
Terlena dengan keindahan senja langit Jawa Tengah, Bima dan Lengkara justru terlibat bulan madu dadakan. Selagi berdua, pria itu menghabiskan waktu selama lima hari di hotel yang tidak begitu jauh dari pantai.
Alasan utama pergi menjenguk Papa Atma, tapi setelah berada di sana Bima berubah pikiran. Anggap saja kurang ajar, setelah membuat sang papa masuk rumah sakit dan Gilsa hancur sehancur-hancurnya, Bima dengan santainya menghabiskan waktu bersama sang istri.
Sebenarnya sebelum dia memutuskan itu juga sudah mempertimbangkan resikonya. Dia memastikan keadaan papanya lebih dahulu, Bima juga tetap memantau perkembangan sang papa melalui Yudha.
Sementara sang ibu, jelas mengetahui apa yang mereka lalui saat ini. Khawatir jika Bu Seruni berpikir macam-macam, Bima mengatakan yang sejujurnya tepat di malam pertama ketika mereka menginap.
Sayang sekali, pagi ini adalah hari terakhir mereka berada di sini. Seolah enggan berpisah, sudah pukul sembilan pagi Bima masih enggan melepaskan diri dari pelukan sang istri. Padahal, andai pulang juga mereka akan tetap berdua dan belum ada yang mengganggu kedekatan keduanya.
"Mas, ayo bangun ... orang-orang di rumah mulai bingung kita kemana sebenarnya, bolu kukusku sudah habis dimakan sama Raja karena ide kamu begini."
"Sebentar, Ra, lima menit lagi," ucapnya pelan tanpa membuka mata sedikitpun.
"Sudah lima kali kamu bilang begitu." Lengkara mana mungkin bisa marah, dia hanya tersenyum simpul dengan tingkah sang suami.
"Lima menit terakhir."
"Janji?" tanya Lengkara kemudian, agak ragu, tapi dia paksakan untuk percaya.
"Iya janji."
"Awas ya bohong lagi, kamu mulai kebiasaan bohong sekarang."
Mendengar ucapan Lengkara, Bima bukannya berpikir, melainkan tertawa. Gemas sekali rasanya, dia memang tidak bisa pergi dari jangkauan Lengkara akhir-akhir ini. Mungkin karena terlalu keras berusaha, dia memang cukup kesulitan membagi waktu untuk sekadar bermanja.
Otaknya sudah cukup terkuras dengan bisnis properti yang baru dia mulai, meski dengan bantuan kakak iparnya tetap saja bukan sesuatu yang mudah. Belum lagi, masalah perselingkuhan Gilsa dan kejahatan Panji, semua butuh pertimbangan dan tentu menyita waktu.
Dia yang berstatus sebagai pengantin baru bahkan tidak bisa merasakan hal semanis pasangan lain. Beruntung saja Lengkara bukan tipe wanita yang kerap memperbesar masalah. Ketika semua sudah lebih baik, jelas saja bukan sebuah dosa andai Bima memanfaatkannya.
"Waktu habis, ayo bangun!!"
__ADS_1
"Eungh."
Hanya lenguhan, sungguh Bima sama sekali tidak tergerak untuk bangun walau sebentar saja. Padahal, sepanjang malam dia sudah memeluk erat sang istri, tapi anehnya Lengkara hendak bergerak saja sulit saat ini.
"Mas, dalam waktu 24 jam kamu hanya boleh memelukku 12 jam, kalau pagi sudah dipeluk, berarti nanti malam tid_"
Belum selesai Lengkara bicara, pria itu sontak terbangun dan melayangkan tatapan sebal ke arah istrinya. Bukti jelas bahwa Bima sudah terbangun sejak lama, matanya tak lagi memerah dan pertanda ngantuk sama sekali tidak terlihat.
"Jam berapa sekarang?" Wajah datar andalan mulai terlihat, Bima bertanya dengan suara dingin yang membuatnya justru terlihat lucu di mata Lengkara.
"Jam sembilan ... pesawat jam satu, sementara kita harus ke rumah papa dulu. Dan kamu lihat sendiri, hingga detik ini kita belum melakukan apa-apa, sarapan, aku mau catokan, beli oleh-oleh dan semacamnya ...."
Masih banyak omelan Lengkara, tapi Bima memilih diam dan meraih ponselnya di atas nakas. Jurus pura-pura tuli memang sangat diperlukan untuk menghadapi istri bawel sepertinya, pikir Bima.
"Mas dengar aku tidak?" tanya Lengkara menepuk pundak Bima, tidakkah dia sadari jika suaminya dalam suasana hati yang tidak baik-baik saja.
Bima tidak mengerti apa yang terjadi dengannya, tapi Lengkara pagi ini membuatnya kesal saja. Setelah meraih ponsel, Bima benar-benar mendiamkan Lengkara dan hal itu jelas saja menjadi tanya dalam benak wanita itu.
"Aih, pakai acara ngambek, dia pikir lucu begitu?"
Lengkara sudah mengenal banyak pria, jelas dia bisa memahami gelagat pasangan. Bima yang dia kira tidak akan bersikap semacam itu, nyatanya lebih parah. Namun, jika dia pandang-pandangi terlalu menggemaskan pria sekaku Bima menggunakan jurus ngambek dalam menghadapinya.
Terlebih lagi, kala Lengkara mengetahui apa yang Bima lihat dari layar teleponnya. Tidak lain dan tidak bukan, pria itu hanya menggeser galeri foto seolah tengah melakukan hal penting dengan teleponnya.
"Hahaha suamiku bahkan sangat-sangat lucu!! Pengen kupeluk, tapi nanti dia ngelunjak ... mari kita lihat seberapa lama dia bertahan."
Lengkara membatin, dalam diam dia berpikir keras. Bima bukan tipe pria yang berani mengungkapkan kekesalan secara terang-terangan, tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
.
.
__ADS_1
"Ehem, aku mau mandi." Lengkara mulai melancarkan aksinya, dia memang akan membujuk, tapi jelas saja dengan cara yang berbeda.
"Iya," jawabnya singkat tanpa menatap sang istri, sungguh berbeda dan ini bukan Bima sama sekali.
"Mas tidak mau ikut? Biasanya suka mandi berdua."
Bima menggeleng pelan, sementara Lengkara sudah begitu dekat dengannya. Sekuat hati Bima menahan agar tidak tergoda, kekesalan karena dipaksa melepaskan pelukan beberapa saat lalu belum sembuh dan dia berniat untuk jual mahal.
"Yakin? Kalau mau masuk saja, pintunya tidak aku kunci," bisik Lengkara kian membuat jantung Bima berdegub tak karu-karuan.
Terlebih lagi, kala dia menatap tubuh seksi sang istri yang perlahan menjauh. Dia gusar, Bima mengusap wajahnya kasar sembari menggenggam erat ponselnya.
Tidak!! Dia sudah bertekad, tidak akan tergoda dan kali ini dia tidak akan lemah. Sialnya, beberapa menit kemudian ponselnya bergetar dan Lengkara mengirimkan sebuah pesan singkat dengan mengirimkan foto dirinya di kamar mandi.
"Cih, dia menggodaku?" Bima tersenyum tipis, foto pertama masih aman, dia tidak begitu tergoda dengan kaki walau jantungnya sudah tak karu-karuan.
Foto kedua, ketiga, keempat hingga kelima Bima masih mempertahankan harga diri, dia tidak akan tergoda sebelum Lengkara membujuk dan memohon padanya. "Jangan tergoda, Bima! Ingat kau bukan pria gampangan!!"
Bima membatin, berusaha meyakinkan diri bahwa dirinya bukan pria gampangan. Namun, di foto keenam pertahanannya runtuh, Bima lemas hingga melemparkan ponselnya dan melangkah menuju kamar mandi.
"Kenapa, Mas?" tanya Lengkara tanpa dosa seolah lupa jika dia yang sudah membuat Bima sekacau itu.
"Mau ikut," jawabnya tidak lagi peduli dengan harga diri, Bima akui dia memang tidak memiliki daya untuk menolak Lengkara.
"Apa aku benar-benar gampangan ternyata? Ah terserah!! Tidak ada yang tahu juga," batin Bima sembari turut masuk ke dalam bathtub, hanya karena Lengkara melihatkan bagian dada yang bahkan tertutup busa, Bima tergugah hingga melupakan niat awalnya.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1