
Ke esok paginya setelah mereka sarapan Surya mengutarakan niat baiknya. Jika dirinya akan menikah dalam minggu-minggu ini. Pun juga mengundang semua keluarga untuk bisa hadir di resepsi pernikahannya nanti.
''Tapi maaf, kami tidak bisa hadir di acara Akad nikahnya. Jauh dan lagi pas waktu itu masih harus mengadakan 7 harian di rumah.'' Kata Paman Sam.
''Tidak apa-apa paman. Saya maklum hal itu, kami juga minta maaf jika saat itu kami tidak bisa ikut mendoakan di sini. Tapi Insya Alloh kami akan selalu mendoakan bibi di manapun kami berada.'' Balas Surya.
''Alhamdulillah, terimakasih. Aku turut Bahagia atas pernikahanmu, jangan lupa nanti sering bawa istri mu ke sini. Jangan seperti Hanan, ke sini nunggun di jemput dulu.'' Sindir Paman Sam.
''Hehehe. Maaf paman, lain kali gak akan lagi.'' Ucap Hanan.
''Sehabis pernikahan kami pasti kami akan ke sini lagi.'' Sahut Zahwa .
''Kami?" tanya Hanan
''Ya kan kamu kemarin bilang, habis dari sini kamu mau ngadain acara resepsi pernikahan kita. Masak kamu lupa,'' Jawab Zahwa ngotot.
Hanan menelan ludah. Saat itu dia kan hanya berbicara saja, tapi ternyata Zahwa menganggapnya serius.
''Kak, kita patungan buat resepsinya nanti.'' Bisik Hanan, namun masih bisa di dengar oleh orang lainnya.
''Alloh. Perhitungan banget jadi suami!'' Seru Zahwa kesal.
''Bercanda Zahwa. Hanan malah udah nyiapin semuanya kok. Aku malah nanti yang akan nebeng ke resepsi kalian. Hahaha.'' Bela Surya.
''Tuh kak, galaknya minta ampun. Gak kebayang, nanti di rumah ada dua wanita.'' Sindir Hanan .
''Bercanda atau serius ini?'' Tanya Zahwa serius.
''Beneran, yah lihat aja nanti sampai rumah." Jawab Surya.
''Kalian kalau akur nyebelin banget.'' Ujar Zahwa.
''Akur salah, berantem salah lagi . Maunya gimana? Jangan marah-marah dong. Kasihan dedek bayi nya. Kayak dengar petir terus itu dalam perutnya.'' Kata Hanan.
''Itu hal biasa nan. Wanita saat kehamilan pertama dan bulan-bulan pertama pasti kebanyakan seperti itu. Tensi darahnya naik, dan emosionalnya ikut naik juga. Jadi, kamu saat ini harus belajar mengalah. Benar-benar harus bersabar. Belum lagi nanti saat dia ngidam, wah. Semoga saja Zahwa tidak minta yang aneh - aneh.'' Terang Paman Sam.
''Nggak ah paman. Dia dulu pas gak hamil, juga sudah sering marah-marah. Baperan orangnya.'' Ujar Hanan.
''Ya Alloh. Punya suami kok gini-gini amat ya. Sukanya nyindir Mulu.'' Balas Zahwa.
''Udah. Stop! Sama aja kalian berdua itu. Gak pas sendiri, ataupun ramai. Kalau pas bertengkar gak lihat-lihat kondisi.'' Surya menengahi
''Tapi, pas lagi akur. Mesranya juga bikin iri mas, gak pandang bulu. Gak lihat lagi ramai atau enggak tetap aja sayang - sayangan. Kasihan ini yang jomblo." Sahut Hafiz.
__ADS_1
''Aku senang melihat kalian seperti ini. Semoga aku memiliki umur panjang agar bisa melihat cucu ku nanti." Doa Paman Sam.
''Amin. Jaga kesehatan paman, kami pamit dulu.'' Ucap Surya.
Mereka bertiga bergantian bersalaman dengan paman Sam, begitupun hafiz.
''Eh, di mana Wardah. Aku tidak melihatnya sejak tadi.'' Tanya Zahwa. Dia celingukan melihat ke arah belakang.
''Aku akan menyampaikan jika dia kembali. Mungkin saja, dia sibuk berbelanja dengan para ibu-ibu." ucap Hafiz.
''Baiklah. Salam untuk dia, jangan lupa. Jaga dia juga, pasti dia sangat kehilangan. Bibi sudah seperti ibunya sendiri. Hanya kalian saja, keluarga kalian." kata Zahwa.
''Baiklah. Siap komandan. Dia seperti ibu sekarang,'' Canda Hafiz.
''Dia memang seperti itu,'' balas Hanan.
Setelah itu mereka benar - benar pamit, kembali ke Jakarta. Surya ikut dengan Hanan dan Zahwa. Mobil mereka satunya , di berikan kepada Hafiz. Mereka perlu satu kendaraan untuk berpergian.
''Ini sangat berlebihan Surya.'' Kata paman saat itu.
''Tidak. Doa kan kami semua, itu pinta kami.'' Kata Surya meminta restu.
''Dan sedikit bantuan untuk mengembangkan usaha mu Fiz. Setidaknya, bisa memiliki tempat secara pribadi nantinya.'' Hanan memberikan cek untuk hafiz.
''Kalian sedang mengasihani kami." Ucap Hafiz tidak enak hati.
Perjalanan kebumen dan Jakarta cukup lama. Apalagi di saat waktu siang. Akan ada beberapa kemacetan dan juga padatnya kendaraan.
''Kau tidurlah Zahwa. Aku dan Hanan akan berganti menyetir.'' Kata Surya.
''Aku? Tidak. Kamu sendiri saja. Aku juga lelah , aku akan beristirahat juga.'' Ucap Hanan. Dia merengkuh mendekap tangan Zahwa, dan membaringkan kepalanya di pundak Zahwa.
''Dasar manja!" Seru Zahwa.
Surya geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya tersebut. Dia rasa dirinya sopir mereka.
''Oh iya kak. Apa kakak pernah menghubungi Zahra?" Tanya Zahwa tiba-tiba.
''Tidak. Hanya pernah satu kali, kemarin saat aku bersama Abah yai dia menelepon." Jawab Surya.
''Benarkah? Bagaimana kabarnya? Kalian berbicara?'' Tanya Zahwa .
''Dia baik-baik saja dan terdengar bahagia. Lucu sekali, seperti anak kecil saja saat bersamaan Abah yai.'' Jawab Surya. Mengingat kejadian malam itu.
__ADS_1
''Oh, apa kalian berbicara?'' Tanya Zahwa lagi.
''Tidak. Aku hanya mendengarkan mereka bercanda.'' Jawab Surya.
''Oh ...'' Zahwa diam. Apa benar, kakak iparnya itu sama sekali tidak memiliki perasaan kepada Zahra. Dan sekarang malah akan menikah dengan seseorang yang sama sekali belum pernah dia kenal. Andai bisa, Zahwa ingin Zahra saja yang menjadi iparnya kelak.
Jika sama - sama baik dan Sholehah kenapa tidak memilih dia saja. Toh, cinta juga bisa datang nantinya. Itu sama saja kan? Zahwa kesal sendiri dengan permainan takdir ini.
''Kenapa kamu menanyakan hal itu?'' Tanya Surya.
''Tidak apa-apa. Tiba-tiba saja aku merindukan dia.'' Jawab Zahwa.
''Kamu bisa menelponnya?'' Kata Surya.
''Kau benar. Aku akan menelponnya.'' Ucap Zahwa. Sambil mengeluarkan ponselnya.
''Jangan. Kita tidak bisa menelpon mereka sembarang. Kita tidak tahu kegiatan apa saja yang sedang mereka kerjakan sekarang. Aku pernah menelepon Hanif dan hasilnya dia tidak menjawab sama sekali. Baru beberapa hari setelah itu dia sediri yang menelpon ku. Mengatakan jika kegiatan di sana sangat padat.'' Sahut Hanan.
''Aku akan coba satu kali saja.Jika tidak di jawab aku akan menyerah." Bantah Zahwa. Dia mulai menyambungkan ponselnya pada nomer Zahra.
Tapi seperti yang di alami Hanan saat menelepon Hanif. Zahwa tidak mendapatkan jawaban telpon tersebut.
''Tidak di jawab.'' sesal Zahwa.
''Aku sudah bilang kan tadi , tapi kau masih bersikeras." Ujar Hanan.
'' Dia akan menghubungi mu , jika tahu kau menelponnya. Jangan sedih '' Ucap Surya menghibur.
''Semoga saja begitu.'' Zahwa masih menatap ponselnya. Berharap ada panggilan masuk di ponselnya. Namun, tidak ada juga.
"Dari pada kau terus menatap ponsel seperti itu . Lebih baik cari vendor pernikahan yang kamu inginkan. Bukan kah, kau ingin kita mengadakan resepsi pernikahan?" tanya Hanan . Dia mencoba mengalihkan pembicaraan. Mungkin dengan begitu istrinya tidak berpikir hal - hal yang sepele seperti tadi.
''Kamu benar. Apa aku boleh memilih sesuka hati ku?" tanya Zahwa senang .
Tidak ada seorang pun wanita yang akan sedih di saat dia di berikan kesempatan untuk merancang pesta pernikahannya sendiri. Itu akan menjadi hal yang luar biasa buat dirinya. Apalagi saat dia akan menikah dengan pasangan yang ia cintai juga. Kebahagiaan tiada Tara dan anugrah hidup yang tidak ada bandingannya.
''Silahkan saja. Kamu bisa memilih vendor manapun. Tapi untuk bajet, terserah aku.'' ujar Hanan.
''Hah. Sama aja itu mah.'' elak Zahwa.
''Hahahaha... Bercanda,'' Tawa Hanan.
Lagi-lagi Surya di anggap sopir oleh mereka. Hanya mendengarkan pertengkaran, dan candaan pasangan suami istri itu.
__ADS_1
Dalam hatinya berkata, Sebentar lagi , dia juga akan merasakan hal yang sama . Dan dia sangat menantikan hari itu tiba. Entah siapa pun kamu, semoga kamu bisa menjadi pelipur lara ku, dan juga menjadi sumber kebahagiaan untuk ku nanti.
Mungkin saat ini aku sama sekali tidak mengerti dirimu . Tapi nanti, aku akan selalu berusaha menjadi satu-satunya yang mengerti dirimu di kehidupan ini .