
''Aku tidak tahu.'' Akhirnya wardah bersuara.
Hafiz menghela nafas. Dia tahu , sulit untuk menerima jika seseorang yang selama ini diam-diam kita cintai ternyata tidak pernah menganggap diri kita ada .
''Jika kamu menyesal. Itu artinya kamu tidak tulus mencintai dia. Yang aku tahu, jika memang kita tulus mencintai seseorang. Kita akan bahagia dengan apapun yang membuat dirinya bahagia. Meski kadang, itu bukan dengan kita.''
Wardah cemberut. Seakan di ceramah i. Padahal dia tahu , jika Hafiz tidak mempunyai pengalaman sama sekali tentang cinta .
Selama ini dia tidak pernah sekalipun berbicara soal cinta. Dan sekarang dia berbicara seperti sang petualang cinta.
''Serius!" Ujar Hafiz. Dia melihat mimik keraguan di wajah Wardah.
''Kamu gak pernah jatuh cinta, kang? Mana tahu perasaan ku sekarang seperti apa.''
''Kata siapa? Aku laki-laki normal.''
''Memangnya siapa yang bisa membuat kamu jatuh cinta?" tanya Wardah dengan polosnya.
"Ya_ adalah pokoknya.'' Elak Hafiz.
''Siapa? Sejak kapan kamu menyembunyikannya sesuatu dari ku, kang?'' interogasi Wardah. Dia menatap dengan menyelidik.
''Ya_ itukan masalah hati. Jadi, aku malu untuk menceritakan itu. Apalagi kepadamu."
''Kenapa?"
''Ya iyalah. Kamu pasti ember sama semua orang."
''Ember? Sejak kapan aku ember. Gak pernah! Dari dulu aku selalu jaga rahasia tau.''
''Udah! Jangan bahas itu. Kenapa jadi aku yang kena.''
''Ayolah kang...Siapa orangnya? Apa aku kenal dengannya?'' tanya Wardah antusias.
Mata yang tadinya sembab kini terbuka lebar karena rasa penasarannya. Melihat hal itu hafiz merasa lega Setidaknya, dia tidak melihat air mata lagi di wajah ayunya itu.
"Kenal,"
Wardah semakin penasaran mendengar jawaban hafiz.
"Dia cantik?"
"Cantik."
"Tinggal dimana? "
"Coba tebak?"
Wardah cemberut. Dia semakin gemas dan ingin segera tahu siapa wanita yang di cintai oleh hafiz.
"Luar desa?"
"Bisa jadi,"
"Kok bisa jadi?"
"Ya, mungkin."
"Kok mungkin? Satu desa?''
"Bisa jadi juga,"
"Hah! Gimana sih kang? Mana yang benar,"
__ADS_1
"Benar semua.''
Wardah kesal. Dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Malah semakin jengkel karena hafiz terus menyuruhnya menebak siapa wanita tersebut.
''Dia satu desa. Kadang di desa kadang gak di desa. Cantik, sopan, baik. Tapi cerewet, aku kenal? Banyak kang! Teman-temanku yang seperti itu. Atau jangan-jangan kang hafiz naksir salah satu temanku ya?" Tebak Wardah.
''Bisa iya. Bisa enggak.''
' Loh, gimana sih? Dari tadi muter-muter aja jawabnya. Memangnya lagi main kuis apa." Sewot Wardah.
''Ya udah. Gak usah di pikiran lagi, kamu gak bakal tahu. Eh, tapi bisa jadi tahu.''
"Lah, Mas Hafizh mah buat penasaran aja. Siapa to kang?'' Tanya Wardah semakin kesal.
''Pengen tahu atau pengen tahu banget? Nanti kalau sudah tahu kamu nyesel.'' Tawar Hafiz.
''La kenapa? Malah seneng au bisa langsung bilang ke paman dan bibi kalau kang hafiz suka sama dia."
''Iya kan? Kamu ember.''
''Eh, kelepasan...''
Kemudian terdengar gelak tawa dari keduanya. Malam yang tadinya dingin tidak terasa lagi.
***
Sedetik membuka mata Zahwa di kejutkan oleh serangkaian bunga yang bertaburan di tempat tidurnya. Satu buket mawar dengan ukuran besar berhasil membuat dirinya terbangun dari tidurnya.
Belum juga rasa takjubnya. Matanya menemukan secarik kertas dengan kue brownies kecil di atas nakas kamar tidurnya. Dengan segera dia mengambilnya dan segera membacanya.
*Sedikit gemuruh berbunyi riuh di dalam hati
Namun ada pula sedikit kesunyian di dalamnya
Sedikit masalah kata yang sepele
Sayangku, berilah aku ketenangan
Terimalah cintaku
Terimalah, berilah aku ketenangan
Sayangku, kasihku
Bertemu denganmu membuatku merasa
Seolah aku berhadapan dengan diriku sendiri
Setiap kisah cintaku
Berakhir padamu, berawal darimu
Bagaimana ini terjadi kapan ini terjadi
Aku mengucapkan terima kasih kepada waktu
Apa yang tak pernah terucap oleh bibir
Diam-diam telah dikatakan kedua mata
Ku serahkan hatiku kepadamu sebagai amanat bagimu
Berbuatlah kebaikan untukku, tanpamu aku tak dapat hidup.
__ADS_1
Kepalaku tertunduk bersujud di atas bentangan hatimu
Datanglah sayangku, akan ku persatukan diriku denganmu.
Happy Anniversary, Zahwa ku.
Dari Hanan mu*
''Bahkan aku lupa jika hari ini adalah hari ulangtahun pernikahan kami." Ujar Zahwa terharu.
Namun dia tidak melihat suaminya. Zahwa bangkit dari tidurnya dan segera mencari Hanan.
Zahwa melihat jam dinding. Masih jam tiga pagi. Dia menuju balkon kamar dan alangkah terkejutnya saat melihat suaminya tertidur di ayunan jaring
Tangannya masih memegang balon yang belum di tiup.
Zahwa semakin terharu. Bahagia tak terkira bersyukur memiliki suami seperti dirinya. Dia bekerja keras untuk membuat kejutan dengan untuk ulang tahun pernikahan mereka.
"Yang," Dengan lembut Zahwa membelai ubun-ubun suaminya.
Dengan satu sentuhan Hanan langsung terbang dan terbelalak melihat Zahwa di depannya.
''Kamu sudah bangun? Apa aku kesiangan?'' Tanya Hanan gopoh. Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.
"Tidak. Ini masih malam. Ayo kita tidak di dalam,'' Ajak Zahwa.
"Hah! Gagal dong ngasih kejutan." Sesal Hanan.
Dia tersadar , jika saat ini masih malam dan surprise untuk pagi hari nanti sudah ketahuan.
''Nggak kok. Aku terbangun langsung speechless . Gak nyangka bakalan dapat kejutan yang seperti ini.''
''Beneran? Kamu suka?''
''Banget. Terimakasih sayang atas segalanya . Terimakasih atas kehadiranmu. Terimakasih atas semua kesabaranmu. Terimakasih atas kesetiaan mu. Terimakasih atas semua kasih sayang dan cintamu. Maaf, jjika menjadi seorang istri aku belumlah layak di sebut Sholehah hingga saat ini. Tapi kamu tetep menghargai ku dan membimbing ku.''
Zahwa menangis. Mengingat awal kisah mereka hingga saat ini.
Tuhan mungkin memberikan luka, namun dia juga yang menyembah luka tersebut dengan ribuan bahagia.
"Terimakasih untuk mu juga karena telah ikhlas menerima ku sebagai suamimu. Sering sekali aku keliru dalam memahami mu, namun dengan pelannya kamu menjelaskan itu. Maaf karena belum sempurna membimbing mu dan maaf jika masih sering membuat luka di hatimu. Entah karena aku pribadi ataupun keluarga dan lingkungan ku.''
"Sama-sama sayang,''
Mereka saling berpelukan erat. Tidak ingin melepas satu sama lain. Setelah itu, Hanan menggendong Zahwa ke dalam kamar. Membaringkan dirinya di sisinya.
Mereka masih saling tatap. Hanan memainkan rambut panjang Zahwa dan Zahwa membelai lembut wajah suaminya.
"Apa kamu yang menulis kata-kata di kertas itu?" Tanya Zahwa.
''Iya. Bukankah itu terlihat jelas tulisan tangan ku"
"Iya. Tapi sejak kapan kamu bisa menulis kata-kata seromantis itu?"
''Orang gila pun akan menjadi puitis saat mereka jatuh cinta.''
''Hahaha. Apa suami ku ini termasuk orang gila itu?"
"Mungkin saja. Aku gila karena mencintaimu." Ujar Hanan. Spontan menggigit hidung Zahwa sangking gemasnya dengan istrinya tersebut.
''Haduh! Sakit, Mas.''
''Habis kamu mulai menggoda,"
__ADS_1
''Hah! Aku diam dah. Mulai deh, signal-signal menginginkan sesuatu ini.''
Hanan tertawa seraya memeluk tubuh istrinya tersebut. mendekapnya dalam kehangatan.