Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 79 - Seuntai Masa Lalu


__ADS_3

Pertama kali merasakan sensasi naik angkutan umum, ternyata menyenangkan juga. Namun, sialnya Bima harus dipertemukan dengan pria yang Lengkara panggil mas juga. Sedikit menyebalkan, dia pikir spesial karena memang hanya Lengkara yang memanggil Bima dengan panggilan itu.


"Kak Ana gimana kabarnya, Mas?"


"Baik Alhamdulillah ... keluarga di sana gimana, Ra?"


Ramah sekali, Bima menatap pria itu melalui ekor matanya. Meski sudah sempat Lengkara kenalkan, tapi Bima masih penarasan bagaimana hubungan mereka berdua sebelum dia hadir. Terlebih lagi, pria itu seolah mengenal Yudha dan terkejut begitu mendengar sang istri mengenalkan nama Bima.


"Baik juga, Mas ... oh iya? Orang rumah gimana?"


"Orang rumah apanya?"


"Bukannya kata kak Sean mau nikah dulu?"


"Gagal, Ra."


"Aih kok bisa begitu? Hahaha pasti kualat karena dulu nyumpahin aku."


Bima terperanjat kala sang istri terbahak dan memukul pundaknya. Dia tidak mengerti apa-apa dan kini justru menjadi sasaran telapak tangan Lengkara. Sejak tadi, Bima sudah merasa mereka cukup dekat di masa lalu, entah sabahat atau justru mantan kekasihnya.


"Mas, dulu mas Irham nyumpahin aku, dan ternyata balik ke dia," ucap Lengkara berusaha membagikan kebahagiannya pada Bima juga.


"Ya Allah, Lengkara masih saja ingat masalah itu. Waktu itu aku belum terima kenyataan jadi ya tidak bisa bersikap dewasa ... maaf, Ra, khilaf."


Begitulah awal pertemuan mereka, sebuah perseteruan singkat yang terjadi Bandung lantaran Lengkara merasa muak dengan kehadirannya. Irham, begitulah dia disapa. Pria yang menjadi musuh, tapi berakhir sebagai teman dekat Sean itu juga menjalin hubungan baik bersama adik-adik Sean. Tidak terkecuali Lengkara.


Namun, terkait Lengkara yang ternyata gagal bersama Yudha dia sama sekali tidak tahu, begitu juga sebaliknya. Sean tidak bicara, begitu juga Zalina. Selain itu, dia juga pindah ke Semarang setelah Ana, adik sepupunya menikah demi menekuni profesi baru sebagai pengajar di sekolah negeri yang ada di kota ini.


"Dimaafkan, semua sudah berlalu ... meski aku tidak berjodoh bersama yang dulu, tapi Tuhan memberikan gantinya," tutur Lengkara menatap Bima sekilas hingga membuat pria itu tersenyum simpul.


"Syukurlah, aku sudah lama tidak mendengar kabarmu. Beberapa kali ke Bandung juga hanya sempat bertemu Ameera, ternyata kamu sudah menikah."


"Haha iya, tapi tadi mas belum jelaskan, kenapa bisa gagal? Calon istrinya minta sertifikat rumah?" tanya Lengkara asal ceplos hingga Bima tersedak ludah.

__ADS_1


Tidak hanya Bima, tapi Irham juga sempat tertawa mendengar pertanyaan Lengkara. Benar kata Sean, jika ingin melihat Ricko versi wanita, maka lihat Lengkara karena memang ada kemiripannya.


"Bukan begitu."


"Terus kenapa?"


"Aku terlalu mudah menerima orang baru setelah berpisah dengan Zalina, ternyata dia sedang hamil dan aku dihajar suaminya."


"Hahahahahahah!!"


"Shuut, Sayang ... jangan berisik, yang lain dengar," bisik Bima seraya menutup mulut sang istri. Mereka memang bicara cukup santai awalnya, tapi ketika dia tertawa benar-benar tidak terkontrol hingga Bima turun tangan.


"Ya lucu, kenapa bisa begitu, Mas?"


"Entahlah, aku apes atau kualat tidak mengerti."


Sama sekali Irham tidak merasa tersinggung dengan respon yang diberikan Lengkara karena memang sudah biasa. Pembicaraan mereka baru berhenti ketika Irham tiba di tujuan, dia sempat meminta nomor telepon Lengkara, tapi Bima dengan cepat memberikan nomor teleponnya.


Lucu sekali, apa dia sedang cemburu? Jika iya, maka Lengkara bahagia tentu saja. Tidak lagi ada Irham di sana, jelas Bima bisa bebas untuk mengeratkan pelukan dan mengecup wajah sang istri tanpa permisi.


"Dia tadi siapa?"


"Mas Irham, dia dulu calon suaminya kak Zalina tapi gagal," jelas Lengkara yang kemudian Bima angguki perlahan.


"Yakin? Bukan mantanmu?"


"Bukan, mantanku tidak ada yang bentuknya begitu, Mas."


Baiklah, pertanyaan Bima berhenti di sana. Dia kembali menikmati perjalanan menuju kediaman sang ibu, tidak sabar dia ingin memeluk erat wanita yang telah melahirkannya itu. Tidak lama lagi, bahkan tinggal menghitung menit saja.


.


.

__ADS_1


Semenjak Yudha kembali ke rumah, ibu Runi begitu dibatasi oleh Atmadja. Bahkan, sewaktu Yudha dirawat dia hanya boleh sesekali menjenguk, itu juga dibatasi. Aturan itu masih berlaku meski Yudha sudah baik-baik saja, pria itu harus menyisihkan waktu untuk selalu menemui ibunya di sela pekerjaan, itulah mengapa Yudha kerap kali lembur.


Sudah tiga tahun berlalu, cukup banyak yang berubah. Lengkara kembali menginjakkan kaki di halaman rumah itu. Tanpa kekesalan pada sosok Bima, dia datang dengan suasana hati yang berbeda.


Tiba di sana, Bima disambut dengan teriakan ibunya dari kamar utama. Kamar yang kerap menjadi tempatnya pulang dibandingkan rumah utama. Sontak Bima menerobos masuk dan melindungi ibunya yang terhempas di tepian tempat tidur.


"Bisakah kalian bersikap sopan pada ibuku?"


Tanpa berteriak, tapi dia marah bahkan buku jemarinya terlihat memutih. Pandangan Bima seolah gelap, dia mengepalkan tangan dan menatap tajam beberapa pria dengan seragam hitam di dalam kamarnya.


"Bima, kamu pulang, Nak? Mereka menginginkan sertifikat rumahmu."


"Rumahku?" Bima bahkan lupa soal itu, sungguh.


"Benar, rumahmu yang ada di Jakarta," ucap sang ibu yang semakin membuat Bima meradang, papanya benar-benar gila ternyata.


Saat itu juga Bima berdiri dan berjalan menuju lemari pakaiannya. Ya, Bima memang pernah membawa surat berharga itu sejak tidak lagi tinggal di Jakarta. Jika papanya meminta rumah itu, jelas saja Bima berikan tanpa protes.


"Ini yang kalian inginkan?"


Tapi sebelum itu, Bima tidak akan memberikannya secara cuma-cuma. Perlakuan mereka terhadap ibunya jelas harus Bima balas.


Berawal dari satu pukulan yang Bima berikan, berakhir dengan serangan bertubi yang Bima terima. Bima mengenal orang-orang yang kini menyerangnya, tidak lain dan tidak bukan adalah para pengawal yang biasa menjaga anggota keluarganya.


Jika bukan karena Lengkara maju dan memukul kepala mereka satu persatu dengan sepatunya, mungkin Bima benar-benar akan sengsara.


"Kalian tahu siapa saya? Semua yang kalian lakukan terhadap suami saya sudah saya rekam!! Papa saya adalah seorang hakim dan keluarga saya lebih kaya dari tuan besar kalian!! Jika saya sudah bertindak, jangan pernah bermimpi bisa hidup dengan tenang ... mau kalian?!!"


"Dia siapa?" bisik salah-satu di antara mereka seraya mengusap kepala yang agaknya mengalami akibat tumit sepatu wanita itu.


"Artis, dia bahaya, ayo pergi."


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2