
Pak Chan mengerti bagaimana perasaan Papa Atma saat ini. Setelah begitu lama, apa yang sempat terbesit dalam pikirannya bertahun-tahun lalu terjadi juga. Begitu jelas, walau belum terlontar dari bibir pria itu itu, penyesalan begitu nyata dan Pak Chan tidak dapat dibohongi.
"Sepuluh menit, izinkan aku bicara, Atma," pinta Pak Chan seraya menghela napas panjang, cukup sulit dia mengumpulkan keberanian sebenarnya.
"Hm."
"Mereka tumbuh dengan baik seperti yang kau harapkan, Atma."
"Iya, aku senang melihatnya."
"Sudah begitu lama, aku merindukanmu ... Atma yang bertanggung jawab dan memiliki prinsip, sahabatku 31 tahun yang lalu."
Hati Atma bergemuruh mendengar ucapan Pak Chan, pria yang merupakan sahabat sekaligus tangan kanannya sejak dahulu seolah tengah mengungkapkan kekecewaan. Papa Atma terdiam untuk beberapa saat, dia melonggarkan dasi sembari terus memandang kedua putranya di sana.
"Kau mendidik putramu sangat keras, kau menanamkan mental pantang mengemis dalam diri Bima ... tapi anehnya, kau seakan tidak mengenali putramu sendiri."
Pak Chan tidak sedang bicara sebagai bawahan kepada atasannya, melainkan sahabat yang menyaksikan sebagian besar sejarah hidup Atmadja sejak muda. Dia sempat kecewa, dia juga marah kala mengetahui tindakan Atma.
Namun, dia yang kemudian Atma minta berhenti mencampuri urusan pribadi dan mengatakan jika mereka tidak sedekat itu membuat Pak Chan benar-benar enggan ikut campur terlalu jauh. Dia terus mengabdi mendampingi Atma hanya demi tuan muda yang harus dia lindungi.
Sangat disayangkan ruang gerak Pak Chan begitu terbatas karena kehadiran nyonya rumah yang begitu berkuasa hanya karena Atma begitu memujanya. Hingga, kedua tuan muda yang dahulu dia lindungi secara sembunyi-sembunyi hidup dengan baik dan saling melengkapi.
Dia bahagia? Tentu saja, dan detik ini Pak Chan yakin sahabat sekaligus atasannya ini merasakan hal yang sama. Hanya tertutup ego dan keras hati yang menepis semua fakta itu. Lucu sekali, Atma bahkan khawatir tertangkap basah menangis, padahal tanpa air mata Pak Chan bisa menerka apa yang sebenarnya dia rasa.
__ADS_1
"Aku hanya ingin dia pulang, Chan ... aku benar-benar menyayangi Bima, dan kau juga tahu itu!"
"Caramu salah."
"Iya, aku tahu soal itu."
"Bagus kalau tahu, sejak awal memang sudah salah! Tidakkah kau sadar soal itu juga, Atma?" tanya Pak Chan seolah sengaja menyerang mental Papa Atma yang memang tengah berada di titik terendahnya.
Papa Atma mengatupkan bibir, dia tidak menjawab dan agaknya mulai mengerti kemana arah pembicaraan Pak Chan. Penyesalan di awal, berhubungan dengan keputusan Papa Atma di waktu muda.
"Tuhan sudah memberimu kebahagiaan melalui Seruni ... tapi kau sendiri yang membuat semua itu menjadi rumit, memutuskan segala sesuatu tanpa pikir panjang dan lihatlah akibatnya ... sekeras apapun usahamu, Bima dan Yudha tahu tempat mereka kembali yang sebenarnya."
"Hentikan, Chan ... kau lupa caranya mendapatkanku bagaimana?"
"Sama sekali aku tidak lupa, Atma. Aku juga tidak membenarkan perbuatannya, tapi bukan berarti dia pantas dibenci. Matamu buta, kau terlalu fokus dengan kesalahannya ... andai saja Seruni tidak menjebakmu, maka tidak ada Bima dan Yudha!! Kau menyayangi kedua putramu, tapi membenci ibunya, sehat?"
"Satu hal lagi yang perlu kau ingat, kalian tidak hanya menghabiskan satu malam itu dalam hidup ... selama menjadi suaminya, apa benar kau tidak pernah menyentuh Runi sedikitpun? Mencumbunya? Memeluknya ketika tidur dan melakukan hubungan layaknya pasangan normal lainnya?"
Bertubi pertanyaan yang terlontar dari bibir Pak Chan, semua berhasil membuat Papa Atma diam sekaligus memerah. Malu dan marah seolah menjadi satu, pria itu benar-benar berhasil membuatnya mati kutu.
"Coba ingat lagi ... apa perlu kuceritakan bagaimana paniknya kau saat Seruni jatuh dari tangga tepat tiga bulan usia pernikahan kalian?" tanya Pak Chan memancing ingatan masa lalu Papa Atma, dia hanya ingin menegaskan jika dahulu kebencian itu tak lagi ada di antara mereka.
"Chan_"
__ADS_1
"Ah atau mungkin Seruni yang demam sewaktu kau hendak ke Jakarta? Kau sampai berbalik arah hanya karena dia mengeluh meriang dan sakit kepala, Atma."
Beberapa saat Papa Atma terdiam, dia mengusap wajahnya kasar dan sungguh kepala yang sejak semalam sakit karena memikirkan Bima, kini semakin sakit lagi bahkan lebih luar biasa.
"Sepuluh menit, waktumu habis, Chan ... kita pergi, pak Andra pasti sudah menungguku," pungkas Atma kemudian, dia merasa semakin lama semakin gila jika Pak Chan terus bicara.
"Masih sat_"
"Aku tidak akan mengulangi ucapanmu kedua kalinya, Chandra."
Atma menatap tajam ke arah Pak Chan, dia benar-benar tidak ingin mendengar lagi. Semua yang dikatakan oleh asistennya itu hanya membuat Papa Atma semakin membenci dirinya sendiri, sungguh.
"Baik, Tuan."
Atma menghela napas panjang, sebelum benar-benar pergi dia kembali menatap rumah itu. Rumah yang begitu memikat mata Atma, batin pria itu seolah meminta untuk Menjadikannya sebagai tempat pulang juga.
Hingga, di detik terakhir matanya kembali menangkap sosok yang begitu lama bersemayam dalam hatinya. Sosok yang membuat Atma kesal sendiri, sudah dia benci dengan berbagai cara, tapi anehnya ketika melihat wanita itu dari kejauhan batinnya seolah tersiksa.
Tidak begitu banyak yang berubah, sudah lebih dari tiga puluh tahun, tapi tubuhnya masih terlihat sama. Meski dari kejauhan dan tidak begitu jelas, mata Atma masih bisa mengingat gaun yang membalut di tubuh wanita itu. Sialnya, hal itu justru semakin membuat hati Atma kacau tak karu-karuan.
"Aku benar-benar membencimu, Runi ... bisakah angkat kaki dari hatiku secepatnya?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -