Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 156 - Beruntung


__ADS_3

Menggunjingkan seseorang di belakang mungkin sudah biasa. Namun, lain halnya dengan pasangan suami istri yang satu ini. Secara Terang-terangan keduanya membicarakan seseorang di depan hingga berakhir menjadi tukang pijat dadakan karena masih berharap umur panjang.


"Enak, Pa?"


"Kuatkan sedikit, Bim, pakai tenagamu," jawab pria yang sudah kenyang merasakan pahit manisnya kehidupan itu. Meski dia bisa saja marah besar akibat ulah putri dan menantunya, tapi Papa Mikhail memilih untuk tidak memperpanjang masalah.


Papa Mikhail sudah terbiasa menerima hal semacam itu, sejak dia muda hingga setua ini masih menjadi bahan ghibah dengan berbagai topik setiap harinya. Cassanova, playboy, licik, tidak berhati, mau menang sendiri, pelit, perhitungan, tidak mau rugi dan pembohong besar hingga ketika Zean dewasa tercetus kalimat terlalu percaya pada papa sama halnya dengan musyrik.


Biarlah, Papa Mikhail sadar diri memang tidak ada yang salah. Sejak awal memang dia mendapatkan sang istri juga karena akal bulus yang membohongi gadis polos itu dengan mudah. Jadi wajar saja ketika dia tua hal-hal itu melekat dan tidak bisa Papa Mikhail lepaskan karena sudah terlalu menyatu dalam dirinya.


"Papa kenapa tidak bilang kalau datang? Kan Kara bisa jemput dulu." Lengkara yang tadinya marah besar pada Mikhail perkara Mochi durian, kini mendadak luluh dan bersikap sok manis.


Khawatir pegal jika memijat punggung sang papa, dia melakukan cara lain, yakni merawat kuku pria itu. Meski tahu sudah bersih dan baru saja dipotong kemarin, Lengkara tetap melakukannya karena khawatir diminta melakukan hal-hal yang lebih berat lagi.


"Sengaja, papa seperti mendapat panggilan alam ... ternyata benar sedang kalian bicarakan. Ah, sampai akhir papa memang tidak akan tergantikan." Lihatlah, betapa dia sesumbar di hadapan anaknya. Padahal, Lengkara dan Bima sama sekali tidak membahas prestasi, melainkan keburukannya.


"Benar, papa memang keren." Lengkara mengakui hal itu, bukan karena karena takut Papa Mikhail olesi balsem, tapi memang nyata papanya keren.


"Tentu, jika papa tidak keren mamamu tidak akan luluh semudah itu," ungkap Papa Mikhail sebegitu bangganya, sementara Lengkara kini melirik Bima yang hanya tersenyum tipis seraya memijat punggung lebar sang mertua.


Sudah lebih dari tiga puluh menit, tapi Bima menguatkan diri dan tidak memperlihatkan jika dia lelah sebenarnya. Hukuman ini lebih baik, bahkan sangat ringan dibanding yang dia bayangkan.


Sungguh, andai saja diminta kembali menanam kacang dan memanem telur ayam Bima mana sanggup. Bima tidak masalah andai papanya minta diperlakukan bak raja beberapa hari kedepan, asal hukumannya jangan berkebun, itu saja.


"Ehem, iya sih keren. Tapi anehnya kenapa mama dulu bilang jangan sampai Kara punya suami kayak papa?" tanya Lengkara seenteng itu hingga membuat mata sang papa perlahan terbuka.


"Karena papa terlalu buruk untuk jadi pasangan ... jangankan mama, tapi papa juga berharap begitu. Dulu saja sewaktu Mikhayla dinikahi Evan, papa seperti mau gila padahal Evan tidak sesinting papa. Untung saja kamu mendapatkan Bima, jadi papa tidak jantungan," papar Papa Mikhail yang seketika membuat Bima tersenyum simpul. Walau tidak begitu jelas apa makna sebenarnya, tapi hati kecil Bima seolah merasa sang mertua begitu menghargai kehadirannya.


"Ah jadi mas Bima menantu idaman Papa dong?"

__ADS_1


"Semuanya idaman, tidak ada perbedaan ... kasih sayang papa bagi rata, tapi harta warisan sesuai ketentuan jadi tidak sama rata ya."


Baru juga terharu, Bima kini kembali menahan tawa susah payah mendengar ucapan mertuanya. Benar kata Lengkara, jika ingin merasakan jadi orang kaya, dekati Papa Mikhail karena setiap hari yang dia bicarakan tidak jauh-jauh dari harta.


.


.


Cukup lama Papa Mikhail menghabiskan waktu di kediaman putrinya. Niat hati hanya untuk bertemu karena tidak kuasa menahan rindu, nyatanya bertahan hingga berjam-jam dan Mama Zia terpaksa menyusul.


Telanjur basah, wanita itu memilih mandi sekalian. Kebetulan malam ini pesta ulang tahun cucunya, mereka pergi bersama hingga membuat Lengkara dituduh menjadi anak emas oleh saudaranya ketika tiba di kediaman Zean.


"Ngerayu papa pakai cara apa sampai tidak mau pulang, Ra?" tanya Kak Zean setelah acara tiup lilin Hudzai berakhir.


Zean yang telah meminta mama dan papanya datang sejak siang mendadak merasa dianak tirikan. Padahal, Hudzai yang seharusnya cemburu justru biasa saja dan sudah berada dalam pelukan Mama Zia.


"Pakai bolu bakar, kakak banyak tanya deh," celetuk Lengkara di sela-sela menikmati puding susu kesukaannya.


"Zean diam, papa tonjok mau?"


Padahal Lengkara duduk di sisi suaminya, tapi yang menjadi pembela utama adalah Papa Mikhail dan dia sangat sigap bahkan menyela ucapan Zean.


"Lihat, Bim, padahal aku serius," tutur Zean pada adik iparnya, sesaat kemudian kembali beralih pada Lengkara dan kali ini dia tidak sedang cari perkara "Jangan yang manis-manis, Ra, kakak begini karena sayang."


Mendengar ucapan Zean, Lengkara sontak patuh dan menyerahkan puding itu pada Bima. Lebih lucunya, Bima bersedia saja menampung apapun yang Kara berikan meski sejak perutnya sudah kenyang.


"Assalamualaikum!!" Suara itu mengalihkan pandangan semua yang ada di sana. Ipar kebanggaan Bima kini hadir hingga mereka berdiri menyambut pria dengan senyum teduh dan mata tajam itu segera.


"Waalaikummussalam, kiyai satu ini lama sekali ... kau dari Mesir apa bagaimana? Acaranya sudah selesai!"

__ADS_1


"Haha sialan, kebetulan aku ke sini naik unta puas kau?" Jika dahulu dia marah, kini ucapan Zean hanya dianggap sebagai doa.


"Zalina mana?"


"Umi masuk rumah sakit tadi sore, jadi terpaksa aku sendiri ... Ameera dimana?"


"Ada di dalam sama Syila."


Seketika pemilik senyum indah yang sejak tadi berharap pelukan kakaknya mendadak kecewa lantaran tidak dianggap. Padahal, sejak tadi sudah memasang senyum paling manis, tapi anehnya tidak terlihat di mata Sean.


Hingga, Zean menginjak kaki Sean demi menyadarkan pria itu jika ada yang meminta perhatian darinya. Dia yang awalnya bingung, seketika terbahak kala melihat Lengkara yang sudah menatap langit seolah tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.


"Aih pakai ngambek, kalau kangen sini peluk, jangan pakai drama begitu ... aktingmu belum sempurna," goda Sean yang benar-benar berhasil membuat sang adik luluh seketika.


"Nah, gini kan enak, tumben tidak lama marahnya," goda Sean lagi dan sama sekali tidak membuat Lengkara cari gara-gara.


"Dia sekarang gampangan, Se, tidak seperti dulu yang marahnya lama sampai kita harus berlutut dulu."


"Oh iya? Karena siapa?"


"Suaminya lah, entah Bima pakai pelet apa sampai dia jadi begitu," tutur Zean yang kini berhasil membuat Bima memerah, tidak hanya satu orang yang mengatakan Lengkara jauh berbeda semenjak menikah dengannya, tapi rata-rata yang mengenal Lengkara.


"Hadiah suami soleh, kau pantas mendapatkan dia dengan versi terbaik, Bim," ujar Sean seketika membuat Bima berdesir.


Bima tersenyum hangat, tebakan Sean tidak salah karena benar dia menempatkan Lengkara di atas dirinya dalam doa. "Mungkin lebih tepatnya beruntung, jika bicara pantas, mungkin tidak juga ... Lengkara bahkan berhak mendapat yang lebih baik, tapi dia memilihku kala itu."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2