
"Renjana?"
"Ya, Tuhan? Benar mas Bima, 'kan? Kamu kemana saja?" Tanpa basa-basi, wanita itu menghambur ke pelukan Bima.
"Iya, kau sedang apa di sini?" tanya Bima seraya mendorong tubuh wanita itu menjauh darinya, tidak lupa meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di dekat kakinya.
"Heum ada urusan sedikit," jawabnya tersenyum simpul seraya merapikan rambutnya. "Kamu apa kabar? Aku kangen banget, Mas ... kemarin pas ke Semarang kita belum sempat ketemu."
"Aku baik," jawab Bima datar tanpa menatap lawan bicaranya. Bagaimana hendak menatap Renjana jika kini dia panik lantaran Lengkara mengakhiri panggilan tanpa mengucapkan apa-apa.
"Mas membenciku ya?"
"Hm? Maksudmu?" Bima mengerutkan dahi, pertanyaan dari Renjana berhasil membuatnya bingung tentu saja.
"Bertahun-tahun aku menunggu ... sampai akhirnya meminta papa turun tangan, tapi ternyata kamu tetap memilih wanita lain," ucapnya tersenyum getir, sorot tajam Bima tertuju pada Renjana yang hingga kini masih menatapnya begitu lekat.
"Kau mau bicara apa sebenarnya? Jika masih ingin membahas hal itu, lebih baik berhenti. Aku tidak nyaman."
Pasca mengetahui jika Papa Atma berniat menjodohkannya, Bima sempat menegaskan pada Renjana jika dia sudah beristri. Ya, sekalipun hanya dengan sebuah pesan singkat seharusnya Renjana mengerti.
Namun, pada faktanya agak berbeda karena kini Renjana menunjukkan jika dia seolah kehilangan Bima. Padahal, sedikitpun Bima tidak memberikan harapan pada wanita itu, sungguh.
"Siapa dia, Mas? Wanita beruntung itu ... apa aku mengenalnya?" Renjana tidak berhenti, dia masih berusaha menahan Bima dengan pertanyaan yang sekiranya dapat membuat Bima menetap.
"Tidak, kamu tidak mengenalnya."
"Oh iya? Lalu kamu mengenalnya dari mana? Bukankah kamu tidak punya teman perempuan selain aku?"
Bima menghela napas pelan, mana mungkin dia jelaskan. Lagi pula tidak penting dan sama sekali bukan urusan Renjana, sekalipun dahulu memang pernah berteman.
"Panjang ceritanya, aku rasa tidak perlu aku ceritakan panjang lebar padamu," jawab Bima tersenyum tipis. Bukan tersenyum pada lawan bicaranya, melainkan senyum itu terbit lantaran dia mengingat sang istri.
"Begitu ya? Kamu benar-benar berubah, Bima."
"Tidak ada yang berubah, aku tetap sama dan sejak dulu kau tahu kita tidak sedekat itu, berhenti bersikap seolah aku menyakitimu, Renjana."
Agaknya sejak dahulu memang sudah terjadi kesalahpahaman dalam diri Renjana. Mereka memang mengenal sejak lama, tepatnya kedua orang tua mereka memang berteman sejak lama.
__ADS_1
Sejak kecil keduanya berada di sekolah yang sama. Seperti anggapan Renjana, memang Bima tidak punya banyak teman. Bima yang sejak kecil tidak pandai bergaul, Hanya Renjana yang bersedia menemaninya.
Namun, bagi Bima kehadiran wanita itu sama sekali tidak berarti. Sejak kecil dia sudah begitu betah dalam kesendirian, dan seorang anak kecil yang selalu mengikuti langkahnya tidak termasuk teman.
"Iya tahu ... tapi boleh aku bicara sesuatu padamu?"
"Sayang sekali aku tid_"
"Untuk terakhir kalinya, Mas, aku ingin kamu tahu perasaanku tidak akan berubah ... bahkan ketika kamu hadir dalam mimpiku, aku berharap tidak akan pernah bangun lagi."
"Aku mencintaimu entah sejak kapan, dan tidak tahu akan sampai kapan, tapi yang jelas_"
"Harus berapa kali aku katakan? Aku sudah punya istri," jawab Bima tegas kemudian menghela napas kasar, bicara pada Renjana sama halnya seperti bicara pada bantal, percuma.
"Iya tahu!! Karena itu aku sakit ... kamu tidak tahu sehancur apa hatiku ketika tahu kamu sudah menikah?" tanya Renjana dengan mata yang kini berkaca-kaca, sebuah tangisan tulus dari seorang wanita yang patah, tapi di mata Bima tidak lebih dari sekadar drama.
"Ck, dengan kau bicara begini kau berharap apa? Aku tidak bisa melakukan apa-apa, jangan membuatku sakit kepala."
Jangankan menyesal, simpati saja dia tidak. Memang menarik perhatian Bima adalah hal paling tidak berguna yang pernah ada. Bahkan, dia memalingkan muka kala tangis Renjana kian menjadi.
Beberapa orang mulai menjadikannya pusat perhatian, Renjana yang menangis dan di hadapan Bima membuat mereka salah paham. Sudah tentu di pikiran orang-orang itu mereka adalah pasangan yang tengah bertengkar hebat.
Jika seorang pria akan berusaha menenangkan dengan berbagai cara, Bima justru melakukan hal yang berbeda. "Hallo, Om," sapa Bima yang seketika membuat Renjana terdiam.
"Ini Bima ... bukan apa-apa, aku bertemu Jana." ucapnya lagi seraya menatap ke arah wanita itu sekilas.
"Mas, apa yang kamu lakukan?"
"Woah kebetulan jika begitu, dia masih di bandara Om. Jemput saja, aku ada urusan dan tidak bisa mengantarnya."
Seketika air mata dan kesedihan Renjana buyar setelah Bima menghubungi papanya. Sesantai itu Bima bicara, pria itu bahkan tersenyum simpul setelah membuat Renjana panik setengah mati.
"Kau melarikan diri ternyata? Pulanglah, Jakarta tidak baik untuk bersembunyi," ucap Bima menepuk pundaknya dan berlalu begitu saja.
.
.
__ADS_1
Bima tidak peduli apa yang terjadi pada Renjana. Saat ini posisinya lebih mengkhawatirkan. Besar kemungkinan sang istri marah besar karena kini telepon Bima seakan sengaja dia abaikan.
"Angkat, Ra!!" Bima melaju dengan kecepatan tinggi, pikiran di kepalanya seakan berperang dan tengah menerka apa yang tengah terjadi.
Sepanjang jalan dia mengeluarkan sumpah serapah yang tertuju pada Renjana. Kesal sekali Bima dibuatnya, tapi hendak marah pada wanita itu saja juga percuma karena kesalahan juga terletak pada dirinya.
Andai saja dia fokus pada Lengkara dan tidak memilih pergi sejak awal, maka hal semacam ini tidak akan terjadi. Jika sudah begini hendak bagaimana dia, besar kemungkinan Bima harus berlutut di kaki sang istri.
Tiba di rumah, Bima berlari bahkan tidak sengaja menabrak pak Iwan yang sedang menata bunga kesayangan Lengkara. Pikiran Bima benar-benar buntu dan tujuan utamanya hanya sang istri, itu saja.
"Bu, Kara mana?"
"Ada di dapur."
Belum sempat mengucapkan terima kasih Bima berlari menuju dapur dengan napas yang kini terengah-engah. Tiba di sana, Bima dibuat mematung melihat sebilah pisau yang ada di tangan Lengkara.
Hanya sebuah adegan sederhana yang kerap dilakukan ibu rumah tangga pada umumnya. Namun, entah kenapa di mata Bima justru terlihat berbeda. Dalam hitungan detik, ketakutan itu semakin nyata hingga Bima menjerit kala Lengkara mengayunkan pisau dan membuat timun yang di hadapannya terpotong menjadi dua.
"Kamu kenapa?" tanya Lengkara dengan wajah datar tanpa melepaskan pisau itu dari tangannya.
"Ti-tidak, Ra ... kamu sedang apa?" Bima tersenyum kikuk seraya menghampiri sang istri.
Sebelum Bima melakukan apapun, jelas saja harus berhati-hati. Tatapan mata Lengkara terlalu tajam untuk dianggap sebagai candaan. "Potong timun, mau maskeran supaya tidak kalah cantik," jawabnya santai kemudian kembali memotong timun itu dengan penuh perasaan.
"Tiba-tiba sekali, kenapa begitu?"
"Zaman sekarang harus bisa jaga penampilan kalau tidak mau suaminya kepincut mantan," jawab Lengkara kemudian mencebik dan fokus dengan kesibukannya.
"Dia bukan mantan, Ra."
"Aku tidak bahas kamu, kenapa mas jawab gitu? Ngerasa?" Lengkara menaikkan alis seraya mengingat dengan jelas bagaimana suara wanita bernama Jana itu begitu lembut menyapa suaminya.
"Salah lagi, aku benar-benar ingin membunuhmu, Renjana!!"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -