Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 49 - Bercandamu Kelewatan


__ADS_3

"Morning ...."


Setelah tiga tahun dia lewati tanpa ucapan selamat pagi, terutama dari laki-laki, kini Lengkara disambut suara lembut itu. Sedikit terkejut sebenarnya, karena baru saja membuka mata dia sudah dihadapkan dengan seorang pria yang kini bertopang dagu seraya memandanginya.


Kemana batas yang Bima ciptakan semalam? Jelas tidak lagi berada di tempatnya. Setelah sempat dia pindahkan ke ujung kaki, kini benar-benar menghilang dan tentu saja Bima yang melakukannya.


Masih begitu pagi, tapi Bima sudah menunggunya bangun sejak satu jam yang lalu. Lengkara masih sama, masih secantik itu meski dengkurannya kerap membuat Bima terjaga tepat tengah malam.


"Kenapa? Bingung atau ...."


"Iya, bingung."


Masih dengan suara seraknya, Lengkara mengungkapkan jika dia bingung dan memang merasa aneh pagi ini. Bahkan, dia beberapa kali menepuk wajahnya lantaran berpikir bahwa ini adalah sebuah mimpi semata.


"Kita tidak bermimpi, bangunlah ... banyak yang harus kita lakukan hari ini."


Dia meminta Lengkara bangun, tapi dia justru menarik wanita itu dalam pelukan. Berbeda dengan kemarin, Bima seolah tengah meluapkan rindunya tanpa ditutup-tutupi. Sementara Lengkara, jelas saja bingung dengan perubahan sikapnya yang memang lebih berani begini.


Sebentar, tapi tadi Bima mengatakan banyak yang harus kita kerjakan hari ini. Begitu jelas Bima mengatakan kita, otak Lengkara yang masih mengantuk dan belum bekerja sepenuhnya itu sontak berpikir keras.


"Tadi mas bilang apa? Memangnya kita mau apa hari ini?"


"Cari tempat baru, mas yang putuskan kamu harus pindah," ucap Bima kemudian melepas pelukannya, pria itu beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan Lengkara yang kini terpaku merenungi makna ucapannya.

__ADS_1


"Mas yang putuskan kamu harus pindah." Lengkara menirukan gaya bicara Bima kemudian mencebikkan bibirnya, tanpa persetujuan lebih dahulu Bima kembali mengambil keputusan sepihak.


"Mas bisa mendengarmu."


Sontak Lengkara mengatupkan bibir, dia pikir Bima pergi ke kamar mandi, ternyata hanya mencari telepon genggam miliknya. Lengkara yang tertangkap basah menirukan gaya bicaranya segera memasang raut wajah sok manis seolah tidak pernah berbuat salah.


"Kenapa wajahmu begitu? Masih berpikir rugi?" tanya Bima tersenyum tipis, nyaris tak terlihat dan kini duduk di tepian tempat tidur.


"Masih ditanya ... sudah tentu iya, aku yang bayar kenapa aku yang pindah, harusnya mereka yang diusir," tutur Lengkara benar-benar tidak terima dengan pertimbangan Bima.


"Nanti mas bayar ganti ruginya, kalau masih di sana sama saja dengan bunuh diri ... kamu tidak tahu seberapa besar obsesi keong laut itu padamu, Kara."


Bima tidak akan mengalah kali ini, dia memilih egois demi Lengkara, tidak peduli walau harus menguras dompet sekalipun. Ganti rugi bukan masalah besar bagi Bima, hal itu lebih baik dibandingkan Lengkara masih dalam pengawasan pria yang mengingatkan Bima pada karakter keong laut dalam serial kartun favoritnya masa kecil.


Lengkara tidak meminta Bima mengganti uangnya, tapi yang dia pikirkan adalah apartemennya. Dia yang membayar, dan Rona masuk karena Lengkara kasihan usai mendengar penderitaannya hingga mengizinkan wanita itu tinggal di tahun kedua.


Sejak saat itulah Gery juga kerap datang dan menjadi beban hidup Lengkara. Dia yang merasa kesepian, menganggap kehadiran dua orang itu sebagai sahabat baik karena faktanya memang begitu baik di hadapan Lengkara.


Namun, setelah hal ini terjadi pandangan Lengkara perlahan terbuka dan merenungi nasihat Bima kemarin. Setelah kejadian itu pula, dia berpikir kebaikan memang tidak menjamin seseorang bisa baik juga, dan Lengkara bermaksud mengusir keduanya, terutama Gery.


Sayangnya, untuk kali ini kekuasaan Bima lebih kuat dan dia tidak bisa melawan. Lengkara pasrah saja dan menatap Bima yang kini tengah sibuk dengan benda pipih kesayangannya, Lengkara yakin Bima sesayang itu karena sudah tiga tahun berlalu belum dia ganti juga.


"Mas chat sama siapa?"

__ADS_1


"Kenzo," jawab Bima singkat dan Lengkara hanya mengangguk berkali dan sedikit tidak peduli, mungkin saja teman atau rekan bisnisnya, pikir Lengkara.


"Dia sudah menemukan tempat untuk kita tinggal sementara kuliahmu belum selesai."


Setelah sempat biasa saja mendengar nama Kenzo, kini Lengkara dibuat terkejut hingga tersedak ludah. Rasanya Lengkara tidak tuli dan tidak memiliki gangguan pendengaran, akan tetapi anehnya bersama Bima dia agak sedikit dibuat bingung dengan telinganya.


"Mas bilang apa tadi? Tem-tempat siapa tadi? Ki-kita?" Percayalah, otak Lengkara sedikit lebih bisa dibanggakan dari Mikhayla, tapi saat ini kinerja otaknya seolah benar-benar turun drastis hingga dua kali lipat.


"Bercanda, tempatmu, Ra," jawab Bima mengacak rambut Lengkara dengan jemarinya, sepanik itu ketika Bima mengajaknya bercanda.


"Bercandamu tidak lucu sama sekali," ketus Lengkara menepis tangan Bima, hampir saja dia jantungan pagi-pagi.


"Hahaha atau kamu mau mas tidak bercanda? Benar-benar tinggal satu atap bersamaku selama kamu masih kuliah?" tanya Bima kemudian sembari mengikis jarak, seakan sengaja cari perkara.


"Boleh-boleh saja ... kalau mas siap jadi abon di tangan Papa," ancam Lengkara yang kemudian membuat pria itu tertawa sumbang.


Jika bisa semudah itu, mungkin akan lebih indah. Namun, Bima begitu paham jika semalam Lengkara mengucapkan kesempatan untuk menjadi suami memang masih ada, bukan berarti dia terima saat itu juga. Belum lagi, ada mantan mertua yang harus dia luluhkan saat ini.


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1



__ADS_2