
Perjalan sehabis dhuhur, cukup memakan waktu karena padatnya kendaraan. Meskipun tiga kota yang akan dilewati bukanlah kota besar, tapi cukup padat penduduk. Jalanan pun berliku - liku.
Hanan dan Zahwa memutuskan untuk tidak ikut. Rawan untuk Zahwa yang dalam masa awal kehamilan. Akhirnya, hanya dua mobil saja yang ke Trenggalek.
Surya dan Zahra pertama kali pergi berdua setelah pernikahan mereka. Namun, masih dengan Badrun sopir mereka. Masih ganggu dan juga malu-malu.
''Yang akan kita tuju? Bibi dari Umi atau Abah?''
Surya membuka percakapan. Perjalanan masih panjang, tapi suasana terasa mencekam. Badrun yang ada di depan beberapa kali kepo dengan Ning dan Gus nya itu. Dia, melirik ke arah spion untuk bisa melihat mereka sedang melakukan apa.
Tapi, sepanjang perjalanan mereka sibuk sendiri-sendiri. Zahra dengan ponselnya, Surya dengan mata yang terus menatap ke depan, kadang malah melihat jalanan luar dari jendela mobil.
''Bibi, beliau adik ibu ku yang paling muda."
Zahra menjawab. Masih dengan kegugupan, seolah dia sedang menjawab soal yang sangat sulit.
''Kenapa kemarin tidak datang? Atau mungkin beliau sibuk?"
Surya masih mencoba mencari suasana. Dia ingin mengembalikan Zahra yang tanpa canggung, dan juga malu-malu seperti itu. Melihatnya seperti itu membuat dirinya ikut canggung.
Aneh. Dulu mereka akan bisa menghabiskan banyak waktu untuk berbincang. Tapi saat ini, pembahasan itu seakan lenyap dari benak mereka berdua. Yang ada deguban jantung yang mereka coba netralisirkan.
''Kata Abah beliau sakit. Padahal, sebelumnya semangat sekali mendengar aku akan menikah. Dan langsung ingin ke rumah. Tapi, entahlah. Karena itulah, kita akan melihat sekarang.'' Jawab Zahra. Dia pun berusaha kerasa untuk menghilangkan perasaan grogi nya yang sedari tadi merajainya.
Surya melihat ke belakang. Mobil Fortuner putih terlihat mengikuti mereka. Di dalamnya ada Hanif, Abah Zahra dan juga ibu Hanif. Mereka membiarkan Hanif mengendarai mobil itu tanpa satu sopir pengganti.
''Apa dia tidak lelah?'' Kata Surya.
Zahra mengikuti arah mata Surya yang memandang mobil Fortuner putih di belakang mereka.
''Maksud Mas, Mas Hanif?'' Tanya Zahra.
Surya mengangguk.
''Dia biasa melakukan perjalanan jauh. Kalau hanya Jombang - Trenggalek itu masih belum seberapa. Mas Hanif pernah menempuh perjalanan Jombang - Jakarta cuma 8 jam. Dan sehabis itu, dia langsung berangkat kuliah karena pagi itu dia harus presentasi. Itu terjadi, berulang - ulang kali.'' Jawab Zahra.
__ADS_1
''Jombang - Jakarta 9 jam? Kamu Drun? Pernah mencetak rekor gak?'' Tanya Surya menantang.
''Kalau sendiri bisa aja Gus. Tapi kalau sama Abah, saya ya gak berani." Jawab Badrun.
Semenjak Surya resmi menjadi suami Zahra. Badrun dan santri- santri lain mengubah panggilan Surya. Dan, mulai sungkem ta'dzim padanya.
Julukan itu seperti mengingatkan akan tanggung jaw. Julukan Ning dan Gus bukan embel-embel karena mereka adalah putra atau putri seorang kyai dan Bu nyai saja. Tapi juga untuk selalu membuatnya ingat jika dirinya adalah awal contoh dari banyaknya santri.
Banyak Ning dan Gus menjadi idola para santri. Mereka menganggap bahwa itu hal sederhana, keren mereka keturunan kyai dan Bu nyai. Tapi di balik itu semua mereka dituntut untuk menjadi sempurna. Entah dalam hal ilmu agama, formal dan juga ketrampilan lainya.
Jarang ada yang tahu tentang kehidupan mereka
Di balik prinsip bahwa kau adalah anak dari ulama. Sebagian mereka harus merelakan kebebasan mereka, mengubur dalam-dalam cita-cita mereka, dan juga harus rela mengabdikan hidupnya untuk orang lain.
''Jangan Panggil aku Gus to drun. Sungkan aku." Bantah Surya.
''Akhlak Kulo ical mengke Gus lek mboten ngoten . ( Akhlak ku hilang nanti jika tidak seperti itu)'' Ujar Badrun.
''Oalah...drun-drun,''
Akhlak dan juga prilakunya sudah mencerminkan santri. Itu salah satu hal yang membuat Zahra jatuh cinta kepadanya.
Senyumannya, gestur tubuhnya, terutama sorot matanya yang teduh. Entah, sejak kapan dia mulai mencintai lelaki di sampingnya itu. Entah sejak kapan pula , dia mulai merapal sholawat agar dialah yang menjadi suaminya kelak dan Alloh telah mengabulkan hal itu.
''Hai, kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku?''
Surya mengibaskan telapak tangannya di depan muka Zahra. Ah, dia gelagapan. Langsung menundukan pandangannya.
''Kang? Apa kita sudah hampir sampai?'' Tanya Zahra. Dia mengalihkan situasi.
Malu. Ketahuan memandang wajah Surya dalam-dalam. Ah, seharusnya itu bukan hal salah. Toh, dia sudah menjadi suaminya. Miliknya seutuhnya. Jangankan memandang, memegang, membelai dan juga menikmati tubuhnya saja itu adalah ibadah baginya.
''Sebentar lagi Ning.'' Jawab Badrun.
Zahra terhenyak. Bukan karena jawaban Badrun. Tapi ada sesuatu yang menyentuh pinggangnya. Dia melirik ke arah pinggangnya, sebuah tangan melingkar. Dan dengan sengaja membuat tubuhnya bergeser mendekat pada tubuh di sampingnya.
__ADS_1
''Kenapa? Sekarang biasakan untuk sesuatu hal seperti ini.'' Bisik Surya.
Zahwa menegang, dadanya berdegup kencang. Dia belum terbiasa dengan perubahan ini. Surya tersenyum manis dekat di wajahnya.
Hembusan nafasnya bisa di rasakan oleh Zahra. Dia tidak mempunyai kekuatan untuk menolak, wajah itu begitu memikatnya. Beberapa kali dalam hati Zahra bersholawat. Apakah ini akan menjadi awal dalam kisah, kasih pernikahannya?
Surya semakin menikmati aroma Zahra. Ternyata, aroma istrinya membuatnya tergoda dan mengetahui, beberapa kali istrinya itu mencuri pandang dirinya.
Manis sekali, dia memiliki sifat malu dan juga wawas diri. Surya teringat malam pengantin mereka. Zahra dengan malu-malu membiarkan dirinya untuk menyentuh dirinya. Dia tidak banyak bicara hanya gelagatnya saja yang bisa langsung di ketahui Surya jika dia sudah pasrah menyerahkan dirinya.
''Assalamualaikum, Sudah sampai.'' Ujar Badrun menengok mereka berdua dengan menutup wajahnya tapi di sela - sela ibu jari dan telunjuk di biarkan menganga. Memperlihatkan bola matanya.
Zahra dan Surya langsung mengambil jarak. Surya menepuk kepala Badrun dengan peci yang tadinya dia lepas.
''Ngapunten Gus. Khilaf!'' Ujar Badrun sambil mengatupkan kedua tangannya. Dan mindik-mindik.
Zahra langsung keluar mobil. Dia malu jika harus membahas kejadian barusan. Menghampiri Abah, berlagak bertanya apakah perjalanan baik-baik saja?
''Kamu itu aneh to nduk. Dari tadi mobil Abah terus di belakang mu kok. Lakok kamu tanya, baik-baik saja apa nggak? Berarti dari tadi kamu gak merhatiin kami nduk ?"
Kyai Jauhari malah membuat Zahra mati kutu. Wajahnya semu merah dan semua tertawa melihat Zahra salah tingkah.
''Dunia sudah milik berdua. Jangan tanya ke Zahra paman, coba tanya sama Badrun. Dia saksi hidup sekarang.'' Ujar Hanif menimpali.
Semua mata langsung tertuju pada Badrun.
''Mboten mboten Yai, Gus Kulo mboten ningali nopo-nopo. Estu , namun _ (Tidak, tidak Yai, Gus . Saya tidak melihat apa-apa. Beneran, Hanya saja_" Badrun berhenti berbicara. Dia melirik pada Surya yang sudah ingin menerkamnya. Melihat Zahra, yang sudah melototinya.
''Nganu Yai. Kulo ajreh cerios (Itu yai, Saya takut cerita)'' Lanjut Badrun gelendotan.
Sontak membuat mereka semua tertawa. Kecuali Zahra dan Surya yang semakin ingin menghantamnya.
''Sudah ayo. Kita lanjutkan di dalam, sudah di tunggu.'' Pisah Bu Nyai Asih. Ibunda dari Hanif.
Beliau adik dari kyai Jauhari. Belum begitu sepuh, namun wirai. Beliau sudah tidak terlalu peduli dengan dunia. Hanya, ibadah ibadah dan ibadah dalam benaknya.
__ADS_1