
Setelah sekian purnama. Setelah sekian air mata dan luka. Tidak ada lagi air mata, hanya senyum bahagia.
Malam ini, langit malam sedang terlihat manja . Dia bergelut manja dengan awan dan para selir - selir bintangnya . Sedangkan sang purnama , dia tetap terlihat mempesona bak sang penguasa .
''Sayang...''
Hanan dari belakang melingkarkan tangannya pada perut Zahwa, merengkuh tubuh mungil Zahwa dari belakang. Ikut menikmati setiap Sepoi angin yang menerpa tubuh mereka. Terdiam, keduanya menikmati setiap belaian mesra dari sang angin sambil memejamkan mata.
''Ayo masuk, sudah malam.'' Ujar Hanan.
Zahwa masih terdiam, namun dengan senyum dia mengelus pipi suaminya yang masih menyandarkan kepalanya di pundaknya.
''Besok, kita jadi pulang ke rumah ku?'' Tanya Hanan.
Zahwa masih terdiam, tapi tiba-tiba Zahwa mencubit pipi Hanan dengan gemas. Sontak membuat Hanan melepaskan pelukannya.
''Sakit sayang.'' Ujar Hanan dengan mengelus pipinya yang panas.
''Sini , aku obatin.'' Kata Zahwa dengan wajah prihatin . Merasa bersalah dengan ulahnya. Dengan segera Hanan menyodorkan wajah pipinya di depan Zahwa. Tapi, bukannya di elus atau di cium seperti biasa. Zahwa malah kembali mencubit pipi Hanan lagi, tidak hanya satu. Kedua pipinya kini jadi korban kegemasannya.
''Sakit Zahwa!'' Seru Hanan marah. Dengan segera Zahwa lari menjauh dengan tawa yang mengembang.
Sedang Hanan masih dengan wajah masam mengelus kedua pipinya. Sudah pasti tanpa di lihat ke dua pipinya pasti merah, karena terasa panas.
''Yang , kok gak di kejar!'' Seru Zahwa yang kembali di ambang pintu balkon dengan ke dua tangan yang bertengkar di pinggangnya. Wajahnya kecewa.
''Hah! Maunya apa sih kamu ini. Ihh... gemes aku. Ini sakit tau.'' Balas Hanan masih marah.
__ADS_1
''Kejar aku dong!'' Seru Zahwa dengan kembali berlari.
Hanan melongo bingung. Tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya itu. Tidak menghiraukan perintah Zahwa dia masih mematung. Merasakan sensi panas di pipinya. Kemungkinan Zahwa sangatlah keras saat mencubitnya tadi.
''Yang. Kamu ah ! Kok gak di kejar sih!'' Gertak Zahwa di ambang pintu balkon tadim Dia kembali lagi, setelah berlari. Kini dengan lebih masam wajahnya. Kakinya di hentakkan keras di lantai. Dengan berjalan kesal ke arah suaminya lagi.
''Aku itu maunya apa? ini masih sakit, suruh ngejar. Emang film apa,'' Sewot Hanan.
Zahwa cemberut. Dia kesal, karena suaminya tidak melakukan hal yang seperti expetasinya.
''Udah malamm Aku mau tidur.'' Kata Hanan dan langsung ngeloyor pergi tanpa peduli Zahwa yang masih kesal. Membuat Zahwa semakin kesal.
''Dasar! Gak ada romantisnya sama sekali. '' Umpat Zahwa.
Melihat Hanan sama sekali tidak memperdulikan dirinya akhirnya membuat ia ikut kembali ke dalam rumah.
''Yang, Maaf deh. Aku salah, sini pipinya.'' Rajuk Zahwa . Tidak biasanya mereka beranjak tidur dengan amarah seperti ini. Membuat Zahwa mengalah untuk meminta maaf terlebih dahulu
''Udah gak papa. Udah tidur aja.'' Kata Hanan. Meskipun begitu Hanan masih memunggungi Zahwa. Semakin membuat Zahwa tidak enak hati. Dengan pelan Zahwa memeluk suaminya itu dari belakang. Menempelkan wajahnya pada punggung kekar suaminya. Hanan masih terdiam, tidak bergerak dari posisinya.
Zahwa menunggu lama, tapi tidak ada respon apapun. Akhirnya di bangun dan melihat ke arah wajah suaminya. Memastikan apakah dia sudah tertidur atau masih terjaga.
''Udah bobok ya.'' Kata Zahwa. Dia melihat Hanan sudah memejamkan matanya. Mamandang wajahnya lekat, dan dengan lembut membelai pipi yang tadi dia cubit
Zahwa mendekatkan wajahnya, melihat pipi suaminya. Sedikit ada memar merah terlihat di sana. Tidak menyangka jika cubitannya membuat bekas memar seperti itu. Seketika dia menyesal sudah dengan sengaja menyakiti suaminya. Masih dengan mengelus-elus lembut. Dan sesekali dia cium pipi suaminya itu.
''Kamu sedang bernafsu sayang?'' Tiba-tiba Hanan membuka matanya. Sontak membuat ke dua mata mereka bertemu lekat. Zahwa terkejut karena tiba-tiba Hanan terbangun.
__ADS_1
''Apaan. ENGGGAK!'' Seru Zahwa langsung menjauhkan wajahnya. Wajahnya merah merona.
''Halah, sini aku siap sedia kok." Kata Hanan menggoda. Dia mengubah posisi tidurnya dengan melentang. Melebarkan ke dua tangannya . Senyum menggoda.
''Idih. Ogah . Aku mau tidur.'' sewot Zahwa seraya kembali ke posisi tidurnya. Kini lengkap dengan selimut yang seakan menjadi tamengnya.
"Ya udah. Aku juga gak mau,' ' Kata Hanan dengan kembali memposisikan tidurnya seperti tadi.
Di balik selimut Zahwa mengigit bibir bawahnya. Ada perasaan aneh dan tak nyaman. Seakan tidak seperti biasanya. Setelah sekian lama, dia juga tidak bisa memejamkan mata. Dia masih menutup dirinya dengan selimut. Berlahan dia mengintip, di lihat suaminya sudah memejamkan matanya.
Tiba-tiba ada sensasi aneh dalam dirinya. Setiap hari dia melihat suaminya tertidur seperti itu. Tapi kenapa kali ini dia merasakan ada sesuatu yang membuatnya ingin mengatakan bahwa suaminya begitu menggoda. Wajah polos saat tidur, rambut depan terurai berantakan begitu saja dan Piama tidur yang menyisakan dua kancing terbuka memperlihatkan dada bidang suaminya.
Zahwa berkali-kali menarik nafas. Mengatur jantungnya yang berdetak kencang. Tubuhnya tiba-tiba panas. Dan matanya tidak bisa lepas dari wajah suaminya. Dia seperti makanan lezat yang menggoda. Tapi Zahwa masih tetap ingin menahannya. Berbulan-bulan menikah, baru kali ini dia merasakan hal seperti ini.
''Kenapa panas ya...'' Katanya lirih. Dia membuka selimut yang menutupinya. Dan berusaha kembali tidur , mencoba menghiraukan perasaan yang terasa aneh pada dirinya.
Tetap tidak bisa. Dia malah semakin ingin menatap suaminya itu. Di lihatnya suaminya itu, tanpa sadar tangannya sudah membelai lembut wajah yang sudah pulas tertidur . Jantungnya semakin keras ketika dia mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya. Tangan yang tadinya hanya di pipi kini sudah ada di leher suaminya. Zahwa kembali menarik nafas panjang, masih berusaha mengendalikan dirinya. Berusaha memejamkan matanya. Tapi masih tetap tidak bisa.
''Tidak apa kan? Toh dia suami ku." Batin Zahwa. Kali ini dia sudah mencium kening suaminya, kemudian kedua pipinya. Hanan masih saja memejamkan matanya. Membuat Zahwa semakin leluasa.
Saat ketika dia ingin mencium bibir suaminya. Mata Hanan kembali terbuka, dengan senyum jail dan satu gerakan saja tubuh Zahwa sudah berada di rengkuhanya. Sontak membuat Zahwa terkejut dan malu. Tapi kali ini dia tidak melawan, hanya sedikit membuang mukanya di dada Hanan.
Hanan semakin gemas melihatnya. Dengan lembut di belainya rambut istrinya itu.
''Aku senang dengan mu yang seperti ini sayang'' kata Hanan menggoda. Membuat Zahwa semakin tersipu malu.
Malam semakin larut. Dan kali ini hanya lentera malam yang menemani mereka. Itupun semakin lama semakin meredup. Rembulan saja tiba-tiba bersembunyi di balik pohon. Entah karena tak ingin terlihat atau karena malu melihat.
__ADS_1