
"Bima!! Lengkara!! Ada apa, Nak?!!"
Gleg
Sebelumnya Lengkara sudah malu sendiri, kini terdengar suara sang mertua yang semakin membuat Lengkara malu sendiri dan berniat menenggelamkan diri ke dasar bumi.
Dia mengatupkan bibir, sementara Bima terdiam dan menatap ke pintu kamar. Tubuh keduanya belum terlepas, bahkan mungkin tidak ada niat untuk melepaskan diri sebelum benar-benar tuntas. Ya, begitulah prinsip hidup Bima yang dia ketahui selama ini.
"Bim?!"
"I-iyaa, Bu sebentar!!"
Panggilan kedua membuat hati Bima tergerak untuk memberikan penjelasan agar sang ibu tidak lagi khawatir. Sedikit gugup, Bima beranjak dan memakai celananya asal sebelum kemudian membuka pintu, sementara Lengkara jelas saja mencari posisi aman lantaran khawatir mertuanya justru memastikan keadaan kamar.
"Ibu dengar Kara teriak, kenapa, Bim?"
"Oh tadi mimpi buruk, Bu, kebetulan petir juga jadi dia takut," jawab Bima asal dan sedikit gugup, dia memandangi sang istri yang berdiri tidak di sudut kamar.
"Terus tadi ada yang bunyi apa? Jatoh dari ranjang atau kenapa?"
"Iy-iya, Bu, aku yang jatuh karena terkejut dia teriak," jawab Bima meyakinkan sang ibu, bersyukur sekali dia dilahirkan wanita yang begitu percaya segala ucapannya.
"Syukurlah, ibu pikir Kara yang jatuh."
Lengkara yang mendengar sontak memerah akibat susah payah menahan tawa, sementara Bima justru mencebik usai mendengar ucapan ibunya. Bagaimana tidak, dengan jelas Bima mendengar ibunya bersyukur karena bukan Lengkara yang jatuh, melainkan dirinya.
"Ibu tidur lagi ya, jendela jangan lupa dikunci nanti ... kamu kebiasaan lupa, nanti Lengkara masuk angin."
Setelah mendengar ibunya pamit, baru Bima dan Lengkara bisa bernapas lega. Keduanya saling menatap, sudah tentu Bima kembali melayangkan tatapan penuh damba dan menghimpit tubuh sang istri yang kini pasrah kala punggungnya membentur tembok.
Seolah lupa bencana baru saja menimpa mereka, Bima kembali beraksi dengan tangan nakalnya yang kini menyentuh bagian sensitif sang istri. Tidak seperti awal memulai, Lengkara seolah tidak memiliki kekuatan karena memang sudah lemas bercampur panik.
"Mas sudah."
"Sudah apanya? Belum lah," protes Bima tak terima, kehadiran sang ibu menghambat jalannya dan agak sedikit menyebalkan jujur saja.
__ADS_1
"Hah? Tadi belum?"
Sungguh, Lengkara mengira sudah selesai dan Bima tidak lagi bernaffsu untuk melanjutkannya. Namun, dugaan itu salah besar karena kini sang suami kembali menuntut untuk memulai lagi.
"Belum, sedikit lagi mana bisa aku berhenti."
"Ranjangnya begitu, gimana lanjutnya," desis Lengkara menatap tempat tidur yang kini cacat, lucu saja jika lanjut bercinta.
"Bisa, kenapa pikiranmu sempit sekali."
Bima menghela napas kasar kemudian melepaskan Lengkara sejenak, dia berlalu diikuti sang istri yang mengekor di belakangnya. Ranjang patah bukan masalah, kasurnya masih bisa dipindah dan lantai kamar mereka sangatlah cukup, Lengkara saja yang berpikir sempit.
"Selesai, kemari."
Sejak mendapat pelajaran untuk bersikap egois, Bima benar-benar menerapkannya dalam segala aspek kehidupan hingga tanpa peduli sama sekali dia menarik sang istri untuk kembali dalam kungkungannya.
"Kenapa lagi, Ra?" tanya Bima agak sedikit kesal lantaran Lengkara menolak kala dia hendak mengecup bibirnya.
"Pinggangku agak pegal, jantungku seakan berhenti berdetak dan lututku terasa lemas ... aku takut, Mas, kenapa kamu biasa saja?" tanya Lengkara masih dengan jantung yang berdetak tak karu-karuan.
Lengkara menggeleng pelan, usai dia mengutarakan kalimat puitis itu ternyata tidak menggetarkan hati Bima sama sekali. Bisa-bisanya dia terlihat biasa saja, padahal petir menggelegar dan ranjang patah secara bersamaan itu sudah Lengkara anggap sebagai bencana.
"Yang kita alami sekarang bisa jadi teguran dewa petir, dan kamu masih bisa santai begini?"
"Dewa petir apalagi?" Bima mengerutkan dahi, sama sekali tidak dia duga jika imajinasi Lengkara di luar nalarnya.
"Ya Dewa petir yang ada di kartun itu, Mas!!"
"Di kartun?" Bima mengerjap pelan, dia pikir istrinya mengetahui hal itu dari mana, ternyata justru dari serial kartun.
"He-em, tuh petirnya makin ged_eeeeh!!"
Benar-benar egois, entah sejak kapan Bima mengambil ancang-ancang, tapi yang jelas saat ini Lengkara kembali menganga kala miliknya terasa sesak usai Bima menghujamnya dalam sekali hentak.
Persetan dengan dewa petir, Bima tidak peduli sama sekali. Mana bisa dia berhenti hanya karena ketakutan Lengkara pada sebuah karakter kartun. Cukup mudah bagi Bima untuk kembali membuat Lengkara terbuai dengan sentuhannya, meski sempat menolak dan menahan pergerakan Bima, kini dia sendiri dibuat memekik bersamaan dengan Bima yang ambruk di atas tubuhnya.
__ADS_1
.
.
Keesokan hari, Lengkara meminta Bima bangun lebih awal demi bertindak cepat terkait ranjang yang ambruk akibat ulahnya tadi malam. Sengaja dia lakukan lantaran khawatir ketahuan pihak lain, tapi sayangnya Bima seakan santai saja hingga matahari meninggi dia juga belum tergerak untuk memperbaiki ranjang itu.
"Mas, buruan benerin," pinta Lengkara mengekor dan berharap pintu hati Bima agak terketuk sedikit.
"Benerin apa? Kan kita masih bisa tidur, Sayang," jawabnya santai seolah tanpa beban, tidakkah dia sadari jika istrinya tampak resah dan gelisah dengan reaksi yang dia berikan.
"Sampai kapan? Masa selamanya pincang begitu ... kalau ibu lihat, 'kan malu."
"Biarkan saja, itu bukti kalau rumah tangga kita harmonis," tutur Bima kembali menyiram bunga yang dia tanam dua tahun lalu di sekitar rumah ibunya.
"Romantis apanya sih, Mas, persis dimasukin maling begitu."
"Bisa beli lagi, besok Mas ganti lagi pula itu kualitasnya kurang bagus jadi patah," ucap Bima membela diri, padahal dia yang tidak bisa andai diminta perbaiki.
"Rugi, Mas ... itu masih bisa dibenerin, uangnya mending buat beli yang lain saja."
"Ranjang berapa sih harganya? Tidak sampai 1M, Ra, duit Yudha banyak ini," ucapnya santai sekali dan sama sekali tidak terbantahkan.
"Perbaiki!!"
"Huft, tidak ada alatnya."
"Aku yang akan pinjam, mustahil di rumah tetangga kita tidak ada palu," ucapnya semakin membuat Bima resah, bisa ketahuan jika dia tidak bisa segalanya di hadapan Lengkara.
"Aduh, Sayang tadi aku sudah cek sepertinya tidak dibisa diperbaiki lagi."
"Apa yang tidak bisa diperbaiki, Bim?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -