Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 140 - Terbayarkan


__ADS_3

“Ra … bu-bukan aku, jang_aaarrrgghhh!!”


Teriakan menggema terdengar menembus indera pendengaran Yudha, dia yang tidak ingin ikut terkena imbasnya memilih menjauh dibandingkan memastikan keadaan Bima. Persetan dengan hubungan saudara, keselamatannya lebih penting.


Yudha melangkah cepat, padahal Lengkara juga tidak akan mungkin mengejarnya juga. Namun, ketakutan berkuasa dalam diri Yudha serta rasa haus yang menyiksanya mengantarkan Yudha ke dapur. Bu Seruni yang sejak tadi memang selalu di dapur jelas saja bingung dengan kehadiran putranya.


“Kamu kenapa, Yudha?” tanya Bu Seruni sejenak menghentikan pekerjaannya.


“Ada perang, Bu,” jawab Yudha dengan napas terengah-engah, dagunya bahkan basah lantaran minum tergesa-gesa.


“Perang? Perang apa?”


Yudha tidak segera menjawab, dia kembali menegak habis air mineral di botol itu hingga tandas. Teriakan Bima masih terngiang di telinganya, jujur saja ada kekhawatiran saudaranya trauma setelah kejadian ini.


"Bagaimana nasibnya? Kalau wanita itu kumat bahaya ... habis nyawamu, Bima."


Belum usai ketakutan Yudha, matanya kembali dibuat bingung dengan pemandangan yang ada di depannya. Baru juga beberapa detik lalu Yudha khawatirkan nyawa Bima terancam, kini pasangan itu tampak mesra layaknya pengantin yang baru menikah kemarin.


“Memang buang-buang waktu khawatir padanya,” gumam Yudha masih setia memandangi Bima yang tengah menaiki anak tangga seraya membopong Lengkara.


"Hm? Maksud kamu apa, Yudha?"


"Mereka, padahal tadi jelas-jelas Bima berteriak seperti tengah dianiaya ... sekarang haha-hihi, dasar tidak jelas."


Bu Seruni yang memang serumah sejak awal tentu terkekeh mendengarnya. Bukan hal asing jika pasangan itu kerap panas dingin dan berubah seketika, secepat membalikkan telapak tangan.


"Biasa, memang mereka begitu."


"Setiap hari begitu? Ibu tidak mual?" tanya Yudha berdecak kagum, dia saja yang baru pertama kali sudah tak habis pikir dengan rumah tangga mereka.


"Mereka pasangan yang manis, mana mungkin ibu mual, Yudha."


Benar juga, pasangan itu memang manis sebenarnya. Namun, entah kenapa kali ini Yudha dibuat sebal dengan mereka berdua, sungguh tak habis pikir dan ingin rasanya Yudha memasukkan mereka ke dalam mesin penggiling daging.

__ADS_1


"Suatu saat kamu juga akan merasakannya ... mungkin di mata kamu terlihat konyol dan membuat agak mual, tapi ketika sudah berumah tangga semua itu bisa terjadi," ucap Bu Seruni sebelum kemudian berlalu pergi ke kamarnya, sudah tentu sayuran yang belum sempat dia cuci itu menjadi tanggung jawab pelayan di sana.


"Benarkah? Tapi Sean dan Zalina tidak begitu, Nasyila juga tidak. Ah sudahlah, mungkin tergantung kadar kewarasan masing-masing."


Yudha masih membatin sebelum kemudian berlalu pergi. Dia sampai lupa jika tujuan utama setelah meninggalkan Bima adalah Papa Atma, kemungkinan besar hingga detik ini pria itu masih terdiam di ruang keluarga lantaran Bima memintanya jangan kemana-mana.


Sengaja Yudha melangkah pelan demi mengintai sang papa lebih dahulu, entah kenapa dia penasaran saja bagaimana jadinya jika seorang Atma sendirian.


Cukup lama Yudha memandanginya dari kejauhan. Semula dia berpikir jika sendirian, maka papanya akan kesepian dan bingung hendak melakukan apa. Namun, agaknya dugaan Yudha salah besar karena kini yang terlihat di matanya tidak lebih dari tamu yang penasaran kehidupan pribadi tuan rumahnya.


Bahkan, dengan lancang papa Atma meraih figura favorit Bima di sana. Sebuah foto yang Bima edit sedemikian rupa agar terlihat bertiga memang cukup menarik perhatian siapapun yang melihatnya.


.


.


"Bima yang edit, lucu, 'kan, Pa?"


Setelah dibuat terkejut dengan kelakuan pasangan itu, kini dia yang justru membuat Papa Atma terkejut. Pria itu tampak gugup kemudian mengembalikan figura itu ke tempatnya segera.


"Masih banyak sebenarnya, tapi. yang jadi favorit Bima salah-satunya itu, kami seperti pinang di belah dua," tutur Yudha memandang foto editan yang terlihat amat manis di sana.


"Dasar anak nakal, bisa-bisanya dia menghilangkan papa di foto itu," ujar Papa Atma tersenyum getir.


Sejak diberikan waktu sendiri oleh kedua putranya, Papa Atma punya kesempatan untuk memeriksa ruangan ini lebih lama. Tidak hanya sakit, tapi dia merasa sakit sekali. Apa yang Bima lakukan adalah bukti betapa kejamnya dia dahulu, mata papa Atma sontak membasah kala menatap foto itu cukup lama.


"Papa tidak dihilangkan, foto aslinya tetap ada, tapi tidak dia pajang di depan."


"Benarkah?" tanya Papa Atma penuh harap jika Yudha tidak berbohong.


"Benar, munkin dia letakkan di kamar, Pa," jawab Yudha meyakinkan, walau jujur saja dia juga tidak yakin akan hal itu.


.

__ADS_1


.


Dugaan Yudha bahwa keadaan akan secanggung itu benar adanya. Sejak tadi siang, hingga kini memasuki jam makan malam belum pernah ada interaksi antara kedua orang tuanya.


Baik Bima maupun Yudha paham akan hal itu, tapi memang mereka jelas tidak akan bertindak terlalu lancang dan melewati batas kesopanan. Tidak apa, walau tidak sehangat mertuanya, tapi Bima merasakan kehangatan yang begitu dia rindukan sejak lama.


Mereka benar-benar makan di meja yang sama. Entah kebetulan atau memang hatinya bahagia karena itu, Bima selalu tersenyum sejak tadi. Padahal tidak ada yang lucu sama sekali, bahkan Lengkara hanya menggeleng pelan melihat aksinya.


Mereka yang hangat dalam keheningan berlangsung hingga selesai makan malam. Tidak ada perbincangan setelahnya, Yudha mengatakan jika dirinya lelah hingga pamit ke kamar lebih dahulu, begitu juga dengan Lengkara dan Bima.


Tidak butuh waktu lama, rumah mewah itu sudah sangat sunyi. Tanpa suara televisi ataupun games yang biasa Papa Atma dengar, kemungkinan besar sudah berlabuh ke dunia mimpi. Sialnya, di saat seperti ini Papa Atma justru tidak bisa tidur meski dia sudah berusaha memejamkan mata.


Menyebalkan sekali, ingin dia menghukum Bima rasanya. Setelah tadi siang dipaksa tetap ada di sini, kini Papa Atma justru merasa kesepian. Tidak ingin berlarut dalam kesedihan, pria itu berlalu keluar dan memilih halaman belakang sebagai tujuan.


Tanpa dia duga sama sekali, mata Papa Atma justru menangkap sosok mantan istrinya juga tengah merenung di tepian kolam renang. Dia sontak berbalik, tapi baru saja hendak melangkah pergi pria itu mengurungkan niat dan justru menghampiri Seruni.


"Tiga puluh tahun kita berpisah, tidak ada yang berubah ternyata." Entah dari mana keberaniannya, Papa Atma tiba-tiba kalimat itu lolos dari bibirnya.


"Maksudmu?" tanya Bu Seruni tanpa menatap lawan bicaranya, dia masih fokus mengamati kemana larinya kucing kesayangan Bima.


"Masakanmu ... semuanya masih sama," jawab Papa Atma dengan jiwa yang bergejolak dan dada yang mendadak sesak.


"Tentu saja, aku memasaknya bertahun-tahun dan_"


"Terima kasih, kamu tetap berkenan menerima kehadiranku bahkan meluangkan waktu untuk memasak sebanyak itu untukku hingga kerinduanku seakan terbayar secara perlahan." Papa Atma tersenyum tipis, mengingat bagaimana sibuknya wanita itu di dapur sejak siang hari.


"Bu-bukan untukmu, tapi memang Bima yang banyak mau jadi aku harus masak banyak menu."


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2