
Hanan dan Zahwa menikmati malam syahdu. Berdansa menikmati irama lagu.Bertukar pandang dan senyuman.
"Sayang, waktu Abah Zahra menemui sendirian. Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Zahwa.
Zahra ingat malam itu Hanan belum menceritakan semuanya. Sempat di paksa tapi Hanan keburu mengantuk dan menyuruhnya untuk tidur. Tapi dia yakin, Kyai Jauhar tidak hanya bercerita tentang kisah Nabi Muhammad dan Siti Aisyah saja. Ada hal lain, dan dia ingin mengetahui.
"Cerita tentang nabi Muhammad dengan Aisyah Istrinya. Aku sudah menceritakan itu kan." Jawab Hanan. Tanpa melepaskan pandangannya dari Zahwa.
"Aku tahu, tapi pasti ada yang lain. Kalian bicara sangat lama." Tambah Zahwa.
"Beliau menanyakan perihal pernikahan kita. Wajarlah, pernikahan kita mendadak." Hanan mulai membuka cerita lain yang terjadi malam itu.
"Terus kamu jawab bagaimana?"
Zahwa penasaran dengan tanggapan Hanan juga saat pertama kali mereka menikah. Walaupun dia sudah sering mengatakan bahwa dia sama sekali tidak keberatan saat itu.
"Aku cerita. Jika aku harus menikahimu, karena amanah dari Ayah dan ibu. Aku juga tidak mengenal mu sebelumnya. Kamu dan keluarga mu datang dan menodong begitu saja. Hahahaha." Cerita Hanan
"Jadi kamu terpaksa gitu." Sewot Zahwa
"Iya, waktu itu. Tapi sekarang kan tidak. Aku sudah bilang kan kamu keterpaksaan ku yang paling indah." Ujar Hanan dengan mendekatkan hidung mereka.
"Gombal!'' Zahwa menepuk bahu Hanan . Dia terpingkal.
"Wajarlah sayang. Kamu juga pasti waktu itu juga terpaksa, kan? Malah sangat terpaksa."
"Tapi sekarang tidak," Bantah Zahwa, dia menempelkan wajahnya pada dada bidang Hanan. Membuat pria itu tidak lagi menginggat sakitnya saat dulu tahu bahwa istrinya adalah kekasih kakaknya.
"Selain itu apa yang Beliau katakan?'' Tanya Zahwa lagi
__ADS_1
"Beliau membacakan surah An - nur ayat 26
اَلْخـَبِيـْثــاَتُ لِلْخَبِيْثـِيْنَ وَ اْلخَبِيْثُــوْنَ لِلْخَبِيْثاَتِ وَ الطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَ الطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبَاتِ.
yang mengartikan bahwa Perempuan yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik. Dan perempuan yang baik untuk lelaki yang baik pula. Pun sebaliknya. Pasti kamu juga sudah dengar ayat itu kan," Jawab Hanan.
Zahwa mengangkat kepalanya, melihat wajah suaminya. Tidak menyangka juga ternyata laki-laki yang gila pekerjaan seperti dia juga bisa menghafal ayat Al Qur'an. Rasa cinta dalam hatinya semakin tumbuh. Dalam hati dia mengucap Hamdalah, karena Alloh memberikan suami yang mencintai agamaNYA juga.
"Kenapa? heran aku bisa melafalkan Ayat itu?" Tanya Hanan, dia melihat Zahwa dengan tatapan kagum.
"Aku kira kamu bodoh dalam pemahaman agama." Goda Zahwa.
Hanan menggelitik pinggang Zahwa, membuatnya menggeliat manja.
"Jika aku tidak faham agama, mana mungkin Kyai Jauhar mau aku menjadi pasangan putrinya." Kata Hanan.
"Eh, jadi itu benar? bukan bercanda?" tanya Zahwa. Dia ingin tahu kebenaran. Rasa cemburu kembali hadir, meskipun dia tahu itu sudah berlalu.
"Beliau bercerita apa lagi?"
"Sebenarnya bukan cerita, lebih ke menasihati. Mungkin dia tahu jika aku dan kamu masih saling memunggungi. Kamu masih terjebak dengan masa lalu mu dan aku dengan delima harus memilih melepaskan mu atau mempertahankan mu. Saat itu aku memang ingin melepaskannya mu."
Zahwa memeluk Hanan erat. Kata melepaskan membuat hatinya seakan terhantam batu yang sangat kuat. Membayangkan saja sudah merasa sakit. Hanan melakukan hal yang sama. Dia memeluk Zahwa erat. Bagaimana dirinya tanpa Zahwa, dia mungkin tidak akan menemukan kewarasannya.
"Beliau menasihati apa?" Tanya Zahwa lagi.
"Beliau berkata, Jodoh adalah Qodo '. Ketentuan Alloh sebelum kita di lahirkan. Kita tidak bisa memilih atau menentukan nantinya. Karena itu semua sudah di takdirnya, sudah tertulis. Hanya saja sebelum ketentuan itu terwujud kita harus terus berikhtiar. Tapi saat ketentuan tersebut sudah terjadi, kita harus menerima dengan pasrah diri. Beliau meyakinkan diri ku bahwa kamu adalah takdir ku, bahwa kamu adalah wanita yang akan menjadi surgaku." Jawab Hanan. Tanpa sadar Zahwa meneteskan air mata.
"Kamu ingatkan cerita Nabi Muhammad dan Aisyah yang saling menunggu dan tidak ingin menggangu? Di cerita itu kyai Jauhar mengisyaratkan jika kita seperti itu terus, kita tidak akan pernah bertemu. Kita tidak akan bersatu. Beda dengan nabi , beliau dengan istrinya sudah saling terbuka dalam cinta. Tapi kita waktu itu saling berlawanan, dan memendam perasaan. Kita terikat, tapi kita saling berlawanan." Tambah Hanan.
__ADS_1
Zahwa mengingat kejadian awal pernikahan mereka. Itulah yang terjadi, kecambuk jiwa dan hati yang berseberangan. Jiwa sepenuhnya menerima Suaminya, tapi hati masih terjerat rasa cinta yang setiap hari masih dia temui.
"Malam itu juga aku ingin bercerita tentang pasangan tua yang sudah lama menikah . Tapi saat itu aku lupa, dan kamu sudah mengajak tidur." Kata Zahwa.
"Sekarang coba ceritakan?" Perintah Hanan.
"Kita duduk di gazebo. Aku capek." Kata Zahwa. Hanan tertawa, melihat wajah Zahwa yang memelas kelelahan. Tanpa sadar mereka sudah berdansa lama. Hingga tidak tahu, lagu apa ya g sedang di putar sekarang. Terbuai dengan kemesraan, membuat keduanya lupa akan keadaan sekitar.
"Ayo."
Hanan menuntut Zahwa melewati jalanan yang masih penuh bunga ke arah gazebo. Di sana Hanan menjelojor kan kaki dan Zahwa berbaring menjadikan paha Hanan sebagai bantal untuk dirinya.
"Lanjutkan ceritamu." Kata Hanan
Tangan hanan mengelus kepala Zahwa lembut. Sedang Zahwa dia memainkan ujung hijabnya . Dengan sesekali menatap wajah suaminya. Lagu Alhubb fil shomti yang di nyanyikan oleh Artis Veve Zulfikar masih menjadi Backsound mereka. Menambah suasana Syahdu.
"Aku agak lupa, tapi inti cerita nya ada seorang pasangan. Mereka sudah menikah puluhan tahun, dan selalu rukun dan penuh cinta. Pada suatu hari, saat mereka sudah tua dan merasa bahwa umur mereka sudah tidak lama lagi. Sang suami bertanya pada istrinya, perihal soal masakannya . Dari awal menikah, saat istrinya memasak ikan dia selalu menyuguhkan bagian ekornya untuk suaminya. Dan Suaminya selalu menyuguhkan bagian kepala dan badan untuk istrinya. Selalu begitu. Hingga pada akhirnya suaminya bertanya kenapa dia selalu memberikan bagian ekor ikan kepadanya. Sang istri menjawab," Karena aku menyukai bagian ekor tersebut, aku pikir kamu pasti akan menyukainya juga. Aku rela membagi bagian yang aku suka untuk mu". Seketika itu Suaminya menangis. Sang istri bertanya kenapa dia menangis? suami menjawab. Sebenarnya dia menyukai bagian kepala ikan. Dia mengira bahwa istrinya menyukai nya jadi dia juga rela jika apa yang dia suka untuk istri tersebut.'' Cerita Zahwa.
"Wah, andai mereka saling jujur dari dulu dan terbuka mungkin mereka bisa merasakan apa yang mereka sukai. Tanpa harus merasa berkorban." Komentar Hanan
"Iya, kasihan." Ujar Zahwa
Keduanya terdiam. Merenungkan semua kisah tersebut.
"Jadi mulai sekarang, kita harus saling jujur . Tidak boleh ada rahasia di antara kita!" Ujar Zahwa.
"Termasuk ****** ***** yang sekarang kamu pakai." Goda Hanan menggoda.
"Dasar mesum!" Zahwa menyabetkan ujung hijabnya ke arah muka Hanan. Membuatnya terkekeh.
__ADS_1
***