Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 105


__ADS_3

''Pengen. Pengen anak'' Kata Hanan gemas.


''Hmm ... semoga lekas di berikan titipan sama Alloh.''


''Amin amin amin. Jangan sedih," Ujar Hanan.


''Tidak. Aku sedang memikirkan sesuatu.'' Kata Zahwa mengingat-ingat sesuatu.


''Apa? Jangan bicara soal orang lain dulu lah,'' Elak Hanan.


''Nggak. Aku teringat, semestinya dari 3 hari yang lalu aku sudah datang bulan. Tap, sampai hari ini belum juga."


"Kirain apaan. Bagus dong, sekarang aku bisa minta.Hehehe.''


''Eh, benar mas. Aku telat datang bulan!"


"La terus kenapa? Itu bukan masalah hal yang besar."


"Sebentar.''


Zahwa bangkit dari tempat tidurnya. Membuat Hanan yang tadinya ingin sesuatu menjadi malas dengan tingkah laku Zahwa.


"Kamu mau ngapain sih," Hanan mulai kesal.


Zahwa memberikan isyarat untuk menunggu sebentar. Zahwa mengambil kalender kecil dari dalam almari. Dan beberapa kali, terlihat menghitung sesuatu.


''Mas aku sudah telat satu Minggu Lo."


''La terus kenapa?sudah lah, ayo sini."


Antara was - was dan penasaran. Zahwa mengambil sesuatu dari dalam laci almari lagi. Setelah itu dia langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Hanan membanting tubuhnya ke kasur. Dia kesal, karena Zahwa sama sekali tidak menggubrisnya.


Zahwa cukup lama di kamar mandi. Membuat Hanan yang tadinya ingin menunggu akhirnya ketiduran.


Beberapa saat kemudian. Zahwa keluar dari kamar mandi. Di lihatnya suaminya sudah tidur lagi. Kemudian, Zahwa mengendap-endap dan menempelkan tangannya yang dingin di pipi Hanan.


Sontak membuat Hanan terbangun lagi. Dia kesal, melihat Zahwa mengganggu tidur. Dan kembali mengambil selimut dan menutupi wajahnya dari istrinya tersebut.


''Ayah.'' Kata Zahwa.


Mendengar hal itu. Hanan bingung dia membuka selimutnya dan menatap Zahwa heran.

__ADS_1


''Selamat sayang sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah!'' Seru Zahwa.


Hanan terdiam sejenak. Antara sadar dan tidak dia memukul pipinya sendiri.


Zahwa memberikan taspeck yang menunjukkan dua garis merah..


''Alhamdulillah.Ya Alloh!'' Seru Hanan. Dia langsung bersujud dan kemudian memeluk Zahwa.


''Kita kabari Kakak, dan juga keluarga lainya.'' Kata Zahwa.


'' Pasti . Tapi biarkan aku dengan anak ku seperti ini dulu . ''


Sangking senangnya Hanan tidur di pangkuan Zahwa dengan menghadap ke perutnya. Dia mengelus-elus lembut, tak henti bibirnya mengucapkan hamdalah.


Zahwa tidak menyangka. Sebentar lagi dia pun akan menjadi seorang ibu. Bayangan seorang bayi mungil melintas di benaknya.


Alangkah bahagianya nanti saat anak itu lahir nanti. Dia akan menggendongnya dan akan mengajaknya berbicara.


''Nanti saat ke rumah sakit kita sekalian memeriksakan kandungan mu.Kita perlu tahu berapa usia kandungan mu itu.'' Kata Hanan.


''Baiklah. Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu anak kita lahir.''


''Apalagi aku. Tidak apa-apa, kamu baik-baik di sana ya nak. Jangan nakal, ayah dan ibu mu pasti menjaga mu.'' Kata Hanan, berbicara pada jabang bayi dalam perut Zahwa.


Zahwa gemas melihat suaminya berceloteh panjang lebar dengan calon anak mereka. Seakan dia yang ada di dalam perutnya benar-benar mendengarkannya.


Rasanya gemas sendiri saat nanti dia bisa melihat wajah jabang bayinya.


Sampai di rumah sakit. Hanan dan Zahwa langsung mengabarkan berita baik ini kepada keluarga mereka. Dan Alhamdulillah, respon baik mereka terima. Dan doa-doa pun bergantian di panjatkan satu persatu dari mereka.


''Selamat y mbak, Mas. Semoga kelak putranya menjadi anak yang Sholeh Sholehah. Cantik dan ganteng seperti ayah dan ibunya. Tentunya baik hati juga.'' Ucap Wardah.


''Terimakasih atas doanya. Semoga kamu juga lekas mendapatkan jodoh yang terbaik untuk mu. Dan bisa merasakan kebahagiaan ku saat ini.'' Balas Zahwa dengan memeluk Wardah.


Mereka sudah layaknya saudara yang saling menyayangi. Tidak ada lagi rasa cemburu dan juga rasa sakit hati.


''Selamat ya mas. Bentar lagi jadi Ayah. Ponakan ku bakalan hebat nantinya.'' Ucap Hafiz.


''Hehehehe. Amiin amin amin, cepat cari jodoh. Biar ngerasain apa yang aku rasain sekarang." Balas Hanan.


Paman sam pun juga terlihat bahagia. Apalagi itu adalah cucu pertama untuk dirinya. Andaikan istrinya siuman pasti dia pun akan ikut bahagia.


''Bapak?'' Panggil bibi Ami pelan.

__ADS_1


Semua orang yang ada di ruangan tersebut sontak melihat ke arah Bibi Ami yang sedang terbaring lemas.


"Bu, Alhamdulillah..." Paman Sam langsung menghampiri, di ikut oleh yang lainnya.


''Aku pengen pulang pak. Ayo kita pulang..." Ujar Bibi Amin.


''Jangan dulu Bu. Kondisi ibu belum sehat, nanti kalau ibu sudah kuat , dan sehat pasti boleh pulang."


''Aku tadi mimpi di temuin ibu e Hanan pak. Nunggu aku pulang, kasihan kalau nunggu ibu lama-lama.''


Mendengar hal itu, semua orang yang ada di ruangan tersebut saling bertukar pandang.


''Bibi,'' Panggilan Zahwa.


Bibi Ami melihat Zahwa dengan tenang. Tidak ada lagi kemarahan ataupun sebersit kebencian. Beliau tersenyum penuh kasih sayang.


''Zahwa. Kamu dapat salam dari ibu mertua mu . Tadi dia bilang, suruh jaga Hanan. Dia juga bilang, jika dia sayang sama kamu.'' Ujar Bibi Ami. Dia ingin meraih wajah Zahwa namun tidak bisa. Tangannya seakan tertahan.


Akhirnya, Zahwa dengan lembutnya meraih tangan bibi Ami. Dan mencium telapak punggungnya dengan lembut. Air matanya tiba-tiba mengalir deras. Seakan dia sedang mencium tangan ibunya sendiri.


Kerinduan akan sosok ibu seakan terbalaskan. Ada kehangatan di dalam hatinya. Namun , ada sesak di dadanya. Mengingat kondisi saat ini .


''Maaf kan bibi mu jika punya salah sama kamu . Maaf, bibi sering melukai hati mu. Maaf kan ya nduk.'' Dengan terbata-bata bibi Ami mengucapkan hal tersebut.


''Zahwa yang harusnya minta maaf bi. Zahwa yang buat bibi seperti ini. Maafkan Zahwa karena berbohong kepada bibi. Maaf kan Zahwa belum sempurna menjadi istri dan menantu yang baik buat keluarga ini."


''Tidak nduk, kamu sudah baik. Semoga selalu seperti itu.''


Kemudian Bibi Ami melihat Hanan. Dia tersenyum dan Hanan berjalan mendekat .


''Jaga Zahwa. Dia istri yang baik. Selalu utamakan istri mu. Bibi minta maaf jika banyak salah sama kamu .Salam ku untuk Surya, bibi minta maaf. ''


Hanan berusaha tegar mendengar nasihat bibinya tersebut. Dia hanya bisa mengangguk pelan dengan memegang erat tangan bibinya yang masih di pegang oleh istrinya.


''Wardah, kamu anak yang baik. Jangan sedih, jangan menangis, kelak kamu akan temukan seseorang yang akan mencintai mu dengan sangat sempurna. Kamu baik nduk,jangan khawatir , kamu akan bahagia. Itu doa bibi mu.''


Wardah semakin sesenggukan. Dia sudah menangis dari tadi. Dan kini dia semakin menjadi. Bibi Ami seperti ibunya sendiri.


''Hafiz, sekarang tugas ku sudah selesai menjaga Wardah . Sekarang giliran kamu.Jaga bapak mu, jaga Wardah."


Hafiz tak bisa menahan air matanya. Air matanya bercucuran


''Pak, ibu pulang ya. Sehat terus pak. Terimakasih sudah menjadi pendamping yang sempurna buat ibu."

__ADS_1


Paman Sam membantu membimbing Bibi Ami mengucapkan syahadat. Pelan namun pasti. Hingga akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhirnya.


Tangisan pun pecah. Tak terbendung lagi. Bibi Ami pergi, untuk selamanya.Pulang menemui sang pencipta.


__ADS_2