Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 132


__ADS_3

''Jadi, bagaimana?" Surya memecah keheningan.


Ketiga orang itu, menatap secara bersamaan. Tanpa tahu, harus menjawab apa lagi. Surya menghela nafas, dia juga tidak tahu harus berbuat apa.


Mata mereka, tertuju pada bayi yang sedang tersenyum menggemaskan di atas ranjang. Matanya, bulat menatap mereka satu persatu. Dan, mengeluarkan tawa geli, menggemaskan.


"Mau, tidak mau kita mengadopsinya." Lanjut Hanan.


"Tapi, sebelumnya, kita harus mengurus surat izin mengadopsi. Agar, nanti tidak ada masalah lagi, dan orang-orang tidak lagi mencurigai anak ini." Tambah Surya


"Itu, urusan laki-laki. Urusan kita, mulai merawatnya." Sahut Zahwa.


Sejak menggendongnya untuk pertama kalinya, dia sudah jatuh cinta dengan bayi laki-laki tersebut. Bahkan, rasanya tidak ingin sedikitpun meninggalkan dirinya.


"Untuk, tahun ini aku tidak bisa mengurusnya. Tahu sendiri, kan aku besok balik ke London," Ujar Zahra, mulai cemberut.


"Aku yang akan mengurusnya, kamu tenang saja. Nanti, kalau kamu sudah balik, kita urus bersama-bersama." Balas Zahwa.


"Tidak! Kamu gak boleh, tadi very bilang, kan kalau kamu tidak boleh capek-capek. Ngurus bayi, itu melelahkan, Zahwa!" tentang Hanan.


"Tapi, Mas...Bayi ini sudah menjadi anak kita, masak kamu tega nelantarin gitu aja!" Bantah Zahwa, tidak kalah sengitnya.


"Kita bisa cari pengasuh, kan?" Sahut Hanan lagi.


"Sudah, sudah...Jangan bertengkar!" Lerai Surya.


Seketika semua diam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Anak ini biar menjadi tanggung jawab ku. Lagipula, dulu Elena hadir gara-gara aku. Jadi, sekarang aku yang akan mengasuh anak ini." Kata Surya kemudian.


"Tidak, aku juga ingin mengasuh anak ini. Lagipula, kamu laki-laki, dia lebih membutuhkan sosok seorang ibu." Bantah Zahwa. Mulai bersikeras.


"Tapi, yang! Kamu tidak boleh capek-capek. Ingat,kan kata Very...." Ujar Hanan. Dia lebih mengkhawatirkan kondisi Zahwa. Istri dan anaknya, adalah prioritas utama.


Zahwa menatap tajam pada suaminya. Bersikeras untuk tidak membantah keinginan. Lagipula, mengasuh anak juga untuk menjadi pelajaran baginya nanti. Kita juga tidak boleh menghakimi anak tersebut, karena kesalahan dari orangtuanya.

__ADS_1


"Jika, kamu gak mau. Maka, aku sama Mas Surya yang akan menjadi Ayah dan Ibunya, Mau?" tantang Zahwa sambil melotot ke arah suaminya.


"Yah, masak tukeran lagi." Protes Hanan, garuk-garuk kepala. Zahwa selalu, ingin menang sendiri.


"Sudahlah, dari pada debat. Mending, sekarang kita cari nama buat anak ini." Zahra menengahi.


Semua terdiam lagi, terpaku menatap bayi mungil tersebut. Dia sedang mengigit jemarinya sendiri, sesekali tersenyum, dan mengeluarkan tawanya.


"Ammar!!" Seru Hanan dan Surya bersamaan.


Keduanya, lalu berpandangan.


"Kok, bisa samaan?," tanya Zahwa.


"Ammar, yang artinya pembangun, bisa juga di artikan anak yang memiliki iman yang kuat." jelas Surya.


"Bagus juga, dengan nama tersebut, kita juga berdoa semoga kelak, bayi ini memiliki iman yang kuat" Sahut Zahra.


"Baiklah, kita putuskan untuk menamai anak ini Ammar!" Seru Zahwa.


Semua mengangguk senang. Sudah di putuskan, jika putra elena ini akan di namai, Ahmad Ammar Aly .


Setelah memutuskan hal itu, Hanan meminta pengacara keluarga untuk membereskan hak asuk anak. Semua itu harus ia kerjakan secepatnya, karena Zahra harus ikut menandatangani berkas sebagai ibu asuh juga.


Hanan dan Zahwa akan tetap mengasuh bayi tersebut, tetap untuk hak asuh orang tua angkat akan di atas namakan Surya dan Zahra.


Malam itu juga, mereka mengadakan syukuran. Mengundang para tetangga, dan juga kerabat yang masih di Jakarta.


Banyak hal yang harus di syukuri. Keluarga yang lengkap, keberangkatan Zahra lagi, ke UCL , tiga bulanan Zahwa dan juga memperkenalkan bayi tersebut pada para tetangga.


Tidak ada yang mengatakan, jika bayi tersebut adalah anak dari Elena. Karena takut, jika nanti mereka tahu, saat anak itu mulai tumbuh dewasa orang-oranh akan mengucilkan dirinya, sebab ibu kandung yang sudah di kenal sebagai wanita malam.


Surya mengatakan, jika anak tersebut sudah ia adopsi, ibunya sudah menyerahkan hak penuh kepada dirinya.


Esoknya, mereka di sibukkan lagi dengan keberangkatan Zahra. Hanif, sudah datang untuk berangkat bersama. Dia tidak ikut menghadiri acara resepsi kemarin, karena kepulangannya sebentar. Dan memilih untuk tinggal, menikmati suasana rumah yang lama ia rindukan.

__ADS_1


"Hati-hati, jangan matikan ponselnya. Hubungi aku, kapan pun saat kamu senggang." Ucap Surya .


Mereka berhadapan, saling bertatapan, memendam rindu yang mulai mendayu.


"Mas, baik-baik nggeh. Jaga kesehatan juga, salam untuk Abah, nanti saat pulang ke Jombang." Balas Zahra.


Merekapun, kembali berpelukan. Sangat lama. Hal yang paling menyesakkan adalah saat di mana kita, harus berpisah dengan belahan jiwa kita. Melebihi, sakit hati sekalipun. Karena saat itu, tidak ada luka, tapi hanya ada cinta yang merekah ruah.


Jika, pergi karena luka, kaki akan cepat melangkah. Tapi, saat harus pergi karena kewajiban, dan meninggalkan cinta, kaki seakan terjerat besi tumpul. Harus benar-benar mengusahakan agar keyakinan tidak tergoyahkan.


Zahwa menggenggam Ammar, dia belum juga tidur meskipun sudah malam. Bayi itu ikut melepas kepergian ibu angkatnya.


Zahra, menggendongnya sebentar. Memeluk, menciumnya. Kehadiran Ammar, menambah barat kakinya untuk melangkah. Tapi, dia harus tetep melangkah. Impiannya ada di sana, dan restu orang tua dan suaminya sudah dia dapatkan. Tidak ingin mengecewakan, berharap setelah sampai di sana rindu akan keluarganya di sana membuatnya semakin semangat dan lekas menyelesaikan kuliahnya.


Ammar kembali ke pelukan Zahwa lagi, kini tangan itu berlahan melepas satu persatu orang yang mengantarkannya. Terlebih suaminya, tangannya keras ia genggam. Jika saja , satu kata yang ia ucapkan untuk kembali tinggal, pasti dia akan tinggal tanpa berpikir lagi.


Namun, satu katapun tak terucap dalam bibir Surya. Dia iklhas dengan kepergian istrinya. Untuk cita-citanya, dan masa depannya. Dalam menikah, tak patut juga memangkas cita-cita pasangannya. Bukankah, seharusnya saling mendukung. Anggap saja, ini ujian pertama pernikahan mereka.


"Ayo, Kak!" Hanan memanggil Surya, yang masih memandang arah jalan terakhir Zahra, istrinya. Jalan itu, sudah tidak lagi menampakkan sosok istrinya. Namun, bayangannya masih begitu jelas dia rasakan.


"Kalian duluan saja, aku akan pulang nanti." Balas Surya.


Hanan dan Zahwa memutuskan untuk tidak menggangu, dan pulang terlebih dahulu. Mereka juga kehilangan Zahra, tapi mungkin tak sedalam Surya.


"Zahra, dia masih hidup. Dia akan kembali, nanti. Tapi, kak Surya seperti orang frustasi..." Ujar Hanan saat mereka sudah di perjalanan


"Yah, namanya juga pisah sama istrinya. Kamu, aja gak bisa pisah, kan sama aku." Balas Zahwa.


Zahwa menggendong Ammar, dia juga sedang memberikan susu pada bayi mungil tersebut. Berharap, setelah kenyang Ammar bisa tidur dengan pulas.


"Tapi, kan jadinya kamu yang repot bawa Ammar. Diakan, sekarang ayahnya."


"Kamu kok, masih saja sensi, sih sama Ammar. Gak boleh, dia udah aku anggap jadi anak ku juga, anak kita juga. Semuanya, juga memutuskan kalau kita akan mengasuh Ammar sama-sama.''


" Iya, iya... Tapi jangan sampai kamu kecapekan!" Ujar Hanan tegas.

__ADS_1


Hanan bukan tidak suka jika Zahwa mengurus Ammar. Hanya saja khawatir jika nanti Zahwa kembali sakit, dan membahayakan anaknya nanti. Very, sudah mewanti-wanti agar Zahwa tidak lagi kelelahan.


__ADS_2