
"Juna yang menunggu, aku tidak," sahut Raja menepis tangan Yudha yang mengacak rambutnya.
"Ah benarkah? Kau merindukan kakakmu, Arjuna?"
Yudha beralih pada Arjuna, duduk di antara mereka berdua dan tepat di hadapan Lengkara. Entah pura-pura atau memang sengaja Yudha seolah tidak mengenal Lengkara, yang jelas saat ini dia sedang berusaha untuk terlihat asing.
"Tentu saja, Yudha ... Arjuna sangat-sangat merindukanmu dan ingin melayangkan busur panah tepat di dadamu karena lembur setiap waktu."
Yudha tergelak, hal itu tidak lepas dari perhatian Bima dan juga Lengkara. Ternyata dia baik-baik saja, bahkan tidak terlihat canggung meski Lengkara berada tepat di hadapannya.
"Ah sakit."
"Yudha!! Cepat makan sana ... kau ini sudah dewasa masih saja."
Sejak tadi dia menjadi pusat perhatian, anehnya justru terlihat santai saja seolah yang duduk bersamanya adalah tumpukan jerami. Usai ditegur bukannya minta maaf dia hanya mengulas senyum pada papanya, beruntung saja tidak ada drama garpu mendarat di wajah Yudha.
Sadar jika Yudha pura-pura tidak mengenalnya, Lengkara juga melakukan hal yang sama. Bukankah dia pandai bersandiwara juga? Cih, jika hanya pura-pura tidak kenal dia jelas saja mampu.
Kenapa dia harus segugup ini? Bukankah melawan Irham saja dia mampu? Yang benar saja, dia harus ciut hanya karena diperlakukan tidak baik oleh keluarga suaminya, terkhusus pada sosok mertua yang kerap muncul di sinetron kesukaan papanya.
Lengkara yang tadi hanya menunduk kini memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Kata orang, jika masih cinta maka tidak memiliki keberanian untuk menatap matanya. Sekarang, Lengkara akan membuktikan mitos itu dengan cara menatap ke arah Yudha.
Namun, sialnya pria itu justru mengalihkan pandangan dan menatap ke arah lain. Sengaja menghindar sepertinya, padahal Lengkara tidak sebegitu lekat menatap ke arah Yudha.
"Sayang," panggil wanita cantik yang sama sekali tidak tertebak itu, dia menepuk bahu Lengkara seolah menyadarka menantunya.
"Ehm, iya, Ma."
__ADS_1
"Ambilkan suamimu ... Mama tadi sudah minta bibi masak makanan kesukaan Bima, biasanya suamimu malas makan di rumah."
Setelah sempat dibuat bingung dengan sikap mama mertuanya yang tidak banyak bicara ketika bertemu, malam ini Lengkara semakin bingung lagi. Apa dia salah menerka, atau tengah pura-pura baik di hadapannya. Akan tetapi, jika benar hanya pura-pura baik lantas untuk siapa? Sungguh aneh sekali keluarga ini.
"Betul, Kak ... Kak Bima memang malas pulang, dia tidak betah karena kamarnya kuambil."
"Bagus kalau sadar," sahut Bima ketus dan melemparkan tatapan tajam ke arah Raja.
"Kak Bima memang kurang asik," tutur Raja sembari memilih sendok yang dirasa pas masuk ke dalam mulutnya.
"Raja ...." Bima menghela napas panjang, dia pikir setelah apa yang mereka alami Raja akan berubah.
"Dia emosian juga," tambah Raja semakin menjadi, sementara Lengkara yang tadi kikuk perlahan sedikit lebih santai.
"Kau bisa diam, Raja?"
"Becanda, Pa, serius banget hidupnya."
Makan malam pertama yang Lengkara lalui ternyata tidak sekaku yang dia kira. Persetan dengan Yudha yang seakan mengabaikannya, begitu juga dengan papa Atma yang seakan enggan menatap Lengkara sebagai menantu. Setidaknya, salah-satu dari mereka bisa memanusiakan manusia saja sudah cukup.
Meski tidak bisa bersikap semanis biasanya, Lengkara tetap melakukan tugasnya sebagai istri. Mengambilkan nasi dan lauk pauk seperti yang selalu dia lakukan sejak menjadi istri Bima, bahkan di pernikahan pertama.
Sama sekali tidak ada niatan membuat Yudha cemburu, tapi percayalah saat ini Yudha panasnya luar biasa. Ya, dia memang ikhlas, tapi ternyata ketika melihat secara langsung ulu hati Yudha terasa sakit.
Padahal, dia sudah menyiapkan diri bagaimana nanti jika bertemu Lengkara. Keyakinannya untuk bersikap biasa saja ternyata tidak berhasil, dia hanya tengah menipu diri sendiri semata.
Sepanjang makan malam hanya terdengar dentingan sendok yang menguasai ruangan. Hingga usai makan malam, Papa Atma meminta waktu Bima untuk ikut bersamanya. Entah apa yang hendak dibicarakan, yang jelas hati Bima tidak akan goyah sama sekali andai kembali dipaksa mengikuti kemauan papanya lagi.
__ADS_1
"Kamu tunggu di kamar, mas tidak akan lama," ujar Bima mengusap pelan puncak kepala sang istri.
.
.
Salah-satu yang tidak bisa dipercayai di dunia adalah ucapan seorang pria. Terbukti jelas kini, sudah dua jam Lengkara menunggu dan tidak ada tanda-tanda Bima kembali.
Terlebih lagi, saat ini dia justru haus dan tidak memiliki keberanian untuk memanggil pelayan. Sementara air yang sempat tersedia di kamar sudah habis, tidak ada jalan lain selain ambil sendiri.
"Sepi sekali ... apa mereka tidak tertarik nonton televisi?"
Lengkara bergumam pelan, benar-benar aneh keluarga ini. Ruang keluarga seakan tidak berguna, sungguh begitu berbeda dengan suasana di kediaman papanya. Wajar saja Bima tidak begitu suka menghabiskan waktu di depan televisi, kehangatan semacam itu memang tidak tercipta di keluarga ini.
Lengkara kembali ke tujuan awal, dia harus menuntaskan dahaganya. Wanita itu segera menuju lemari es yang terpampang nyata di depan sana, rasanya tidak perlu izin karena usai makan malam mama mertuanya mengatakan jika ingin apapun ambil saja sendiri.
Matanya kemudian tertuju pada cola yang tersisa satu-satunya di sana. Sial, Lengkara menginginkannya karena memang sudah lama tidak menemukan minuman itu di supermarket yang kerap dia datangi.
"Aw ... kenapa sesulit ini." Sulit, tapi pilihannya sudah telanjur pada minuman itu.
"Jangan dipaksa, kukumu bisa lepas, Lengkara." Suara itu hadir bersamaan dengan seseorang mengambil alih minumannya.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1