Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 112


__ADS_3

"Kalau nunggu kamu dapat orang yang tepat, kapan?"


Zahra diam. Dia tidak mempunyai jawaban akan pertanyaan Hanif. Tiba-tiba bayangan wajah surya terpampang jelas di benaknya.


"Atau mungkin kamu punya seseorang yang bisa di rekomendasikan?''


" Memanganya lagi ngelamar kerja apa," Sewot Zahra.


"Ya, bukan. Maksud ku yang diam-diam kamu suka, kamu perhatiin, kamu kagumi, tapi kamu gak berani ungkapin."


Bayangan wajah surya semakin memenuhi penaknya. Kenapa hanya surya yang ada di benaknya. Bukankah laki-laki itu juga sudah menoklnya secara mentah-mentah, bahkan sebelum dia mengatakan perasaannya.


Zahwa membuang nafas kasar.


Menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menghilangkan wajah surya dalam benaknya.


"Kamu sedang memikirkan siapa?" Tanya Hanif, dia kenal betul bagaimana Zahra. Gerakan tubuhnya saja sudah di luar kepalanya.


"Tidak ada," Jawab zahra ketus.


"Jangan bilang kamu masih memikirkan Hanan . Hoe , dia sudah punya istri!"


"Hah! Gak lah, udah move on."


"Oh. Aku tahu, pasti kakaknya hanan. Surya."


Deg.


Jantung zahra seakan berhenti berdetak mendengar nama surya. Wajahnya panas dingin, tubuhnya mulai gemetar. Pikiranya melayang. Kenangan bersama surya seakan sedang berputar di benaknya.


Senyuman surya saat dia sedang menemukan titik temu saat dirinya faham akan isi kita yang di terangkan. Tawanya saaf dia sedang menggodanya dengan lelucon yang kadang membuatnya kesal. Rasa khawatir, saat ada sesuatu yang mengusik pikiranya. Wajah tenangnya, saat dia menerima tuduhan yang bahkan tidak pernah ia lakukan. Rasa percaya dirinya, membuatnya zahra percaya bahwa apa yang terjadi adalah kehendak Alloh.


Manusia bisa berencana, tapi Allohlah yang mentakdirkan. Tidak semua apa yang kita inginkan terkadang baik untuk kehidupan kita sendiri. Dan untuk mengerti itu semua, kita akan merasakan sakit sebelumnya. Hingga waktulah yang akan menyembuhkan dan juga menjawab kebaikan untuk diri kita sendiri.


"Aku sudah mengetahui jawabnya saat kamu diam."


"Sudah malam, aku akan kembali ke kamar. Terima kasih atas kebabnya." kata zahra seraya berdiri dan meninggalkan hanif.


"Surya juga akan menikah." seru Hanif sebelum zahra benar-benar pergi.


Deg .

__ADS_1


Jantung nya seakan berhenti seketika. Tubuhnya lunglai seketika . Nafasnya tersenggal-senggal. Kenapa?


Hanif menghampiri zahra.


"Benar, dia akan menikah. Hanan memberikan kabar itu padaku. Dia akan menikah, dengan wanita pilihanya." Hanif mengatakan itu dengan jelas di depan zahra.


Zahra masih diam. Berkali-kali mrngatur nafasnya yang tiba-tiba sesak. Seakan ada belati menusuk jantungnya.


"Jangan berharap kepada siapapun lagi zahra. Berkali-kali kau kecewa. Bahkan surya sama sekali tidak mengabarkan hal ini kepada mu bukan? Jangankan mengabari, bahkan selama ini apa dia menghubungi mu ? atau sekali saja mengirim chat kepadamu? Tidak, kan? Untuk apa kamu mrngharapkan seseorang yang bahkan sama sekali tidak mengharapkan dirimu?" Ujar Hanif, setengah beteriak.


"Kau seperti adik ku sendiri. Aku mengenal mu bertahun-tahun, kita tumbuh bersama dan aku tidak ingin lagi kamu merasakan sakit lagi. Kau berhak bahagia,"


"Dengan menikah dengan orang yang sama sekali ku kenal?" Zahra mempertanyakan itu dengan mata memerah.


Hancur sudah hatinya. Rasanya tidak lagi ingin mengenal cinta.. Dia hanya memerankan kisah cintanya sendirian selam ini. Kenapa? Di sisi lain dia akan menikah dengan orang yang bahkan tidak ia kenal. Di sisi lain kabar yang mengejutkan hatinya, orang yang selama ini diam-diam ia idamankan mendadak menikah. Itupun dengan wanita pilihanya, siapa dia? Wanita yang beruntung mendapatkan dirinya? Bagaiman caranya dia bisa meluluhkam hatinya? Bukankah sangat sulit untukya membuka hati sebelumnya. Tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba? Apakah benar sedetik saja, dia tidak pernah menyukainya.


''Apa kau mengatakan hal ini hanya untuk membuat ku menerima perjodohan ini. Agar aku tidak lagi berharap."


"Tidak. Jika kau tidak percaya. Telpon Zahwa, dia pasti mengetahui semuanya.''


Zahra diam. Tanpa berbicara lagi, dia kembali ke apartemennya. Meninggalkan Hanif sendiri terpaku melihatnya.


Tak bergeming. Hanya Isak tangisan. Tersungkur begitu saja, lantai dingin tak lagi mempengaruhi dirinya.


***


"Kak, kau milih cincin atau apa? Kita sudah satu jam di sini. Tapi kau belum juga memutuskan cincin mana yang kau pilih.'' Gerutu Zahwa.


Hari ini dia dan suaminya harus menemani Surya untuk memilih sepasang cincin untuk dirinya dan calon istrinya nanti.


''Aku bahkan tidak selama ini saat memilih cincin untukmu," Tambah Hanan. Dia juga mulai lelah


''Coba katakan, mana yang harus di pilih?" Tanya Surya. Dia benar-benar bingung.


''Aklku sudah memberikan beberapa pilihan , tapi kau tidak menyukainya.'' Kata Zahwa. Dia bersandar di bahu suaminya, menahan lelah.


''Ini apa gadis itu memiliki jari yang kecil dan ini apa dia memiliki jari yang sebesar ini? Aku tidak tahu,'' Surya sendiri , dia merasa bingung dengan pilihannya.


''Kau tidak tahu, apalagi kami.'' Keluh Hanan.


''Pakai jari ku untuk mengukur cincin itu

__ADS_1


Lagipula, kamu sendiri yang salah kak. Setidaknya, walau belum mengenalnya kau bisa melihatnya sekali.'' Ujar Zahwa.


''Bisa saja dia gendut, kurus, bagaimana dia? Apa bisa kau bayangkan? sahut Hanan .


''Tidak. Dia pasti tidak seperti yang kalian bayangkan sekarang." Bantah Surya.


''Hah! Baiklah, sepertinya kakak sudah mencintainya, bahkan sebelum mengenalnya dan juga melihatnya.'' Celetuk Zahwa.


''Dia takdir ku, dia juga pancaran diriku. Mana mungkin, aku tidak mencintainya. Sakitnya akan menjadi sakitku, bahagianya akan menjadi bahagiaku, sama seperti kalian yang saling mencintai, kami pun akan seperti itu." Kata Surya . Dia berkata dengan memandang sepasang cincin di depannya. Dengan garis-garis horizontal yang bertautan.


''Oh, tidak! Dia sudah bucin sebelum pernikahannya.'' Kata Hanan.


''Aku memilih ini. Bungkus kan untuk ku,'' Kata Surya. Dia memilih sepasang cincin yang sedari tadi di pandanginya.


Hanan dan Zahwa bernafas lega. Akhirnya, mereka bisa pergi dari toko perhiasan tersebut .


''Kau tidak memilih sesuatu Zahwa? Biasanya wanita suka dengan perhiasan?'' tanya Surya.


''Aku akan membelinya jika ingin kak. Tapi entah mengapa aku sama sekali tidak berselera bahkan saat aku masuk Mall ini tadi, aku merasa ingin segera pergi saja. Entahlah, biasanya juga tidak seperti itu," jawab Zahwa.


Jika di lihat banyak perhiasan yang cantik dan bisa di belinya. Namun, entah mengapa dia seperti kehilangan selera.


''Kita juga perlu beli beberapa baju untuk pernikahan besok? Sekalian saja.'' Kata Hanan.


''OK. Kita cari sarimbit, untuk dua pasang.'' kata Zahwa.


''Buat kita saja, kita tidak perlu membeli untuk kakak dan istrinya.''


''Kenapa?'' Protes Surya seakan dikucilkan .


''Bagaimana bisa kita tahu ukurannya? Mungkin saja, dia gendut. Seperti ibu itu.'' Ujar Hanan dengan menunjukkan seorang ibu berpostur besar, pipi tembem dan juga mata bulat. Dia sedang lahap memakan makanannya di tangannya.


''Hahahaha.'' Zahwa langsung tertawa saat melihat ibu tersebut. Membayangkan Surya dengan ibu itu saling berdampingan.


''Tidak, dia seperti bunga. Kalian jangan bercanda lagi. Jika kalian melihatnya nanti, pasti kalian akan terkagum-kagum dengan dirinya '' Surya membantah .


''Ok. kita lihat besok. Sekarang kita belanja dulu'' Ajak Hanan.


''Jangan di ambil hati kakak. Maafkan dia.'' kata Zahwa dan kemudian berlari mengikuti kaki suaminya pergi.


Surya menggenggam erat cincin pernikahannya. Dia tahu, dia tidak mengetahuinya, tapi dia yakin bahwa istrinya kelak layaknya bunga. Dia tidak hanya menawan tapi juga berbudi pekerti. Seperti Sang Surya, yang tak pernah lelah bersinar di pagi hari. Begitu pun dia, tak akan berhenti bermekaran sepanjang hari.

__ADS_1


__ADS_2