
''Yang..."
Zahwa sudah melepaskan semua pakaian pengantinnya. Duduk di depan meja rias, dari pantulan cermin, ia menatap suaminya. Suaminya, sedang duduk dengan membaca majalah yang disediakan di ruangan ini. Sedari, tadi dia memilih menunggu Zahwa, berganti pakaian. Ketimbang, berbaur dengan tamu undangan yang sebagian beliau pulang. Meski acara resepsi pernikahan sudah selesai.
"Ada apa?"
"Nanti, aku gendong, ya?''
Hanan mengerutkan keningnya, memiringkan wajahnya sedikit, mencari tau. Ada apa gerangan, yang membuat Zahwa tiba-tiba meminta gendong?
"Kok, tumben?" Hanan bangkit dari duduknya, menyusuri langkah, menuju meja rias Zahwa.
"Pengen," Jawab Zahwa. Dia merangkul tubuh suaminya, itu masih dengan duduk. Menenggelamkan, wajahnya pada perut datar suaminya.
"Apa, anak kita sedang manja? Biasanya, aku yang harus memaksa mu?"
"Tidak...Bundanya saja, yang tiba-tiba kangen sama Ayahnya.''
Hanan tersenyum, di balik wajah istrinya itu, dia sedang merasai rindu. Padahal, mereka sama sekali tidak terpisahkan sejak tadi. Mungkin saja, Gawan bayi yang di katakan oleh orang Jawa sedang merasuki istrinya sekarang. Ingin di manja, dan ingin mengerti.
''Ayo....Pulang...'' Zahwa mengatakan hal itu dengan nada lemas. Tiba-tiba, rangkulan itu mengendur, dan Zahwa tergulai begitu saja.
" Zahwa! Sayang! Bangun! '"
Hanan ketakutan bukan main. Dia menepuk-nepuk, pipi Zahwa pelan. Pikirannya kabut, ada apa sebenarnya, tiba-tiba dia pingsan. Mungkinkah, sedari tadi dia merasakan sakit, dan kini tidak bisa ia kendalikan?
Hanan tanpa pikir panjang, langsung membopong dalam pelukannya. Berlari, sekuatnya langsung menuju keluar gedung.
"Mobilnya, mana? Cepetan!" Teriak Hanan.
Melihat itu, beberapa orang yang masih di sekitar gedung, ikut gopo, segera mencari sopir mobil Alphard putih yang tadi mereka gunakan.
''Ada apa? Zahwa! Astaghfirullah, ada apa, dengan dia?'' Surya yang mendengar ricuh di luar gedung, langsung mencari tahu.
''Aku akan ke Rumah sakit. Hubungi, very untuk segera menyiapkan tanganan untuk Zahwa."
__ADS_1
Hanan mengatakan, seraya masuk ke dalam mobil. Lalu pergi, bersama sopir meninggalkan tanda tanya besar di benak semua orang.
"Kita, ikuti mereka, Mas! " Zahra, yang baru datang langsung mengusulkan.
Tanpa menunggu lama, mereka juga meninggalkan halaman gedung tersebut. Dengan mobil seadanya.
''Urus sisanya, sampaikan maaf ku pada tamu undangan, yang belum pulang. Zahwa, masuk rumah sakit!'' Pesan Surya pada Aldian, yang saat itu sedang bersama Adelia.
Acara memang sudah selesai. Tapi, beberapa teman Hanan, dan Surya masih berada di gedung. Mereka kira, bisa meluangkan waktu banyak untuk malam ini. Apalagi, sudah lama tidak saling bertemu. Pesta ini, bisa di manfaatkan untuk reunian mereka juga. Tapi, sayang tiba-tiba Zahwa tidak sadarkan diri dan langsung membuat ricuh semua orang.
''Istrinya Hanan, yang sakit?'' tanya salah satu tamu undangan, dia juga salah satu teman kuliah Hanan.
''Iya, mungkin terlalu cepek. Apalagi, dia sedang hamil.'' Jawab Aldian. Yang saat itu dia masih mematung, setelah melihat dua mobil itu keluar dari halaman gedung begitu saja.
''Apa? Istri Hanan hamil? Apa mereka melakukannya, di luar nikah?Pantas saja, acaranya mendadak.''
Aldian dan Adelia memandang tajam pada lelaki itu, memang sebagai orang belum mengetahui kejadian yang sebenarnya. Tapi, tidak juga membicarakan keburukan, tanpa tahu kebenarannya.
''Mohon maaf, Pak. Tanpa mengurangi rasa hormat kami. Sebagi wakil dari ke dua pasangan pengantin tadi, saya memberitahukan bahwa acara hari ini sudah selesai. Jadi, mohon maaf sekali lagi. Silahkan, pulang '' Ucap Aldian, tegas.
Tidak semua teman, memang setia. Kadang, mereka datang saat senang saja, dan kemudian pergi saat melihat kita tercela. Hidup, juga tidak selalu di kelilingi oleh orang baik saja. Kadang kala, harus ada juga yang menjahati kita, agar kita tahu, bahwa kita, manusia yang tidak sempurna.
''Kabarnya lagi, sebenarnya istrinya Hanan itu mantan pacar dari kakaknya. Dan pasti kalian tahu, kan soal Zahra. Bukankah, dia dulu sempat di gosip kan pacaran dengan Hanan''
Tidak lelah membicarakan ketidak tuanya. lelaki itu, masih ingin mengusik dan mengajak teman lainnya, untuk mengikuti pendapatnya.
''Jangan-jangan pernikahan ini hanya ajang balas dendam. Karena, Hanan telah berhasil mendapatkan pacar kakaknya. Jadi Kakaknya, menikahi gebetannya Hanan dulu." sahut teman lainnya. Mereka menganggap hal itu lelucon, dan bahan tertawaan saja.
Andai bukan tamu, pasti Aldian sudah menghajar mereka semua. Tapi, saat ini dia hanya bisa meredam amarahnya. Adelia, sempat menggenggam erat tangan Aldian, saat dirinya mulai kehilangan kesabaran.
''Dengan memukul mereka, kau tidak akan membuat mereka sadar. Kisah cinta pengantin hari ini akan terus bergema di mana-mana, dan seterusnya. Bagi orang itu hal yang tidak wajar, tapi bagi kita, yang mengetahui segalanya. Itu memang sebuah takdir Tuhan. Lagipula, tidak semua harus di jabarkan, kan? sama halnya, cinta yang tidak semua orang harus mengetahuinya.'' Kata Adelia, sesaat setelah tamu itu hilang dari hadapan mereka.
''Apa , kau sedang menjawab pertanyaan, ku, tadi pagi?" Tanya Aldian.
"Masih banyak pekerjaan, bukan waktunya membahas hal itu.'' Jawab Adelia, beringsut begitu saja, meninggalkan Aldian dengan rasa penasaran .
__ADS_1
''Hai, apa itu artinya, kau juga menyukai ku!'' Seru Aldian, dia mengejar dan berhasil menjajari langkah Adelia.
"Banyak kerjaan. Kita harus membereskan ini semua!"
Adelia mengacuhkan begitu saja, dan berjalan cepat pada para pekerja dekorasi dan mulai berinteraksi dengan mereka. Membuat Aldian, hanya garuk-garuk kepala.
"Kenapa semua wanita itu, suka sekali mengantungkan kejelasannya!" Keluarnya.
***
Very sudah mulai memeriksa Zahwa. Hanan, dia berulang-ulang kali menanyakan keadaan Zahwa. Membuat konsentrasi very terpecah.
''Tenang! Dia tidak apa-apa, tapi juga tidak baik-baik saja!" Ucap Very.
"Apa maksudmu?"
"Dia mengalami kontraksi dini. Jika, dia mengalaminya terus menerus, kehamilannya akan terancam. Dia harus obname beberapa hari''
Hanan memukul tembok di sampingnya. Melampiaskan amarahnya, pada dirinya sendiri. Dia merasa gagal menjaga istri dan calon anaknya
"Sudah aku bilang, saat acara tadi jangan terlalu lama berdiri, dan duduk saja. Kandungan masih lemah, tapi sepertinya istri mu tidak mengerti hal itu. Aku melihat dia, tetap menyalami banyak orang, dan menanggapi tamu yang datang padanya." Ujar Very.
"Jangan salahkan, dia. Ini salah, ku. Karena aku yang tidak perhatian dengannya." Bela Hanan.
Beberapa saat kemudian , Surya dan Zahra datang. Mereka menanyakan keadaan Zahwa. Very juga menjelaskan. Sontak membuat mereka ikut khawatir.
Hanan meminta Surya dan Zahra untuk pulang terlebih dahulu. Pasti mereka lelah, lagipula saat ini Zahwa juga sudah baik-baik saja. Baru, esok pagi Hanan meminta mereka untuk membawakan beberapa baju ganti dan Keperluan lainnya.
"Sayang..." Zahwa siuman. Hanan, langsung menghampiri dirinya. Duduk di samping tempat tidurnya, dan menggenggam tangan yang sudah di tusuk oleh infus.
"Maaf, ya, gara-gara aku yang kurang perhatian. Kamu jadi seperti ini."
Zahwa tersenyum, kemudian menggeleng.
"Aku yang minta maaf. Aku yang keras kepala. Anak kita, baik-baik saja, kan?"
__ADS_1
Hanan mengangguk. Zahwa bernafas lega. Rasa sakit di perutnya, memegang sudah dia rasakan saat terakhir acara tadi. Tapi, dia tidak ingin semua orang khawatir. Karena itulah, di saat-saat terakhir di meminta Hanan menggendongnya.