
''Menurutmu, apa kak Surya akan menikah dengan gadis itu?'' Tanya Zahwa.
''Aku tidak tahu." Jawab Hanan acuh.
Zahwa hening sebentar. Tiba-tiba dia teringat Zahra. Apa kabar dirinya? Dia belum sempat menghubunginya setelah malam di bandara waktu itu.
Iseng, Zahwa membuka alamat IG Zahra. Dia menemukan 3 kiriman feed terbaru. Satu, saat dia pertama kali menginjak kampus UCL. Dalam caption ia menulis " Setiap orang mempunyai sayap, dan dia cukup perlu berusaha untuk menerbangkannya ".
Feed ke dua, Zahra bersama teman-teman dari Indonesia yang sebagian Zahwa sempat berkenalan saat mereka ada di bandara. Mereka adalah teman - teman suaminya. Mungkin, jika bukan karena dirinya suaminya pasti juga ada di foto tersebut. Di sana, Zahra memberikan caption "Setiap dari kami membawa impian. Dan kami akan mewujudkan bersama-sama. We love Indonesia ''.
Dalam caption tersebut banyak sekali mahasiswa Indonesia yang berkomentar. Mereka saling memberikan selamat, tak jarang juga ada yang berdoa semoga kelak mereka juga bisa di posisi mereka. Jumlah like pun ribuan, salah satunya adalah akun suaminya.
''Yang, kamu melihat foto ini?'' Tanya Zahwa dengan memperhatikan feed dari Zahra.
''Iya. Foto itu muncul di beberapa akun teman ku juga.'' Jawab Hanan. Dia melihat foto tersebut sebentar, dan kemudian mengalihkan pandangannya lagi pada laptop di depannya.
Selama di Daeng dan Sukabumi hanan memang mengontrol pekerjaannya dari jauh. Tak jarang dia tidur larut malam untuk pekerjaan itu, karena siangnya mereka harus di rumah Bibi Ami dan baru pulang menjelang magrib, itupun waktu yang paling cepat.
''Andaikan bukan karena aku. Pasti kamu juga ada di antara mereka." kata Zahwa. Dia sedih mengingat bahwa dirinya menjadi penyebab terhalangnya cita-cita suaminya.
''Biasa saja. Toh, itu keputusanku. Aku sudah tidak pernah memikirkannya. Kamu juga jangan terlalu memikirkannya lagi.'' Ujar Hanan. Dia berbicara seperti itu tetap dengan menatap layar laptopnya. Jemari - jemarinya tak henti menari-nari di atas keyboard.
Tiba-tiba Zahwa mencium pipi Hanan. Memberikan pelukan hangat dan menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.
''Terima kasih, sayang kamu pokoknya.'' Kata Zahwa.
"Sudah seharusnya,'' Balas Hanan. Dia mengecup kening istrinya dan kembali fokus lagi.
__ADS_1
Selagi Hanan fokus dengan laptopnya, Zahwa dengan manjanya menyelinap di tengah-tengah tangan Hanan, membaringkan kepalanya di pangkuan suaminya. Membuat Hanan sedikit tergantung.
''Tidur dulu sana ah, jangan di sini.'' Kata Hanan. Karena Zahwa di pangkuannya membuat Hanan harus mengangkat lengannya lebih tinggi lagi untuk mengetik. Sedang Zahwa dengan nyamannya mulai memejamkan matanya.
''Aku capek,'' Kata Zahwa dan tak menggubris suaminya yang menyuruhnya untuk pindah. Akhirnya diapun terlelap di pangkuan Hanan.
Hanan tidak lagi mempersalahkan. Dia kembali bekerja, beberapa berkas harus dia kirimkan pada sekretarisnya. Kendala jarak jauh membuat sedikit bermasalah dengan komunitas.
Misalkan saat dirinya ada di rumah Bibinya. Dia tidak leluasa menerima telpon dari klain, bahkan si Aldian pun tidak bisa. Saat ini dia sangat mengandalkan sekretarisnya itu untuk menghendle semuanya.
Setelah selesai. Dia baru menutup laptopnya, menjulurkan lengannya dan sedikit melepaskan sendi-sendinya. Sangking fokusnya dia tak sadar jika Zahwa masih tidur di pangkuannya. Kakinya hingga kebas karena harus menahan kepala istri itu.
Berlahan Hanan memindah Zahwa, memposisikan tidurnya dengan nyaman di sebelahnya. Baru setelah itu dia ikut berbaring di samping.
Sebelum itu, matanya tertuju pada ponsel Zahwa yang masih berkedip-kedip. Tanda jika ponsel tersebut belum ia non aktifkan.
Tidak bisa di pungkiri, jika sebenarnya ada perasaan sedih ketika melihat foto tersebut. Seperti apa yang Zahwa katakan tadi. Andaikan buka karena dirinya dia pasti ada di bagian foto tersebut.
Namun, dia pangkas cepat-cepat perasaan sedih dan penyesalan tersebut. Dan kemudian memandang wajah istri yang sedang terlelap.
''Tugasku, adalah menjagamu. Entah bagaimana kebahagiaanku nanti. Tapi, aku yakin bahwa aku akan menemukannya pada dirimu, sayang." Ujar Hanan dengan mengecup mesra kening istrinya tersebut.
Namun kemudian dia terfokus pada feed terakhir Zahra. Foto dirinya membawa karangan bunga, dengan menghadap langit - langit .**Caption-nya '' Aku tak muluk-muluk lagi.Kini aku percaya, bahwa setinggi apapun inginku. Akan kalah dengan takdir MU. Hanya saja, hingga saatnya tiba, anugerahkan cinta itu. Hingga aku melupakan cinta-cinta sebelum itu.
Hanan tidak mengerti apapun yang Zahra maksud. Hanya saja dia berfikir, kenapa wanita selalu membuat permasalahan dalam hidupnya sendiri , yang pada akhirnya. Dia sendiri yang akan menguburnya sendirian lagi.
Selang beberapa saat, mereka terlelap dengan saling berpelukan.
__ADS_1
*****
Subuh sekali Wardah sudah menyiapkan perlengkapan ganti Bibi Ami. Tadi malam, bibi Ami mengalami serangan jantung ringan. Namun dengan kondisinya saat ini seringan apapun pasti akan berdampak buruk.
''Apa kang hafiz sudah menghubungi mas Hanan?" tanya Wardah selepas dirinya tahu jika Hafiz ikut merapikan baju - baju ibunya.
''Kita akan hubungan dia saat sudah tiba di rumah sakit." Jawab Hafiz.
''Tidak. Dia harus tahu sekarang. Bibinya sakit , pasti dia akan langsung datang sekarang juga!'' Ujar Wardah. Dia berbicara agak keras.
''Apa yang kamu pikirkan sekarang?'' tanya Hafiz. Sontak membuat Wardah bingung.
''Aku tidak mengerti apa maksud mu kang. Aku_'' Jawab Wardah gugup.
''Kamu sedang tidak memikirkan Ibu. Tapi, kamu ingin Hanan ada di sini." Ucap Hafiz menebak perasaan yang sedang bergelut dalam diri Wardah.
''Tidak. Aku hanya tidak ingin membuat Mas Hanan kecewa dengan kita karena tidak langsung memberitahukan dirinya jika sekarang Bibi harus di bawa ke rumah sakit.'' Bantah Wardah.
''Jangan bohong Wardah. Sadarlah, jika Hanan sudah menikah. Sadarlah, jika dia sudah menjadi suami orang. Beberapa hari ini aku melihat perubahan dalam sikapmu. Kamu sengaja datang telat , kamu juga sengaja berlama-lama di pasar, kamu sengaja pergi entah kemana. Aku tidak tahu, itu karena kamu sengaja agar Zahwa yang merawat ibu atau kamu lelah merawat ibu. Kamu kecewa, karena pada akhirnya apapun yang ibu katakan dan janjikan tidak pernah akan terwujud. Anggan - angan yang ibu tanam pada mu ternyata tak membuahkan apapun. Kamu marah, namun takut memperlihatkan kepada siapapun.'' Terang Hafiz.
Dia sudah mengenal Wardah lebih dari Wardah sendiri. Mereka tumbuh berkembang bersama-sama. Dia pun sudah di anggap Abang kandung sendiri oleh Wardah.
Setiap kesedihan, dan kebahagiaan hafiz lah yang menjadi tempat cerita untuk dirinya. Tidak jarang, Hafiz harus mendengarkan dia bercerita tentang Hanan pun anggapan dirinya tentang sosok Hanan dalam dirinya.
Hafiz sendiri tahu, jika Wardah jatuh cinta pada Hanan, mencintai sepupunya itu tanpa pernah bertemu ataupun berbincang sekali. Hanya lewat cerita-cerita dirinya jatuh cinta. Lewat kata-kata dirinya mulai menumbuhkan harapan. Dan kali ini , dengan satu waktu. Semua itu hanyalah angan-angan. Dan diapun tersadar, jika selama ini dia terlalu berhalusinasi tentang harapan- harapan tersebut.
''Boleh kamu kecewa, marah bahkan menangis. Itu hal wajar. Tapi jangan pernah lari dari kenyataan. Itu akan lebih menyakitkan." Tambah Hafiz saat dia tak menemukan jawaban ataupun tanggapan dari Wardah.
__ADS_1