
"Memalukan!! Dia tahu sejak kapan ya?"
Usai mendengar ucapan Bima, Lengkara tidak fokus sama sekali. Sudah begitu banyak aib Lengkara yang terekam di kepala Bima, untuk masalah ini Lengkara mana bisa pura-pura amnesia.
"Kara ... dia siapa? Tampan sekali," bisik Rona tiba-tiba seraya menepuk pundak Lengkara tanpa aba-aba.
Lengkara terperanjat dan hampir saja mengumpat kasar detik itu juga. Merasa takut dengan tatapan Lengkara, Rona beralih mengambil beberapa minuman untuk dibawa ke kamar, tapi sebelum itu jelas dia ingin kembali memastikan siapa pria bermata teduh itu.
"Kakakku," jawab Lengkara cari aman, mana mungkin dia akan jujur dan mengatakan dengan jelas bahwa Bima adalah mantan suaminya.
"Tapi kalian tidak terlihat sama, seperti bukan suadara." Rona membantah, baginya jika memang benar saudara sudah jelas ada kemiripan walau sedikit, tapi untuk mereka tidak seperti saudara.
"Apa harus mirip? Kan tidak," ketus Lengkara melewati Rona yang kini membeliak dengan reaksi temannya.
Wajah kusut Lengkara terbawa-bawa sampai ke hadapan Bima. Sekesal itu dia mendengar pertanyaan Rona yang sebenarnya biasa saja. Mendadak kemampuan bersandiwaranya hilang begitu saja, Lengkara tidak dapat menutupi kekesalannya malam ini.
Bima yang melihat raut wajah Lengkara jelas saja merasa bersalah. Walau dia bingung dimana letak salahnya, tapi kali ini dia menerka-nerka sembari terus memerhatikan wajah Lengkara yang tertekuk sempurna.
"Ada masalah apa?" Bima mencoba bertanya, suaranya terdengar ragu dan sedikit takut Lengkara akan marah.
"Hah? Tidak ... ini susunya, tapi jangan diminum dulu, msih panas."
Bima tidak begitu menyukai susu hangat awalnya, tapi karena Lengkara yang membiasakannya selama sebulan pernikahan hal itu justru melekat hingga saat ini.
Mereka duduk berjauhan, hal itu membuat Rona yang tadi sedikit tidak percaya jika mereka memang hanya saudara kini semakin tidak percaya. Dia menatap curiga, dan masih terus menoleh ke arah Bima hingga masuk ke kamarnya.
"Laki-laki itu tidur di sini lagi?"
"Sepertinya begitu," jawab Lengkara santai, sama sekali tidak ada ketakutan atau terlihat risih dengan kehadiran Gery di sana.
__ADS_1
"Kamu nyaman dia ada di sini?"
"Nyaman, selagi tidak mengusikku tidak masalah," jawab Lengkara kemudian. Jujur saja, kesal sekali Bima mendengarnya, bahkan susu hangat itu habis sekali tenggak tanpa peduli tenggorokannya mungkin terbakar.
"Astaga, Mas!! Gila ya? Itu masih panas."
Bima yang minum, dia yang panik. Bagaimana tidak, Lengkara ingat betul dia sengaja menggunakan air panas agar ketika dinikmati hangatnya cukup lama. Sama sekali tidak Lengkara duga jika Bima akan menenggaknya hingga tandas dalam waktu singkat.
"Iya, panas ternyata."
Tidak berbohong, memang benar-benar panas bahkan lidahnya kini terasa kebas. Hanya karena muak pada pria bernama Gery itu, Bima membahayakan keselamatannya sendiri.
Tidak hanya lidah yang terasa panas, tapi juga dadanya lantaran tumpahan susu di kemejanya. Bisa dipastikan merah dan Lengkara menyadari hal itu. Sesaat dia menepis ego dan meminta Bima melepas kemejanya.
"Buat apa? Malu." Bima enggan, sementara Lengkara kini sudah mendekat dan berada persis di hadapannya.
Dia tahu Bima marah, tapi tidak dia juga cara melampiaskannya akan begini. Bima yang tampak ragu menatap takut ke arah Lengkara yang kini berdiri di hadapannya, dia menyilangkan tangan di depan dada seolah tengah terancam singa betina.
"Terus gantinya pakai apa? Aku tidak terbiasa telanjang dada, Kara."
"Ada tuh kemeja papa yang kubawa, Mas bisa pakai buat malam ini," ucap Lengkara tapi masih membuat pria itu ragu setengah mati, bahkan jemarinya bergetar kala hendak membuka kancing kemejanya.
"Ti-tidak perlu, Ra nanti juga_"
"Mas kenapa menatapku begitu? Trauma? Aku tidak secabbul itu, semalam khilaf, kalau sadar mana mungkin aku begitu."
Tepat sasaran, tanpa perlu penjelasan, Lengkara paham penyebab wajah pias Bima. Setakut itukah ternoda? Benar-benar tidak dapat dipercaya, baru kali ini Lengkara menemuka pria yang setakut itu terjamah seorang wanita.
"Bu-bukan begitu maksudku ... kamu ambil dulu kemejanya, biar aku buka sendiri," titah Bima kemudian, Lengkara segera berlalu ke kamarnya dan sadar jika kali ini agaknya dia berlebihan, wajar saja Bima takut.
__ADS_1
Sementara Lengkara berlalu, Bima menghela napas panjang seraya mengusap dada berkali-kali. Dia bukannya takut, bukan pula tidak normal, tapi Lengkara yang begitu adalah penyiksaan paling berat baginya.
.
.
"Tidak ada kemeja, adanya kaos ini ... sepertinya muat karena kebesaran untukku," tutur Lengkara menyerahkan kaos oblong dengan wajah kakak kesayangannya di sana. Baju yang dipakai kala menyambut kepulangan Sean dari penjara.
"Iya, terima kasih."
Bima tergesa-gesa kala memakainya, seakan takut sekali Lengkara mencuri pandang tubuhnya. Padahal, selama dia sakit waktu itu Lengkara sudah memandanginya puas-puas, bahkan setiap hari.
Lengkara masih terus memandanginya, hingga mata Lengkara tertuju pada liontin yang dikenakan Bima. Tadi pagi ketika di hotel dia tidak begitu memerhatikannya, selama pergi juga tidak karena Bima menyembunyikan benda itu di balik kemeja.
Kini, agaknya ketidaksengajaan Bima membuka mata Lengkara lebar-lebar. Sedikit lancang, Lengkara mendekat dan meraih liontin itu. Bima menunduk, menyadari kemana jemari Lengkara berlabuh, dalam waktu bersamaan mata keduanya terkunci untuk beberapa waktu.
"Apa ini cincin pernikahan kita dulu?" tanya Lengkara kembali memastikan benda itu, dia rasa memang iya dan ingat betul bentuknya bagaimana walau sudah cukup lama.
"Hm, aku tidak bisa menghilangkannya," jawab Bima pelan. Jujur saja pertama kali yang Bima lihat ketika bertemu Lengkara adalah jemarinya, tapi berbeda dengan dirinya Lengkara benar-benar melenyapkan benda itu tak berbekas sepertinya.
"Tapi kamu bisa menyimpannya, kenapa harus dipakai, Mas?" tanya Lengkara kembali menatap matanya. Beberapa waktu lalu Zean mengatakan bahwa Bima diisukan mencintai sesama jenis hingga tidak menikah juga, dan malam ini Lengkara menduga cincin itu adalah sebabnya.
"Karena hanya ini kenangan yang kupunya tentang kamu, Ra, apalagi," ucap Bima tersenyum getir kemudian memalingkan wajahnya.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1