
"Jika mas meminta, apa masih ada kesempatan untuk bisa menjadi suamimu lagi, Ra?"
"Kesempatan?"
"Hm, mas ingin kita memulai semua dari awal ... tanpa kebohongan, dan memperbaiki apa yang dahulu pernah kita tata walau hanya sebentar," tambah Bima menatap Lengkara begitu dekat, dalam sekali.
Pertanyaan yang cukup sulit, Lengkara jelas tidak bisa semudah itu menjawabnya. Jika hanya tentang mereka mungkin bisa saja, tapi untuk perkara ini yang menjadi masalahnya adalah papa Mikhail.
Ya, baik Lengkara maupun Bima seharusnya ingat betul bagaimana marahnya pria itu kala Bima mengembalikan Lengkara ke rumah orang tuanya, sekalipun baik-baik tetap saja percuma. Dia telanjur marah dan murka, sampai melontarkan sebuah kalimat yang rasanya teramat mustahil untuk Bima kembali padanya.
"Mas sedikit tidak tahu diri ya, Ra ... semudah itu meminta rujuk," tutur Bima kemudian bangkit dan merubah posisinya. Sama seperti Yudha, dia malu juga sebenarnya, tapi Bima merasa lebih baik malu, agaknya tentang Lengkara pria itu tidak lagi peduli soal harga diri.
"Semudah menjatuhkan talak?" tanya Lengkara tersenyum miris, dia turut duduk dan mencari posisi nyaman untuk bicara.
"Mengucapkannya mungkin mudah, tapi kamu tahu sesulit apa mas menimbang keputusan saat itu? Semula mas berpikir jika dipaksa bersamaku kamu akan tersiksa, kisahmu bersama Yudha belum usai dan mas tidak ingin menjadi bayang-bayangnya ...." Bima menghela napas panjang, dia butuh kesiapan untuk mengutarakan semua yang dia rasa tanpa sisa.
"Tapi ternyata, setelah kamu memilih pergi ... mas merasa lebih baik menjadi bayang-bayangnya dibandingkan harus kehilangan kamu tanpa jejak, Ra. Cih, lucu ya? Mungkin sekarang kamu sedang mengejekku dan tertawa dengan penyesalanku ... dan apa yang kamu pikirkan benar, mas menyesal dan anggap saja tengah menjilat ludah sendiri seperti katamu kemarin."
Bima yang bicara panjang lebar, tapi Lengkara yang menghela napas panjang. Entah kenapa dia yang justru sesak mendengar perkataan Bima. Beberapa kali Lengkara kerap mengumpatnya akibat terlalu malas bicara, tapi sekalinya panjang ucapannya sedalam ini.
Padahal, sama sekali tidak ada pikiran Lengkara yang menanti penyesalan Bima. Sekalipun talak yang Bima jatuhkan memang tetap sakit, tapi Lengkara mengerti tujuan Bima. Dia hanya tidak ingin menjadi bayang-bayang Yudha, itu saja.
"Dalam hidup kesempatan itu memang selalu ada, Mas ... tapi untuk masalah ini aku tidak bisa memberikan jawaban pasti karena ada papa yang hancurnya melebihi aku pasca perceraian kita."
__ADS_1
Lengkara bicara sesuai fakta saja, dia tidak memberikan harapan, tapi tidak pula memutuskan impian. Memang benar, ada papanya yang waktu itu menangis lebih lama dari Lengkara, terluka lebih hebat dari Lengkara, dan jatuh dalam penyesalan setiap kali melihat putrinya.
"Hm, mas paham soal itu."
Bima mengangguk dalam, tanpa Lengkara jelaskan panjang lebar, jelas saja dia mengerti. Kendati demikian, Bima tidak peduli sekalipun harus berlutut lagi, dianggap menjilat ludah sendiri atau semacamnya.
Cukup lama keduanya terdiam, sepi membelenggu hingga Lengkara perlahan kembali merebahkan tubuhnya. Usai berbicara seserius itu, dia mendadak bergidik ngeri entah apa alasannya.
"Mas belum selesai, Ra ... jangan tidur dulu."
"Bicaralah, aku belum tidur," jawab Lengkara menatap nanar ke depan, dia yang memang agak sedikit gugup di hadapan Bima semakin gugup begitu dia mencurahkan isi hati yang mengoyak batin Lengkara.
"Jawaban yang tadi kamu berikan mengatasnamakan Papa, apa boleh mas tahu jawaban sesuai dengan kata hatimu sesungguhnya, Lengkara?" tanya Bima lagi, jawaban Lengkara yang tadi dia dengar sedikit ambigu dan Bima belum begitu puas rasanya.
"Iya, soal itu," jawab Bima kemudian.
Lengkara yang telanjur gugup, kini bergetar dan telinganya mendadak tuli. Pikirannya kemana-mana, hingga ketika Bima mendekat dan menyentuh pungungnya, Lengkara tersentak dan tubuh wanita itu bergetar seketika.
"Mas jangan dekat-dekat, sana ... aku trauma dideketin begitu," ucapnya seketika membuat tangan Bima tidak sengaja menepuk pundaknya.
Trauma katanya, padahal yang seharusnya trauma adalah Bima, bukan Lengkara. Padahal, pria itu menepuknya hanya karena Lengkara tiba-tiba bergeming persis korban yang tengah dikendalikan sihir.
"Jawab dulu pertanyaannya, baru mas menjauh," jawab Bima sedikit egois malam ini, salah-satu hal yang langka sebenarnya.
__ADS_1
"Ada," jawab Lengkara singkat, padat dan berhasil membuat Bima tersenyum tipis, terserah bagaimana nanti yang jelas Lengkara berbaik hati memberinya kesempatan.
"Sungguh? Kamu tidak sedang berbohong?" Tidak puas hanya sekali, dia ingin bertanya kedua kali layaknya Lengkara yang juga bertingkah beberapa saat lalu.
"Iya ...."
"Aku tidak dengar."
"Iya, Mas!! Tuli ya, sana tidur ... ini kenapa lagi tiba-tiba di sini, balik sana," titah Lengkara menatapnya tajam, sementara Bima masih bertahan dengan posisinya, batas yang tadi dia ciptakan sudah berada di ujung kaki.
"Baiklah, terima kasih sudah berkenan menjawabnya, Lengkara," ucapnya kemudian tanpa aba-aba mengecup kening Lengkara hingga mata wanita itu membulat sempurna. Tidak hanya sekilas, tapi cukup lama dan hal ini adalah kebiasan Bima sewaktu masih menjadi suaminya.
"Tidurlah ... mimpi indah, maafkan mas pernah menjadi luka terparah untukmu."
Setelah tadi mengecup keningnya, Bima kembali membuat jiwa Lengkara porak poranda kala pria itu mengusap pelan wajah dan puncak kepalanya. Bima adalah definisi pria yang sulit ditebak, apa yang dia lakukan memang kerap tak terduga walau terkadang memang irit bicara.
"Dia sama sekali tidak berubah ... baru aku mengerti apa maksud kak Sean, aku terlalu berlebihan dalam mencintai seseorang. Sampai-sampai aku menutup mata untuk pria yang ternyata kubutuhkan, demi pria yang sangat kuinginkan."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1