
"Pondok pesantren saja kamu tidak tahu." Sahut Hanan. Dia datang tiba-tiba, dengan Zahwa di sampingnya.
"Wah! Non Zahwa, Apa kabar?" Seru Bik Asih . Beliau langsung menghampiri Zahwa dan memeluknya.
"Baik Bik Asih. Bimana kabarnya Bibi?" Balik tanya Zahwa.
Bik Asih langsung mempersilahkan mereka berdua duduk di meja makan.
"Apa kabar Elena, Mas Surya?" Sapa Zahwa.
Surya dan Elena masih tercengang dengan kehadiran Hanan dan Zahwa. Sudah lama mereka tidak datang dan tiba-tiba mereka berada di sini tanpa memberikan kabar dahulu.
"Baik. Mbak Zahwa, silahkan Mbak." Jawab Elena. Dia mempersilakan Zahwa untuk mengambil makanan.
Hanan menyerahkan piring kepada Zahwa dengan segera Zahwa mengisi piring tersebut, dan menyerahkan kembali.
"Kalian ke sini menginap atau nanti pulang?" Tanya Surya. Dia berusaha bersikap biasa meskipun masih sulit saja hatinya untuk tidak merasakan sakit .
"Lagi kangen masakan Bik Asih. Jadi langsung ke sini. Maaf ya. Gak ngasih kabar sebelumnya." Jawab Zahwa.
Hanan sudah mulai makan. Dia memberikan isyarat untuk biasa saja dengan Surya.
"Ini juga rumahmu. Kamu bisa ke sini kapan saja." Kata Surya.
Zahwa tersenyum, tidak lagi mengatakan apapun dan mulai makan.
Tidak ada yang bicara lagi. Sasana kembali tenang. Tapi di hati masing-masing masih ada gejolak yang berusaha di tahan.
"Tadi aku dengar ada yang membicarakan pondok pesantren? Memang ada? " Tanya Hanan.
"Abah Zahra ingin aku membantu mengembangkan pondok pesantren mereka di Jombang. Dan seperti aku akan menyanggupinya." Jawab Surya .
Zahwa tersedak. Hanan langsung mengambil air minum dan menyodorkan kepada dirinya.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Surya. Dia tidak bisa menyembunyikan ke khawatirannya.
"Tidak apa-apa," jawab Zahwa.
Hanan melihat tidak suka dia terserang rasa cemburu. Zahwa menyadari itu.
"Dan Elena. Dia bagaimana?" Tanya Hanan langsung mengalihkan perhatian.
"Saya ingin ikut Mas Surya saja sebenarnya. Tapi sepertinya Mas Surya tidak bisa." Jawab Elena
"Jelaslah. Mana bisa kamu hidup di sana. Lagian gak malu apa ngikut orang terus." Serang Hanan tanpa memikirkan perasaan Elena.
Zahwa melotot. Dia tidak suka dengan cara Hanan yang blak-blakan. Tapi Hanan tidak menghiraukan.
"Memang kenapa? seperti apa sebenarnya pondok pesantren itu? " Tanya Elena. Dia semakin penasaran. Terluka, karena di anggap tak mampu begitu saja.
"Pesantren itu sebuah pendidikan tradisional yang para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kiai dan mempunyai Asrama untuk tempat menginap santri." Jelas Zahwa .
"Kita sekolah begitu. Tapi bedanya gak pulang. Tinggal di sekolahan tersebut?" Elena masih belum faham.
__ADS_1
"Bisa di katakan begitu. Tapi siswa atau biasa di sebut santri harus mengikuti semua kegiatan yang ada di pesantren tersebut, juga harus mengikuti semua peraturan yang ada. Setiap hari mereka di gembleng untuk mempelajari agama. Dan lagi, antara laki-laki dan perempuan di pisah. Jangan kan untuk berhubungan. Kadang bertemu saja tidak boleh, kecuali jika itu penting." Jawab Zahwa.
"Tiap hari Ngaji, sholat, Ngaji lagi, Sholat lagi. Full satu hari kegiatan. Gak ada istirahat kecuali malam pas jam tidur. Makan seadanya. Kadang minum pakai air kran. Kalau gak ngikutin peraturan di denda, bahkan di hukum. Kamu sanggup?'' Tanya Hanan menekan.
Elena menelan ludah mendengar penjelasan mereka berdua. Tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti. Sholat dan ngaji saja dia masih blekakblekuk. Apalagi itu harus dilakukan setiap hari bahkan setiap waktu.
"Belajar kitab juga. Belajar bahasa Arab. Harus menjaga tata Krama.'' Tambah Hanan. Membuat Elena semakin tercekik .
"Lebih baik kamu berada di Panti Sosial saja . Itulah alasan ku, di pesantren aku takut kamu tidak akan betah." Sahut Surya
Elena diam. Jelas saja dia tidak akan betah dengan tempat seperti itu. Sama saja dia masuk penjara.
"Tapi jika kamu minat juga tidak apa-apa." Ujar Surya.
"Ah...Setelah aku pikir lagi. Kasihan ibu ku harus tinggal di sini sendiri." Kata Elena mencari alasan.
"Loh, selama ini kamu juga sudah meninggalkan ibu mu." Sekak Hanan. Di bawah meja Zahwa langsung menginjak kaki Hanan. Membuat Hanan meng-aduh.
Tidak ada yang bicara . Elena diam tanpa berkata juga , dia tidak mempunyai kata untuk menyanggah Hanan .
"Sampai kapan Mas Surya di sana?" Tanya Zahwa mengalihkan pembicaraan.
"Tidak tahu, yang pasti lama." Jawab Surya.
Zahwa diam. Ada perasaan bersalah menyelimuti hatinya. Mungkinkah Surya sedang mencari alasan untuk pergi ? Tapi dengan begini juga semua akan baik-baik saja. Mereka memang perlu waktu dan jarak untuk saling melupakan.
"Kabari jika mau berangkat," Kata Hanan.
Dia terbiasa tanpa kakaknya. Mereka seperti pekerjaan Shift. Saat Hanan di rumah , maka Surya yang pergi. Dan saat Surya di rumah Hanan yang ganti pergi. Meskipun begitu , mereka tetap saling menjaga. Tapi kali ini kepergian kakaknya itu , salah satunya alasannya adalah karena dirinya. Dalam hal ini di tidak tahu harus senang atau sedih . Senang karena Kakaknya tidak akan menjadi penghalang dirinya bersama Zahwa lagi. Sedih karena dia pergi untuk menyembuhkan rasa sakit hatinya yang tanpa sengaja dia goreskan.
Hanan dan Zahwa pamit pulang. Mereka benar tidak ingin menginap meskipun Surya sudah mengatakan bahwa itu juga rumahnya. Tapi Hanan masih belum rela, apalagi melihat Zahwa yang masih merasa canggung dengan kakaknya.
"Kamu sedih kakak ku akan pergi?'' Tanya Hanan .
Hampir setengah perjalanan mereka hanya diam, dan bercengkrama dengan pikiran masing-masing .
"Bukan sedih karena kehilangan. Tapi sedih karena aku merasa bersalah. Dia pergi karena aku." Jawab Zahwa. Dia tidak ingin ada lagi sandiwara di antara dirinya dan Hanan. Dan mengatakan semuanya dengan kejujuran hatinya.
"Aku juga merasa begitu tapi mau bagaimana lagi. Itu juga pilihannya." Ucap Hanan. Dia lega, jika istrinya tidak lagi mengharapkan kakaknya.
"Dan Elena bagaimana?"
"Itu yang sedang aku pikirkan." Jawab Hanan.
Zahwa menatap. Mencari tahu maksud dari perkataan suaminya. Apa kah dia mulai memperhatikan Elena?
"Jangan salah faham. Aku khawatir karena takut dia merencanakan sesuatu lagi. Dia seperti enggan untuk keluar dari rumahku." Jelas Hanan
"Kamu masih saja berfikir buruk."
"Sudahlah. Jngan membicarakan mereka." Ujar Hanan.
Zahwa diam. Dia tahu suaminya masih sensitif jika menyangkut tentang Elena dan Surya.
__ADS_1
"Oh iya mas? Apa mas sudah pernah ke Jombang? Tempat pesantren nya Zahra?'' Tanya Zahwa. Tiba-tiba dia penasaran dengan pondok pesantren tersebut.
"Pernah. Aku dulu sering ke sana. KKN ku dulu dekat daerah pesantrennya Zahra. Karena itulah keluarga Zahra juga mengenalku." Jawab Hanan
"Dan mungkin saja mau di ambil mantu juga sama Abahnya Zahra." Sahut Zahwa. Entah mengapa dia tiba-tiba kesal mendengar cerita Hanan.
Memikirkan bahwa suaminya dulu sangat dekat dengan Zahra dan keluarga. Apalagi saat Abahnya dulu kerumahnya bisa di lihat mereka sangat akrab.Mas Surya juga bilang jika Zahra satu-satunya wanita yang dekat dengan Suaminya.
"Loh, kok kamu tahu. Hahahaha. Aku memang mau di ambil mantu sama Abahnya Zahra. "
"Ck, terus kenapa kamu gak mau?" Zahwa semakin sewot.
"Bagaimana lagi. Aku di paksa nikah sama kamu. " Jawab Hanan dengan wajah menyesal. Zahwa meninju lengannya kesal.
"Jadi kamu nyesel nikah sama aku." Sewot Zahwa .
"Memang seperti itu kan?" balas Hanan.
Zahwa membuang muka. Melihat keluar jendela mobil. Membayangkan bagaimana dulu suaminya tertawa bersama dengan Zahra. Berkumpul dengan keluarga Zahra. Membayangkan suaminya tersenyum dengan wanita lain , membuat sakit hatinya.
"Kamu mau terus di mobil? Sudah sampai sayang." Kata Hanan .
Zahwa terbangun dari lamunannya. Melihat sekelilingnya, mereka sudah sampai rumah. Zahwa dengan malas keluar dari mobil. Hanan sudah menyelonong pergi begitu saja.
Sesampai di dalam rumah, perasaan kesal kembali menyergapnya. Suaminya sudah dulu ke dalam rumah, tapi tidak berinsiatif menyalakan lampu rumah.
Zahwa menyalakan lampu dan tidak menemukan siapapun. Hanan pasti sudah di kamar , di menuju kamar mereka. Tapi tidak juga menemukan suaminya di kamar mandi juga tidak ada. Zahwa menjadi khawatir dan bingung mencari suaminya.
***Mas Hanan
Aku tunggu di taman belakang*** .
Pesan WhatsApp dari Hanan. Zahwa tanpa menunggu lagi langsung berlari ke bawah dan menuju taman belakang. Begitu terkejut saat dia tiba di sana. Kolam renang dengan beribu lilin yang mengapung , dan juga lilin - lilin yang berjajar hingga ke arah gazebo bambu. Zahwa berlahan menuju gazebo tersebut.
"I Love You..."
Hanan menyergap tubuh Zahwa dari belakang, membisikkan kata cinta pelan di telinganya.
"Mas, kapan kamu menyiapkan semua ini. Dari tadi kamu bersama ku." Tanya Zahwa takjub.
"Hahahaha ajaib kan aku?!" Kata Hanan bangga.
"Tapi untuk apa?"
"Untuk membuat istriku jatuh cinta dengan ku."
Zahwa mengubah posisinya. Dia kini menatap Hanan penuh haru. Senyum Hanan mengembang. Dia merengkuh tubuh Zahwa dalam pelukannya.
"Apa kamu sudah jatuh cinta dengan ku?" Tanya Hanan. Zahwa mempererat pelukannya.
"Apa kamu tidak merasakannya? " Tanya balik Zahwa.Dia menikmati detak jantung suaminya dia menikmati harum tubuh suaminya yang selalu dia rindukan. Dan juga belaian mesra di kepalanya.
"Kamu keterpaksaan yang paling indah dalam hidup ku." Kata Hanan.
__ADS_1
Zahwa tidak berkata-kata apa-apa. Di beruntung karena memiliki Hanan sebagai suaminya, yang begitu mencintai dirinya. Sempat ingin pergi , tapi akhirnya dia tidak menyesal untuk tetap di sini bersamanya.