Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 87


__ADS_3

''Jika dirasa menyakitkan kenapa tidak coba kamu lepaskan?'' Kata Hanif.


Setelah sholat Isya' tidak tahu kenapa Hanif sudah menunggu Zahra di depan masjid. Dengan semua keperluan mereka untuk berangkat ke bandara.


Zahra tidak sanggup lagi untuk bertemu dengan Surya. Bukan karena tidak suka, hanya saja tidak kuat jika menambah luka.


Zahra memandang Hanif yang sedang menyetir mobil. Dia mengatakan sesuatu tanpa melihat Zahra di sampingnya.


''Bukanlah cinta itu menguatkan, bukan melemahkan." Lanjut Hanif. Masih dengan menatap ke depan. Membuat Zahra semakin bimbang.


''Apa Mas mengetahui semuanya?'' Tanya Zahra penasaran. Dia tidak pernah menceritakan isi hatinya kepada siapapun. Termasuk Hanif, meskipun dia adalah orang yang paling dekat dengannya.


''Orang lain saja bisa melihat perasaan mu, apalagi aku yang setiap hari bersama mu.'' Jawab Hanif . Jujur tidak tega melihat Zahra seperti itu. Dia tahu, ini kedua kalinya wanita di sampingnya itu terluka dengan cara yang sama. Ada rasa kecewa dan kesal, tapi apalah daya.Dia sendiri tidak mempunyai hak untuk ikut campur dengan urusan hatinya.


''Sejelas itukah? jika benar, kenapa Dia tidak merasa?'' Kata Zahra. Dia mengingat momentum bersama Surya. Saat-saat mereka bercandax tertawa. Saat di mana Dia membawakan bekal saat Surya di penjara. Saat di mana Surya merayu dan menggodanya.


Dunia seakan milik mereka. Saat mereka tenggelam dalam lautan ilmu yang setiap sore mereka selami. Saat beradu argument, saat saling meyakinkan dan saat saling tatap tanpa rasa canggung.


''Karena hanya kamu yang mencintainya. Dan dia tidak.'' Jawab Hanif.


Zahra menarik nafas dalam. Berusaha mengeluarkan rasa sesak yang sedari tadi dia rasakan. Ini bukan pertama kalinya, tapi rasanya teteplah menyakitkan.


''Saat aku bersama dengan Mas Surya. Aku merasa Dia juga merasakan hal yang sama.Tapi ternyata salah,itu hanyalah rasaku. Dan khayalan ku. Begitu bodohnya aku dan begitu mudahnya aku jatuh cinta.'' kata Zahra. Dia masih mengenang tentang lelaki yang beberapa waktu lalu menolaknya. Bahkan sebelum dia sempat menyatakan perasaan.


''Hapus air mata mu, kita sudah sampai. Zahwa dan Hanan pasti mereka ada di sini untuk mengantar kita.'' Kata Hanif sambil menyodorkan sapu tangan. Zahra sejenak tertegun melihat berubah sikap Hanif, sejatinya mereka selalu bersama. Tapi baru hati ini Zahra merasa bahwa Hanif yang selalu ada untuk dirinya. Dan kali ini dia merasa bahwa Hanif yang mengerti dan ikut merasakan sesak dalam hatinya.


''Ayo!'' Seru Hanif membangunkan lamunan Zahra. Zahra sontak mengambil sapu tangan di tangan Hanif. Tanpa melihat Zahra mengusap air matanya Hanif keluar terlebih dahulu.


Dia mengeluarkan barang-barang mereka dari bagasi mobil. Menaruhnya pada trolly satu persatu.


''Hai!'' Sapa Zahwa dia berlari kecil menuju ke arah Hanif tidak lupa Hanan yang setia di sampingnya.


Zahra melihat kedatangan mereka segera mengusap air matanya membenahi posisi hijabnya dan sedikit memoles wajahnya.

__ADS_1


''Zahra mana?'' Tanya Zahwa celingukan.


''Masih di mobil.'' Jawab Hanif.


Zahwa langsung mengetuk kaca mobil selepas mendengar jawaban Hanif. Zahra segera membuka pintu mobil dan keluar memeluk Zahwa. Dia berusaha tegar dan bersikap baik-baik saja.


''Eh, kamu nangis?'' Tanya Zahwa setelah melihat raut wajah Zahra yang masih terlihat sembab.


''Halah, biasa. Anak cewek mau pergi merantau. Palingan udah kangen keluarganya." Sahut Hanif .


'' Uchh ... Kacian .. Semangat ya!''Seru Zahwa.


''Terimakasih.'' Ucap Zahra.


Setelah beberapa saat, mereka menuju ruang tunggu keberangkatan. Bertemu dengan beberapa teman lainya yang juga akan mengikuti Studi ke UCL.Dari Universitas mereka ada 20 lebih yang berhasil Lolos.


Hanan terlihat sedang bercanda dengan beberapa teman lelakinya. Seharusnya dia menjadi salah satu dari mereka. Tapi keadaan membuat untuk tetep di Indonesia. Apalagi dia tidak mungkin meninggalkan istrinya sendirian.


Sedang Zahwa terlihat asyik dengan teman-teman Zahra lainya. Mereka berkenalan dan bertukar pengalaman. Sedikit mengisahkan tentang awal pertemuan Zahwa dan Hanan. Dan bagaimana mereka bisa menikah.


''Tapi jahat mah kalian. Nikah tak undang-undang . Kirain Hanan buntingin anak orang.'' Sahut salah satu dari mereka . Sontak membuat kami tertawa.


Wajar jika ada berita seperti itu. Pernikahan mereka memang terjadi begitu saja. Banyak tragedi di dalamnya.


''Nggak ada rencana buat resepsi gitu?'' tanya Tina.


''Resepsi?'' Zahwa bingung.Dia sendiri lupa untuk memikirkan hal itu.Mengingat banyak yang terjadi setelah mereka menikah.Dan baru beberapa Minggu ini mereka leluasa dengan kehidupannya.


''Tapi jangan lupa undang kami'' Todong mereka semua . Membuat Zahwa semakin bingung.


''Eh, kalian udah mau berangkat ke UCL mana bisa hadir ke resepsi kami nanti.'' Sahut Hanan dia menghampiri mereka.


''Bisa dong. Kita bisa langsung pulang ke UCL pas Resepsi kalian. Lagian kalau acara kalian bulan-bulan ini kita pasti bisa datang. Ya kan?'' Seru Tina meminta persetujuan teman - teman lainya . Yang lain sontak berseru membetulkan.

__ADS_1


''Iye tuh. Cepat lah Adain Resepsi. Nikah cuman sekali, mumpung Zahwa belum hamil juga.'' Tambah Hanif yang juga ikut nimbrung.


''Iya iya. Gampang itu. Udah sana udah ada panggilan tuh.'' Ujar Hanan.


Berbicara panjang lebar membuat mereka tidak sadar jika sudah ada panggilan untuk penumpang dengan tujuan Londen. Dengan segera mereka berpamitan satu persatu kepada Zahwa dan Hanan. Beberapa dari mereka juga ada yang di antar keluarganya.


''Good luck . Hati-hati,'' Ujar Zahwa pada Zahra sebelum dia pergi.


''Iya . Kamu juga . Doain ya.'' Balas Zahwa. Mereka berpelukan tanpa sadar Zahra menangis lagi. Melihat Hanan dan Zahwa dia teringat Surya.


''Jangan nangis. Aku ada untukmu.Kamu tetep seperti saudara bagi ku.'' Kata Zahwa. Meskipun Zahra tidak mengatakan apapun, Zahwa sadar jika saat ini Zahra sedang terluka. Dan luka itu tidak lain karena kakak iparnya.


''Terimakasih. Salam untuk Mas Surya,'' Kata Zahra dengan senyum yang dia paksakan.


''Insya Alloh nanti aku sampaikan. Kamu baik-baik di sana. Sering kabari kami.'' Pesan Zahwa.


Zahra membalasnya dengan senyuman dan anggukan pelan. Kemudian dia menyusul teman-teman lainya.


''Ada apa?" tanya Hanan setelah melihat teman-teman masuk dalam lobi penerbangan.


''Terkadang kita tidak perlu bicara, cukup melihat air mata saja sudah menjadi jawabannya.'' Jawab Zahwa masih dengan melihat kepergian Zahra.


''Aku gak faham,'' Kata Hanan bingung.


''Ah, dasar! Cowok emang gak peka.'' Sewot Zahwa.


Hanan tidak menggubris lagi. Sudah hafal dengan kebiasaan Zahwa ketika dia tidak sejalan, ujung-ujungnya pasti bertengkar.


''Zahra!'' Teriak Surya.


Terlihat Surya berlarike arah mereka dengan tergopoh-gopoh.


''Telat, dia sudah pergi.'' Kata Zahwa dan kemudian pergi. Hanan bertambah bingung dengan tingkah istrinya itu.Dia pun ikut ke pergi menyusul Zahwa.

__ADS_1


''Kak, baru saja mereka berangkat!'' Seru Hanan memberitahu Surya yang masih terpaku. Kemudian dia berlari lagi mengejar Zahwa yang sudah berjalan cepat mendahului.


__ADS_2