Introvert Berjiwa Ganda

Introvert Berjiwa Ganda
Pertemuan Ratu dan Agam


__ADS_3

"Alhamdulilah..sampai haha" ucap Adam lega sambil mematikan motornya didepan rumahnya.


"Assalamualaikum..mah, teh?" sambung Adam sambil mengetuk pintu.


Bu Tini dengan sigap membuka pintu dan menatap anak bungsunya itu dengan penuh emosi yang terpendam.


"Mah.." ucap Adam sambil meraih tangan kanan mamahnya.


Namun tiba-tiba bu Tini menampar keras pipi Adam tepat diluka sayatannya.


"Plak.."


(membuat pipi Adam kini berdarah lagi perlahan)


"Bagus lu ya, ngabarin kaga ape kaga ,pergi maen pergi aje lu hah! pulang badan muka pada ancur abis ngapain lu hah?!" teriak mamahnya dengan logat Betawi nya didepan wajah Adam.


"Tonjok dam tonjok muka nya!" gumam Agam dalam batinnya.


"Jangan lah gila lu itu emak kita" jelas Adam.


"Ya dia ga bisa ngertiin anaknya bis jadi pahlawan anjir!" kesal Agam.


"Dah diem lu ah, urusan gw ini" jawab Adam.


Perdebatan pun terjadi diantara batin si Introvert itu. tanpa ancang-ancang maupun aba-aba bu Tini langsung menjenggut rambut Adam hingga Adam kelenger kesakitan.


"Masuk sini lu!" ucap bu Tini.


"Aw..aw..sakit mah" Adam masuk kerumah dan langsung jatuh kelantai.


"Do*ngo lu, be*go, tol*ol !!!" hina bu Tini pada anak bungsunya.


"Mau jadi jagoan lu berantem-berantem gitu hah?! jadi pahlawan kesiangan lu be*go hah" teriak bu Tini begitu menggelegar dalam rumahnya sambil memukuli Adam dengan gagang sapu.


"Aw..adah..aduh..aw..ah..mah sakit mah ampun mah ampun" ringis Adam coba menghalang pukulan itu.


"Bodo amat!, biar tau rasa lu dibilangin kalo pulang jangan malam-malam ini malah nginep, makan diluar sono lu sekalian ga usah pulang lu ke sini, minta makan sama temen lu sono!" lanjut amarah bu Tini.


"Slepat..slepat .slepat!"


Suara gagang sapu yang terus menyabet paha dan tubuh Adam.


Adam masih saja meyungkut menahan perih sakit disekujur tubuhnya walau batinnya ingin sekali melakukan perlawanan.


"Mah ampun mah..adek abis nolongin orang mah ampun" ucap Adam memohon dibarengi tetesan airmata membasahi pipinya.


Karena sekuat-kuatnya Adam, sepintar-pintarnya dia Adam tetap lah manusia biasa yang bisa merasakan sakit bila disakiti dan merasa sedih bila tak dihargai.


"Hah...gw kesel sama lu gob*lok!" teriak bu Tini dan..


"Pletak!"


Gagang sapu itu patah saat dipukulkan ke kepala anaknya bu Tini itu.


Adam menangis sejadi-jadinya memegangi kepalanya yang tentu saja kita tahu betapa puyeng atau pusingnya kepala kita jika dipukul oleh gagang sapu.


Bu Tini bergegas kekamar Adam. kesempatan itu Adam gunakan untuk duduk dan melihat kondisi sekitar, nampak sapu yang sudah terpotong dua itu di hadapannya.


Adam mengusap air matanya dan...


"Brak!"


Bu Tini melempar tas besar berisikan pakaian anaknya itu kearah Adam.


"Lu pergi dari sini jangan pulang lagi lu kesini!" bu Tini begitu murka mengusir Adam dari rumahnya.

__ADS_1


"Tapi mah.. Adek sayang mamah adek ga mau ninggalin mamah.." ucap Adam memelas sambil memeluk tas besar berisikan baju-bajunya.


"Kalo lu sayang mamah lu ga akan nginep diluar sana tanpa ngabarin mamah, setaaannn!" teriak bu Tini dan langsung mendorong Adam mengusirnya secara paksa.


"Pergi ga lu! pergi ga lu cepat!!" mamah Adam begitu murka saat itu.


Adam yang begitu panik pun langsung naik motor dan gas pol pontang-panting menjauhi rumahnya.


Bu Tini pun menangis setelah Adam pergi, dia menyesali semua ucapan dan perlakuan nya kepada anak bungsunya itu.


Kak Wina yang sedari tadi nangis dikamar nya tak kuasa menyaksikan Adiknya habis-habisan dipukuli oleh mamahnya sendiri pun mulai keluar kamar melihat sapu yang sampai patah dilantai membuatnya semakin down sedih merasakan betapa sakitnya Adam saat gagang sapu itu patah dikepalanya.


Wina mencoba kuat dan menghampiri bu Tini dikamarnya, mencoba meredam emosinya agar adik kesayangannya bisa diterima kembali dirumah sederhana ini yang penuh dengan ketidakharmonisan keluarga.


Diluar dijalanan, Adam memacu motor bodongnya untuk terus melaju dengan cepat, melewati halau rintang motor kiri kanan serta mobil-mobil besar.


Dua puluh menit berlalu Adam berhenti disuatu ruko kosong yang tak lain dan tiada bukan adalah Maskas Besar Destroyer.


"Gubrak"


Adam menendang pintu dengan keras meluapkan emosinya.


Melempar tasnya ke sofa dan menghancurkan apapun yang ada di dalam sana.


"Anjing....bang*sat semua nya aaaarrgh..!!" teriak Adam dengan mata memerah sambil menghancurkan memporak porandakan markasnya sendiri.


"Niat gw baik hm..hanya mau membantu orang yang gw sayang! salah kah gw begitu bang*sat....!" teriak si introvert itu sambil mengepal tangannya berdiri dihadapan dinding.


"Apa salah gw berbuat baik hah?! gw selalu salah di mata lu!" sambung Adam dengan emosi yang masih membara membakar semua pikiran jernihnya hingga perlahan berganti alih raga dengan kembarannya yang penuh dendam yaitu Agam Pratama Sanu.


"Harusnya gw bunuh aja tuh orang tua kaya begitu" ucap Agam.


"AAARGH Anjing..!!" teriak Agam histeris dan memukuli dinding dihadapannya dengan begitu keras dan kuat.


Puluhan pukulan dari Agam di layangkan pada dinding itu, melepas emosi yang tak bisa dibendungnya sendiri apalagi ditelan sendiri.


"Dreeetak!!'


dinding itu pun harus jebol karena luapan emosi Agam kala itu.


"Tau gini jadinya mending gw ga usah dilahirin aja mah didunia ini" ucap Agam dengan nafas terengah-engah.


Akhirnya Agam tak kuasa menahan beban hidupnya sendiri hingga tangis air mata lah yang berbicara.


Adam menangis perlahan termenung meratapi perihnya didikan orang tuanya yang begitu keras.


Namun Na'as nya ditengah keterpurukan Adam, sang khayalan nya kini kembali mengambil alih tubuh Adam hingga tanpa sadar dia mengambil sebilah pisau lipat dari tas nya dan tentu saja...


Dia menggaris kulit lengannya dengan pisau tersebut, perlahan darah segar keluar dari tiap garetan pisau yang Adam pegang itu.


"Sakit gam please anjir..ach...tangan gw woy..!" Adam meringis kesakitan bukan main melihat darah keluar dari sayatan dirinya sendiri.


"Kehadiran kita ga dibutuhkan didunia ini dam, untuk apa kita hidup hah?!" balas Agam yang semakin menekan pisau itu hampir mengenai urat nadinya sendiri.


Saat hampir menembus urat hijau di pergelangan tangannya Agam, aksinya pun terhenti karena ada suara pintu terbuka yang ternyata ada sosok Ratu Permata Sari yang berdiri disana.


"Shit...!" batin Ratu teriak melihat kelakuan kakak kelasnya bak psikopat yang mencoba bunuh diri dengan cara melukai diri sendiri.


"Ngapain lu kesini hah? teriak Agam yang masih diselimuti emosinya.


"Kakak ngapain ngelakuin itu..?!" tanya Ratu dengan mata berlinang tak kuasa melihat lengan Adam mengalirkan darah.


"Kakak ga seharusnya seperti ini" lanjut Ratu sambil menutup pintu merasakan aura negatif yang keluar dari diri Adam.


"Ada apa ini? siapa dia?" tanya Ratu dalam batinnya.

__ADS_1


"Pergi dari sini atau gw tusuk lu cepat!!" Agam teriak dengan begitu keras.


Ratu langsung terpejam mendengar suara menggelegar itu dengan heran mengapa kakak kelasnya yang selama ini kalem, nurut dan pendiam berubah bak monster yang begitu menyeramkan.


"Kamu siapa? kenapa jadi kasar begini?" tanya Ratu perlahan mengerti untuk menghadapi seseorang yang dia kira kakak kelasnya itu walau masih diselimuti rasa takut terbunuh dalam hatinya.


"Bacot lu udah diam ya, lu ga akan tau dek rasanya niat baik gw di sia-sia kan, di sangka cowok ga bener bahkan sampai di usir dari rumah lu paham hah?!" jawab Agam dengan nada tingginya.


Ratu begitu keheranan siapa sosok yang ada dihadapannya ini, begitu berbanding terbalik 360 derajat dari sikap lembut dan tenang dari sosok Adam.


Perlahan Ratu memberanikan diri mendekati Agam yang kondisinya sudah tak karuan, dengan tangisnya dicampur emosi meluapnya Agam hanya memandangi sosok Ratu yang bahkan dia lupa bahwa dirinya mencintai adik kelasnya itu.


"Kakak ga bisa terus-terusan seperti ini ya?" ucap Ratu dengan tenang sambil melepas pisau yang digenggam erat oleh Agam.


"Banyak yang sayang sama kak Adam, jika kak Adam terluka banyak yang akan merasakan sakit yang kakak rasakan.." lanjut Ratu menenangkan sosok Agam yang masih terbalut rasa dendam pada ibunya sendiri yaitu bu Tini.


Agam menjatuhkan dirinya disofa duduk dengan mengepal kuat tangannya yang sudah penuh luka akibat pelampiasannya ke dinding tadi.


"Kakak harusnya paham mamah kamu marah seperti itu, karena dia sayang sama kamu dia peduli sama kamu." sambung Ratu ikut duduk dan terus menyuntikan pikiran jernih ke otak Adam yang sedang kerasukan sosok Agam.


"Liat lah bukti dari didikan mamah kamu, liat diri kamu sekarang kak, kamu menjadi sosok yang kuat, tangguh bahkan percaya diri, tapi tak perlu sampai harus melukai diri kamu sendiri kak" jelas Ratu yang akhirnya tak kuasa melihat kakak kelasnya terluka dan menetes lah airmatanya mengalir membasahi pipi chubbynya.


"Tapi harus kah sekejam itu rat hah?! mukulin aku sampai harus ngusir aku dari rum..."


Tanpa pikir panjang Ratu langsung memberanikan diri menarik baju Adam hingga bibir nya kini menghentikan ucapan Adam.


Agam seketika dia tak berkutik saat bibirnya kini menempel dengan wanita yang ia cintai sampai saat ini.


Tak beda halnya dengan Ratu, yang dalam hatinya pun begitu berdebar jantungnya merasakan bibir hangat kakak kelasnya itu kini menempel begitu erat dengan bibirnya.


Tentu saja sebagai pria normal, Agam perlahan ******* bibir adik kelasnya itu dengan perlahan, membasahi bibir atas bawah milik Ratu dengan begitu lembut Agam rasakan.


Ratu pun tanpa sadar terbawa suasana gairah panas yang diberikan oleh Agam, Ratu membalas ******* bibir Agam dengan kaku dan begitu canggung.


Akhirnya kini, sosok Agam yang sedari tadi emosi meluap meledak duar..tak karuan, mampu diredam sedalam mungkin oleh Ratu Permata Sari.


Suasana panas itu pun tak cukup sampai disana, Adam terus menciumi bibir tebal nan seksi milik Ratu itu dengan penuh ketenangan dan begitu lembut yang membuat Ratu langsung melingkarkan tangannya ke belakang leher Adam.


Dengan santai Adam mengusap pipi adik kelasnya itu dan memiringkan wajahnya. memainkan lidah bertukar saliva terasa begitu hangat penuh cinta.


Saling memeluk mengusap punggung Ratu, dan merangkul leher Adam basecamp pun terasa milik mereka berdua kala itu.


Setelah beberapa menit mereka melepas first kissnya, Adam pun melepaskan bibirnya dari bibir Ratu dan langsung memeluk erat tubuh adik kelasnya.


"Ehm..maafin aku ya kak..karena kamu nyelamatin aku, kamu sampai di usir sama mamah kamu hm.." ucap Ratu dalam pelukan hangat yang diberikan Adam.


"Engga dek, kakak yang minta maaf karena hadirnya kakak kamu jadi kena omel orang tuamu kan" balas Adam melepas pelukannya dan mengusap matanya.


"Memang ada apa kak? kenapa kamu seperti ini hm? cerita lah ayo" rayu Ratu yang begitu penasaran pada Adam sambil meraih tangan Adam yang terluka dan mencoba membersihkan nya dengan kain dan obat merah yang dia kantongi sedari tadi.


"Kamu janji ya akan bilang siapapun dek?" tanya Adam menatap mata besar Ratu yang begitu indah.


"Ehm..apakah ciuman tadi masih meragukan kepercayaan kakak sama aku?" celetuk Ratu dengan polos.


"Ish..iya iya deh hahaha maaf ya and makasih" canda Adam merangkul adik kelasnya itu dan mengecup pucuk kepala Ratu.


"Gimana ceritanya? ayo aku mau denger nih hehe" sambung Ratu sambil terus fokus membersihkan darah ditangan Adam.


Yang sebenarnya Ratu pun phobia akan darah, namun demi Adam dan sedikit benih cinta dihatinya Ratu memberanikan diri membersihkan luka di tangan pria yang menyelamatkan nya tempo hari lalu.


"Iya sih dek, jadi begini dari dulu kakak memang di didik sama mamah aku penuh dengan..


Bersambung...


Thanks banget buat yang sudah mampir dan yang selalu setia nunggu update novel ini, Jangan lupa juga tinggalkan jejak berupa like, koment dan share ya sebagai dukungan buat aku untuk lebih semangat lagi update novel ini yang berjudul "Introvert Berjiwa Ganda".

__ADS_1


...See you on the next episode......


__ADS_2