Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 5


__ADS_3

" Saat seseorang pergi dari mu , jangan salahkan dia , tapi coba tanyakan pada diri mu , apakah kau benar ada atau berpura-pura. Cinta itu bisa datang kapan saja , tapi dia juga bisa menghilang entah kemana?"


****


" Zahwa ...Zahwa ...Zahwa " Panggil Hanan. Mata yang tadinya tertutup berlahan terbuka, samar-samar dia melihat seseorang di depannya.


" Mas Hanan , " kata Zahwa , sedikit terperanjat b dan langsung tersadar dari tidurnya.


" Kalo kamu tidur disini terus kamu bisa masuk angin. " Kata hanan lagi.


" Ah , iya mas. Maaf " balas Zahwa.


" Bik asih sudah menyiapkan makan malam , kita makan sekarang. " Kata hanan . Tanpa menunggu jawaban Zahwa Hanan langsung melangkah pergi , Zahwa menghela nafas panjang . Dia juga tidak terlalu peduli.


Beberapa saat Zahwa melihat sekelilingnya , kamar itu sudah bersih dan tertata rapi , bahkan tanaman yang tadinya sebagian berserakan sudah berjajar dengan indahnya. Zahwa tiba-tiba menemukan kenyamanan lagi, entah mengapa kamar ini seperti memiliki daya tarik sendiri. Tidak hanya tata letak yang mirip dengan kamarnya dulu, tapi juga suasana kamar itu juga. Semua sesuai dengan seleranya.


" Hah , tapi sayang ini bukan kamar ku ," kata Zahwa pelan. Meskipun begitu ada sedikit senyum di bibirnya. Sesuatu yang hilang seakan telah datang.


Zahwa melangkahkan kakinya keluar , menutup lagi pintu kamar tersebut dan bergegas menuju ruang makan. Terlihat Hanan sudah mulai makan. Tanpa berbicara Zahwa ikut makan .


" Kalo boleh tau , kakak ipar sendiri kah yang mendesain kamarnya ? " Tanya Zahwa. Karena di belum tahu nama kakak ipar nya itu dia menyebutkan nya begitu. Hanan masih menikmati makanannya , tidak langsung menjawab. Merasa tidak di jawab , Zahwa diam dan melanjutkan makan. Mungkin Hanan tidak ingin di ganggu saat sedang makan.


" Kamar itu di desain untuk calon istrinya. " Jawab Hanan.  Lama , setelah dia selesai makan.


" Kakak ipar sudah punya calon ?." Tanya Zahwa lagi. Dia semakin penasaran.

__ADS_1


" Iya. Tetapi belum ada yang tahu siapa calon nya , mereka jadian beberapa hari sebelum kakak berangkat ke Cairo . Cuma itu yang aku tahu, "


" Ukhuk... Ukhuk..Ukhuk. " Zahwa tiba-tiba tersedak. Dia terkejut. Hanan sigap memberikan air minum.


" Terima kasih , " ucap Zahwa setelah selesai meminumnya.


" Hati-hati kalo makan , "


" Kakak ipar di Cairo ? Sudah berapa lama ?, " Zahwa langsung bertanya. Tidak menggubris nasihat Hanan. Dia seakan ingin lebih tahu siapa kakak iparnya itu. Entah kebetulan atau hanya perasaannya saja. Dia merasa sudah mengenalnya.


" Kamu terlalu banyak bertanya, besok saat dia datang tanya saja kepada nya. Aku masih ada kerjaan. Kamu tidurlah dulu , jangan menungguku." kata hanan. Dia beranjak dari tempatnya.


" Baiklah , " balas Zahwa . Ada rasa kecewa karena Hanan tidak menjawab pertanyaannya, semakin membuatnya penasaran.


Akhirnya Zahwa memutuskan mencari sendiri informasi tentang kakak iparnya itu. Dia berkeliling melihat-lihat bingkai pigora yang tertempal di dinding setiap ruangan. Tapi hanya lukisan, dan sebagian kaligrafi yang dia temukan. Tidak ada satu pun foto keluarga.


" Kamu jika ingin tidur di kamar kakak ku tidak apa-apa. Tapi untuk malam ini saja. Lusa kakak ku sudah pulang. " Kata hanan yang tiba- tiba ada di perbatasan ruang tamu dan tengah. Dia membawa secangkir kopi , di tangannya ada beberapa kertas file.


" Ah , tidak. Aku hanya sedikit penasaran, " kata Zahwa keceplosan. Tidak seharusnya dia berterus terang. Zahwa menggigit bibir bawah nya. Seakan menghukum dirinya sendiri dan sedikit takut dengan reaksi Hanan.


" Terserahlah, aku mengizinkan mu tidur  di kamar kakak ku ,karena aku akan mengerjakan pekerjaan ku di kamar. Aku tidak ingin di ganggu oleh siapa pun," Kata Hanan . Tanpa menunggu  Zahwa berbicara dia beranjak pergi. Berjalan memasuki kamar dan menutupnya.


" Hah. Kenapa dia yang jadi suami ku , " grutu Zahwa. Sesaat setelah itu senyum lebar merekah di bibirnya. Dia bersemangat menuju kamar kakak iparnya itu. Mungkin itu aneh, dia seakan lebih nyaman berada di kamar itu dari pada di kamar suaminya sendiri.


Zahwa merebahkan tubuhnya. Sebenarnya dia belum mengantuk. Sekali lagi dia memandang setiap sudut kamar. Hanya sebuah kamar padahal, tetapi dia merasa nyaman Seakan kamar itu memang di desain untuk dirinya.

__ADS_1


" Beruntung sekali, sepertinya kakak ipar sangat mencintai calon istrinya itu. Semoga kelak aku bisa akrab dengannya" kata Zahwa . Dia ingin membayangkan seseorang tetapi dia tidak terbayang sama sekali. Malah bayangan seseorang yang muncul di benaknya. Tiba-tiba senyumnya pudar, dan hati nya terasa sakit.


" Aku bahkan belum mengabari dia soal pernikahan ku, " kata Zahwa pelan , seakan mengatakan untuk dirinya sendiri.


Tok tok tok


Pintu kamar terbuka sedikit, bik asih terlihat di ambang pintu tersebut.


" Ada apa bik ? ," tanya Zahwa.


" Tidak non. Hanya mengecek apakah non sudah tidur apa belum . Tadi suami Non tanya , Apakah Non suka dengan kamar ini ? "  Jawab bik asih. Zahwa bangun dari tidurnya dan duduk di tepian ranjang.


" Terus bik asih jawab apa?"


" Bik asih bilang kalo kamar ini mirip kamar Non dulu , dan Non merasa nyaman . Setelah itu suami Non yang tadinya mau pergi ke ruang kerja , beranjak ke kamar, tidak tau kenapa. Dia tidak bilang apa-apa. Saya juga tidak bisa mengartikan expresinya." Terang bik asih .


Zahwa terdiam. Dia teringat kalau setelah itu Hanan menemuinya dan bilang kalo dia boleh tidur di kamar kakaknya. Dan beralasan tidak mau di ganggu.


" Sebenarnya dia itu menyebalkan atau perhatian ?," Guman zahwa.


" Ya sudahlah. Oh ya bik , temani aku tidur disini ya " kata Zahwa


" Baik lah , "


Lagi , malam panjang sudah di lalui Zahwa. Tapi kali ini meninggal kan teka-teki yang terus berputar di benaknya.

__ADS_1


Tentang kakak iparnya , terlebih suaminya.


__ADS_2