Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 99 - Tak Terduga


__ADS_3

Keesokan harinya Bima masih berada di rumah sakit. Bukan hanya karena masih perlu perawatan, tapi dia juga memikirkan Yudha yang mengatakan akan datang. Bima begitu memahami saudaranya, mana mungkin Yudha berani menginjakkan kaki di kediaman keluarga Lengkara.


Setelah semalaman hanya Lengkara seorang yang menemani, pagi ini ibunya datang ke rumah sakit. Bima hanya alergi, tapi yang menjenguknya pagi itu begitu banyak, sungguh berbanding terbalik dengan apa yang dia rasakan ketika kecil.


Dulu, jangankan dijenguk. Dibawa ke rumah sakit saja tidak, Gilsa membuat Bima merasakan semua kepedihan itu kian nyata. Bima kecil yang dahulu kerap sakit-sakitan, terbiasa mengurus diri sendiri dan sembuh juga karena sakitnya yang bosan bersemayam dalam tubuh Bima.


Kini, Tuhan seakan membalikkan keadaan dan untuk kali pertama Bima merasakan disuapi oleh sang ibu. Jangan tanya bagaimana perasaannya, jelas saja bahagia sekali.


Mendadak dia seakan tidak bisa segalanya, padahal bukan sakit parah. Lengkara hanya menyaksikan, dia paham apa yang diinginkan sang suami. Tentu saja dia meminta hal itu setelah mertuanya berlalu, mana mungkin Bima berani bersikap manja di depan mereka.


"Kalau sudah tahu alergi jangan dimakan, jangan dibiasakan, Nak."


Sudah berbusa bibir Lengkara mengatakan hal itu, dan kini semakin dipertegas oleh sang ibu dan Bima sudah tentu hanya iya-iya saja. Dia suka diperhatikan, tidak masalah jika harus diomeli karena memang Bima haus akan hal itu.


"Mas Bima budeg, Bu ... masuk kuping kanan keluar kuping kiri," timpal Lengkara yang sejak tadi fokus memotong kuku kaki sang suami.


Sudah seperti seorang raja, Bima mendapat perlakuan istimewa dari ibunda ratu dan permaisurinya. Jika selalu seperti ini, mungkin Bima rela sakit-sakitan seperti kecil dahulu.


"Jadi bukan pertama kali, Ra?"


"Bukan, Bu, dulu lebih parah ... aku hampir jadi janda karena daging sapi," ucap Lengkara sekenanya hingga Bima tersedak, enteng sekali dia bicara.

__ADS_1


"Kara mulutmu," desis Bima menatapnya tajam, sudah tentu hal itu tidak akan mempan.


"Lengkara ada-ada saja, tapi pada akhirnya jadi janda juga, 'kan?" Gelak tawa Bu Seruni mulai terdengar, mereka sudah dekat sejak dahulu jadi candaan semacam itu tidak akan saling menyakiti.


"Hahaha iya, anak ibu tuh seenaknya ... mau malam pertama malah dia_" Seperti biasa, otak Lengkara kadang kurang berguna hingga Bima mengangkat kakinya demi menekan paha Lengkara.


"Eheem, Bu aaaa."


Bima segera mengalihkan perhatian sang ibu, segera dia membuka mulut dengan harapan ibunya tidak mendengar ucapan Lengkara yang terputus. Benar kata Kak Zean, salah-satu yang perlu diwaspai di dunia ini selain mulut Yudha, adalah mulut Lengkara.


"Malam pertama apa?"


Bu Seruni tidak lagi banyak bicara, dia tersenyum simpul seraya menggeleng pelan. Agaknya Bima malu mengakui, dan dia berharap ucapan Lengkara adalah sesuatu yang manis-manis saja.


Sembari menikmati sarapannya, Bima kembali beralih menatap sang istri yang kini mencebikkan bibir. Mungkin sebal lantaran Bima membuatnya bungkam tanpa aba-aba seperti itu, mereka terlihat diam, tapi mata keduanya seolah tengah berperang hebat.


Namun, tatapan itu tidak berlangsung lama karena kini justru beralih pada seseorang yang muncul di balik pintu. Tidak seperti biasa bertemu Yudha, pagi ini dia sedikit berbeda dan senyum itu seolah pudar seketika kala Bima menyadari Yudha tidak sendiri, melainkan bersama papanya.


Tidak hanya Bima yang terkejut, tapi ibunya juga. Bu Seruni sontak memalingkan wajah ketika mendengar langkah kedua pria itu. Beberapa waktu tidak bertemu Yudha, tanpa izin dia membawa Papa Atma ke hadapan Bima sekaligus Bu Seruni.


Suasana mendadak berbeda, Bima tidak segera menyapa papanya sementara Lengkara sudah berdiri dan mencium punggung tangan sang mertua. Meski sempat mendapat penolakan, Lengkara masih berusaha untuk bersikap sopan sebagaimana didikan orang tuanya.

__ADS_1


Sedikit berbeda, Papa Atma tidak menolak uluran tangan Lengkara. Entah hanya karena berusaha menarik simpati Bima, atau memang hatinya yang ingin melakukan hal itu.


Mendadak secanggung itu, Yudha tidak menduga jika sang ibu juga ada di sana, seketika lidahnya seolah kaku. Dia bingung, sadar betul jika salah-satu di antara mereka ada yang merasa tidak nyaman, segera dia berusaha menghidupkan suasana semampunya.


"Kau baik-baik saja? Zean menelponku semalam, maaf aku tidak bisa datang cepat, Bim," ucap Yudha menatapnya lekat, mata Bima benar-benar marah dan Yudha bisa mengetahui hal itu.


"Hm, tidak masalah ... seharusnya kau tidak perlu datang, Yudha."


"Mana bisa, Zean mengatakan kau sangat parah."


Bima memang menginginkan kehadiran Yudha, tapi untuk papanya tidak. Bima menatap sang ibu yang kini hanya bungkam, terlihat seolah menghindar dan dia gugup sekali.


"Sudah biasa, ini tidak parah sama sekali ... Kak Zean berlebihan, dulu aku bahkan pernah demam tinggi hingga pingsan tapi tidak pernah sampai masuk rumah sakit, iya, 'kan, Pa?"


Tepat sasaran, Bima berucap santai dan berhasil membuat Papa Atma terdiam. Bima yang terbiasa diam, kini bahkan berani mengulitinya hidup-hidup. Wajah Papa Atma memanas, dia malu dan merasa gagal menjadi sosok ayah yang baik di hadapan Seruni, terlebih lagi dahulu dia sempat berjanji akan menjaga Bima sebaik mungkin sebelum rumah tangga mereka benar-benar berakhir.


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2