
Setelah pulang dari Trenggalek. Surya meminta izin untuk membawa Zahra ke Jakarta. Mereka memberitahu bahwa akan mengadakan resepsi untuk pernikahan Surya sekaligus Hanan.
'' Bagus itu. Biar keluarga kamu juga tahu, semakin banyak orang yang mendoakan semakin baik untuk pernikahan kalian.'' Nasihat Kyai Jauhari.
''Nggeh bah. Nanti Abah ke Jakarta sama Badrun ya, Mas Surya katanya pernah janji sama Badrun kalau kapan-kapan dia mau ngajak dia ke sana." Sahut Zahra.
''Iya nduk.... Insya Alloh.''
Setelah mendapat izin Abah. Ke dua pasangan pasutri itu berpamitan. Zahra menangis, ini untuk pertama kalinya dia pergi setelah pernikahannya.
Saat seorang gadis sudah menikah, maka dia sudah tidak menjadi milik orang tuanya. Dia sepenuhnya menjadi ke milik suaminya. Baik atau buruknya dirinya kini tergantung suaminya.
Tidak hanya Zahra yang merasakannya kegundahan perpisahan itu. Tapi kyai Jauhari juga. Putrinya akan pergi, kali ini mungkin bisa saja tidak kembali.
Di balik doa - doa restunya. Tersimpan juga ke khawatiran. Akankah dia akan bisa melewati bahtera rumah tangganya kelak? Akankah dia akan bahagia dengan pasangan yang dia pilihkan?Meskipun beliau tahu, jika lelaki yang menjadi suaminya adalah pilihannya sendiri.
Terlebih, putrinya kini akan membagi waktu , dan kasih sayang nya lagi untuk suami dan keluarganya kelak. Dia tidak pergi untuk kembali, tapi dia pergi untuk menetap.
''Kaga Zahra. Jangan sakiti dia, kalau dia berbuat salah nasihat dia dengan lemah lembut
Mungkin dia manja, tapi Insya Alloh dia akan menurut. Aku titip Zahra, putriku. Satu - satunya warisanku.'' Pesan Kyai Jauhari pada Surya
Dia memeluk menantunya itu dengan meneteskan air mata.
''Insya Alloh Abah,"
''Ingat...Wong Lanang kui oleh Mbojo papat. Aku yakin awak mu sanggup.Tapi , lek iso Ojo mok wayoh anak ku. Lek awak mu wes Waleh, omongi aku. Ben aku Dewe sing jemput Zahra muleh. (Orang laki-laki itu boleh mempunyai istri empat . Aku yakin kamu sanggup. Tapi, kalau bisa jangan kamu madu putriku. Kalau saja kamu bosan , bilang saja padaku. Biar aku sendiri nanti yang akan menjemput Zahra pulang)." Tambah Kyai Jauhari.
Seperti luka yang terguyur air cuka. Surya tercekat mendengar pesan dari mertuanya itu. Dia bahkan sama sekali tidak pernah berfikir untuk memadu Zahra. Bahkan jika Zahra bukan istri saat ini, dia tidak akan berfikir seperti itu.
Baginya menikah hanya satu kali dalam seumur hidupnya. Tapi kenapa mertuanya memberikan pesan seperti itu? Mungkin saja itu wujud ke khawatiran seorang ayah. Apalagi, Zahra satu-satunya putrinya.
''Sampun nggeh bah. Insya Alloh mas Surya akan mengingat pesan - pesan Abah. Bukan kah, dia menantu pilihan Abah sendiri.'' Sahut Zahra.
Abah melepas pelukannya dari Surya. Dan dengan lembut membelai pipi lembut Zahra.
__ADS_1
''Hanan juga minta doa restu untuk keluarga kecil Hanan Abah. Untuk kebahagiaan, keberkahan kami berdua dan calon anak kami.'' Hanan yang saat itu masih terduduk, maju dan meminta sungkem pada Kyai Jauhari.
Kyai Jauhari tersenyum. Mengelus kepala Hanan, dan kemudian melihat Zahwa yang saat itu juga melihat ke arah mereka semua.
''Amin amin amin... Semoga sehat terus ibu dan anaknya. Gansar sampai lahiran. Jadi anak yang Sholeh Sholehah. Kalau perempuan, semoga cantik seperti ibunya dan kalau laki-laki, semoga ganteng seperti ayahnya. Tidak bagus dhohirnya saja tapi batinya nya juga. Insya Alloh, putra kalian akan mendapatkan keberuntungan dan keberhasilannya di dunia dan Akhirat.'' Doa kyai Jauhari
Seperti embun pagi. Doa itu sangat sejuk di hati. Bayang-bayang seorang anak di benak Zahwa dan Hanan tiba-tiba hadir begitu saja. Membuat mereka ingin segera anak itu lahir ke dunia.
''Terima kasih atas doanya Abah. Semoga Abah panjang umur, sehat selalu dan bisa segera menimang cucu dari keluarga kami nantinya." Ucap Hanan
Itu pun juga sindiran untuk Zahra dan Surya agar mereka tidak menunda momongan.
Usai pamitan, mereka menuju mobil masing-masing.Dan melambaikan tangan untuk terakhir kalinya kepada Kyai Jauhari dan juga para santri yang saat itu di perbolehkan juga untuk mengantar kepergian mereka.
''Aku kerungu winggi mbak-mbak Podo ngirim surat cinta gawe Hanan. Sopo ae Jale? Saiki wes ngerti to jawaban ne?" Ucap kyai Jauhari setelah dua mobil yang membawa mereka keluar dari gerbang pesantren.
Santri putri tertunduk. Tidak berani mendongakkan kepala mereka. Padahal, kyai Jauhari berucap dengan senyum. Tapi, sepertinya mereka semua terlanjur malu setelah mengetahui kenyataan jika Hanan sudah beristri. Dan juga malu, karena perkara surat itu sampai pada Kyai mereka.
''Boleh saja mencintai, itu hak kalian. Tapi, sebelum itu di lihat dulu orangnya, kebenaran, bagaimana. Cinta boleh, tapi jangan sampai memaksa.'' Tambah kyai Jauhari, seraya kemudian berlalu kembali ke Dhalem.
''Akhirnya. Sampai juga di rumah ... '' Zahwa melentangkan tangannya setelah mereka masuk ke dalam rumah.
Zahra melihat sekeliling rumah tersebut. Tidak ada yang berubah , dari terakhir dia berkunjung dulu.
''Kamu lekas istirahat. Aku yang akan membereskan barang-barang ini.'' Kata Hanan
Zahwa manyun. Akhir - akhir ini suaminya overprotektif. Dia masih ingin menyeduh kopi , atau minuman hangat. Tapi sudah di suruh tidur saja.
Dalam perjalanan tadi dia sudah tidur. Kantuknya sudah hilang, meski saat ini sudah malam.
''Sebentar, aku akan mencari sesuatu. Aku lapar.'' Balas Zahwa.
Surya mengangkat barang - barang milik Zahra ke kamarnya.Zahra mengikuti dia dari belakang. Kakinya bergetar,saat pertama kali memasuki kamar tersebut. Dia terpaku tepat di depan pintu.
''Ada apa? Apa kau tidak suka dengan kamar ini?'' Tanya Zahra. Dia melihat sekeliling kamar tersebut. Baru tersadar jika desain kamar ini pernah ia lihat di rumah Zahwa dulu.
__ADS_1
''Tidak. Hanya pernah lihat kamar yang hampir mirip dengan kamar ini.'' Kata Zahra. Dia berlahan masuk . Dan kemudian melihat sekelilingnya.
Tidak hanya mirip , tapi ini seperti sengaja di desain sama. Tembok , furniture dan juga balkon luar.
Surya mendekati Zahra saat dia melihat ke luar balkon. Dia menyibak tirai putih sedikit. Memperlihatkan tanaman balkon tersebut.
''Maaf, aku belum sempat mendekorasi kamar ini lagi." Kata Surya.
Dia merasa bersalah di lalai untuk mengubah kamar tersebut. Kamar ini masih sama dengan kamar yang dia ingin buat untuk Zahwa. Sesaat, dia mulai nyaman dengan kamar tersebut. Tapi, mungkin tidak dengan pasangannya sekarang. Akan menyakiti hatinya jika. Lagipula, sekarang mereka sudah benar-benar telah menjalani hidup masing-masing.
''Apa ini dulu untuk Mbak Zahwa?"
''Dia sekarang adik iparmu. Panggilan nama saja," kata Surya.
''Aku terbiasa Mas.''
''Tapi, dia sudah memanggilmu kakak."
''Baiklah, aku akan membiasakan diri."
Zahra menutup lagi tirai putih itu. Tersenyum pada suaminya. Dia melihat ke khawatiran dalam wajah suaminya itu. Mungkin mengira jika dia akan keberatan dengan kamar ini.
''Hahaha...'' Zahra tertawa.
Surya heran melihatnya. Ada apa?
''Aku tidak keberatan dengan kamar ini Mas. Aku suka aja kok. Tapi, boleh besok aku sedikit memberikan perubahan di kamar ini?''
Surya mengangguk cepat. Longsor sudah kekhawatirannya dan langsung memeluk Zahra.
''Maaf, ya. Aku benar-benar gak bermaksud untuk melukaimu.'' Kata Surya.
Zahra diam Dia belum terbiasa dengan sergapan secara mendadak itu. Jantungnya masih saja berdetak kencang, sesaat setelah pelukan itu lepas.
''Setelah dua orang menikah, berarti mereka telah menerima kekurangan, dan juga masa lalu pasangannya. Termasuk, siapapun yang dulu pernah ada di kehidupannya.'' Kata Zahr.
__ADS_1
Surya meraih kening Zahra dan mengecupnya dalam lalu berbisik, "Sudah malam, Ayo!'' sambil menyeringai.