Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 57 - Tawaran Lengkara


__ADS_3

Perjuangan Bima untuk kembali mendapatkan Lengkara memang tidak semudah itu. Sadar betul Papa Mikhail tengah memberinya pelajaran lantaran telah menyia-nyiakan kesempatan yang kala itu dia berikan.


Pekerjaanya baru selesai selama dua hari, mulai dari menyiapkan tanah hingga penebaran benihnya. Itu juga karena dibantu Mikhail dan kedua cucunya. Ya, meski kehadiran Azkara dan Hudzaifah hanya membuat Bima bekerja dua kali, tapi sama sekali tidak masalah.


Bukan main lelahnya, Bima menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Hari ini tenaganya diperas dua kali lipat, tapi otak Bima tidak merasa tertekan. Perlahan, mata lelahnya kini tertutup dan mulai berlabuh ke dunia mimpi.


"Kau jangan senang dulu ... bukan berarti setelah ini kau kembali pada putriku."


"Apa masih ada tugasku yang lain, Pa?"


"Tentu saja, setelah menanam kau harus merawat dan menjaganya ... jika berhasil panen maka aku merestuimu."


Mata Bima sontak terbuka lebar kala mengingat percakapan bersama calon mertuanya sebelum dia pulang. Dia pikir setelah panas-panasan dua hari itu maka dia bisa segera kembali pada Lengkara, nyatanya harus menunggu sedikit lebih lama lagi.


Dia kecewa? Merasa ditipu? Tidak, Bima paham tujuan Papa Mikhail. Segala sesuatu yang sudah dia lepaskan, tidak akan bisa kembali dimiliki dengan mudah. Soal itu, Bima akan terima dan tidak akan protes sedikit saja.


Baginya, diberikan kesempatan untuk kembali pada keluarga itu saja sudah sangat bersyukur. Papa Mikhail masih baik memberikan syarat semacam itu padanya, tidak semengerikan dugaan yang pernah dia dengar sebelum ini.


"Bersabarlah ... tidak sampai dua bulan lagi, Bim."


Begitulah cara Bima menenangkan diri, dia sempat mencaritahu berapa lama proses budidaya kacang panjang dari penaburan benih hingga panen. Menurut sumber yang Bima baca, kurang lebih 50 hari kacang sudah bisa dipanen, jadi tidak selama bayangan awalnya.


Bima lelah, tapi rasa kantuknya seakan lenyap begitu saja. pikirannya melayang jauh, melihat tempat tidur dengan sprei putih polos ini mengingatkan dia pada Lengkara yang sempat menggila di malam pertama pertemuan mereka.


"Dia sedang apa ya?"


Bima bergumam pelan, pria itu menatap ponselnya seakan menunggu seseorang menghubunginya. Ya, seperti biasa gengsi Bima luar biasa tinggi, takut mengganggu dan khawatir Lengkara akan marah andai dia hubungi padahal tidak terlalu penting.


Anggapan semacam itu melekat dalam diri Bima. Dia hanya akan menunggu dan memposisikan diri selalu ada jika dihubungi. Semesta seakan mengerti dengan isi hati Bima, baru saja dia memikirkan wanita itu, nama Lengkara kini tertera di layar ponselnya.


Tanpa dihubungi lebih dahulu, Lengkara menghubunginya lewat panggilan video. Tidak ingin kehilangan kesempatan Bima menggeser ikon hijau di sana, belum sempat menyapa telinga Bima tiba-tiba sakit mendengar pertanyaan beruntun dari Lengkara.


"Mas kalau ada apa-apa tolong katakan ... aku mimpi buruk semalam!!"

__ADS_1


"Tidak ada, Ra, jangan percaya mimpi ... itu semua hanya bunga tidur," ucap Bima menenangkan Lengkara, entah kenapa hanya karena sebuah mimpi dia sepanik itu.


"Kamu belum pernah mengalaminya ... mimpi bukan hanya bunga tidur, bisa jadi firasat atau pertanda buruk di masa depan."


"Tapi mas memang baik-baik saja, jangan khawatir ... lagi pula cacing Alaska memang ada? Ada-ada saja kamu, Ra." Bima terkekeh, demi apapun dia benar-benar dibuat sakit perut dengan pengakuan Kara yang bermimpi jika dia bertarung dengan seekor cacing Alaska, bentuknya saja Bima tidak tahu.


"Yakin?"


"Hm, yakin ... kamu baru bangun?" tanya Bima memastikan jam di layar ponselnya, masih pukul delapan malam dan dia sudah selelah ini.


"Iya, semalam susah tidur."


"Oh iya? Kenapa susah? Apa tidak nyaman di sana?" tanya Bima memastikan, sebab apartemen Kenzo sudah lama tidak ditempati dan mungkin itu sebabnya dia tidak nyaman.


"Karena benar-benar sendirian ... aku takut kalau tempatnya sudah seluas ini."


"Sabar ya, dua bulan lagi mas temani tidurnya," ucap Bima kemudian mengu-lum senyum, lama


Agaknya Lengkara belum tahu masalah ini. Selain karena Bima belum sempat bercerita, mungkin papanya juga merahasiakan soal ini. Untuk itu Bima menjelaskan sejelas-jelasnya pada Lengkara agar tidak lagi terjadi kesalahpahaman di antara mereka.


"Sampai panen? Terus kalau gagal gimana?"


"Ya tanam lagi ... kamu masih bersedia menunggu, 'kan?" Mudah sekali dia bicara, padahal dia juga panik bagaimana jika nanti gagal panen.


"Lama dong, kalau kelamaan aku nikah sama anaknya om Babas saja lah, mas Mahen luma_"


"Lengkara ... jangan pernah menyebut nama laki-laki lain jika bersamaku." Dia bicara selembut itu, tapi sudah termasuk marah karena memang dia tidak suka. Terlebih lagi, kemarin dia sempat bertemu dengan pria yang Lengkara maksud, dan memang lumayan.


"Kenapa mas mau? Sampai panen itu artinya mas yang rawat ... apa kuat? Nanti kulitnya terbakar."


"Mas tidak bisa melawan kehendak papa, Papa kasih kesempatan saja sudah syukur, Ra," ucap Bima tersenyum tulus, dia tidak bercanda dan memang benar sama sekali tidak keberatan dengan syarat yang ditentukan Mikhail.


.

__ADS_1


.


"Tapi itu serius kalau gagal panen gimana? Masa tanam lagi?" tanya Lengkara lagi, jujur saja dia khawatir soal ini.


"Mau gimana lagi, caranya cuma itu, Sayang."


"Apa tidak ada cara lain? Mas tanam yang lain saja," ucap Lengkara seakan menemukan ide paling brilian, Bima yang lurus-lurus saja jelas penasaran dan akan bernegosiasi andai ada yang lebih mudah dari kacang.


"Tanam apa? Memang ada yang lebih mudah dari kacang?" tanya Bima menatap lekat wajah cantik Lengkara di layar ponselnya.


"Ada, mudah dan menyenangkan kalau kata orang-orang."


"Apa, Sayang? Cepat katakan, nanti mas nego sama papa."


"Tapi beresiko, Mas."


"Ya cepat katakan apa, Kara," desak Bima benar-benar penasaran apa yang bisa dijadikan pilihan nantinya.


"Tanam benih di rahimku."


"Sinting!! Mas bisa mati di tangan papa jika begitu," ucap Bima menggeleng pelan seraya terus memandangi Lengkara yang terbahak tanpa henti.


"Bercanda ... tidurlah, Mas, jangan begadang," tutur Lengkara lembut sekali, Bima yang tidak pernah mendapat perlakuan semacam ini sebelumnya jelas saja menghangat.


"Iya, kamu jaga diri ya ... biar mas jaga lilin," ucap Bima yang berhasil membuat Lengkara cemberut, mungkin paham maksud candaan balik yang Bima lontarkan padanya.


"Siallan dia terlalu menggemaskan, bisa-bisanya yang begini kau talak Bima bodoh!!"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2