Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 60


__ADS_3

Preman itu memegang tangan Zahwa. Dia memangnya dengan keras hingga membuat Zahwa merasakan sakit di pergelangan tangannya.


"Lepaskan!" Seru Zahwa , dia masih mencari keberanian di sela-sela rasa takutnya.


Preman itu dengan mudah mengambil pisau itu dari Zahwa dan melemparkannya begitu saja. Zahwa tegang , mereka tersudut.


"Aku hanya ingin Elena. Minggir!" Seru Madam Nor . Dia mencekal tangan Elena dan menyeretnya bersamanya.


"Lepaskan! Jika Uang yang kalian ingin kan aku bisa memberikannya! " Seru Zahwa. Dia masih ingin berusaha.


"Ckckck. Aku bahkan lebih kaya dari pada dirimu Nona. Menyingkir dari ku!" Ancam Madam Nor .


Dia mendorong Zahwa keras.


Duk!


Zahwa terjatuh. Keningnya terbentuk meja sofa. Matanya seketika berkunang-kunang.


"Jangan sakiti mereka..." Rintih Zahwa. Dia bahkan masih ingin melawan mereka walaupun kesadarannya mulai hilang.


"Bawa wanita itu juga." Perintah madam Nor. Preman-preman itu dengan segera menyeret Zahwa dengan kasar. Zahwa ingin melawan, tapi kesadarannya mulai hilang. Dia hanya mendengar teriakan bik Asih yang meminta ampun kepada mereka.


Setelah itu dia benar- benar tidak menyadari apapun.


***


Sayup-sayup Zahwa mendengar seseorang bertengkar di sekitarnya. Tapi rasa pusing di kepalanya membuat nya tidak bisa membuka matanya segera. Ada teriakan dan perdebatan . Dia kenal suara itu, Hanan. Dalam hati dia bersyukur , dia masih baik-baik saja. Suaminya ada bersamanya.


"Aku tidak mau tahu lagi. Pokoknya jauhkan wanita itu dari Zahwa!" Hanan murka.


Sore itu dia mendapatkan telpon dari Bik Asih mengabari bahwa rumah kedatangan preman-preman yang mencari Elena. Baru saja dia keluar kantor, waktu tempuh kantor dan rumah Zahwa cukup lama. Memerlukan hampir satu jam . Dia panik,.yang saat itu dia pikirkan bagaimana dia bisa cepat pulang ke rumah dan menyelamatkan Zahwa.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan dia menyesali kenapa dia tidak bersama dengan Zahwa hari ini. Bahkan saat Zahwa ingin dia ikut bersamanya tadi.Kebencian terhadap Elena membuat tidak ingin melihat wajahnya walaupun sedetik pun.


Setengah perjalanan dia baru ingat tentang satpam komplek perumahan Candra Kirana tersebut. Dengan cepat dia menghubungi satpam itu dan menyuruh nya cepat ke rumah Zahwa.


Syukurlah dengan bantuan beberapa warga yang lain preman-preman itu tidak berhasil membawa Zahwa pergi.Jika kurang sedikit saja, tidak ada yang tahu bagaimana jadinya nanti.


"Aku sudah menyewa kontrakan untuk Elena dan ibunya. Tapi jika ada kejadian seperti ini , Elena pasti terancam. Preman-preman itu akan kembali mencarinya." Jelas Surya.Dia juga mengkhawatirkan Zahwa, tapi keselamatan Elena juga seakan menjadi tanggung jawabnya .


"Dan kamu ingin kejadian tadi terulang kembali. Apa salah Zahwa sampai dia harus ikut terlibat dari permasalahan wanita itu." Hanan begitu emosi.Dia tidak bisa mengambil resiko apapun untuk keselamatan Zahwa.


"Tidak. Aku akan menyuruh polisi untuk menangkap orang-orang tadi. Tapi untuk sementara, Elena akan tinggal di rumah kita lagi." Kata Surya.Begitu kuat rasa kepeduliannya terhadap orang lain.


Hanan lelah berdebat dengan kakaknya itu. Dia tidak habis pikirir dengan dirinya yang begitu peduli dengan Elena. Jelas-jelas wanita itu sedang memanfaatkannya.


"Kalian pulanglah. Aku tidak ingin ada orang yang menggangu Zahwa istirahat." Ujar Hanan .


Dengan rasa khawatirnya Surya melihat keadaan Zahwa sekali lagi dan kemudian pergi. Ia juga tidak ingin membuat Zahwa terganggu.


"Jaga Zahwa baik-baik." Pesan Surya sebelum dia pergi.


Setelah mereka pergi. Hanan duduk, dihadapan Zahwa yang masih terbaring memejamkan mata. Dia menatap sayu ke khawatiran di wajahnya begitu jelas.


Zahwa merasakan tangan Hanan mengangkat tangannya. Di mengelus dengan pelan , dan beberapa kali di ciumnya. Menempelkan di pipi dan lagi-lagi menciumnya.


"Aku sudah bilang. Jangan dekat-dekat dengan wanita itu. Tapi kamu tetap membantahnya. Dia bahkan tinggal di lingkungan yang tidak baik, pasti dia juga tidak baik juga. Dia hanya bersandiwara sok baik ,dan butuh bantuan. Kamu bodoh. Masih saja percaya." Kata Hanan. Dia memaki Zahwa yang dia sendiri tidak tahu apakah Zahwa mendengar apa tidak.


"Aku tidak akan memaafkan diri ku jika terjadi sesuatu kepadamu. Kamu mengatakan aku lebih bodoh dari mu. Iya aku bodoh. Aku mengerti semua mengetahui semua. Tapi aku berlagak tidak mengetahui semuanya. Aku ingin jujur Zahwa. Sejak pertama kali kita menikah aku sudah tahu jika kamu adalah kekasih Mas Surya." Tambah Hanan. Dia terlihat sendu.


Zahwa masih terpejam, tapi dia mendengar kan ucapan Hanan. Rasa sakit di kepalanya masih membuat nya tidak bisa membuka mata


"Karena itu. Aku sering membuatmu jengkel kepada ku. Aku ingin suatu saat kamu meminta cerai padaku dan kembali bersama Mas Surya. Aku menyayangimu dan juga Masku. Tapi, tidak. Lambat lain kau malah sering memperhatikanmu. Mengurus ku dan menjaga istri yang baik. Meskipun aku sering membuat mu menangis dan marah tanpa sebab."

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Sejak kapan aku mulai mencintaimu. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana aku menahan setiap detik untuk tidak menyentuhmu. Tidak ingin memaksamu dan bahkan untuk tidak mencintaimu. Tapi aku gagal, seiring berjalannya waktu aku benar-benar mencintaimu. Aku ingin terus bersamamu , hingga saat aku merasa perasaan itu tidak akan bertuan aku memutuskan untuk pergi. Aku pikir setelah kamu jujur dengan hubungan mu dengan kakak ku. Kita akan berpisah dan aku akan pergi. Melarikan diri ke Londen. Hingga tidak bisa aku prediksi sampai kapan aku akan di sana."


Zahwa membalas pegangan tangan Hanan. Dia menangkupkan jemarinya di jemari Hanan .


"Kamu sudah sadar?" Tanya Hanan.Dia merasakan tangan Zahwa.


Dengan pelan Zahwa membuka mata melawan sakit di kepalanya.


"Maaf kan aku," Kata itu yang pertama terucap dari bibir Zahwa.


"Kamu meminta maaf di saat seperti ini. Saat ini aku akan memaafkan mu. Tapi nanti jika kamu pulih. Aku tidak akan memaafkanmu. Sudah aku bilang, wanita itu tidak baik. Jauhi dia! Tapi dengan sok baik kamu tetap berteman dengan dirinya. Kau pikir kamu kuat. Hah ! Sok sok ant melwan preman-preman tadi. Jika saja telat sedikit saja, aku tidak akan pernah tahu bagaimana dengan keadaan mu." Omel Hanan. Dia terus mengomel tanpa sadar.


Zahwa tersenyum mendengar Omelan Hanan. Ada kedamaian di dalamnya rasa khawatirnya adalah wujud cintanya. Kemarahan adalah rasa kepeduliannya dan sikap dinginnya adalah rasa manjanya.


"Kenapa tersenyum? Apa kamu bahagia dengan semua yang telah terjadi?!" Seru Hanan.


Dengan imut Zahwa mengangguk. Membuat Hanan bingung.


"Aku bahagia. Rasa sakit ini membuat mu mengatakan isi hatimu." Kata Zahwa


Hanan baru tersadar. Bahwa selama dia berbicara tadi Zahwa mendengarnya.


"Bersyukurlah. Jika tidak karena sakit ini kamu sudah habis." Kata Hanan gemas.


"Oh iya, emm. Kamu mah Cemen." Ejek Zahwa.


Rasa sakit nya hilang, mungkin mati rasa. Ketika dia bersama suaminya.


"Apa maksudmu bilang begitu?" tanya Hanan penuh selidik.


"Bik Asih menemukan obat di dapur. Apa itu senjata mu untuk menghabisi ku?" Goda Zahwa.

__ADS_1


Hanan tercengang. Tidak menyangka bahwa Zahwa tahu soal obat tersebut. Seketika wajahnya merah seperti kepiting rebus. Dia salah tingkah dan menahan rasa malu.


Dengan sumringah Zahwa memperlihatkan senyum kemenangan.


__ADS_2