
"Walaikumsalam" Balas semua orang yang langsung menoleh ke arah pintu.
Seketika suasana yang tadinya bising dengan gelak tawa canda dari dua keluarga itu kini berubah menjadi hening saat melihat siapa yang datang.
Menyadari keanehan itu, Ratu yang sedang main hape di kamar pun sampai timbul rasa penasaran.
"Mah? Bi?, bibi?" Teriak Ratu dari dalam kamar.
"Lah kok pada pergi kali ya gak ada suara nya" Ucap Ratu yang penasaran dan akhirnya memutuskan untuk beranjak dari kasur.
Melangkah ke ruang tamu untuk melihat kenapa orang rumah pada hening seketika.
"Jeh masih pada ada, kirain aku kemana Bi" Ucap Ratu yang merasa lega.
Lalu saat ia ingin balik badan untuk kembali ke kamar, tak sengaja Ratu menoleh ke arah pintu yang membuat tubuhnya kaku dan ikut terdiam.
Nafas yang sesak mulai menyelimuti organ pernafasan Ratu di barengi dengan bendungan air mata yang tertahan di kedua mata indahnya.
Ratu melangkah dengan sangat perlahan menuju pintu, merasa tak menyangka bahwa kini cinta pertama nya hadir dihadapannya.
"Pa.. papah?" Ucap Ratu yang melangkah mendekati pria itu dengan tetesan air mata yang mulai membasahi kedua pipinya.
"Assalamualaikum Ratu.." Ucap lirih dari Papah kandung Ratu sambil menahan tangisnya.
Ya, dia adalah pak Yana. Bapak kandung Ratu sekaligus arsitek terkenal pada masa nya di daerah Subang.
Pria yang meninggalkan bu Nisa saat Ratu berumur satu setengah tahun, pria yang jarang sekali menghubungi bahkan tidak memberikan perhatian lagi semenjak perpisahannya dengan bu Nisa. Pria yang selama puluhan tahun tidak berani bertemu langsung dengan bu Nisa karena masih menghargai posisi pak Hendri sebagai suami baru nya.
Kini pria itu memberanikan diri melawan logikanya untuk datang langsung dan menginjak kan kaki di rumah pak Hendri hanya untuk bertemu Ratu, anak gadis yang ia banggakan.
Itulah alasan semua orang terdiam termasuk Kakek dan Nenek Ratu yang benar-benar tidak tahu bahwa pak Yana akan ke Jakarta.
Sebab seperti yang semua orang tau bahwa pak Yana menghargai betul pak Hendri, jadi tak mungkin ia semudah itu datang ke sini.
"Papah.." Ucap Ratu yang kini berdiri tepat di hadapan pria yang sudah mulai nampak keriput di wajahnya.
"Iya Ratu, ini papah neng" Balas Pak Yana sambil memegang kedua pipi Ratu perlahan masih nampak tak percaya dengan dirinya sendiri yang begitu berani menginjakkan kaki di Jakarta.
"Aaaarggh.. hm.. hiks-hiks-hiks!" Ratu langsung memeluk pak Yana dan menangis sehisteris mungkin.
Memukul dada pak Yana dan mencengkram punggungnya dalam tangisan emosi bercampur bahagia.
"Kenapa papah jahat baru ke sini hah?!" Teriak Ratu dalam pelukan pak Yana.
"Apa harus nunggu aku mati dulu papah baru ke sini hah hm.. hiks-hiks" Ratu terus menangis mengungkapkan kekecewaannya terhadap papah kandungnya.
"Hey Ratu kamu ngomong apa sayang?, papah gak begitu kok. Papah sayang sama Ratu, cuma waktu aja yang belum mengizinkan papah bertemu kamu lagi neng. Udah jangan nangis ah hm.." Tutur pak Yana yang sulit dipungkiri bahwa ia pun tak bisa menahan isak tangisnya.
Memeluk erat tubuh anak gadis pertamanya, pak Yana menangis sambil menciumi rambut Ratu yang terurai.
"Maafin papah nak, maafin papah yang udah gagal hiks-hiks hm.. hm." Tangis pak Yana yang entah itu tangisan bahagia karena bisa memeluk Ratu setelah beberapa tahun lama nya mereka berpisah, atau tangis kekecewaan nya terhadap dirinya sendiri yang tak memperdulikan Ratu selama ini hingga tak terasa besok putri semata wayang nya akan di persunting oleh lelaki pilihan hatinya sendiri.
Semua orang di ruang tengah tak bisa berbuat apa-apa lagi selain ikut meneteskan air mata terharu. mereka semua merasakan apa yang Ratu rasakan kini.
Siapa yang tidak terharu melihat pertemuan anak dan bapak yang sudah bertahun-tahun tak bertemu?.
Bahkan layar hape Authornya sendiri pun ikut basah karena tetesan airmata yang tak tertahan karena mengungkapkan adegan ini.
Singkat cerita, setelah hati dan pikiran mereka kembali tenang karena sudah melepas air mata yang sempat terbendung.
Pak Yana meraih tas besarnya dan duduk di teras rumah Ratu tanpa berani masuk ke rumah bu Nisa.
"Loh papah gak masuk?" Tanya Ratu sambil sibuk mengusap airmatanya.
"Engga ah, di sini aja enak adem Rat hehe" Jawab pak Yana yang membohongi hati kecilnya.
__ADS_1
"Hm yaudah aku ambilin minum dulu ya pah" Sambung Ratu yang melangkah pergi ke dapur.
Tak lama dari itu, keluar lah bu Nisa yang membawa sepiring nasi, sambel, ikan asin serta lalapan untuk menyuguhkan pak Yana.
"A, nih makan dulu maaf di dapur eneng belum siap masak-masak. Masih di irisin" Ucap bu Nisa yang tak berani menatap mata mantan suaminya itu.
Pak Yana hanya tersenyum saat melihat piring yang berisikan lauk pauk sederhana itu, mengingatkan masa lalu yang dulunya bu Nisa pernah menyiapkan ia sarapan sebelum dirinya berangkat bekerja.
"Makasih neng, gak usah repot-repot orang mah hehe" Sahut pak Yana.
"Gak apa lah a, eneng juga kan ngerasain Subang-Jakarta lumayan jauh perut pasti lapar" Jawab bu Nisa yang nampak masih begitu perhatian pada pak Yana.
"Yaudah atuh makasih ya" Sahut pak Yana.
"Neng udah cepet masuk lagi, biarin Ratu ngobrol dulu sama bapaknya" Ucap mantan mertuanya pak Yana.
Akhirnya bu Nisa pun pamit untuk masuk lagi ke dalam dan melanjutkan untuk menyuci daging ayam segar yang tadi pagi ia baru beli belasan ekor.
"Ini pah air putih dan teh hangat nya. Ayo dimakan dulu abisin" Ucap Ratu yang sudah kembali dari dapur.
"Iya deh makasih ya anak cantik" Pak Yana tersenyum dan melahap makanan kesukaannya itu.
"Iya pah hehe" Sahut Ratu yang duduk manis menemani papahnya makan.
Singkat cerita sore pun tiba, Ratu masih saja asik bercanda gurau dengan papah nya.
Bahkan kini Ratu sedang tiduran di paha kiri pak Yana sambil memainkan jari-jari yang mulai menampakkan lipatan kulit.
"Eneng, gak terasa sebentar lagi kamu jadi seorang istri ya?" Tanya pak Yana sambil mengusap kepala Ratu dengan tangan yang satu nya.
"Iya pah do'ain Ratu ya semoga lancar sampai hari pernikahan" Jawab Ratu.
"Iya neng itu mah pasti dong, insyaAllah papah yakin bahwa Tama adalah pilihan terbaik kamu dan keluarga hehe" Sahut pak Yana.
"Makasih ya pah" Jawab Ratu.
"Papah hanya pesan jika nanti sudah berkeluarga, kurang-kurangin ya sikap egois dan ke kanak-kanakan kamu sayang" Pinta pak Yana.
"Iya papah aku akan selalu ingat nasehat papah" Ucap Ratu sambil mengecup tangan papahnya.
Ditengah keharmonisan hubungan ayah dan anak itu, datang lah pak Hendri yang baru pulang bekerja.
Karena takut terjadi kesalahpahaman, pak Yana pun langsung beranjak berdiri untuk menyambut papah tiri nya Ratu.
"Sebentar sayang." Ucap pak Yana sambil membangunkan Ratu yang dari tadi tidur dipahanya.
"Assalamualaikum" Ucap pak Hendri turun dari motor.
"Walaikumsalam" Balas Ratu dan pak Yana.
Ratu langsung mengecup tangan pak Hendri dan pak Yana pun langsung menjabat tangan kanan pak Hendri.
"Baru pulang Hen?" Sapa pak Yana pada pak Hendri.
"Iya" Jawab singkat pak Hendri.
"Maaf saya mampir sejenak ke sini ya, tapi tenang saja saya akan tidur di mushola depan kok. Hanya sekitar dua hari paling Hen" Tutur pak Yana menjelaskan duluan niat nya agar pak Hendri tak tersulut emosi duluan.
"Iya mangga" Lagi-lagi hanya direspon dingin oleh pak Hendri yang langsung melangkah ke dalam.
Singkat cerita, malam pun tiba. Selesai shalat Isya di mushola bersama warga sekitar di sana, pak Yana dan si Kakek pun nampak sedang dzikir dan wirit bersama.
Dengan khus'yu mereka berdua mendoakan kelancaran acara yang akan berlangsung besok.
Meminta ridho sang kuasa agar menetapkan Adam sebagai pilihan terakhir Ratu. Ia tak mau Ratu harus mengalami kehancuran keluarga seperti yang pak Yana lakukan pada bu Nisa.
"Ya Allah gusti maha Agung, yang maha penyayang dan maha pengabul doa para umatnya. Saya meminta pada gusti Allah untuk tolong jaga anak hamba satu-satunya. Anak yang tidak berdosa namun harus nerima semua luka yang telah hamba perbuat. Biar lah semua deritanya di limpahkan ke hamba ya Allah, jangan biarkan Ratu merasakan apa yang saya dan ibu nya rasakan. Cukup keluarga hamba saja yang hancur, keluarga anak hamba jangan sampai berujung dengan akhir yang sama.. hm.. hiks-hiks.. Robbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqina adzabannar.. Aamiin ya robbal'alamin.."
__ADS_1
Pak Yana berdoa dalam hati yang di barengi tangisan penyesalan karena dulu telah meninggalkan bu Nisa hanya karena wanita lain yang tak jelas asal usulnya.
Andai saja dulu ia bisa mempertahankan keluarganya, pasti Ratu tak akan menerima banyak trauma seperti sekarang. Tapi di sisi lain pak Yana mencoba bangkit dan berpikir positif, karena kini ada Tama yang akan menggantikan sosok dirinya di hidup Ratu.
Tiba-tiba, kakek yang baru selesai wirit pun menepuk pundak pak Yana sambil tersenyum memberi semangat.
"Semua orang pernah berbuat salah, kita pun pernah sama-sama salah Yan, pernah mengecewakan dan membuat orang yang kita sayang menangis karena tingkah kita" Ucap si kakek yang kembali mengingat masa mudanya yang begitu begajulan gak jelas dengan hal-hal yang di haramkan agama.
"Dan sekarang, Kita gak boleh keliatan nangis di depan mutiara kecil kita. Kita harus kuat, bangkit dan berikan dia senyuman kita atas mental yang di bentuk dari orangtua nya yang hanya sebelah" Sambung kakek.
"Iya pak, Yana ngerti. Yana juga minta maaf ya karena udah jadi suami yang gagal buat anak bapak" pak Yana kembali menangis sambil mengecup lama tangan mantan mertuanya itu.
"Bapak sudah maafin kamu, tapi tidak dengan rasa kecewa bapak Yan. Semua masih membekas saat ketika wanita itu mengetuk pintu rumah mu dan mengaku mengandung anakmu. Dari situ lah bapak merasa gagal karena sudah melepas Nisa ke pria yang tidak bertanggung jawab seperti kamu" Ucap tegas si kakek.
"Sekarang tinggallah Tama harapan saya untuk menjaga mutiara kecil saya" Sambung si kakek.
"Sudah lah, mending kamu tidur. Besok Ratu butuh kamu sebagai wali kandungnya" Ucap kakek yang langsung beranjak keluar mushola.
Pak Yana hanya bisa menghela nafas sambil memandangi kakek yang melangkah keluar.
Meraih tas besarnya yang ia jadikan bantal, dan tertidurlah pria yang menjadi cinta pertamanya Ratu itu.
POV Adam.
Beralih sejenak menengok ke kediaman Adam. Malam ini tepat jam 01.00 wib setelah terbangun dari tidurnya yang hanya sebentar, Adam melawan setan yang menahan dirinya untuk ke kamar mandi.
Namun dengan sedikit paksaan, Adam tetap beranjak ke kamar mandi dan mengambil air wudh'u lalu di lanjutkan dengan memakai sarung serta baju kokoh berwarna biru.
Melafaz kan niat shalat tahajjud dan melaksanakannya dengan 4 raka'at.
...
...
Setelah selesai, Adam berdoa untuk di yakinkan dan di beri kemudahan dalam pernikahannya nanti pagi.
20 menit kemudian, Adam menoleh ke arah kotak bucket yang sudah siap di bawa kerumah Ratu. Tak menyangka bahwa target ia untuk menjadikan Ratu sebagai istri nya akan terwujud dalam hitungan jam.
Tak terasa, kini sudah pukul 06.00 wib Adam sedang tertidur di kasur lantainya. Wina yang melihat si bontot masih telentang pun tak tinggal diam, ia langsung membangunkan Adam secara perlahan.
"Dek, oy bangun woy jeh.. lu gimana sih katanya mau nikah tapi jam segini masih tidur" Gerutuk Wina sambil mengusik tidur adiknya.
"Eh iya hooaahm.. ketiduran gw teh tadi abis subuh maaf" Adam mengucek matanya dan melihat jam dinding menunjukan pukul 06.00 wib.
"Hah jam 06.00?" Adam langsung melotot dengan mulut ternganga.
Nyawa yang masih bertanggar di atas rumah pun ia paksa untuk langsung balik ke raga nya dan bangkit meraih handuk.
Saat keluar kamar, betapa terkejutnya Adam melihat tukang riasnya sudah stand by di ruang tengah.
"Glek.."
"Jeh kok ini malah tukang make up nya yang nungguin pengantin ya haha" Celetuk si mbak tukang rias.
"Maaf mbak hehe" Senyum Adam menahan malu dan langsung lari ke kamar mandi.
Bersambung...
Jangan lupa juga untuk...
...🎊🎊🎊 LIKE 🎊🎊🎊...
...🤴🏻🤴🏻 KOMENT 🤴🏻🤴🏻...
...🐝 SHARE 🐝...
...Dan...
__ADS_1
...💕💕💕 Tap Love 💕💕💕...
...See you on the next episode...🎉👏...