
Pagi yang berbeda di kediaman Bima, keluarga ini terlihat cukup sempurna meski masih terpecah. Sekian lama dia ingin mengimpikan sosok ibu di dapur, kini pemandangan itu benar-benar nyata.
"Pagi, Bu."
Masih dengan kesadaran yang belum terkumpul sempurna, Bima menghampiri sang ibu yang tengah menyiapkan bahan untuk memasak sup jagung permintaan Lengkara. Sebenarnya sang menantu meminta pada pelayan tadi malam, tapi Bu Seruni ingin saja melakukannya.
"Tumben bangunnya cepet? Biasanya juga harus nunggu Kara marah dulu, Bim," tutur Bu Seruni tertawa kecil, akhir-akhir ini baik putra dan menantunya memang kerap tidak tertebak dan Bu Seruni sendiri bingung apa maunya.
"Tiba-tiba ingin lihat ibu masak," ucapnya sebelum kemudian menguap sebegitu lebar.
Percayalah, di luar masih gelap dan biasanya Bima masih di kamar. Kini, dia bahkan lebih tertarik melihat sang ibu yang sudah sibuk di dapur, Bu Runi tidak muda lagi, tapi kecantikannya benar-benar tiada tandingan dan Bima sebetah itu memandangi sang ibu.
"Kamu kenapa, Nak? Sedih atau kenapa?" Melihat putranya terlihat berbeda, Bu Runi menghampiri Bima dan duduk di sisinya.
"Papa titip salam, terima kasih karena ibu sudah pernah ada dalam hidup papa ... katanya gitu, Bu."
Selain pelupa, dia juga mulai tidak amanah. Terbukti, kini dia berbohong perihal salam yang papanya sampaikan. Sedikit, hanya sedikit Bima memberikan bumbu di sana hingga membuat Bu Seruni sejenak terpaku.
"Bagaimana keadaan papamu? Sudah lebih baik?" Beberapa menit terdiam, Bu Seruni kini bertanya balik dan sedikit beralih dari apa yang Bima bahas.
"Jawab dulu salamnya, Bu, masa dicuekin?" Susah payah Bu Seruni mengalihkan pembicaraan, nyatanya Bima justru kembali membahasnya.
"Waalaikummussalam, begitu jawabnya?"
Bima terkekeh, tidak salah, tapi tidak benar juga. Entah dia akan berdosa atau tidak, tapi dalam lubuk hati Bima, tersemat kebahagiaan kecil usai meraskan interaksi bersama kedua orang tuanya.
Lengkap, tidak hanya salah-satu, tapi keduanya. Ya, sekalipun memang masih jauh dari kata sempurna, tapi untuk Bima hal semacam ini sudah memuaskan rasa hausnya akan kasih sayang kedua orangtua.
"Kenapa tertawa? Jawab saja pertanyaan ibu, Papa kamu bagaimana, Bima?" tanya Bu Seruni gemas sendiri dengan Bima yang terus saja tertawa padahal tidak jelas dimana letak lucunya.
"Ibu tidak mau jenguk saja?"
Semakin menjadi, selalu ada cara Bima untuk membuat sang ibu mati kutu dan kehabisan kata-kata. Entah apa yang tengah Bima usahakan, tapi Bu Seruni hanya bisa menghela napas panjang.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Bu Seruni kembali meneruskan kegiatannya. Hanya pertanyaan sederhana, tapi dia memilih enggan menjawab. Bima yang sejak tadi memandanginya jelas menyimpulkan sesuatu dibalik sikap Seruni.
"Kata papa wanita yang tulus tidak akan dua kali." Tiada angin, tiada hujan Bima tiba-tiba berucap demikian.
"Benar, karena itu ibu marah kamu menceraikan Lengkara dulu," jawab Bu Seruni justru berbeda arah, entah tidak mengerti atau tengah mencoba mengalihkan pembicaraan, atau mungkin tidak tertarik sebenarnya.
"Iya, aku juga menyesali itu ... tapi aku kembali mendapatkannya setelah berjuang cukup lama. Andai papa melakukan hal yang sama, apa ibu berkenan kembali?" Pertanyaan itu lolos begitu saja sebenarnya.
"Kisah itu sudah usang, sudah terlalu lama dan ibu tidak punya alasan untuk kembali," jawabnya kemudian menghela napas panjang, sama sekali tidak terpikirkan dalam benak Seruni untuk kembali pada Atma.
"Kenapa begitu?"
"Kalian sudah dewasa, hidup ibu baik-baik saja dan tidak kurang apapun ... sejak dia menceraikan ibu dan memilih wanita lain, sejak saat itu juga ibu tidak lagi punya alasan untuk kembali padanya."
Bu Runi menghela napas panjang, sudah sangat lama, tapi sakitnya masih terasa. Dia tersenyum getir menatap Bima yang seakan tengah berusaha melakukan sesuatu untuk mereka berdua.
"Tapi, saat ini Papa tidak lagi memiliki ikatan bersama Gilsa ... bukankah ibu berhak mewujudkan cinta di masa lalu?"
"Sudahlah, Bima, jangan bicara macam-macam lebih baik kembali ke kamar nanti istrimu bingung kemana suaminya," titah Bu Seruni kemudian seraya menepuk pundaknya, dia tahu kemana arah pembicaraan Bima dan enggan membahasnya.
"Hah? Kenapa bis_ Bima!! Kamu menyita waktu tidurnya? Wajar saja menantu ibu sudah persis panda begitu," tuduh Bu Seruni masih terus menarik telinga Bima hingga pria itu berjinjit seraya menahan sakitnya.
.
.
Lengkara yang meminta, tapi Bima yang kena batunya. Tadi pagi telinga Bima dibuat sakit lantaran sang ibu tidak memberikan ampunan padanya. Padahal, semalam Lengkara tidak bisa tidur, dan Bima yang terkantuk-kantuk terpaksa bertahan demi mendengar gosip yang Lengkara bahas.
Siang ini Bima hanya menghabiskan waktu di kamar. Kebetulan akhir pekan dan dia memantau rutinitas sang istri yang mulai berpose di depan cermin. Bu Seruni khawatir berlebihan perihal mata Lengkara, padahal dia terlihat baik-baik saja bahkan produktif sebagai content creator yang terkadang membuat Bima sebal sendiri.
Terutama saat dia mulai membuka kegiatan dengan kalimat "A day in Kara's life ... Hai, semua, seperti biasa hari ini." Ya, Bima harus terbiasa dengan dunia sang istri yang begitu bentrok dengannya.
Bima bingung, dimana letak menariknya hal semacam itu. Padahal kegiatan Lengkara itu-itu saja, tapi anehnya yang mengikuti akun sosial medianya banyak sekali.
__ADS_1
Tidak hanya itu, Lengkara juga menerima berbagai tawaran dengan alasan dia suka melakukannya. Ruang kerjanya sudah penuh dengan barang-barang yang harus dia review, sudah seperti gudang dan Bima tidak merasa keberatan selagi istrinya bahagia melakukan hal semacam itu.
Ya, meski sesekali dia harus menjadi kelinci percobaan untuk menunjukkan produk pada pengikutnya. Demi profesional kerja, Lengkara sampai mengorbankan sang suami yang kerap pasrah jika dia ajak muncul di depan kamera.
"Okay ... selesai!! Mas bantuin aku kerja ya hari ini," pinta Lengkara kemudian menghampiri sang suami di tepi ranjang, sejak tadi sadar diperhatikan, tapi memang dia sudah terbiasa jadi tidak terganggu sama sekali.
"Ih kok diam? Marah ya?"
"Hm," jawab Bima singkat, padat dan seperti biasa tidak jelas apa maksudnya.
"Hm apa? Hm marah atau hm mau bantuin?"
"Bantuin, mas harus apa hari ini?" Setelah minggu lalu dipaksa menjadi model untuk underwear berbagai ukuran, kini apa lagi? Jujur saja Bima mulai malu dibuatnya.
"Jadi model lagi mau?" tanya Lengkara penuh harap, hanya tubuh Bima yang bisa dia gunakan cuma-cuma dan tidak akan marah seperti Zean.
"Iya, model apa?"
"Pakaian muslim," jawab Lengkara kemudian, jelas Bima mau-mau saja. Bukankah lebih mudah dibandingkan minggu kemarin? Tanpa pikir panjang dia menyetujui keinginan Lengkara.
"Bisa, sekarang saja, nanti sore mas mau ajak kamu keluar ... kita pacaran di luar." Sebagai imbalan, Bima jelas tidak mau melakukannya secara cuma-cuma.
"Iya, tapi beneran mau, 'kan jadi modelnya? Ntar ngomel-ngomel kayak kemaren? Yang nonton pada tahu loh kamu tertekan."
"Ya kamu pikir sendiri, pria mana yang tidak tertekan jadi superman begitu," kesal Bima kemudian, tidak saja Lengkara ketahui jika dirinya menjadi bahan ejekan dari banyak pihak, terutama Yudha lantaran iklan underwear yang dipakai di luar persis superhero itu.
"Tidak apa-apa, bantu istri, Mas ... uangnya juga buat kita bayar hutang, kan lumayan."
Bima terdiam, dia menghela napas pelan mendengar ucapan Lengkara. Tidak dapat dibohongi, memang terkait pendapatan sudah lebih baik sang istri dibanding dirinya. "Miskin sekali aku di matanya."
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -