elena yang seperti tertegun.


Kini tinggal dirinya sendiri dia memandang ke seluruh penjuru rumah. Begitu mewah dan megah.


Ini pertama kalinya masuk rumah semegah ini. Bahkan dia tidak pernah sekalipun membayangkan rumah seperti itu.


Beberapa saat yang lalu dia sudah tidak memiliki harapan untuk hidup bahkan jika bisa dia memilih untuk mati saja.


"Mbak, mau sholat ? Saya sudah menyiapkan mukenah di kamar '' kata bik asih , membuyarkan lamunannya.


"Bik, maaf. Apa boleh bibi mengajari aku sholat," Pinta Elena. Membuat bik asih tertegun . Dia sama terkejutnya seperti Surya.


"Baik, ayo!" Ajak bik asih


Bik asih menunjukkan kamar tamu. Menuntun elena untuk masuk ke kamar mandi. Mengatakan bahwa sebelum sholat dia harus wudhu terlebih dahulu. Bik asih mencontohkan cara berwudhu.


Elena mencoba memahami penjelasan bik asih tentang wudhu juga langsung mempraktekkan apa yang di contohkan. Ini pertama kalinya dia melakukan hal tersebut.


Bik asih juga menuntun dia untuk berdoa pada waktu wudhu dan juga setelah wudhu.


Setelah selesai wudhu. Dengan telaten bik asih memakai kan mukena kepada elena. Seperti anak yang baru saja mengunakan mukena , elena bingung saat mencari lubang untuk kedua tangannya dan memasukan jari telunjuknya di bagian ujungnya.


"Mbak cantik sekali," puji bik asih ketika dia selesai memakai mukena.


Elena tersipu malu. Mungkin kali pertama ada orang yang mengatakan seperti itu.


"Aku sama sekali tidak pernah melakukan ini, Bik. Tolong ajari aku, " kata Elena.


Dengan senang hati bik asih mengajari dia sholat Step by step. Elena juga terlihat berusaha tidak melakukan kesalahan dan mengikuti instruksi bik asih.


"Sudah selesai mbak. Nanti setelah ini kita juga akan sholat lagi." Kata bik asih setelah elena menunaikan sholat magrib.


"Seperti tadi lagi. Berapa kali bik? Aku cuma tahu orang sholat pada waktu siang dan sore seperti tadi," tutur elena


Bik asih memandang dengan penuh prihatin. Elena, dia tidak banyak tingkah. Bahkan sepertinya dia penurut, lembut dan pengertian.


Tapi kenapa dengan nasibnya. Di mana dia tinggal sebelum ini. Hingga sholat saja dia tidak mengetahui.


"Sholat ada lima waktu mbak elena,tadi mbak sedang menunaikan sholat magrib ada tiga roka'at . Setelah ini kira-kira satu jaman, kita akan menunaikan sholat isya', ada empat roka'at. Setelah itu besok lagi _ "


"Oh aku tahu yang pada waktu siang hari kan?" Tebak elena girang. Karena merasa dia sedikit tahu tentang sholat itu.

__ADS_1


"Bukan. Itu sholat dhuhur. Iya betul di lakukan pada waktu siang hari. Kisaran jam dua belas lebih. Tapi sebelum itu jam setelah lima pagi, kita juga harus sholat namanya sholat subuh, dua roka'at dan yang terakhir sholat ashar , empat roka'at. Dilakukan kisaran jam setengah empat sore'' jelas bik asih


Elena mendengar penjelasan bik asih dengan seksama. Seperti mendengarkan pelajaran sekolah yang akan di ujikan nantinya.


Sengaja bik asih memberikan penjelasan sederhana tentang waktu sholat dengan menyebut jamnya. Agar elena tidak kesulitan memahami nya.


Selang beberapa menit kemudian. Mereka berdua mendengar suara Surya membaca Al Qur'an.


Elena masih dengan mengunakan mukena berjalan mencari asal suara yang seakan menariknya. Dia terhenti melihat Surya sedang merdunya membaca Al Qur'an.


Keinginan untuk lebih dekat mendengar kan Surya , dia urungkan. Mungkin dia akan mengganggu nantinya.


Dia hanya berdiri di balik tirai kayu yang biasa Zahwa tempati juga untuk mendengarkan Surya membaca Al Qur'an.


"Mas Hanan sedang membacaAl Qur'an? Apa pernah mendengar atau mengetahuinya?" tanya bik asih


Dengan pelan elena mengangguk kepala, tetapi tatapannya ke arah tempat lain. Ini pertama kalinya dia mendengar secara langsung orang membaca Al Qur'an.


"Setiap hari, sepulang dari jama'ah mas Surya rutin membaca Al Qur'an. Sungguh mulia seorang perempuan yang menjadi istrinya nanti." Cerita bik asih.


Elena memandang bik asih dengan tatapan tanda tanya.


"Kenapa tuan belum menikah? Adik lelaki tuan yang tadi. Siapa? Tuan Hanan sudah memiliki istri,'


"Mas Surya baru saja kembali dari Cairo. Mungkin sebenar lagi dia akan meminang kekasihnya. Kabarnya dia sudah memiliki kekasih,'' Cerita bik asih


Dia mengingat pernah mendengar Zahwa mengatakan itu kepada dirinya. Tetapi kecurigaan bik asih bahwa Zahwa adalah kekasih nya belum menemukan titik terang. Melihat saat itu Zahwa dengan terangnya mengatakan tidak saat dia bertanya bahwa Surya adalah kekasihnya dulu.


"Bibi sudah pernah bertemu dengan kekasih tuan?'' Tanya elena, seakan ingin tahu.


"Belum, mas Surya tidak pernah atau mungkin belum mengajak kekasih nya itu ke rumah," jawab bik asih.


"Oh..." itu yang keluar dari mulut elena.


Dia kembali menatap Surya yang sedang membacakan Al Qur'an lagi.


"Ayo! Mbak harus melepas mukenah nya dulu,"


Elena tersadar dia masih mengunakan mukenah yang untuk sholat tadi. Dengan senyum malu dia beranjak ke kamar tamu. Bik asih mengikutinya dan membantu melepaskan mukenah tersebut.


"Mbaknya terlena ya sama mas Surya. Sampai lupa melepas mukenah," canda bik asih .


Elena tersipu malu. Tidak menjawab candaan bik asih.


"Wajar. Kalau saya masih muda pasti juga akan terlena sama mas Surya. Dia itu baik, santun , pintar mengaji dan lagi dia itu tidak pernah membedakan orang lain. Semua di pandang sama, nilai plusnya lagi dia ganteng," kata bik asih dengan menahan tawa. Dia sendiri yang malah tersipu.


Elena hanya tersenyum mendengar bik asih bercerita tentang Surya. Ada guratan ke kekaguman di wajah elena saat itu. Mungkin juga beruntung karena dia di selamat kan oleh seseorang seperti Surya.


"Elena?" Panggil Surya di ruangan lain.


Bik asih dan elena bergegas menemui sumber suara tersebut. Surya terlihat mencari sosok yang di panggil nya itu.


"Iya tuan," Elena datang ke hadapan Surya. Bik asih juga ikut bersamanya.


"Bik asih Zahwa dan Hanan? Apa mereka sudah kembali?" Tanya Surya.


"Belum, Mas. Ada apa?" Tanya balik bik asih


"Tidak ada apa-apa," jawab Surya. Ada guratan kekecewaan di wajahnya. Dia melihat ke arah jam tangan di pergelangan tangannya. Dia juga melihat ke arah pintu utama, berharap yang dia tanyakan sudah berada di ambang pintu tersebut. Tetapi tetap saja nihil.


"Tuan memanggilku. Ada perlu apa?'' Tanya elena memecah lamunan Surya.


"Oh, ayo ikut saya," kata Surya dia kembali teringat sesuatu.


Dia berjalan ke arah ruang tengah. Elena mengikuti. Dengan rendah diri bik asih kembali ke belakang.


"Duduklah," Surya meminta elena untuk duduk bersamanya. Dia mengikuti perintah Surya.


"Sebenarnya, jika tidak keberatan kamu bisa ceritakan soal asal mu dari mana? Maksudku rumah kamu ada di mana? Mungkin saya bisa membantu bertemu lagi dengan keluargamu. Kata Surya. Rasa prihatin melihat perempuan di hadapannya membuat nya semakin iba saat di mana dia mengetahui bahwa dia sama sekali tidak mengenal agamanya.


"Tidak jangan!" Seru elena tegas. Dia terlihat ketakutan. Surya merasa bingung.


"Kenapa? Apa kamu tidak ingin bertemu dengan keluargamu?"


"Tidak, itu sama saja saya kembali ke mereka," bantah elena , dia kembali memperlihatkan rasa takut yang tak bisa di sembunyikan. Kedua tangannya seakan menjadi satu-satunya kekuatannya. Dia meremas-remas nya sendiri seakan membayangkan jika dia kembali mengalami peristiwa buruk tadi.


"Apa yang terjadi?" Surya semakin ingin tahu kebenarannya

__ADS_1


Dengan takut elena mulai menceritakan jati dirinya. Dengan penuh rasa malu dia mengatakan bahwa dirinya anak dari seorang wanita penghibur.


__ADS_2