Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 83


__ADS_3

Pagi - pagi kedua pasangan suami-istri itu sedang sibuk dengan koper masing-masing. Mereka mengemasi barang - barang mereka. Setelah hampir beberapa bulan mereka tinggal di rumah Zahwa. Kini sudah saat nya mereka kembali ke rumah Hanan.


Alasan untuk kembali, alasan untuk bisa bertahan sudah sepenuhnya ada. Dan kali ini ikatan mereka sudahlah kuat. Hati mereka sudah sepenuhnya saling menerima.


Takdir yang menyatukan mereka. Takdir pulalah yang akan menjadi tali rantai yang akan terus mengikat hubungan mereka.


Seseorang mengatakan bahwa hubungan yang di ciptakan oleh tuhan, tuhan pulalah yang akan menjaminnya.


Berbeda, dengan hubungan yang di jalin oleh manusia. Terkadang, kita harus siap terluka . Karena apa? Apa yang menurut manusia baik belum tentu Tuhan mengatakan baik pula. Meskipun awalnya kita mengatakan bahwa ini benar , dan dia juga mengatakan itu benar. Tapi belum tentu Tuhan mengatakan itu benar.


Terluka akan cinta wajar, tapi percayalah saat di mana kita bisa menerima semua ketentuanNYA kita akan takjud dengan apa yang terjadi. Ada banyak hal yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin . Dan kita bisa melaluinya.


''Sudah siap sayang?" Tanya Zahwa. Dia sudah dengan kopernya. Sedang Hanan sedang merapikan bajunya.


''Ah!" Umpat Hanan kesal, membuat Zahwa langsung berjalan ke arahnya.


''Ada apa?'' Tanya Zahwa. Hanan tanpa menjawab langsung ingin melepas kemeja yang mau di kenakan tadi.


''Kancing bajunya lepas satu," Jawab Hanan kesal.


''Udah jangan di lepas semua. Aku jahitin.'' Kata Zahwa , tanpa menunggu dia menuju loker lemari dan mengambil perlahan jahit , benang dan jarum. Dengan sangat lihai dia mulai memasukan benang ke dalam jarum tersebut dan mulai menjahit kancing baju suaminya yang masih di pakainya.


''Hati-hati.'' Kata Hanan khawatir dia ngeri sendiri melihat jarum yang begitu dekat dengan kulitnya.


''Iya iya. Aku ahli kok.'' Balas Zahwa.


''Beneran Ahli, atau ingin dekat-dekat dengan ku.'' Ujar Hanan menggoda, tersenyum jahil. Tiba-tiba dia teringat kejadian semalam bersama istrinya itu.


''Diam! Jika tidak jarum ini akan tidak terkendali . Jangan salahkan aku jika tiba-tiba menusuk mu . '' Ancam Zahwa. Berbeda dengan Hanan, Zahwa lebih ingin melupakan kegilaan yang dia lakukan semalam. Masih saja dia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi pada dirinya. Membuat kesal sendiri.


''Hahaha. Iya iya. Oh iya besok semestinya jadwal keberangkatan ke UCL. Apa Zahra menghubungi mu?'' Tanya Hanan. Dia melihat kalender yang menggantung di tembok kamar. Teringat jika semestinya besok dia harusnya pergi ke UCL.


''Tidak. Nanti kita tanyakan ke Mas Surya. Dia pasti tahu." Jawab Zahwa. Dia sudah menyelesaikan menjahit kancing dan kemudian memasangnya.


''Terima kasih istri ku. Kamu memang terbaik.'' Kata Hanan dengan senyum manis. Tapi Zahwa hanya menyelonong pergi begitu saja.


''Ayo kita harus segera pergi. Meskipun ini juga pulang. Tapi Bik Asih memberitahu jika Mas Surya menyiapkan penyambutan untuk kita . Kasihan jika terlalu lama menunggu kita.'' Kata Zahwa. Dia sudah siap membawa kopernya.


''Iya iya. Mas Surya lagi,'' Sewot Hanan.


''Gak usah mulai lagi, masih aja cemburu." Kata Zahwa. Dia sudah terlebih dahulu ke luar dari kamar.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mereka sudah di perjalanan. Meninggalkan rumah sendiri bukan perkara mudah. Tapi bukankah sudah menjadi kodratnya. Jika seorang wanita yang sudah menikah akan mengikuti ke mana suaminya pergi.Tidak hanya tentang rumah, tapi juga tujuan, impian dan setiap langkah dalam kehidupan.


''Akhirnya kita pulang. Alhamdulillah.'' Ujar Zahwa setelah mereka sampai di rumah.


Baru saja sampai , Bik Asih dan Surya sudah menyambut mereka hangat. Mereka bertukar kabar , dan pelukan . Walaupun sejatinya Setiap hari juga saling berhubungan lewat ponsel.


''Selamat datang kembali Non dan Mas Hanan.'' Ucap Bik Asih.


''Terima kasih bik,'' Balas Zahwa dan Hanan.


''Selamat datang Zahwa, Hanan.'' Kata Surya juga .


''Terima kasih kak.'' Balas Zahwa dengan senyum hangat.


Mereka semua masuk ke dalam rumah. Berbincang dan bergurau, melepas kerinduan. Menikmati waktu kebersamaan yang lama tidak mereka rasakan.


''Assalamualaikum." Salam seseorang dari arah pintu.


''Waalaikumsalam.'' Balas mereka hampir bersamaan.


Terlihat Zahra dan Hanif berada di ambang pintu dengan senyum sumringah. Hanan dan Zahwa pun terkejut dengan kedatangan mereka.


Kedatangan Zahra dan Hanif adalah Surprise untuk Zahwa dan Hanan . Terlebih karena sudah lama mereka tidak saling bertemu .


'' Hmmm.... Curiga nih. Ini bukan buat kami , tapi buat kamu sendiri kak.'' Ledek Zahwa menggoda.


''Iya tuh, palingan pengen ketemu Zahra.'' Tambah Hanan menggoda. Sontak membuat Zahra dan Surya salah tingkah.


''Apes aku. Jadi ceritanya aku jadi kambing congek gitu.'' Sewot Hanif sambil mengusap-usap rambutnya.


'' Hahahahahahaha." Tawa mereka semua.


Selang beberapa saat kemudian mereka menuju halaman belakang. Berkumpul di gazebo tepi kolam renang. Menikmati cemilan, dan membuat rujak buah yang sebelumnya bahan-bahan sudah di siapkan Bik Asih.


''Jangan habisin mangga mentahnya, enak."' Ujar Zahwa. Sedari tadi dia yang paling doyan.


''Jangan banyak-banyak, perut mu itu gak kuat asam. Punya Maag juga." Larang Hanan.


''Gak. Tadi udah makan'' timpal Zahwa. Dia tidak menghiraukan larangan Hananz masih asik dengan rujak mangganya.


''Di bilangin. Awas aja kalau sampai sakit terus ngeluh.'' Ancam Hanan .

__ADS_1


''Gak akan!'' Balas Zahwa.


''Palingan dia nyidam." Celetuk Hanif. Membuat semua orang menghentikan aktifitasnya dan langsung melihat Zahwa .


''Nyidam?'' Tanya Zahwa pada dirinya sendiri.


''Kamu Nyidam yang?'' Tanya Hanan dengan harapan.


''Kamu hamil?'' Tanya Surya.


''Udah berapa bulan mbak? Kok gak kabar-kabar?'' Tanya Zahra ikut penasaran .


Semua pasang mata tertuju pada Zahwa. Mereka seakan menahan nafas untuk mendengarkan jawaban darinya. Dia sendiri bingung harus menjawab pertanyaan yang mana. juga tidak mengetahui jawabannya apa?


''Aku nggak tau.'' Jawab Zahwa dengan menggelengkan kepala. Mendengar jawaban Zahwa semuanya bernafas kecewa.


''Coba deh periksa ke dokter. Barangkali dia hamil.'' Kata Hanif.


''Ah. Gak mungkin, aku nggak ngerasain apa - apa." Kata Zahwa.


''Tapi emang tanda-tanda orang ngidam begitu . Dia suka makan yang masam-masam.'' Tambah Hanif membuat Zahwa dan Hanan saling salah tingkah . Mereka sendiri belum bisa menguasai keadaan jika hal ini akan terjadi.


''Coba telpon Very.'' Usul Surya.


''Ogah. Mana mungkin aku rela istri ku di periksa dokter mesum seperti dia.'' Bantah Hanan.


''Maksudnya telpon, minta temannya yang dokter kandungan buat periksa.'' Jelas Surya


''Gak usah lah. Palingan aku cuma lagi doyan . Lagipula kalau hamil biasanya asam lambung naik. Dan muntah-muntah aku baik-baik aja kok. '' Sahut Zahwa


''Beneran mbak?'' Tanya Zahra


''Iya.Yuk ah, makan lagi. Jangan bahas itu lagi." Jawab Zahwa.


Setelah saling pandang akhir mereka melanjutkan makan dan berbincang hingga waktu siang dan terakhir mereka menikmati santap makan siang bersama.


''Yang ? Ada apa?'' Tanya Hanan.


Yah. Mungkin hanya suami yang peka akan perasaan seorang istri. Setelah pembahasan hamil tadi, Hanan merasakan jika Zahwa sedang memikirkan sesuatu.


''Tidak apa-apa. Nanti saja kita bicarakan. Tidak enak , masih ada tamu.'' Jawab Zahwa dengan senyum simpul. Hanan mengangguk pasrah , meski hatinya sudah bergejolak dengan keinginan tahuanya.

__ADS_1


__ADS_2