
"Neng sini sebentar deh" Panggil bu Tini dari dapur.
Dengan segera Ratu beranjak ke dapur untuk menghampiri ibu mertuanya itu.
"Iya mah kenapa?" Tanya Ratu.
"Jegatin tukang sayur si Jali neng di depan. beliin tahu, cabai sama bumbu dapur lainnya ya" Perintah bu Tini yang bikin Ratu melotot setengah mati.
Dan menimbulkan perdebatan batin seketika.
"Anjir! je.. jegat tukang sayur? gimana caranya aaahhh kan gw belum pernah sama sekali" Ucap batin Ratu ngedumel.
"Hust kalau lu nolak malu njir, harga diri kita mau di taruh mana kalau beli sayuran aja kita nolak" Ratna dengan sigap menemani kebimbangan saudaranya.
"Ya ta.. tapi kan lu tau wey gw seumur-umur belum pernah belanja di tukang sayur keliling. paling mentok di pasar, itu pun sama momy" Ucap batin Ratu kembali.
"Yaudah iyahin aja dulu, selebihnya nanti gw bantu" Ucap Ratna pada kembarannya.
"Iya mah siap, biasa lewat jam segini ya dia?" Ucap Ratu mencoba bersikap semestinya.
"Iya gih cepat tunggu di luar" Sambung bu Tini.
"Oke mah" Ratu langsung bergegas keluar.
Saat sudah mau membuka pintu namun dengan segera ia kembali menutupnya karena lupa bahwa dirinya masih mengenakan tanktop dan celana strecth.
Akhirnya Ratu masuk ke kamar dan men'double pakaiannya dengan celana pendek selutut dan kaos yang agak longgar. mau bagaimana pun juga Ratu selalu ingat pesan suami nya yang dari dulu sampai sekarang masih di cerewetin tentang berpakaian.
Bahwa mau apapun alasannya, Ratu harus tetap berpakaian sopan saat keluar rumah sekali pun hanya ke teras.
Duduk di teras sambil menguncir rambut, Ratu sudah seperti mamah muda yang menunggu tukang sayur di depan rumah.
"Eh Rat lagi ngapain?" Tanya pak Anwar yang keluar membawa kandang burung.
"Ini nunggu tukang sayur pah hehe papah mau ngapain?" Tanya Ratu basa basi pada bapak mertuanya.
"Ini ngejemur burung mumpung masih pagi" Sahut pak Anwar yang melanjutkan langkahnya ke samping rumah.
"Oke pak, hm gini ya rasanya jadi seorang istri. pagi-pagi harus stay nunggu tukang sayur hehe" Ucap Ratu dengan nada pelan sambil menghirup udara segar.
Tak lama dari itu, suara klakson yang tidak nyaring ala-ala tukang sayur pun memecahkan keheningan dikepala Ratu.
"Saaaa yuuuuraaa!" Teriak tukang sayur yang berhenti tepat di depan rumah Adam.
Hanya dalam hitungan detik, para ibu-ibu serta mamah muda tetangganya bu Tini pun mulai menggerubungi dagangan tukang sayur.
"Bang ini berapaan?"
"Sabaraha ieu(berapa ini)?"
"Lauk asin aya mang(ikan asin ada bang)?"
"Sabaraha ieu bonteng(berapaan ini mentimun)?"
Bahkan tukang sayur pun kewalahan melayani ibu-ibu yang berbelanja di pagi itu.
"Satu-satu atuh bu sabar ya waduh haha" Jawab si tukang sayur dan mulai membungkus sayuran yang mereka beli.
Dan Ratu pun ikut menghampiri gerobak sayur yang berhenti di depan rumah suaminya.
Mulai memilih sayuran yang akan di belinya seperti cabai, bawang, tomat, dan sayur kol serta cesim.
"Berapa bang semua?" Ucap Ratu.
"20 ribu neng dah harga pas deh hehe" Ucap si Jali.
__ADS_1
Saat ingin membayar, bu Tini keluar rumah sambil berteriak menawar belanjaan menantunya.
"15 Jali ah, apa apaan lu pakai 20 segala hih" Gertak bu Tini.
"Gak dapat bu itu kol nya masih segar-segar tuh kaya si eneng nya hehe" Ucap Jali sambil melirik Ratu.
"Gak ah, udah kasih 15 ribu aja neng" Perintah bu Tini.
"Ya.. yaudah bang nih uang nya, makasih ya" Ratu memberikan uang 15 ribu pada Jali dan langsung mengambil belanjaannya.
"Huft.. dasar si ibu mah lah" Keluh Jali dengan sabar.
"Itu menantu nya ceu Tini?" Tanya salah satu tetangga yang bernama bu Rere.
"Iya hehe baru kemarin ke sini" Sahut bu Tini.
"Cantik ya ceu hehe" Sambung bu Rere.
Bu Tini hanya tersenyum mendengar pujian tetangganya itu.
Singkat cerita, beberapa saat kemudian nampak Ratu sedang membersihkan dan mengiris sayuran di dapur sendiri.
Adam yang masih bermuka bantal pun tengak tengok mencari keberadaan istrinya.
"Ay? dimana kamu?" Ucap Adam.
"Di dapur dek, lagi mau masak katanya" Sahut teh Wina yang sedang di kamar dengan bang Sam.
Perlahan Adam beranjak ke dapur menghampiri istrinya. memeluk mesra tubuh Ratu dari belakang dan mencium pipi tembem Ratu dari belakang.
"Masak apa sayang?" Bisik Ratu.
"Hm.. oseng sayur sama telur aja ay hehe" Jawab Ratu sambil terus mengiris kol.
"Hilih sikat gigi dulu sana ih" Ledek Ratu sambil tersenyum kecil.
"Ish.. lama" Dengan sigap Adam membalikkan tubuh Ratu dan menyambar bibir mungilnya.
"Ehem ayang" Ucap Ratu sesaat sebelum bibirnya menempel dengan bibir Adam.
Tanpa penolakan Ratu menerima cumbuan panas dari Adam.
"Ah.. muach sayang udah ah hehe ada teteh sama abang nanti ke dapur loh" Keluh Ratu yang melepas ciumannya.
"Ehm yaudah malam nanti lanjut ya haha" Celetuk Adam.
"Mandi dulu sana ah" Gerutu Ratu.
Akhirnya Adam mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Dan Ratu tentu saja melanjutkan aktraksi nya di dapur dengan membuat telur dadar isi sayuran.
"Wih harum hehe mantap nih" Ucap Ratu sambil mengangkat telur dadarnya dari penggorengan ke wadah.
Tak lama dari itu, bu Tini masuk ke dapur dan menyodorkan ikan bawal mentah se'plastik kecil.
"Neng tolong gorengin ya buat bapak. udah mamah cuci kok tadi di depan, tinggal kamu rendam bumbu lalu goreng. mamah mau lanjut jemur baju dulu" Ucap bu Tini yang langsung melanjutkan kegiatannya.
"Aduh mati deh gw say di suruh goreng ikan basah" Ratu melotot menatap ikan itu dan berbicara dalam hati.
"Wah kalau ini gw juga agak ragu Rat hehe, kan lu tau gw tomboy dan berani. tapi kalau urusan dapur gw gak janji bisa bantu deh hehe" Balas Ratna yang tak percaya diri juga.
"Bismillah aja lah" Sahut Ratu dan melangkah ke kulkas untuk mengambil bumbu ikan goreng.
Ia tuang ke wadah dan di beri air matang 3 gelas dan merendam ikan yang tadi bu Tini sodorkan.
__ADS_1
"Jujur gw takut loh Rat ehm.." Ratu nampak takut sekali untuk menggoreng ikannya.
Bukan tanpa alasan, dulu nya Ratu pernah ke cipratan minyak sampai tangan mya melepuh. itu lah alasannya ia trauma dengan percikan minyak saat menggoreng masakan yang menimbulkan percikan dan salah satunya adalah ikan basah.
Dua puluh menit Ratu melamun di dapur memandangi ikan bawal yang sudah tidak bergerak itu, hingga lamunan nya di ganggu oleh kedatangan bu Tini yang langsung menyindir perasaan Ratu.
"Aduh si eneng mah ikan doang masa gak berani neng, gimana masakin anak mamah nanti kalau udah misah huft." Gerutu bu Tini.
Seketika mental Ratu pun langsung goyang karena ucapan ibu mertuanya.
"Iya mah maaf" Ucap Ratu sambil nunduk.
"Sini mamah ajarin" Sambung bu Tini sambil menyontohkan lagi, lagi dan lagi.
Bahkan sampai memaksa Ratu harus berani menggoreng ikan basah itu walau minyak mulai mematuk lengan putih bersihnya.
"Aw.. ah.. aduh" Dengan sigap Ratu langsung menutupnya dengan tutup panci untuk menghalangi minyak panas yang bercipratan.
"Dah bisa? ngerti kan sekarang? ngerti dong masa engga hehe" Ucap bu Tini sambil tersenyum menatap mata Ratu.
"I.. iya mah hehe makasih ya" Ratu pun kembali tersenyum melihat ibu mertua nya yang kembali bersikap manis.
Ya walau Ratu tak memperdulikan tangannya yang terkena cipratan minyak sesekali.
"Bagi seorang istri, dapur itu singgahsana kedua setelah kamar neng. jadi Ratu harus bisa menguasai dapur, jangan hanya di kasur aja hehe." Ucap bu Tini sambil membolak balikkan ikan yang hampir matang.
"Menggoreng, bebersih semua kita harus bisa Rat, dulu mamah di ajarin sama nenek nya si Adam begitu" Sambung nasehat bu Tini.
Sambil mendengarkan nasehat bu Tini, di situ Ratu baru lah membuka wawasan nya lebih jauh lagi tentang arti seorang istri yang sesungguhnya.
Menyadari dan mengakui bahwa memang apa yang bu Tini beritahu semua benar nyatanya. yang selama ini Ratu sering di layani oleh bu Nisa, sarapan di buat kan oleh Nisa. bahkan dapur pun tak pernah Ratu sentuh untuk belajar masak karena memang kedua orang tuanya sibuk bekerja.
Tapi dengan adanya bu Tini, semua jiwa dan raga kewanitaan Ratu harus ia dongkrak demi menjadi istri yang sempurna lahir batinnya bagi sang suami.
Ratu melanjutkan tugas nya bebersih rumah hampir seharian, semua yang biasa bu Tini lakukan kini di ambil alih oleh Ratu dengan pantauan bu Nisa.
Tak segan gertakan dan omelan Ratu terima hanya karena kesalahan yang bagi nya sepele, tapi bagi bu Tini adalah kesalahan besar.
Ratu mencoba sabar dan tetap tersenyum walau batin dan fisik nya kena mental yang mendalam akibat ucapan tajam dari ibu mertua.
Hampir seharian dirinya tak menemani Adam sama sekali, ia sibuk membersihkan rumah dengan bu Tini.
Sampai akhirnya malam pun tiba, sehabis menjalankan 4 raka'at bersama Adam tubuh Ratu panas dingin akibat kecapean.
Bahkan badan nya tiba-tiba bentol atau biasa di sebut biduran yaitu alergi terhadap cuaca dingin yang memang di luar sedang berhawa dingin menandakan akan turun hujan tengah malam nanti.
Dengan tenang dan penuh perhatian Adam membuatkan Ratu segelas susu coklat hangat untuk mengantarkan istrinya ke alam mimpi yang indah.
"Cepat abisin lalu tidur ya?" Ucap Adam uang menyodorkan segelas susu.
"Makasih my King hehe" Sahut Ratu dan meneguk habis susu hangat itu.
Setelah cukup kenyang ia merebahkan tubuhnya di dekapan Adam.
Menyenderkan kepala nya di lengan kanan Adam yang terbentang walau tangan kiri suaminya sedang sibuk mengusapi perutnya agar tenang.
"Gimana? nyaman?" Tanya Adam sambil terus mengusap dan menjamah dengan lembut perut istrinya.
Ratu menggangguk sampai tak sadar beberapa saat kemudian ia langsung tertidur karena kelelahan dan nyaman dengan perlakuan manis Adam malam itu.
Bersambung...
Thanks banget buat yang sudah mampir dan yang selalu setia nunggu update novel ini, Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, koment dan vote ya sebagai dukungan buat aku untuk lebih semangat lagi update novel ini yang berjudul "Introvert Berjiwa Ganda 'Setelah Nikah'".
...🤵🏻👰🏻Sampai Jumpa di Episode Selanjutnya...🎉👏...
__ADS_1